RUN

RUN
Kupu-kupu



Satu bulan berlalu


Dinda berdiri di depan jendela rumahnya, melihat pemandangan keluar, bias-bias kilau matahari pagi menembus jendela rumahnya. Tirai sifon berwarna biru laut melambai lambai tertiup angin. Ia memperhatikan para tetangganya dari jendela itu yang sibuk hendak menjemput suami mereka masing-masing yang pulang dari tugas.


Tangannya memegang pinggiran jendela rumahnya. Ekspresi wajahnya sedih. Lirih ia berkata, "Sebentar lagi Mas Reza pulang dan kami akan mengurus perceraian." Air matanya meleleh. Ia sebenarnya tak rela biduk rumah tangganya yang telah berusia 6 tahun harus kandas begitu saja. Ia segera mengusap air mata yang jatuh ke pipinya saat tangan kecil menarik ujung baju Dinda. Dinda menoleh dan mendapati putri semata wayangnya menengadah menatapnya.



"Ada apa, Nak?"



"Mama nggak jemput Papa?"



Matanya berpaling, mengisyaratkannya memikirkan sesuatu. "Kayaknya enggak, Nak."



Terasa sekali ada perasaan kecewa yang terbersit di wajah putri semata wayangnya, namun Dinda berat mengabulkan permintaan tersirat dari Dela.



Mereka berdua tersentak setelah mendengar ketukan pintu dari ruang tamu. Buru-buru Dinda berlari. Membuka pintu.



Tidak biasanya mendapati tamu seperti di hadapannya kini, ia setengah melongo menyambut tamunya.



"Bu Danki?"



Bu Danki tersenyum singkat, tanpa menindak lanjuti rasa keheranan Dinda. Ia masuk begitu saja. Tas besar yang dibawanya ia letakkan di atas sofa dan membuat Dinda semakin bertanya-tanya.



"Maaf Bu.. "



Bu Danki melirik. Giginya yang rapi dan putih terlihat berjejer indah saat ia tersenyum penuh arti.



"Bu Reza nggak ikut jemput suami? Kan hari ini datang."



Dela menyeru, "Iya, Ma. jemput Papa yuk!!"



Dinda menggigit bibir, lidahnya kelu untuk mengabulkannya. Sorot matanya membias, apalah arti kehadirannya jika suami tak mengharapkan kehadirannya.


"Apa yang membuat Bu Reza berat untuk menjemput?"



Dinda memandang tanpa berkata, ia tak tahu bagaimana cara menata kata agar orang lain mau mengerti perasaannya.



Bu Danki tersenyum, "Sudahlah, saya yang membuat keputusan, pokoknya Bu Reza harus ikut menjemput. Ikut mobil saya saja. Nggak usah ikut rombongan."



"Tapi Bu.. "




Dinda mengernyit semakin bingung. "Baju ini buat apa Bu?"



"Ya buat Bu Reza lah"



Dinda melotot semakin keheranan. " Nggak salah Bu? Baju kecil gitu, mana muat dipakai gajah bengkak seperti saya?"



Bu Danki menurunkan seragam yang dipegangnya seraya menggelengkan kepalanya. "Bu Reza belum sadar juga ya?!"



"Belum sadar gimana Bu?"



Bu Danki berdecak "Haduh, Bu Reza ini sudah sangat kuruuusss!" Ungkap Bu Danki dengan nada panjang menekan lalu tertawa kecil. " Bu Reza mungkin tidak menyadari karena Bu Reza terlalu sibuk memikirkan permasalahan rumah tangga ibu,kan? Apalagi tak ada cermin besar di rumah ini"



"Masa sih Bu?" Dinda amat tidak percaya.



Bu Danki bertolak pinggang. "Kalau nggak percaya, sana cepat ganti baju pakai seragam lama saya ini". Suruh Bu Danki sambil mendorong dorong tubuh Bu Reza.



Dela memperhatikan keduanya, lalu Bu Danki menoleh, "Dek Dela, Mamanya Tante pinjam sebentar, ya", katanya dengan senyuman. Dela mengangguk angguk sekadarnya.



Dan beberapa menit kemudian, Dinda keluar dari kamar dengan wajah shock, "Ya Tuhan! Astaga?! " Teriak Dinda tak percaya dengan seragam yang menurutnya sangat kecil itu pas di badan Dinda. "Astaga Bu!! Bagaimana bisa begini?"



Bu Danki tertawa-tawa, "Bu Reza sih, terlalu sibuk mau ngurus cerai aja. Sampai nggak sadar kalau udah kurus begini. Apalagi Bu Reza olahraganya kayak orang overdosis, ya cepat kuruslah, Bu!!"



Bu Danki masih tertawa-tawa, "Emang Bu Reza nggak sadar kalau pakaian ibu sudah longgar?"



Bu Reza masih dalam suasana tak percaya, ia bolak-balik memperhatikan badannya yang memakai seragam itu. "Enggak Bu. Ya kadang saya merasa baju baju saya agak longgar tapi nggak saya telusuri lebih jauh, saya cuek aja. Bu, baju ini Ibu pakai waktu berat ibu berapa?"



"52 kilo'



"Hah??? 52 kilo??" Dinda semakin tidak percaya dengan apa yang terjadi. "Astaga Bu!! Kayak mimpi rasanya"



Bu Danki tersenyum puas melihat Dinda pas memakai bajunya. " Saya yakin baju Bu Reza semua masih ukuran jumbo, itu di tas besar saya baju-baju saya yang sudah tidak muat buat Bu Reza. Maaf baru bisa kasih yang bekas. Tapi masih bagus kok."



Dinda terharu hingga matanya berkaca-kaca, menyentuh tangan Bu Danki seraya menunduk, "Nggak apa-apa, Bu. Saya terharu ibu begitu care terhadap saya. Saya senang dengan pemberian Bu Danki ini"



Bu Danki tersenyum. Ia menepuk pundak Dinda, di lubuk hatinya yang terdalam ia berharap agar Dinda dan suaminya tak berpisah. " Bu Reza harus ikut menjemput ya. Tidak usah minder lagi, tidak usah menyalahkan diri sendiri, dengan perubahan yang terjadi Bu Reza adalah orang yang jauh berbeda. Ibu ibarat kupu-kupu yang keluar dari kepompong. Bu Reza harus percaya diri!"