RUN

RUN
Kedatangan Tamu



*Peristiwa sebelumnya....


Sebenarnya saya merasa kesepian di ruangan yang sudah tak terlihat seperti ruang seni. Tapi lebih kepada gudang dengan barang-barang usang dan berdebu. Ocehan saya sebenarnya hanya kamuflase agar saya tak merasa benar-benar sendiri.


Menyedihkan! Mati itu menyedihkan. Apalagi mati penasaran begini. Huft!!


Dalam kegelisahan saya, tiba-tiba saja saya tersentak dan kedua mata saya terbelalak. Dengan spontan saya langsung menoleh ke arah pintu gudang.


Mata saya berkilat-kilat dan tubuh saya bergetar hebat. Saya menarik bibir serupa lengkung dan tersenyum dengan seringaian. "Ooh, ada tamu?? gumam saya sambil beralih ke pintu masuk.


"Sepertinya ada orang yang benar-benar ingin masuk ke dalam ruangan ini. Kenapa ya?? Untuk apa??" lanjut saya.


Saya masih terus menunggu di depan pintu, tapi sepertinya perasaan yang saya rasa hanya sekedar niat dari seseorang, tapi ia belum melakukannya.


Tapi, kenapa ada bau-bau tengik ya di sini?? Seperti bau lelaki hidung burik yang telah menipu Ayuk. Waktu itu saya mencium bau yang samar bersama kiyai pada malam Jum'at Kliwon. Tapi kali ini, saya baru menyadari kalau saya mengenal bau ini. Tidak mungkin kan dia di sini?? Kalau ia datang bersama Ayah, mungkin-mungkin saja, karena mereka berdua sama saja. Tapi.. bau ini sepertinya bau dia seorang, saya tak merasakan keberadaan Ayah ataupun bau badan bapak-bapaknya.


"Hei bola kempes, menurutmu siapa yang akan datang kemari?? Kalau kedatangan tamu, bukankah sebaiknya kalau kita menyambut kedatangannya? Tidak sopan kan kalau hanya berdiam diri.." oceh saya pada satu-satunya teman di ruangan ini. Bola kempes yang selalu menemani kesendirian saya.


Saya mulai menggerakkan bola yang terlipat dua, membentuk seperti mulut-mulut yang seolah bisa bicara. "Ya, sebaiknya kau kageti dia. Tapi jangan berlebihan, nanti kau kebablasan dan di hukum lagi oleh kiyai bau tai burung." sahut saya dengan suara falset, seolah menjadi bola kempes yang dapat menimpali obrolan.


"Yah! Kihihihi, kau bisa saja mengatakan kalau dia bau tai burung. Tapi memang benar sih, soalnya selalu berteman dengan burung. Dan lagi...."


Ngiiiiiiiing.....


Ocehan saya terhenti ketika telinga saya tiba-tiba berdenging. Saya tersentak, menggeliat dan mengorek telinga dengan kelingking. "Kenapa tiba-tiba saja berdengung seperti ini?" gerutu saya.


Kedua mata saya terbelalak lebar ketika sesuatu merasuk ke jiwa saya. Ada semacam suasana-suasana aneh yang melesat-lesat, melintasi pikiran saya, namun hanya sekelabat dan lewat begitu saja.


Di pandangan saya, saya melihat ruangan yang di penuhi galon, ada sebuah kompor, cangkir, piring, kemoceng.. dan lainnya.


Itu seperti penampakan ruang OB di sekolah?? Saya selalu datang ke sana untuk meminta air minum setelah makan keripik pedas di koperasi. Terkadang minta di ajari mengikat tali sepatu karena saya belum bisa melakukannya seorang diri.


Tapi, kenapa ada gambaran di ruang OB?? Tak mungkin alam bawah sadar saya menggiring saya ke sana kalau tanpa alasan. Ada apa sebenarnya di sana?? Apakah mereka sedang membicarakan sesuatu yang berhubungan dengan saya, makanya saya merasakannya juga?


Kalau begitu, coba saya memfokuskan diri untuk menembus ke tempat itu. Siapa tahu saya bisa mendapatkan hal yang lebih...


Saya mulai memejamkan mata, begitu fokus, hingga dahi ini mengernyit dengan sangat. Anehnya, saya hanya bisa membayangkan ruangan tersebut tanpa ada orang lain di dalamnya. Sebenarnya ini mustahil, mengingat ini masih pagi dan masih berada di jam sekolah. Tapi, kenapa rupa mereka tak terlihat? Dan suaranya pun tak terdengar.


Saya mengedarkan pandangan ke sekeliling, dan melihat dinding yang terlapisi aura berwarna merah. Apakah karena kiyai membentengi kekuatan di dinding ini, makanya saya tak bisa menembusnya?


Huh, untung saja saya masih bisa berkomunikasi dengan Tamusong melalui telepati, kalau tidak.. bisa jadi hantu gila saya.


