RUN

RUN
Penolakan



Tamusong melompat-lompat sambil menilik sekeliling, begitu juga dengan saya. Kami melewati api unggun aneh yang terlihat terbang tanpa adanya pembakaran. Para hantu yang lain berjalan mengelilingi api tersebut. Mereka sama sekali tak menyadari kehadiran kami atau memang pura-pura tidak tahu??


"Hei Kuno, katakan padaku kalau kau melihat perkumpulan pocong. Aku ingin melihat siapa pemimpin mereka." ucap Tamusong bergumam, sambil terus menilik sekeliling.


"Memangnya kenapa kau menanyakan hal itu? Mau berantem dengan mereka?" terka saya, membuat Tamusong mengibaskan tangannya ke arah saya.


"Mana mungkin sih. Aku hanya ingin melihat mereka saja. Ngomong-ngomong, yang mereka kelilingi itu apa ya?" tanyanya. Saya memutar bola mata kala mendengarnya. Saya yang berjalan dari jauh pun sudah langsung tertuju pada api itu, masa' sih dia baru menyadarinya.


"Saya rasa itu api, tapi bagaimana mereka menyalakannya ya? Apakah disini ada korek api?? Atau kayu bakar?? Jangan-jangan, mereka membuat itu dari batu yang terus di gesekkan hingga memanas dan berhasil memantikkan percikan api? Tidak mungkin kan kalau mereka pakai kompor sumbu." sahut saya, membuat Tamusong terkekeh.


Semakin mendekati tempat tersebut, saya tak melepaskan diri dari pandangan yang ada. Ketika jarak hanya tinggal beberapa langkah kaki saja, saya pun menyadari kalau api itu...


Adalah benda yang bisa bergerak. Maksud saya, itu sama seperti kami. Kumpulan hantu kah? Tapi jenis macam apa itu? Saya tak pernah melihatnya.


"Ternyata bisa bergerak. Jadi itu Anton?" tukas Tamusong, mengomentari apa yang saya lihat juga.


"Hah? Apa? Anton?" tanya saya heran.


"Ya, kau tidak tahu hantu itu ya? Itu adalah hantu yang hanga menyisakan kepalanya saja dari semua anggota tubuh yang ia miliki. Dan lagi, kepala itu terbang kemana pun ia suka. Yang lebih menakutkannya lagi ketika aku jadi manusia, benda itu di kelilingi api yang membakar di seluruh bagian kepalanya. Ia selalu keluar di malam hari, dan Anton akan terlihat seperti benda aneh yang bersinar kemerahan dengan melesat cepat kala terbang."


"Sewaktu masih gadis, aku di takuti oleh Ibuku dengan perkataan seperti itu. Ia bilang, anak gadis tak boleh keluar malam, nanti ada Anton terbang yang akan menakutimu. Haah, karena perkataan itu lah, sampai sekarang aku masih takut pada makhluk itu. Padahal, ibu berkata begitu agar aku tak pergi kemana-mana. Orang tua zaman dulu memang begitu sih. Menasehati dengan menyelipkan rumor menyeramkan agar kami percaya." terangnya panjang lebar.


Saya menoleh ke salah satu tempat, dimana ada pohon pisang yang berderet rapat. Tempat itu terlihat gelap dan mencekam. Saya bisa melihat daun-daun pisang yang jatuh dan kekuningan di bawah tanah, bahkan beberapa di antara sudah membusuk.


Di dalam kegelapan, muncul beberapa rupa berwarna putih dan terlihat dominan. Saya menyipitkan mata untuk melihatnya, begitu juga dengan Tamusong.


"Hei Tamusong, lihat!!" pekik saya girang. "Itu bukannya komplotanmu ya?" tanya saya cepat, sambil ikut melompat-lompat.


"Jangan mengatakan hal itu dengan komplotan, kau tahu.. itu terdengar jahat tahu!!" bentaknya, membuat saya menutup telinga dan terbang menjauhinya.


"Wah, sepertinya saya mau ikut bergabung dengan mereka. Boleh tidak ya, meminta buah pisang yang berada di sekitar kediaman mereka, atau jangan-jangan.. pohon-pohon pisang itu adalah rumah mereka?"


Tamusong menoleh sinis ke arah saya. "Kau itu tak dengar atau pura-pura tidak dengar sih?" keluhnya.


"Ayo kita dekati mereka dan cari tahu siapa pemimpinnya." ujar saya, dan Tamusong hanya menggeleng lemas sambil melompat mengikuti saya.


