
*Author POV
Wajah Tamusong langsung memucat kala mendengarnya, bagaimana tidak.. Ia adalah hantu yang telah mengenal Kuno terlebih dahulu, ia tahu sekali kalau di sekolah pun Kuno mendapatkan hukuman kurungan oleh kiyai, dan sekarang.. tidak mungkin kalau Kuni mendapatkan perlakuan yang sama, kan?
Bisa-bisa Kuno memberontak dan membuat kekacauan di pulau ini. Kiyai yang memiliki kekuatan yang di takuti para hantu pun berani ia lawan, apalagi kalau dengan sesama hantu.
"Tidaaaaaaak!! Kakak ganteng akan di siksa oleh om-om rambut belah dua?? Dia di kurung juga di sana? Nana yang mengantarnya ke sana, apa nanti kakak ganteng marah pada Nana, dan tidak mau berteman lagi dengan Nana?" gerutu Nana, hendak bersiap menangis.
"Cup cup cup.. Nana jangan bersedih, ini bukan salah Nana kok, Nana kan baik, sudah mau mengantar kakak ganteng." bujuk Wenna. Tentu Wenna dengan sigap melakukan hal ini, karena kali terakhir ia mendengar Nana menangis, membuat hampir sebagian hantu di pulau ini mengalami dengung di telinga selama beberapa Minggu.
"Huuu... Huuuu.. Kan kasihan kakak ganteng, di tempat Nana tak di terima, di tempat asing malah di siksa." rengeknya sambil mengusal mata dengan kedua tangannya.
Tamusong hanya menatap khawatir ke arah Nana, lalu berganti menatap Wenna yang terlihat panik namun berusaha tenang.
"Wenna, kau kan pemimpin hantu dari jenis air. Tentu saja kau sangat mengenal para pemimpin hantu dari segala jenis. Jadi, apakah perkataan mu barusan memang benar?" tanya Tamusong, membuat Wenna mengalihkan pandangannya pada Tamusong, tapi kedua tangannya masih sibuk mengusap kepala Nana.
"Ya, aku tahu sekali dengan tabiat dan perangai para pemimpin hantu. Dan yang paling angkuh adalah Arnold, pemimpin hantu asing yang merupakan seorang vampire." sahut Wenna. "Aku tak tahu apa alasannya, tapi sulit sekali baginya untuk menerima anggota baru di jenisnya. Bahkan ia tak segan-segan untuk melenyapkan hantu yang memaksa tinggal bersama mereka, namun tak memenuhi kriterianya." Tamusong terkesiap mendengar perkataan Wenna.
"Kriteria?? Aku tahu semua pemimpin hantu tentu saja memiliki kriteria mereka masing-masing. Seperti tuan Adri yang menerimaku dengan mudah karena mendengar kisah perjalan kami sebelum menuju ke sini. Dan tentu saja karena aku berjenis hantu pocong asli."
"Lalu, Kuno yang di tolak oleh pemimpin hantu kuntilanak karena berparas tampan dan di anggap lemah karena tidak menyeramkan. Ia juga terlihat asing, makanya di tolak oleh pemimpin kuntilanak. Lalu, kriteria pemimpin hantu asing itu yang seperti apa?" tanyanya lagi.
Wenna membenamkan tubuhnya ke dalam air, menyisakan kepalanya saja yang timbul di atas air. "Setahuku, mereka ingin mendapatkan hantu ras asli. Tak ada keturunan pribumi, atau tak berpakaian hantu pribumi. Dari yang kita lihat, Kuno memang berparas hantu asing. Di tambah lagi warna mata serta rambutnya. Hanya saja yang paling mencolok adalah pakaian yang ia kenakan."
"Ia hantu asing, tapi memakai pakaian hantu pribumi. Dari yang ku tahu, perkumpulan hantu asing itu memakai seragam atau baju para bangsawan. Sementara Kuno tidak. Sekali lihat saja semua orang sudah tahu kalau Kuno itu berasa dari ras percampuran."
