RUN

RUN
Pantangan



*Author POV


Seorang lelaki muda tengah sibuk di depan rumahnya. Lelaki ini berperawakan hitam manis, wajahnya awet muda karena selalu tersenyum, memakai baju kaos oblong berwarna putih, serta celana pendek selutut.


Ia meregangkan tubuhnya usai membawa seember air dari dalam rumah. Seorang wanita manis dengan kulit kecoklatan menyusul, dengan sebuah gayung berbentuk love warna kuning yang ia genggam.


"Mas, ini gayungnya ketinggalan." tukasnya seraya memberikan gayung tersebut.


"Wes, makasih, Dek." sahutnya sambil menyambut gayung tersebut. Ia mengambil secentong air lalu menyirami tumbuhan di depan rumahnya.


Istrinya duduk di teras depan, sembari memperhatikan kesibukan suaminya. Sang suami menoleh ke belakang, lalu tersenyum pada sang istri. "Dek, mau nolongin, mas?"


Buru-buru istrinya bangun, ia menghampiri suaminya dengan wajah cengo dan kedua alis terangkat. "Apa to, mas?"


"Siapin minuman. Teh manis." pintanya.


Sang istri mengernyit. "Lah?! Kan teh yang tadi aja belum habis, masih mau ngeteh lagi?" tanyanya bingung.


Sang suami hanya tersenyum sambil menggeleng. "Bukan untuk mas. Bikinin aja satu cangkir lagi. Nanti sebentar lagi kita kedatangan tamu." tuturnya.


Sang istri spontan menoleh ke ujung jalan, menyipitkan matanya, memastikan siapa tamu yang akan datang sepagi ini.


"Liat apa to? Bikini mas lah, tolong ya, dek." ujarnya lembut. Sang istri mengangguk sambil masuk ke dalam, tapi kepalanya masih saja menoleh ke ujung jalan di depan rumahnya.


Lelaki ini beranjak usai menyirami tanaman. Ia menghampiri kandang burung yang tergantung di atas teras rumah.


Ia menjentikkan jarinya sembari bersiul, senada dengan kicauan burung yang berada di dalam kandang. Burung tersebut meloncat-loncat, bak sedang menari di dalam kediamannya.


"Ayo perkutut, mana suaramu?? Kleo.. Kleo.." tukas lelaki ini, membuat burung tersebut menuruti suaranya. Ia tersenyum senang mendengarnya. "Nah, bagus suaramu, nak. Suara kristal." komennya lagi.


Dari kejauhan, terdengar suara obrolan orang-orang. Tak terlalu besar, hanya sekedar pembicaraan singkat. Suara derap langkah kaki mereka lebih besar lagi.


Lelaki ini pura-pura tidak tahu, dan lebih memilih mengobrol asik dengan burung perkututnya, meski mereka memiliki bahasa yang berbeda, tapi itu sama sekali tidak menjadi kendala baginya.


Sang istri keluar dari rumah, sambil membawa secangkir teh yang masih mengepulkan asap dan meletakkannya di meja teras. Ia menoleh ke ujung jalan, dan mendapati orang-orang berduyun-duyun menuju ke rumahnya.


"Lah to mas, banyak orang loh." Ia melihat teh yang ada di atas meja. "Adek cuma bikin teh satu to, sesuai pesanan, mas. Bisa-bisa gak cukup ini." keluhnya, sedikit khawatir.


Ia kembali melihat ke ujung jalan, lalu terkesiap melihat dua di antara orang-orang itu. "Mas.. Ada polisi loh, mas? Kenapa lagi ini?" gumamnya ketakutan. Ia takut bukan perihal pangkat si polisi, tapi.. karena kedatangan polisi selalu memberikan pertanda buruk bagi keluarganya. Dan polisi-polisi ini selalu meminta bantuan pada suaminya, dan itu cukup mengusik perasaan sang istri.


"Gak apa-apa. Kamu kalau gak mau dengar, mendingan masuk aja. Masak tempe bacem, mas lagi pengen makan itu. Sama cah kangkung." pinta lelaki itu, tapi tak membuat sang istri berlalu dari tempatnya.


"Ini pasti soal kasus itu lagi?? Adek gak suka loh kalau Mas masih maksa buat bantuin mereka." tukasnya. Perkataannya ini bukan tanpa alasan. Setiap suaminya membantu para polisi untuk mempermudah penyelidikan, keluarga mereka selalu mendapatkan sasaran. Entah itu di ganggu melalui mimpi atau secara langsung.


