RUN

RUN
Dinda,Run!



Embusan napas pendek, cepat,mengiringi irama langkah kaki Dinda saat berlari. Kerikil-kerikil di sepanjang jalan ditebas dengan langkah kuatnya. Wajah ibu muda berusia 26 tahun itu u serius menatap ke depan. Sinar matanya yang kuat, tak menggoyahkan keyakinannya bahwa dengan terus berlari,ia berharap semua dilemanya akan mengikis.



Kedua tangannya selaras bergerak mengimbangi langkahnya. Dalam larinya, saat kenangan pahit bermunculan,ia semakin memicu larinya lebih cepat. Kenangan pahit itu bermunculan silih berganti setiap waktu, menggedor gedor ruang hatinya tanpa kenal waktu.



Semua bermula, ketika pertama kali Dinda mengetahui WA mesra suaminya dengan wan lain. Ketika menyadari suaminya sering berbohong sibuk kerja padahal bertemu dengan wanita itu, saat ia menemukan 2 karcis bioskop di saku suaminya, saat menemukan foto suaminya dengan wanita itu di ponsel. Dan akhirnya mereka bertengkar hebat, terucap kata cerai.....


"Baiklah, akan kukabulkan permintaan ceraimu setelah aku pulang dari tugas!" Ucap suaminya dengan nada keras sebelum akhirnya ia berangkat tugas selama 12 bulan.



Setiap teringat itu, Dinda memilih untuk berlari. Berharap dengan berlari, semua kenangan pahit itu teralihkan. Entah berapa kali dalam sehari. Pernah dalam sehari ia berlari hingga 4 kali dalam sehari.



Sore itu, Dinda mengistirahatkan tubuhnya duduk di depan taman. Napasnya memburu melepas lelah. Ia luruskan kaki ketika duduk. Meminum air putih di botol hingga habis tak bersisa.



Angin sore lumayan kencang hingga rambutnya bergoyang dikibas angin. Taman lumayan ramai sore itu. Banyak ibu-ibu yang punya anak kecil sedang menyuapi anaknya sembari mengobrol.



"Bu Reza?"



Dinda menengadah lalu berdiri seketika saat tahu siapa yang menyapanya. Bu Danki."



Wanita muda yang dipanggil Bu Danki itu lantas menyunggingkan seulas senyum ramah. Kalau sore begini, Bu Danki memang kerap kali berolahraga sore untuk tetap menjaga badannya,namun olahraga yang dipilih bukan berlari seperti Dinda. Olahraga yang dipilihnya adalah aerobik yang lokasinya tak begitu jauh dari asrama.



" Habis aerobik, Bu?" Tebak Dinda seraya memandangi Bu Danki yang masih mengenakan celana ketat biru laut dengan atasan jaket panjang untuk menutupi baju senamnya yang ketat.




"Iya, Bu Reza."


Mereka berdua lalu duduk bersama.



" Bapak-bapak bulan depan sudah pulang dari tugas ya, Bu?"




Dinda menghela napas. " Sebentar lagi saya sudah tidak tinggal di asrama ini,Bu," Ujarnya pelan.


Bu Danki menatap lekat Dinda, prihatin. " Saya sudah dengar kabar mengenai rumah tangga Bu Reza. Hmmm, saya turut prihatin, ya Bu."



Dinda merasa lemas dengan kenyataan ini. " Terima kasih Bu. Pada awalnya saya terlalu down,tapi akhirnya saya introspeksi diri. Mungkin salah saya juga, Bu"


Bu Danki menatap, mendengarkan Dinda menyelesaikan ceritanya.



"Saya terlalu percaya diri, dengan melahirkan anak darinya,saya merasa hanya sayalah satunya wanita dalam hidupnya. Saya yakin dia setia dan keyakinan itu tidak saya imbangi dengan sikap semestinya. Selama ini saya tidak menjaga penampilan. Saya makan tanpa terkontrol. Jarang berolahraga. Dulu saya pikir, ah... biar saja saya gendut,toh sudah 'laku' ini. " Dinda tersenyum sedih menyadari kekeliruan pola pikirnya.



"Dirumah,tiap hari saya memakai daster, yang kadang robek pun masih saya pakai dengan dalih merasa nyaman. Mungkin pikir suami saya, saya ini terlihat seperti pembantu dari pada seorang istri. Rambut cuma diikat ala kadarnya, badan gemuk,bau dapur,pakai daster kumal. Dimana letak tertariknya? Suami mau menyentuh saja enggan."



Bu Danki menepuk tangan Dinda.


" Tugas istri itu beratnya luar biasa. Di samping kita harus bisa mengurus rumah dan anak, istri juga harus bisa membuat betah suami di rumah. Meski kita telah melahirkan anak berapapun, tapi jika tidak menjaga penampilan, besar kemungkinan suami memandang wanita di luar yang lebih segar. Bukan hanya masalah penampilan, Bu. Tapi kenyamanan suami pada kita. Suami tidak akan mudah tergoda wanita lain jika kita pandai menggodanya."



"Saya memang orangnya kaku, Bu. Nggak ada romantis-romantisnya." Dinda tersenyum simpul. " Saya sudah lihat foto selingkuhan suami saya, orangnya langsing dan dandanannya modis, Bu. Di WA pun kata katanya pintar merayu. Apalah bila dibandingkan dengan saya yang gendut dan nggak pintar dandan ini, Bu"



Bu Danki mengernyitkan dahi,ia menyadari jika Dinda belum menyadari perubahan pada dirinya. " Bu Reza punya cermin besar di rumah?"



Dinda agak terkejut karena Bu Danki tiba-tiba menanyakan hal diluar topik pembicaraan namun ia lebih memilih untuk menggelengkan kepalanya.


"Nggak ada Bu. Paling kaca kecil untuk bedakan saja. Saya nggak pajang kaca besar,Bu. Kadang ill- feel lihat badan saya seperti ini. Semakin saya lihat diri saya di cermin,semakin saya kesal, Bu. Ujung-ujungnya, saya menyalahkan diri sendiri."



"Oh,pantas saja"



Dinda semakin bingung. Matanya mengitari ekspresi Bu Danki yang seolah memikirkan sesuatu.



" Bu Reza tipe orang yang tidak terlalu akrab dengan tetangga, jarang ikutan ngumpul, kalau kegiatan juga duduknya paling belakang dan menyendiri. Pantas saja orang orang sekitar tak menyadari suatu perubahan yang terjadi." batin Bu Danki.