Saya bermain bersama bola kempes seharian. Melambungkannya ke atas dan menangkapnya dengan cepat sebelum menyentuh lantai.


Saya suka sekali memakai kekuatan kecepatan ini, soalnya selama hidup.. saya seperti Kukang yang bergerak lamban dan tak bersemangat.


Tanpa terasa, saya melakukan hal random seperti ini sampai larut malam. Tenaga saya lumayan terpakai banyak, jadi sekarang saya duduk di atas lemari dengan kaki yang menggantung.


Setidaknya ini waktu yang tepat untuk istirahat setelah seharian bermain-main sendirian dengan kekuatan. Saya mulai merenggangkan tubuh, menarik kedua tangan ke atas tinggi-tinggi sembari menguap lebar.


Ngiiiiing...


Lagi-lagi telinga saya berdengung, selalu tiba-tiba dan saya pun tak tahu kenapa. Saya menoleh ke arah jendela, lurus dan penglihatan seolah menembus sampai ke gerbang sekolah.


Ada aroma harum, ketika malam mereka tercium semakin sedap. Tapi di antara mereka, ada bau lain yang menyeruak, sedikit mengganggu tapi tertampung di dalam wadah serupa tubuh.


Saya mengerjap, rasanya sama seperti bau yang waktu itu.. Bau seseorang yang paling saya benci. Tapi, masa' sih? Apa penciuman saya terganggu karena lapisan merah yang melindungi ruangan ini?


Di antara semua bau, bau aneh ini yang bergerak sendirian memasuki halaman sekolah. Kenapa dia berjalan masuk seorang diri?? Malam-malam pula?? Yang lainnya pun hanya berani menunggu di luar. Apakah ada niat lain dari si bau aneh?? Tapi niat apa? Bukankah para manusia di larang untuk masuk ke sekolah pada malam hari???


Apa jangan-jangan??? Orang ini maling?? "Gyaaaaaaah!! Maliiiing!! Maliiiing!!" jerit saya sambil terbang berkeliling seperti sebuah gasing. "Tapi kalau maling, halal kan di takuti??" gumam saya, sambil berhenti tiba-tiba.


"Benar kan?? Maling itu jahat kan? Jadi kalau kiyai marah, bilang saja kalau dia mau maling. Kalau kiyai bilang saya mengganggu manusia karena menakuti seorang maling, artinya kiyai melakukan sistem bagi hasil dengan si maling. Dia pasti yang menyarankan maling untuk masuk ke sini. Katakan itu saja padanya. Kihihihi, benar kan bola kempes?" lakar saya lagi, sambil menoleh ke arah bola yang berada di tumpukkan kardus.


Saya beralih ke atas lemari untuk beristirahat, sembari berusaha menerawang gerak-gerik manusia tersebut dari sini.


Anehnya, orang ini tak menuju ke ruang komputer atau ruang guru yang banyak barang-barang elektronik berharga, melainkan menuju ke gedung ruang kelas? Kenapa dia kesini? Apakah sedang mencuri kisi-kisi untuk ujian nanti?? Atau... mau maling papan tulis?? Papan tulis itu kan baru saja di ganti baru.


Sepertinya mustahil, kecuali kalau saya yang jadi pencurinya. Tapi, mau apa orang ini.. Mau apa dia?


Langkah kakinya, langkah kakinya terdengar menuju ke lantai tiga?? Tidak mungkin?? Ini tidak mungkin tamu yang hendak datang waktu itu kan?? Masa' betulan ada manusia pemberani sih?? Kan berita mengenai saya jelas-jelas sudah ramai di perbincangkan.


Tap..


...Tap.....


Tapi.. suara langkah ini, memang mendekat dan terhenti tepat di depan pintu gudang. Saya menelan ludah, sambil mengerjap dan menantikan siapa yang hendak datang? Betulan kah si bau tengik??


Suara kunci terdengar, bersamaan dengan rantai yang membelit mulai berjatuhan. Kenapa?? Kenapa rasanya begitu menegangkan?? Apakah karena sudah lama tak ada yang masuk ke dalam??


Krieeeeeet...


Pintu terbuka seluruhnya, menampakkan cahaya remang yang masuk ke dalam. Saya mengernyit, melihat seorang lelaki bertubuh tinggi menilik ke dalam ruangan.


Saya menyipitkan mata, berusaha melihat penampakannya secara nyata. Ketika ia benar-benar melangkahkan kakinya masuk ke dalam, kedua mata saya terbelalak.


"K.. kau?" gumam saya dalam, bahkan saking dalamnya, tak terdengar lagi suara yang saya keluarkan. Tubuh saya bergetar begitu pula dengan pupilnya. Mulut saya menganga lebar, tak mau terkatup saking terkejutnya.


"Anak anjing ayah??" gumam saya, ketika mendapati seorang lelaki yang benar-benar saya kenal, dan yang begitu saya benci. Dia betulan datang untuk cari mati??