"Aku baru dua hari sembuh loh, Mas. Kamu gak mau buat aku sakit lagi, kan?" ujarnya lagi, seolah tak cukup puas dengan respons sang suami. "Anak kita juga aku titipin ke Buk E di Jawa, gak mau kalau dia sering sakit-sakitan tinggal di sini."


"Kali ini, gak bakalan ada yang sakit. Jadi, kamu masuk aja ke dalam, daripada berwajah masam di depan tamu. Itu gak baik." ucap lelaki ini.


Sang istri mendengkus. Belum beberapa bulan mereka menikah, tapi pekerjaan suaminya ini membuatnya jatuh sakit berkali-kali, begitu pula dengan suaminya. Setelah mendapatkan anak pun, kini giliran anaknya pula yang sakit-sakitan, tapi ketika di tinggal di rumah nenek di Jawa, anaknya sehat-sehat saja. Sang istri hanya tak mau, kalau terjadi apa-apa pada orang yang ia cintai. Meski begitu, ia sangat patuh dan langsung masuk ke dalam rumah sesuai dengan perintah suaminya.


Rombongan orang-orang tadi mendekat, lelaki ini masih pura-pura tak tahu sampai mereka benar-benar datang dan menyapa.


"Selamat pagi, Wanto. Maaf mengganggu waktumu." ucap salah seorang polisi.


Lelaki bernama Wanto ini masih diam, bersiul merdu sambil menjentikkan jarinya. Mereka saling melirik ketika lelaki muda ini mengabaikan.


"Assalamualaikum, Wanto." kepala sekolah berinisiatif untuk mengganti menyapa.


Wanto pun akhirnya menoleh. "Wa'alaikumus salam.." sahutnya, membuat polisi tadi tampak salah tingkah. Wanto hanya menyahut jika tamu datang dengan ucapan salam.


"Maaf mengganggu waktu pagimu. Tapi, ada suatu hal yang ingin kami sampaikan padamu." lanjut kepala sekolah itu lagi.


Wanto memandang wajah kepala sekolah dan mengernyit. "Pergantian kepala sekolah kah?? Jadi, kabar itu benar?" tanya Wanto memastikan. Kepala sekolah mengangguk dengan wajah sayu.


Wanto menarik napas panjang, berpikir kalau aura Ludira masih terasa, meskipun sangat lemah. Ia menggeleng sambil beralih dari kandang burung. "Yang berkepentingan, silakan masuk." ujarnya sembari duduk dan mempersilakan seseorang untuk ikut duduk di sampingnya.


Sang kepala sekolah pun duduk. Kursi di depan terasnya hanya ada dua, jadi tentu saja ini adalah cara mengusir yang sopan. Bahwasanya, ia hanya mempersilakan satu orang saja untuk berbicara padanya.


Satu perwakilan saja cukup kan? Dari pada harus mendengar ocehan beberapa orang yang berebutan untuk mengemukakan pengalamannya. Padahal satu orang pun bisa menceritakan kesimpulannya.


Mengetahui hal ini, beberapa orang guru dan juga dua orang polisi ini saling pandang dengan kikuk. Mereka tersenyum masam lalu beralih, tahu kalau kehadiran mereka tak terlalu di harapkan disini. Mereka berjalan keluar dari pekarangan rumah Wanto dan menunggu di ujung fondasi pagar batako yang telah di hancurkan.


Kepala sekolah menatapnya, berharap agar Wanto mau berbicara dan bertukar pikiran dengannya.


"Wanto, sebenarnya-"


"Silakan diminum dulu tehnya, Pak. Nanti keburu dingin." pintanya, sembari menggeser cangkir teh tepat ke dekat siku tangan kepala sekolah yang berada di sudut meja. Ia pun mengangkat cangkir teh miliknya sendiri dan menyesapnya perlahan.


Sebenarnya bukan untuk bersantai aku datang ke sini, tapi ada hal yang lebih penting lagi. Begitu isi di dalam hati kepala sekolah, yang tak berani ia sampaikan pada Wanto.


"Bersantai saja dulu, Pak. Jangan terlalu tegang. Bercerita sambil ngeteh, menjamu tamu itu lebih baik, kan. Anggap saja kita ini teman." sahut Wanto, membuat kepala sekolah terkesiap. Pasalnya, lelaki muda ini langsung menjawab perkataan yang ada di dalam hatinya.