"Dan di pulau ini, belum ada sama sekali di temui hantu semacam Kuno. Paras asing tapi penampilan pribumi. Jadi, apa lagi alasan dari Arnold untuk menerima Kuno kalau bukan untuk melenyapkan jenisnya itu?" terang Wenna panjang lebar, dan tentu saja itu membuat Tamusong dan Nana terkesiap.
"Ja.. jadi bagaimana?? Apakah Kuno sedang di siksa di sana?? Penyiksaannya macam apa? Kalaupun ia di kurung, di kurungnya dimana?" sambar Tamusong dengan cepat.
Wenna terdiam sesaat, memikirkan perkara penyiksaan hantu asing yang tak memenuhi kriteria sebelumnya. "Setahuku, mereka mengurung si hantu di suatu tempat dalam kurun waktu yang lama, hingga si hantu meminta di keluarkan dari tempat itu. Mereka tentu saja bersedia mengeluarkan, dengan syarat kalau hantu itu harus pergi dari pulau ini ke tempat lain."
"Lalu, kalau perihal penyiksaan.. setahuku mereka akan melakukan penyerangan secara berkelompok terhadap target. Kalau di umpamakan sih, itu seperti pengeroyokan. Ini yang paling berbahaya, karena kemungkinannya, para hantu yang tak sanggup di keroyok..."
"Akan lenyap dan hilang dari muka bumi ini untuk selamanya."
Tamusong terkesiap, bahkan kedua matanya terbelalak mendengar perkataan Wenna. Ia langsung mengeluarkan kedua tangannya dari dalam kain kafan dan menarik Wenna dari dalam air ke udara.
"Tolong.. Tolong anak itu, bagaimanapun ku mohon.. tolong dia. Dia tak boleh lenyap sekarang. Aku hanya mengulur waktu ke tempat ini untuk bersamanya, karena nanti.. nanti dia harus melakukan sesuatu, dia harus kembali!" desak Tamusong sambil mengguncang tubuh Wenna. Wenna meringis, ketika air tenang yang di masuki kini mendadak bergelombang.
"Ya.. ya, aku tahu! Hentikan ini!" keluh Wenna, membuat Tamusong terkejut dan melepaskan Wenna dengan kikuk.
Wenna mengusap kedua pundaknya, sementara Nana hanya terdiam sambil menahan tangis mendengar perkataan dua hantu yang terdengar menakutkan bagi Kuno.
"Tapi masalahnya, pemimpin hantu lain di larang menolong hantu dari jenis yang berbeda."
Tamusong mengernyitkan dahi, tak terima dengan perkataan Wenna barusan. "Kenapa?? Memangnya kenapa bisa begitu?!" protesnya.
"Kenapa di sebut pemimpin?? Karena kami adalah hantu yang paling terkuat dari jenis kami. Kami mendapat kepercayaan Dewi untuk menolong dan melindungi ras kami. Pertanyaannya, melindungi ras kami dari apa??" Wenna menggantung ucapannya. "Tentu saja dari hantu jenis lain yang menyerang atau membahayakan ras kami."
"Kami di ciptakan untuk melindungi para ras agar tak ada lagi yang bersikukuh dan saling berdebat serta adu kekuatan seperti dulu. Jadi, tidak lucu sekali ketika pemimpin hantu membantu jenis lain. Apa yang akan di katakan oleh rasku kalau sampai itu terjadi?" tanyanya, membuat Tamusong dan Nana terdiam.
"Kalau tak boleh menolong yang berbeda ras, berarti kalau rasnya sama, bisa di maklumi, kan?" tanya Tamusong, membuat Wenna menganggukkan kepalanya.
Nana terdiam dan berhenti mengusap matanya ketika dua hantu ini mulai melihatnya tanpa berkedip. "Ke.. kenapa kalian melihat Nana seperti itu?" tanyanya, dengan suara yang pelan.
.........
