
Saya mematung, dengan kedua mata yang terbelalak lebar. Tiba-tiba saja ingatan yang sempat terlupakan kembali. Saya tak tahu, tapi bagaimana bisa saya melupakan pembicaraan sepenting itu.
Tentang bagaimana pertemuan saya dengan penjaga sekolah. Tentang pertanyaan-pertanyaan yang ia lontarkan begitu saja. Tentang bagaimana penglihatan saya terhadapnya, ketika telah mati.
Kenapa saya melupakan semua itu, dan terbangun dalam keadaan linglung di ruang seni?? Ternyata yang di ucapkan kiyai benar. Karena rasanya begitu menyakitkan ketika ia mengembalikan roh saya lagi. Itu, benar-benar seperti mati dua kali. Dan sepertinya, otak saya mengalami trauma terhadap hal itu, makanya.. sekelabat semua itu terlupakan, tapi kembali lagi setelahnya.
Saya melirik, menatap Tamusong yang terkejut usai kedua mata saya terbuka tiba-tiba. Ia terdiam, tapi saya berani jamin kalau ia sedang menunggu apa yang akan saya katakan selanjutnya.
"Tamusong.. ternyata,"
"Kau memang bertemu dengan seseorang setelah mati kan?" Ia dengan cepat memotong perkataan saya, bahkan sebelum saya menyudahinya. "Dan itu, bukanlah bagian dari kita, melainkan.. manusia yang sengaja melepaskan rohnya untuk bertemu denganmu, atau seseorang.. yang sengaja menarik rohmu ke dimensinya. Intinya, ketika matamu terbuka, manusia itu lah yang pertama kali bicara denganmu. Benar kan? Ada manusia, kan?" lanjutnya, benar-benar tergopoh-gopoh dalam bertanya.
Saya terdiam, tak mau membenarkan ucapannya. Biarkan saja dia berspekulasi sesuai kehendaknya, biar yang fakta tetap saya konsumsi seorang diri. Tapi, darimana ia bisa tahu kalau saya telah bertemu dengan seseorang selepas mati? Bahkan, saya sendiri pun melupakan hal yang saya alami sendiri.
"Saya tak membenarkan atau menyalahkan ucapanmu, karena saya tak mengingatnya. Tapi, kenapa tiba-tiba saja tante menanyakan hal itu pada saya? Kenapa saya harus bertemu dengan orang lain yang dalam artian seorang manusia? Apakah, ada suatu kejanggalan yang saya tak tahu, tapi Tamusong mengetahuinya? Kenapa setelah saya melakukan tahap ketiga dari ilmu dasar hantu, Tamusong mendadak menanyakan hal seperti itu? Padahal sebelumnya tidak pernah?" tanya saya seraya menerka, tak lupa dengan menyelipkan kalimat ambigu agar ia tak tahu apa yang terjadi sebenarnya, tapi saya mengetahui apa maksud yang ingin ia sampaikan.
Ia menunduk, sembari menghela napas panjang, seolah tak ingin berkata jujur dan masih menyimpan banyak hal dari saya.
"Tamusong tak mau jujur? Saya tak tahu apa-apa mengenai ini. Saya tak ingat, benar-benar lupa. Jadi, saya mohon agar Tamusong tak banyak menyimpan sesuatu dari saya. Hanya pada Tamusong saya berpegang teguh, saya benar-benar mempercayaimu. Jadi kalau Tamusong tak mau jujur, lalu kepada siapa lagi saya harus menaruh kepercayaan ini?" tanya saya getir, sengaja melemah agar Tamusong mengasihani saya dan memberikan informasi yang tak saya ketahui.
Ia terdiam lagi, sambil menarik napas panjang-panjang. "Sebenarnya ada hal yang sejak awal mengganjal di pikiranku kala bertemu denganmu." tukasnya, membuat saya mengernyit. Nah, ini dia!! Berlagak lemah untuk di kasihani ternyata ampuh untuk mengorek informasi darinya. Dia mulai berbicara, kan?
"Meski mati di suatu tempat, tak akan ada pelarangan atau batas gaib yang mengurung mereka di siang ataupun malam hari. Tapi anehnya, kau hanya bisa berada di dalam sana di siang hari, terkurung dan tak bisa menembusnya sama sekali. Seperti ada dinding yang menghalau, dan sebenarnya.. dinding itu di ciptakan oleh seseorang. Sengaja agar kau tak pergi ke mana-mana." lanjutnya lagi.