"Masih pagi, pak. Maaf ya, kami cuma ada minuman. Istri saya belum ke pasar buat beli pisang untuk di buatkan gorengan." tuturnya tidak enakan.


Dengan kikuk, kepala sekolah mengambil teh dan menyesapnya perlahan. Air hangat dan teh harum lagi manis ini membuat urat-uratnya rileks, setelah sebelumnya sempat menegang. Setidaknya, minuman ini bisa membuat ketegangannya mereda, dan degup jantungnya normal.


"Jadi, apa bapak mau nyeritain masalah yang lagi jadi buah bibir? Perihal hantu albino, ruang seni dan Adam yang baru saja meninggal dunia?" tanya Wanto, membuat kepala sekolah ini mengangguk dengan cepat.


Wanto menghela napas panjang. "Sebenarnya, dia itu pahlawan yang telah gugur. Jadi, jangan di takuti seperti menakuti hantu-hantu yang seram."


"Tapi, Wan.. dia cukup mengganggu orang-orang yang ada di sekolah." potong kepala sekolah.


"Mengganggu seperti apa?" tanyanya lagi.


"Dia menyamar menjadi guru, mengganggu anak murid, mengganggu pengendara bermotor, bahkan.. ia membuat PR matematika siswa!" terang kepala sekolah, membuat Wanto tersedak dan menahan tawa.


"Buahahaha!! Membuat PR? Bapak jangan bercanda lah." timpalnya sambil menepuk dada, tak mau tersedak air lagi.


Wajah kepala sekolah masih menegang, tak menganggap kalau ini sebuah candaan. "Bahkan semalam pun, dia mengganggu polisi yang bertugas." tambahnya.


Wanto kembali menyesap tehnya. "Mengganggu?? Mereka datang sama seorang ustadz juga?" tanyanya, dan kepala sekolah mengangguk. "Ustadz itu saya yang suruh. Soalnya kemarin polisi itu ke rumah saya, tapi saya mau keluar buat ngambil obat istri." sahutnya lagi.


Bukan hal yang tidak sengaja Wanto menyuruh si ustadz, ia hanya tak mau mengagetkan Adam dengan kehadirannya. Dan ia juga ingin tahu, sejauh mana tindakan Adam terhadap orang yang berusaha mengusik kediamannya.


"Tapi, Wan.. Ustadz itu gak sanggup. Pulang-pulang dia gak mau bantuin sekolah dan polisi itu lagi. Jadi, sekarang bagaimana?" tanya si kepala sekolah.


Wanto menghirup aroma wangi teh di gelasnya. "Wangi melati." gumamnya, sembari menyeruput teh itu lagi. "Bapak maunya bagaimana?" Wanto malah balik bertanya.


Kepala sekolah menelan ludahnya yang terasa manis karena teh tadi. "Ya kalau bisa, bersihkan ruang seni itu. Jangan biarkan ini menggangu kegiatan mengajar kami. Kalau bisa, lenyapkan hantu itu dari gudang." pinta si kepala sekolah, membuat Wanto terdiam mendengarnya.


Entah apa yang ada di pikiran Wanto, tapi ia seolah enggan membantu. Kepala sekolah tahu, Wanto termasuk dekat dengan Adam kala anak itu masih hidup. Dan mengingat jasa keluarganya yang merupakan mantan kepala sekolah, pemilik sekolah, dan pendiri sekolah, tentu saja ia tak punya hak untuk mengusir si anak, meskipun itu hanya sekedar rohnya saja.


"Kalau permintaan bapak seperti itu, saya tak mau menyanggupi. Silakan bapak pulang kalau tehnya sudah habis." sahut Wanto, membuat kepala sekolah ini terkesiap dan ketar-ketir.


"Lah, jangan begitu lah Wan. Kamu kan udah di percaya secara turun-temurun di sekolah ini. Dari almarhum kakek kamu, ayah kamu, dan sekarang kamu. Bapak mohon, kamu mau bekerja sama dengan kami. Ini demi kebaikan pelajar yang lain." pintanya, sedikit memelas.


Wanto hanya menghela napas panjang. "Kalau seandainya Bapak di usir dari kediaman Bapak satu-satunya, apakah Bapak akan marah? Dan kemana lagi Bapak mau tinggal? Pasti Bapak bingung, kan?" ucapnya, membuat kepala sekolah mengernyit tak paham. "Jadi makhluk tak kasat mata juga begitu posisinya. Meski tak terlihat, tapi kan mereka makhluk Allah juga. Apa salahnya kalau kita saling menghargai satu sama lain."