Sementara itu, di kediaman hantu asing.. para hantu kepercayaan Tuan Arnold duduk melingkari sesosok anak albino yang tak sadarkan diri.
Mereka mengerahkan kekuatan gaib dengan saling menautkan tangan mereka masing-masing dan memejamkan mata.
Karena ulah mereka, kekuatan gaib berwarna putih tampak keluar dari tubuh Kuno, seperti asap yang tersedot oleh vacum cleaner. Tubuh Kuno terkulai dan mulutnya menganga, ia mengambang di atas udara tanpa suara.
Bruuk!!
Tubuh Kuno mendadak jatuh setelah beberapa orang ini selesai dengan pekerjaannya. Mereka membuka mata bersamaan, membuat serapan energi gaib itu musnah. Keringat deras mengalir di pelipis serta membasahi rambut mereka.
Mereka beralih dan mengambil sebuah daun berukuran besar lalu mengukirnya dengan kuku. Mereka saling lirik, dengan daun yang di pegang di tangan mereka masing-masing.
"Bagaimana menurutmu?" tanya si Cleo, hantu lelaki berambut panjang dan berwajah cantik.
"Simpan saja omong kosongmu, dan kita temui pemimpin tentang penelitian ini." ucap sesosok hantu berwajah dingin sambil beranjak, diikuti oleh dua temannya yang lain.
Mereka terbang bersamaan, melewati banyak jendela dan juga tiang-tiang megah hingga sampai ke sebuah ruangan yang paling spesial di antara yang lain.
Si wajah dingin mengetuk pintu, hingga suara dari dalam ruangan pun muncul. "Masuk."
Mendengar hal itu, tiga hantu ini masuk secara bergantian dan menghadap tuan Arnold yang sedang duduk tegang di depan meja sambil menautkan jemari dan menutup mulutnya.
"Bagaimana?" tanyanya. Tiga hantu ini pun langsung menyodorkan daun mereka masing-masing ke hadapan tuan Arnold, dan lelaki dengan rambut belah dua ini mengambil tiga daun tersebut sekaligus.
Kedua bola matanya mulai bergerak dari kiri dan kanan, membaca tulisan per tulisan. Senyum manis mulai melengkung di bibirnya, bersamaan dengan kerlingan mata yang memandang tiga hantu di hadapannya.
"Dari penelitian yang telah kalian lakukan terhadap hantu itu, aku mendapatkan kesimpulan akan kekuatan yang ia miliki."
"Yang pertama, hantu tipe sensorik. Lalu, hantu yang menguasai kekuatan dasar para hantu. Hantu tipe petarung jarak jauh dan dekat, yang terakhir.. hantu dengan kekuatan kecepatan cahaya." ucapnya, membaca apa yang telah di tulis di atas daun.
"Ini kesimpulan dari pertarungan kalian tadi, tapi.. bukankah kalian menyerap sedikit tenaganya untuk melihat sebesar apa kekuatan tersembunyi yang ia miliki?? Aku ingin yang lebih, bukan hanya yang seperti ini." pintanya.
Si wajah dingin pun membuka suara. "Itu adalah kemampuan yang terlihat dan tentu kami telah yakin mengenai kekuatan itu. Tapi, perihal kekuatan yang kami lihat dari penyerapan kekuatan tadi.. ada semacam gelombang frekuensi yang di batasi anak ini. Entah secara sengaja atau tidak.. tapi, sepertinya ada penghalang yang membuat kami tak bisa mendeteksinya lebih jauh."
"Itu seperti kekuatan yang tersimpan, terpendam atau terbelenggu. Dan akan keluar jika mendapatkan pancingan. Jadi, kami tak bisa menuliskan sesuatu yang lebih detil dari itu, untuk menghindari kesalahan fatal."
"Tapi, melihat pertarungan kami tadi.. serta bagaimana anak ini mampu menyembunyikan kekuatannya dalam frekuensi lain, sebaiknya izinkan aku untuk menjadi guru yang akan membimbing kekuatannya. Dia ini barang berharga yang tak sengaja kita dapatkan, jadi aku tak akan membiarkan hantu lain mendapatkannya." ujarnya, membuat tuan Arnold mengangguk paham.
