RUN

RUN
Bimbang



Reza memakan masakan yang Dinda masak. Ia duduk di ruang makan sendirian. Dinda tak ikut makan, ia menemani putrinya tidur.


Reza memakan masakan Dinda dengan amat pelan. Merasakan rasa masakan itu. Lalu terlintas wajah Dinda ketika bertemu di dermaga pagi tadi. Wajah dan penampilan istrinya yang berubah, seperti menjumpai orang baru. Karena masalah itu membuat dirinya canggung berkomunikasi dengan istrinya.


Hp Reza bergetar, namun Ketika Dinda tiba-tiba masuk ke ruang makan, Reza mematikan HP nya.


Dinda melihat Reza sudah menyelesaikan makannya.


"Boleh duduk?"


"I... iya, silahkan," ujar Reza agak gugup.


Dinda memaksakan senyumnya dalam rasa sedihnya. "Aku sudah menandatangani surat cerai yang Mas kirim."


Reza bengong sesaat. Ada perasaan tidak siap untuk bercerai. Padahal sebelumnya hasrat berpisah begitu menggebu-gebu, terutama rongrongan dari Siska.


"Mas?"


"Ah, iya. Hmmm, terima kasih kamu sudah menandatanganinya."


Dinda tersenyum, ia berusaha untuk ikhlas. "Aku tak akan memperberat Mas Reza jika memang keputusan cerai itu sudah bulat," ujarnya pelan, ada nada sedih yang dialihkan menjadi ketegaran.


"Mungkin selama menjadi istri Mas, aku banyak kekurangan. " Dinda berhenti sesaat karena tiba-tiba saja ada butiran bening dari matanya terjatuh, ia mengusapnya sendiri lalu melanjutkan perkataannya, "Aku minta maaf."


Dinda kembali berusaha tegar, "Hanya satu permintaanku, bisakah Dela ikut bersamaku?". Permintaan itu begitu pilu sebagai seorang ibu. "Aku sekarang memang pengangguran, Mas. Tapi aku akan berusaha mencari mata pencaharian buat kehidupan kami." Meski mata Dinda berkaca-kaca, namun ia berusaha kuat menahan air matanya. "Aku berjanji akan memberikan kehidupan yang layak buat Dela."


Reza menelan ludah, "Dek..." ia bingung apa yang harus dikatakannya.


Dinda menghela nafas amat panjang. "Maaf, Mas. Mas Reza baru saja pulang, tapi aku mengganggu dengan menggunakan hal ini."


Dinda berdiri dari bangku, sudah terlalu sesak di dada, ia ingin menenangkan diri sejenak. Dinda tersenyum sebelum ia meninggalkan ruang makan, berusaha bersahabat dengan keadaan. Dinda meninggalkan ruangan itu. Sikap Reza jadi bimbang. Tapi ia sudah terlanjur menjanjikan pernikahan pada Siska.


Hp Reza kembali bergetar. Reza mengangkat Hpnya. Dari balik tirai, Dinda memperhatikan Reza larut dalam obrolannya di telepon. Dari situ Dinda semakin yakin akan perpisahan yang harus terjadi. Untuk apa mempertahankan suatu ikatan pernikahan jika salah satu diantara mereka sudah keluar dari lingkaran ikatan janji suci, semua percuma.


***


Reza menutup telepon dari Siska. Untuk waktu yang lama ia terhanyut dalam lamunannya di ruang makan. Jujur ia mengakui hatinya menjadi bimbang, padahal sebelumnya ia sudah sangat yakin akan berpisah dengan istrinya. Reza berdiri dari tempat duduknya. Kakinya melangkah menuju kamar Dela. Entah mengapa jadi teringat putrinya. Selama gelombang rintangan menerpa rumah tangganya, ia menjadi tak begitu dekat dengan Dela. Perhatiannya lebih banyak pada Siska. Tiba - tiba saja menjadi merasa bersalah jika ingat itu.


Pandangan Reza menemukan Dinda tidur di samping Dela. Selimut terjatuh di lantai. Reza duduk di samping Dinda. Menekuri wajahnya yang terlihat jelas begitu lelah. Tangannya menyentuh pipi Dinda. Lalu tanpa sadar, ia melihat payudara Dinda yang sedikit terlihat dari balik kaosnya yang longgar.


Reza menelan ludah. Canggung dengan keadaan itu. Ia buru-buru berdiri. Lalu mengambil selimut dan menyelimuti istri dan anaknya.


"Mikir apa, aku ini" Tangan Reza menjitak kepalanya sendiri.