"Oke, Wan. Kalau dia gak ganggu, oke-oke saja. Bapak gak masalah. Tapi yang jadi persoalan, dia ini ganggu! Banyak korbannya. Jadi apa bapak salah, kalau mau semua aman dan dia berhenti mengganggu?" protesnya lagi.


"Kalau dia mengganggu, kenapa harus di usir? Apa Bapak tak bisa bicara baik-baik, dan mengingatkan dia supaya tak mengganggu sesama makhluk Allah? Kalau bisa diselesaikan dengan cara baik, kenapa harus dengan cara yang kurang baik?"


Kepala sekolah menarik napasnya lagi. "Masalahnya, kalau saya bisa ngomong empat mata sama dia, ya saya bakalan ngomong. Ini kan masalahnya, saya gak bisa liat atau komunikasi dengan dia? Jadi mau ngomong bagaimananya?" ujar kepala sekolah, bersikeras sekali untuk berdebat dengan Wanto.


"Lah, kan ada saya, Pak? Gunanya bapak datang kesini karena percaya, saya bisa melakukan sesuatu sama makhluk-makhluk seperti itu, kan? Jadi saya menawarkan, daripada Bapak mengusir dan melenyapkan mereka, lebih baik kan bicara yang baik dan memberikan mereka peringatan. Kalau masih ngeyel, ya lain cerita."


"Mengusir makhluk halus itu bisa mengakibatkan hal-hal yang tak diinginkan loh, seperti kejadian kesurupan massal para polisi, itu baru hal kecil aja, bisa lebih besar lagi kalau diteruskan. Mereka pasti melawan." terang Wanto lagi.


"Jadi sekarang bagaimana?"


"Kita ambil aman saja, tapi.. apa Bapak mau menyetujui hal ini atau tidak. Semua tergantung Bapak." tutur Wanto.


Kepala sekolah terdiam sesaat, ia menahan napas sesaat lalu menghelanya perlahan. "Apa jalan aman yang ingin kau lakukan?" tanya kepala sekolah.


"Kita adakan perjanjian dengan dia. Dengan syarat yang menguntungkan kedua belah pihak." Wanto kembali menggantung ucapannya, membuat kepala sekolah mencondongkan tubuhnya ke depan, lalu membenarkan posisi duduknya, seolah tak sabaran dengan ucapan yang akan di katakan oleh anak muda ini.


"Apa itu, Wan! Kamu ini bikin bapak makin tua saja karena penasaran. Cepetan lah!" keluh kepala sekolah pada akhirnya.


"Kita buat perjanjian dengan manusia dan dengan makhluk halus. Perjanjiannya harus menguntungkan kedua belah pihak tadi. Isinya seperti kalau para hantu masih mau tinggal di sini, mereka di larang mengganggu manusia yang berada di sekolah ini. Kalau mereka mengganggu, maka mereka harus mau di usir dari sini." ujar Wanto, sambil memangku teh di salah satu tangannya.


"Itu perjanjian untuk para hantu, lalu, perjanjian untuk manusianya apa?" tanya kepala sekolah.


"Perjanjian untuk manusianya.." suara Wanto perlahan menjadi berat. "Mereka di larang untuk masuk ke ruang seni dengan alasan apapun mau itu siang atau malam, khususnya ketika masuk waktu Maghrib sampai malam hari."


"Meski pelarangan masuk ke sekolah telah lama adanya, tapi kali ini tempatnya saya khususkan menjadi ruangan seni di lantai tiga ruangan paling ujung dari ruangan lainnya."


"Kalau sampai ada yang melanggar dan masih bersikeras untuk masuk ke dalam sana, maka saya berlepas tangan jika ada hantu yang mengganggu mereka. Dan saya tak akan menghukum hantu yang menakuti orang-orang yang melanggar perjanjian ini." tukas Wanto, membuat kepala sekolah menelan ludahnya.


Wanto menyesap teh di tangannya sampai habis, lalu meletakkan cangkir kosong tersebut ke atas meja. Ia beralih, menatap kepala sekolah dengan raut wajah yang serius. "Ini adalah sesuatu, yang di sebut.."


"Pantangan baru di sekolah ini." tukas Wanto, dengan wajah yang menyeringai.


*Author POV End


.......


.......


.......


.......


...Bersambung......