"Penjelasan mu sangat jelas, Jody. Kalau begitu, aku percayakan anak itu padamu." sahut tuan Arnold, membuat dua hantu lain tersentak seolah tak terima.
"Maaf tuan Arnold, dia itu memiliki tipe kekuatan yang hampir sama denganku, yaitu petarung jarak jauh, ku mohon agar aku saja yang menangani anak itu." sambar Cleo.
"Tidak tuan, aku juga hantu tipe sensor, sepertinya aku yang lebih baik untuk mengasah kemampuannya itu. Hantu tipe sensor sangat di perlukan dalam peperangan dan menjadi penunjang keberhasilan!" sergah Noel, seseorang yang wajahnya nafsuan.
Jody hanya mendengkus ketika mendengar dua orang ini memperebutkan Kuno. "Hahaha, kalian tak dengar kalau tuan Arnold mempercayakan itu padaku??" ucapnya, membuat dua hantu ini mendencih kesal.
.........
Sementara itu, di luar ruangan, Abbe menyadari kalau baru saja tiga hantu kepercayaan Tuan Arnold masuk ke dalam dengan membawa selembar daun di tangannya masing-masing.
Ia mengernyit heran serta penasaran, karena hantu ini tahu mengenai rencana mereka pada Kuno. Ia sendiri yang di minta untuk mendatangi Kuno dan menyampaikan undangan tersebut.
"Kenapa para hantu kepercayaan Tuan Arnold masuk ke sana ya? Setahuku, tadi mereka juga berada di kamar setan miskin itu. Dan, kenapa mereka harus mengundang hantu itu ke altar?? Membingungkan sekali." gumamnya, sambil celingak-celinguk di samping tiang.
Ketika para hantu keluar, buru-buru Abbe berjalan berbalik arah, agar tak ketahuan kalau ia sedang penasaran dan hendak menguping pembicaraan mereka.
"Jadi, untuk sementara aku melarang kalian mendekati anak itu, karena dia adalah muridku." ucap Jody, membuat Abbe terkesiap kala mendengarnya.
Bukan tanpa alasan, itu karena sejak dulu Abbe ingin sekuat Jody, dan mengidolakan Jody, jadi ketika hantu kegemarannya itu menjadikan hantu lain sebagai murid, tentu itu membuatnya merasa cemburu, apalagi kalau hantu itu adalah Kuno.
"Cih, kau cuma beruntung saja mendapatkannya. Jangan sampai kepercayaan Tuan membuat kau lalai dan membuatnya kecewa!" balas Cleo.
Abbe mengernyit mendengarnya. "Beruntung? Apa maksudnya? Memangnya seberharga apa anak itu?? Bukankah dia di kurung di dalam ruangan itu? Aku bisa merasakan lapisan cahaya yang membelenggunya." batin Abbe.
"Ehem, sedang apa kau di sana, Abbe?" tanya Noel, membuat Cleo dan Jody terkesiap, karena baru menyadari kehadiran Abbe di dekat mereka.
"Maafkan aku, aku hanya lewat dan tak sengaja mendengar. Kalau itu sesuatu yang tak selayaknya ku dengar, aku akan melupakannya. Permisi!" tukasnya cepat, sambil segera berlalu meninggalkan tiga hantu ini.
"Sensorku merasa, kalau anak itu.. sedang kesal dan cemburu." ujar Noel, sambil memperhatikan Abbe yang tengah berlalu. "Jody, dia suka sekali padamu sejak dulu, sepertinya.. dia akan memiliki hubungan yang buruk pada anak muridmu." lanjutnya.
"Aku tak perduli, mau dia memusuhi muridku atau tidak pun aku tak perduli. Karena yang kita butuhkan bukan pribadi anak itu, tapi.. kekuatannya."
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......