"Wah, jadi begitu? Ternyata.. ada yang seperti itu?" tanya saya, berpura-pura tidak tahu.
"Ya, aku mencurigai ada seseorang yang telah melakukan semua itu padamu. Tapi, jika ingin melakukan itu, seharusnya hantu yang di targetkan mengetahuinya. Setidaknya ada perjanjian antara kedua belah pihak. Kalau kau di kurung oleh seorang manusia tanpa sepengetahuan mu, itu berarti kau telah melakukan suatu kesalahan besar yang membahayakan banyak pihak. Ia mengurungmu sebagai hukuman dan kau tak bisa melawan. Tapi, dari apa yang ku ketahui tentang dirimu, kau baru mati dan celingak-celinguk seperti kepala itik. Jadi, mana mungkin kau melakukan kesalahan. Berarti, pilihannya ada pada perjanjian kedua belah pihak." Ia terhenti, sambil memejamkan matanya.
"Kau, sudah menyetujui terjadinya pengurungan itu. Dan orang itu sendiri yang menemuimu." lanjutnya sambil membuka mata, dan menatap saya dengan tajam.
Saya terdiam, bukan kaget dengan tatapannya, tapi dengan pemikirannya. Sebenarnya, Tamusong ini bisa di kategorikan hantu cerdas, tapi kenapa sejak awal ia tak langsung menunjukkannya?
Apakah posisi kami sama?? Kami cerdas, tapi berusaha mengelabui satu sama lain dan berpura-pura menjadi seseorang yang otaknya standar?
Kalau saya melakukan itu, karena memang saya tak mempercayai semua orang. Tapi, kalau Tamusong melakukannya, apakah sebenarnya ia juga tak mempercayai saya? Atau memang ada hal besar yang ia sembunyikan dari saya?
Sejujurnya, jati dirinya pun masih di awang-awang, dan saya rasa ia tak mengatakan banyak hal dengan kejujuran.
Saya menghela napas panjang. "Masih samar, tapi sepertinya saya memang pernah bertemu dengan seseorang setelah mati. Tapi saya lupa, rasanya seperti mati dua kali, jadi mungkin saja kesakitan itu membuat saya melupakannya, karena terjadi hal traumatis pada memori saya."
"Tapi, apakah ada hubungan antara seseorang yang mengurung saya, dengan kejadian malam ini?" Tamusong terkesiap mendengar pertanyaan saya. Sepertinya memang ada. "Soalnya, tiba-tiba saja Tante menanyakan hal ini setelah kejadian yang saya alami." lanjut saya, menerangkan.
Ia menghela napas. "Sebenarnya memang ada. Terlebih lagi kau bicara kalau sudah mengenal orang itu semasa hidup. Aku menerka, kalau yang telah mengurung dan menemuimu saat pertama kali kau mati.."
"...Adalah kiyai." lanjutnya, membuat saya terkesiap.
Ck, si*lnya dia memang cerdas. Dia mengetahui siapa yang menemui saya kala itu, dan dia juga menyadari mengenai keanehan pada diri saya yang tak bebas keluar dari ruangan seni. Tapi, kenapa baru sekarang sih? Coba saja mengatakannya dari dulu, jadi saya bisa langsung mengingat semua kejadian itu, kan??
"Ini gawat! Sebenarnya ini gawat!" lanjutnya, terlihat begitu panik sambil menatap ke gedung seni berulang-ulang.
"Ia mampu mengurungmu di ruang seni tanpa kesalahan, jadi mungkin saja ia lebih bisa mengurungmu di sana dengan kesalahan!" tukasnya gerah.
Saya terdiam. Apakah Tamusong takut, kalau saya bisa di kurung lagi oleh kiyai karena telah menyebabkan kerusuhan di sekolah hari ini??
"Tapi.. kiyai tak seburuk itu. Dia tak seburuk itu." tukas saya, meyakinkan dirinya.
"Ini beda situasi. Kau sudah menjadi buah bibir belakangan ini. Di tambah lagi, ulahmu sekarang telah mengganggu kinerja kepolisian dalam menyelidiki kasus ini. Kau.. bisa saja di kurung lebih dari ini." ucapnya dengan suara yang gemetaran sambil menoleh ke segala arah seolah takut kalau ada yang mendengar dan mengawasi kami.