Ia masuk sambil celingak-celinguk seperti orang bod*h. Saya mendecih, sangat tak menyukai kehadirannya.


Saya hendak beranjak, ingin melakukan apa saja pada seorang lelaki yang menikahi Ayuk tanpa rasa cinta, melainkan hanya pengabdian semata pada sang ayah.


Lelaki berliur buaya yang menanamkan benih tanpa mencintai benihnya. Kakak ipar yang lebih cocok di bilang benalu. Yang menceraikan Ayuk ketika umur kandungannya baru tiga Minggu.


Saya mulai mengeratkan gigi sembari mengepalkan kedua tangan, menatap lekat ke arahnya dengan tubuh yang kaku. Ia mulai memandang sekeliling, seperti sibuk mencari suatu benda di dalam ruangan ini.


Semakin saya menatapnya, rasa benci ini semakin menjadi-jadi. Yuk Arsya di butakan oleh cinta dari seorang lelaki berparas tampan, padahal ia tak lebih baik dari Bang Riski. Tapi, setidaknya Ayuk tak mencuri milik orang lain seperti ketika ia masuk SMA.


Ketika saya terus merutuki dirinya, tiba-tiba saja ekspresi wajah lelaki ini berubah. Wajahnya memucat dan ia menahan muntah berkali-kali.


Ia akhirnya memilih berbalik, sambil mengambil sesuatu yang berada di tumpukan kardus. Dan apa yang ia sentuh cukup membuat saya terkejut. Pasalnya.. ia menggapai sesuatu yang selalu menemani saya.


Ya, bola kempes yang selalu saya ajak bicara. Ia hendak beranjak, dan saya melesat terbang karena tak ingin ia membawanya.


"Bola kempes sayaaaaa!!" pekik saya sekuat tenaga, sambil melemparkan bola kekuatan ke arah tumpukan kardus, membuat salah satu benda di atasnya terjatuh.


Lelaki ini buru-buru pergi dan membanting pintu, bahkan sampai tak sempat untuk berbalik dan menoleh benda apa yang telah terjatuh.


Dada saya naik turun. Sumpah!! Makhluk itu sangat menyebalkan! Sejak dulu dia selalu saja mengambil apa yang saya sukai dan berdalih kalau itu demi kebaikan saya. Dan sekarang, ia melakukannya lagi?


Untung saja.. Untung saja saya di larang kiyai untuk menggangu manusia. Kalau tidak.. saya akan benar-benar membuatmu terkencing-kencing di celana.


.........


Keesokan harinya, saya kembali mengintip ke luar jendela, menyaksikan para manusia yang keluar masuk ke ruang aula. Tentu saja mereka sedang berdoa, lalu makan-makan untuk mengucapkan syukur karena tak ada korban yang jatuh pada hari itu.


Perut saya berbunyi, rasanya ingin makan melati. Sekolah berlangsung cepat, dan berbunyinya lonceng membuat mereka semua bergegas pulang usai menyelesaikan pelajaran yang ada.


Malam ini terasa sepi, tak ada bola kempes dan para manusia sudah pulang. Bahkan besok pagi pun hari Minggu, para kepolisian datang untuk memeriksa seluruh sekolah dan juga gembok yang ada di depan pintu.


"Sepertinya ada yang berbeda? Apakah ada yang masuk dan membuka gemboknya?" tanya mereka, suaranya terdengar sampai ke dalam.


"Ya, ini tak pada posisi sebelumnya. Setiap Minggu aku mendapat tugas untuk memeriksa keadaan pintu dan kunci gudang." sahut yang lainnya.


"Yah, itu si anak anjing yang masuk papolisi." sahut saya datar dari atas lemari, meskipun tahu mereka tak akan mendengar, tapi saya masih saja menyahut ucapan mereka.


"Kita tanyakan pada Wanto, mungkin saja dia yang memberikan izin pada OB untuk masuk dan membersihkan tempat ini." tukas mereka, sembari berlalu dan tak kunjung kembali meski waktu sudah mulai gelap. Sepertinya mereka di suruh kiyai pulang karena hari sudah malam.


Malam ini saya iseng bermain-main dengan bola cahaya, tapi lagi-lagi.. dari ruangan ini saya merasakan kehadiran seseorang. Sendirian?? Menantang kesunyian dan ketakutannya?


"Bau ini masih sama, anak anjing milik ayah. Mau apa lagi dia kemari?? Apakah mau mengembalikan bola kempes saya??" gumam saya, sambil menggoyangkan kaki dari atas lemari.


Suara kunci yang membuka gembok pun terdengar. Bunyi rantai yang berjatuhan di atas lantai juga. Pintu mulai di dorong dan terbuka, menampakan seorang lelaki bau jigong dengan sebuah senter di tangannya.


Ia tersenyum, sembari membatin.. dan itu, membuat hati saya bergejolak.


"Dimana benda itu?? Dimana?" gumamnya dalam hati, tak lupa dengan suara tertawaannya yang menyakiti hati.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...