"Permisi, permisiiii!!" sapa saya, membuat beberapa pocong yang duduk bertengger di atas pohon pisang yang telah tumbang pun menoleh.


"Ya, cari apa, dik?" tanya salah satu dari mereka.


"Waw, wajahmu tak gosong, ya?" gumam saya sambil mengomentari wajahnya. "Anu Pak pocong, saya mau nanya.. ini teman saya namanya Tamusong, dia mau masuk ke komplotan pocong, bisa tidak ya?" tanya saya berbasa-basi, karena pocong yang di hadapan saya ini sepertinya tidak buruk.


Ia melirik, menatap lekat ke arah Tamusong. Kerutan halus mulai tampak di wajahnya, tapi matanya sama sekali tak berkedip. Saya menoleh ke arah Tamusong, Tante-tante ini sepertinya risih tapi tidak salah tingkah. Malah ia membalas tatapan itu dengan pandangan menjengkelkan.


"Kau perempuan, tapi namamu seperti laki-laki?" timpalnya setelah puas melirik.


"Tamusong itu artinya Tante muka gosong." terang Tamusong ketus, membuat pak Pocong ini terbahak.


"Huahahaha, siapa yang menamai mu seperti itu?" tanyanya, dan Tamusong langsung menoleh sinis ke arah saya. "Oh, jadi dia." timpalnya. Pak pocong ini pun beranjak dan menghadapkan tubuhnya lurus ke arah Tamusong. "Jadi kau orang baru, dan mau ikut bergabung di jenis hantu pocong?" tanyanya. Dan Tamusong hanya menganggukkan kepala.


"Oke, sebelumnya.. kau harus ku pertemukan dengan pemimpin dulu. Ayo!" ajaknya sambil melompat-lompat, begitu juga dengan Tamusong dan saya. Pak pocong langsung menoleh ke arah saya dengan sinis. "Hei? Kau bisa terbang, kan? Kenapa kau melompat-lompat begitu? Sedang meledek ya?" tanyanya, tampak tersinggung.


Saya mendecakkan lidah dengan wajah datar. "Ck! Yang ada saya ini sedang menghargai kalian berdua tahu! Kalau kalian melompat-lompat tapi saya sendirian yang terbang, bukannya itu jadi tidak sopan?" ujar saya, membuat raut pak pocong yang awalnya masam menjadi berubah.


"Oh, jadi begitu ya? Benar juga ya." sahutnya polos. Sementara Tamusong hanya menatap saya dengan sinis sambil bersungut-sungut.


"Jelas sekali kau sedang meledek kami, pakai berpura-pura segala lagi!" gerutunya tanpa suara.


Kami berjalan memasuki tanah yang sedikit lembab tapi tidak becek. Di kiri dan kanan di tumbuhi pohon pisang, semakin jauh berjalan.. maka pohon-pohon pisang disini semakin besar dan tinggi, bahkan baru kali ini saya melihat pohon pisang sebesar ini seumur hidup saya.


Setelah masuk cukup dalam, langit dan awan hitam sudah tidak tampak, saking tertutupnya dengan pelepah pohon pisang yang besar. Saya terbang sambil menengadah, memperhatikan sekeliling dengan seksama.


Setelah cukup puas berjalan, barulah saya melihat sebuah tempat yang mirip rumah atau kediaman yang luas, tapi terbuat dari segala hal tentang pohon pisang. Atap dari daun pisang, dinding dari batang pisang, dan lantainya dari pelepah-pelepah pisang yang sudah kering dan menguning.


Di dalam sana banyak makhluk berbaju putih dengan ikatan kuat di kepalanya. Baju putih itu bukan sembarang baju, karena lebih mirip kain kafan kotor yang terkena noda tanah kuburan yang berwarna kuning.


Ketika saya dan pak pocong masuk bersama Tamusong, semua hantu yang berada di tempat ini menoleh ke arah kami. Dan sungguh, tatapan ribuan hantu dengan lingkar mata hitam itu cukup menyeramkan.


"Siapa yang datang bersamamu, Pojata?" tanya sebuah suara yang tak tampak wujudnya, namun membuat saya dan Tamusong mengerut ketakutan.


"Aku membawa hantu yang baru datang, dari jenis pocong kemari. Ia mau bertemu denganmu, Tuan Adri." sahut pak Pocong yang ternyata bernama Pojata. Singkatan dari apa itu?