"Lalu, sekarang bagaimana? Sudah terjadi juga, tak bisa di apa-apakan lagi." sahut saya remeh.
Tamusong menatap lekat ke arah saya. "Kalau begitu, apakah kau mau pergi sekarang bersamaku?" tanyanya, membuat saya mengernyit bingung.
"Mau pergi, apa maksudmu?"
"Maksudku, ayo kita pergi ke tempat yang ku tuju. Sebelum kau di kurung selama-lamanya di dalam ruangan seni. Ayo, ikutlah bersamaku. Pergi sejauh mungkin dari kiyai, dan tak akan kembali ke sekolah yang membunuhmu lagi." ujarnya sembari menarik tangan saya. Saya terdiam dan mematung.
"Tapi.." suara saya tertahan. Kalau saya pergi, saya.. tak bisa bertemu dengan seseorang yang di janjikan kiyai. Tapi kalau saya di kurung selama-lamanya di ruang seni, saya.. tak mau seperti itu.
.........
*Author POV
Pagi harinya, sekolah telah ramai dengan para siswi yang berkumpul di setiap sudut ruangan. Mereka duduk berkumpul dan membahas sesuatu bersama-sama.
"Hei, kalian tau kabar baru-baru ini, gak? Lagi jadi buah bibir banget." tukas seorang siswi dengan kacamata.
"Itu gak sih, yang salah satu adik kelas kita di ganggu di ruang seni?" terka temannya.
Si kacamata menganggukkan kepalanya. " Iya! yang gak bikin PR, tiba-tiba aja PR-nya jadi, padahal dia baru mau bikin."
"Iya, jangan-jangan ini rumor palsu lagi. Mana ada sih hantu yang ngerjain PR? Aneh-aneh aja deh bohongnya."
Si kacamata mengernyit. "Beneran, kok. Adik gue kan sekelas sama dia. Dia ketahuan dibikinin PR itu, karena tulisan tangannya beda. Terus di semua kelas, dia yang jawabannya bener semua, padahal bukan termasuk murid yang masuk rank sepuluh besar. Yang rank satu aja jawabannya ada yang salah. Jadi Bu Guru curiga dan manggil dia, sampai dia pucet dan gemeteran gitu ngakunya. Dia bilang, ada yang ngerjain Pr-nya. Dan Bu guru juga tau, itu tulisan siapa."
Mendengar perkataan si kacamata, teman-temannya saling menoleh serentak. "Tulisan, Adam?" terka mereka.
"Huss!!" Si kacamata mendesis. "Pamali nyebut nama orang yang udah gak ada!" perkataannya ini lantas membuat raut wajah teman-temannya mendadak berubah.
"Uuuh!! Gue merinding nih abis nyebut nama dia. Kan dia terkenal banget pinternya. Otaknya kayak gak masuk akal, raportnya A semua. Ujiannya gak ada yang salah. Jadi ya, gue langsung mikir ke dia sih." sahutnya gemetaran.
"Eh, terus ada lagi nih. Ini gue denger dari adek gue juga. Katanya, ada yang lukisannya di bikinin sama si hantu. Gambar adegan pembunuhan, terus.." Ia menjeda kalimatnya, membuat raut panik tergambar di wajah teman-teman yang mendengarkannya. "Ada pesan yang bilang, kalau dia itu.." tatapan si kacamata ini semakin tajam dan menyeringai.
"Nyata!". bisiknya dengan suara dalam.
"Huaaaaaaa!! Takuuuuut!!" teman-temannya merinding dan berteriak histeris, bahkan mereka saling berpelukan dan beberapanya ada yang sampai menangis.
.........
Di sisi kelas lain, ada seorang siswi yang duduk sendiri dan melamun. Di dalam kelas, ia menjadi pusat perhatian karena berita yang tersebar di kalangan sekolah, dimana ia yang ikut ekskul Seni untuk pertama kalinya, di buat pingsan berkali-kali dengan penampakan hantu yang memenuhi seisi ruang seni, dan Bu Desti yang datang dengan kaki yang tak menapak di lantai.
Cerita ini memang tak masuk akal dan seolah tak bisa di percaya, tapi perubahan sikapnya menjawab semua kebenaran yang ada.
Gadis itu termasuk ke dalam siswi yang ceria dan aktif. Tapi, setelah kejadian itu, ia menjadi pendiam dan sering terkejut. Ia bahkan selalu melihat ke arah kaki lawan bicaranya, seolah memastikan kalau itu manusia asli atau hantu yang menyerupai.
Beberapa orang temannya mengomentari sifat temannya itu. "Jamilah berubah banget gara-gara di temui warga dalam keadaan pingsan. Dia jadi penakut dan gak seceria dulu. Ngomong aja kayak ngelamun-ngelamun. Tatapannya juga kosong. Kasian deh." komentar temannya.
Lawan bicaranya pun menimpali. "Katanya bener loh, dia ketemu hantu sekelas, sama hantu yang nyamar jadi Bu Desti. Di tambah lagi, ada kanvas di atas meja yang udah di simpan Bu Desti. Dengar-dengar sih, katanya si hantu yang satu ruangan sama dia, ngelukis wajah dia di segala sisi." teman-temannya mulai bergidik. "Berarti, secara gak langsung.. sebenarnya si hantu mau ngasih tau, kalau dia lagi merhatiin si Jamilah terus. Makanya Jamilah takut minta ampun."
"Masa' sih, gue percaya kalau udah liat lukisannya sendiri." timpal temannya. Teman yang lainnya pun ikut mengangguk.
"Gue sih gak perlu liat itu, karena dari kondisi Jamilah pun udah jelas, kalau semua yang dia alami itu bener."
"Terus juga, gue pernah denger.. katanya ada kecelakaan motor Maghrib-maghrib di depan kuburan halte."
"Gue juga tau itu! Si pengendaranya mabuk, kan?" lanjut yang lainnya.
"Iya, tapi katanya dia jatuh bukan karena mabuk. Tapi karena liat penampakan anak lelaki terbang, pakai baju putih, dan rambutnya juga...."
"Warna putih."
Mereka berteriak bersama mendengarnya. "Gak salah lagi kan, itu... Si Adam."
Yang lainnya mengangguk. "Iya, ruangan seni juga jadi angker semenjak dia meninggal. Banyak kejadian aneh yang gak bisa di jelasin dengan kata-kata. Intinya, itu serem banget. Gue rasanya gak mau lagi masuk dan belajar di ruangan itu."
.........
Di sisi lain ruangan, sebuah kipas dan pendingin ruangan menyala, membuat tubuh semakin dingin karena suhu ruangan dan rasa tegang.
Seluruh guru berkumpul di ruangan tersebut, dengan dua orang polisi, serta beberapa orang donatur terbesar yang ada di sekolah. Mereka menghadap ke seorang lelaki bertubuh berisi dengan kulit kecoklatan. Rambutnya memiliki dua warna, dan garis-garis halus tergambar di wajahnya.
Ia mematut menatap ke tumpukan lukisan yang di bawa oleh Bu Desti, yang menampakkan wajah seorang siswi dari segala sisi.
"Ini bukti lukisannya, Pak." ucap Bu Desti.
Lelaki berisi yang merupakan kepala sekolah ini mengambil beberapa dan memandangnya dengan lekat.
"Kami, sebagai anggota kepolisian pun hanya ingin menyampaikan informasi mengenai kecelakaan tunggal di depan kuburan itu memang benar adanya, seperti yang bapak tanyakan waktu itu, serta kesurupan massal yang terjadi malam tadi di dalam ruang seni, itu sungguh mengganggu kinerja kami." ujar kepolisian.
"Ini juga, Pak.. Bukti PR matematika anak murid saya yang benar semua. Katanya di kerjakan oleh orang lain, dan saya lihat.. tulisan ini.. sama dengan tulisan ini." ucap Pak guru sambil membandingkan buku satu dengan yang satunya. Dimana salah satu bukunya milik Adam.
"Ini semua mengarah pada satu orang, dan sayangnya dia sudah meninggal. Dia seperti menjadi roh gentayangan yang mengganggu. Dan apa, yang harus kita lakukan pada ruangan seni itu? Saya yakin, anak-anak murid tak akan mau masuk ke sana setelah mendengar berita ini." tukas mereka, membuat rasa resah berkumpul di dada kepala sekolah.
Kepala sekolah menggelengkan kepalanya dan beranjak. "Ayo, kita kerumah Wanto..." tukasnya sembari mengepalkan tangan di atas meja.
"SEKARANG!" lanjutnya dengan tatapan tajam.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......