Tuan pocong yang bernama Adri tadi pun perlahan muncul dari balik gelapnya pohon pisang. Bayangan yang muncul tampak besar, dan saya langsung menutup hidung ketika mencium bau yang teramat busuk di penciuman. Ketika ia melompat, lompatannya itu membuat tubuh kami gemetaran. Bahkan tanah yang ia pijak sedikit retak.


Ruangan ini redup pencahayaan, tapi di mata para hantu, ini masih bisa terlihat dengan jelas. Saya melihat penampakan kain kafan usang yang sedikit sobek dengan noda tanah kuning di sekujurnya. Kedua tangannya tak keluar, tapi kuku panjangnya sampai menembus kain kafan.


Ia terhenti, dan pertama kali lirikan matanya tertuju pada saya. Apakah karena.. hanya saya yang menutup hidung disini? Makanya dia tersinggung?


Dengan cepat saya mengalihkan tangan dari hidung. Saya tak perlu menahan napas karena kami memang tak bernapas, tapi.. bau ini tetap tercium meski tak mengendusnya. Cara yang tepat memanglah menutup hidung.


"Apa yang membawamu datang kemari? Pocong Wanita?" tanyanya dengan suara yang menggema, sambil menatap ke arah Tamusong yang terlihat mungil di antara mereka.


"Namanya, Tamusong." sambar Pojata."


"Aku ke sini dengan temanku. Kami datang dari jauh ke tempat ini, jadi mohon terima kehadiran kami." ujar Tamusong, membuat tuan Adri mengernyitkan dahinya.


"Katakan dengan jelas mengenai kepergian mu. Tak ada hantu yang di terima jika mereka tak mengatakan riwayatnya dengan baik." pintanya lagi. Seperti melamar pekerjaan saja, harus ada riwayat hidupnya.


"Ehem, jadi begini. Aku dan Kuno datang dari Pangkalpinang, tepatnya di gedung sekolah SMA dan juga kuburan Baciang. Kami dulunya tinggal di sana, tapi karena suatu hal.. Kuno membunuh salah seorang manusia, dan juru kunci di sana sangat marah hingga hampir melenyapkan kami berdua."


"Tapi beruntungnya, kami bisa melarikan diri dari serangan tersebut, dan akhirnya sampai ke tempat ini untuk mencari perlindungan dari para manusia sakti yang memburu." terang Tamusong panjang lebar, membuat saya seorang yang mengantuk mendengarnya.


"Hm, jadi begitu. Baiklah, kau di terima di tempat ini." ucap tuan Adri, membuat Tamusong menghela napas lega sambil menoleh ke arah saya, seolah mengisyaratkan agar saya memberikan penjelasan yang sama supaya bisa tinggal bersama mereka.


Tapi, sepertinya mustahil mengingat para hantu di sini tinggal berdasarkan jenis mereka masing-masing.


"Lalu, saya?" tanya saya parau, meski dengan wajah yang teramat datar.


Tuan Adri menatap saya dari ujung rambut sampai ujung kaki. "Aku tak bisa menerimamu." sahutnya. Sudah saya duga kan.


Tamusong yang paling terkejut mendengar jawabannya. "Lah? Kenapa? Dia itu temanku? Kenapa tak diizinkan untuk tinggal di tempat ini?" protesnya.


"Bukan tak diizinkan tinggal di tempat ini, hanya saja ia salah marga. Ia hantu yang jenisnya berbeda dengan kita. Maka ku sarankan, kau untuk menemui para hantu kuntilanak. Karena sepertinya kau berada pada jenis mereka. Untuk sekarang, aku tak bisa menerima sesosok hantu yang berlainan. Aku akan mendapat hukuman jika melakukannya." tukasnya tegas, membuat saya menoleh ke arah Tamusong.


"Ya sudah, setidaknya kita masih berada di tempat yang sama, kan. Hanya kawanannya saja yang berbeda." ujar saya, membuat Tamusong mengernyit khawatir ketika melihat saya berbalik.


"Izinkan saya mengantarkannya keluar, tuan." sambar Tamusong sambil melompat ke arah saya, diikuti oleh Pojata.


Mereka mengantar saya sampai ke depan pohon pisang yang pertama kali kami jumpai. Pojata menunjukkan jalan menuju ke kawanan saya sambil mengatakan satu kalimat.


"Ku harap, kau mendapatkan tempat yang layak dan menyenangkan." ucapnya. Dan kalimat itu membuat saya menjadi sedikit curiga.


Apakah kawanan kuntilanak, tak sebaik kawanan para pocong tadi??


.......


.......


.......


.......


...Bersambung......