RUN

RUN
Merasuki



*Author POV


Pak ustadz yang datang menilik sekitar, merasakan aura kuat yang begitu gelap. Entah di sekitar mana, tapi ia tahu kalau energi ini berasal dari satu sosok saja.


Ia merinding, meski seorang ustadz yang biasa merukiah dan membersihkan tempat-tempat yang di penuhi makhluk halus, tapi ia tak memiliki keahlian untuk melihat benda-benda gaib, ia hanya mampu merasakannya saja.


Baru memulai membaca basmallah, pak ustadz ini merasakan sesuatu yang janggal. Seluruh pori-porinya meremang, bahkan ia bersin beruntung di dalam ruangan ini. Cukup banyak ia melakukan rukiah, tapi baru kali ini ia merasa gentar menghadapi situasi semacam ini.


Ia memejamkan mata, sambil menggelengkan kepalanya. Entah kenapa ia kesulitan fokus karena perasaan was-was pada tubuhnya. Keringat mengucur deras seiring dengan bibirnya yang terus berucap. Kedua tangannya mulai gemetar, dan giginya menggeletak bak menggigil kedinginan.


Ia terus memejam, berusaha melawan aura aneh yang terus berusaha menekannya bahkan mendesaknya. Rasa panas dan dingin berkumpul di tengkuknya, membuatnya merasa serupa demam dan ia tak tahan. Bibirnya yang bergerak perlahan terhenti, seolah di kendalikan oleh seseorang. Tapi sungguh, ini hanya sugestinya sendiri, tak ada yang berani untuk menyentuhnya, bahkan makhluk-makhluk gaib ketika nama Allah telah di sebutkannya.


Semakin lama, getaran di tubuhnya semakin terasa, bagaikan menahan gigil dan menggeletak bak tergoncang-goncang. Para polisi saling melirik, melihat ke sekeliling tempat karena merasakan sesuatu yang mulai bergerak pada kondisi yang tak semestinya.


Kanvas yang di bingkai mulai bergetar, begitu pula dengan isi prakarya yang ada di dalam lemari. Para polisi berdiri kaku, saling menatap ketika sekelabat bayangan berwarna putih tampak bertengger di atas lemari.


"Pak ustadz?" sapa mereka ragu, tapi pak ustadz tadi tak bergeming sama sekali.


Getaran di sekeliling mereka semakin terasa, padahal barang-barang di sekitarnya sudah berhenti bergerak. Mereka merasa takut, karena kejadian semacam ini pernah terjadi sebelumnya.


Di antara usaha keras yang di lakukan oleh pak ustadz, para kepolisian mulai merasa merinding dan ketakutan. Ada sepasang mata yang seolah mengamati dan melihat mereka dengan lekat, padahal tak ada apa-apa di sana. Mereka hanya merasa tanpa pernah melihat wujudnya.


Mereka berkumpul dalam satu baris, tepat berada di samping kiri dan kanan pak ustadz yang tak bergeming. Ini bukan pasal ketakutan atau polisi yang pengecut, tapi ini... berbeda dengan ketika mereka menghadapi para penjahat bersenjata. Ini sesuatu yang tak tampak, dan mereka tak tahu kapan makhluk ini akan diam atau menyerang. Pun senjata kepolisian tidak akan mampu menghadapi para makhluk gaib.


Dalam diam mereka, salah seorang polisi merasakan keanehan. Tubuhnya seolah tertabrak benda keras dari belakang tengkuknya, membuatnya terdorong dan jatuh dalam posisi berlutut di atas lantai.


Ia menggeram kesakitan, tanpa suara. Para polisi lain menghampirinya, melihatnya yang tiba-tiba saja mematung di tempat.


"Oi, Joko, kenapa lu? Ngagetin aja!!" bisik teman-temannya, tapi sungguh.. raut wajah mereka mulai panik.


Joko berbisik, tapi tak terdengar suaranya sama sekali. Ia seperti bergumam saja atau sedang berkumur-kumur dengan air. Di tambah, ia terus memejamkan matanya, seolah merasa perih ketika hendak membukanya.


"Apa sih? Jangan nakutin lah!" keluh teman polisi yang lain, sambil terus berbisik dan sesekali menatap pak ustadz yang mematung.


"Sakit.. tiba-tiba rasanya sakit." ucap Joko pada akhirnya, membuat para polisi lain berjongkok mengelilinginya.


"Sakit?" gumam mereka bertanya, sambil mengernyitkan dahi. Mereka merasa heran, pasalnya si Joko adalah polisi yang memiliki badan bagus dan fisik yang kuat, jarang sekali mereka mendengar Joko mengeluh kesakitan terhadap sesuatu yang melukai tubuhnya. Bahkan, mereka memang tak pernah mendengar Joko mengeluh.


"Ya, tiba-tiba saja sakit." lanjutnya sambil terus memejamkan mata. Ia menunduk menahan perutnya, sambil terus mengatakan kalau dia merasa kesakitan. Sebenarnya dari sini pun para polisi sudah menyadari, kalau sepertinya.. yang berada di dekat mereka, bukanlah Joko yang mereka kenal.


"A.. apa ada yang mau membantu ku?? Rasanya sakit." tukas Joko sambil bersiap mengangkat kepalanya. Mendengar hal ini, teman-teman kepolisiannya merasa risih.


"Ngomong apa sih lu?!" keluh polisi yang lain, sambil memperhatikan pak ustadz yang masih sibuk dalam doanya. Berharap agar pak ustadz bisa membantu mereka.


Polisi aneh ini mulai merentangkan tubuh, sambil menangkap tangan salah satu anggota kepolisian yang berada di dekatnya.


Deg!!


Polisi yang tangannya di tangkap langsung terkesiap, bahkan cengkraman tangan temannya membuat ia merinding di sekujur tubuhnya.


"O.. Oi Joko, ngapain lu?!" keluhnya gentar.


"Tadi gue ngomong, kalau sakit tahu.. di baca doa begitu." bisiknya sambil menyeringai, menatap seorang polisi dengan sorot matanya yang tajam.


Polisi yang ditatap ini bergeming, ia terkesiap dan memelototkan kedua matanya kala melihat tatapan aneh teman kepolisiannya, di tambah lagi ketika ia mendengar bisikan janggal dari temannya ini.


Deg!!


"Aaaaarrggghhh!!" teriakan melengking terdengar, tepat ketika ia merasakan aura aneh yang meresap masuk ke dalam tubuhnya. Di tambah, setelah tahu kalau mata teman yang mencengkramnya berubah menjadi hijau.


Para anggota kepolisian lantas panik, mereka berlari kocar-kacir meninggalkan dua temannya yang bertingkah aneh ini.


Ketika hendak menghampiri pak ustadz, langkah kaki salah seorang polisi terhenti. Ia terkesiap, menatap ke arah kedua kakinya yang seolah tertempel di lantai. Ia menyentuh pahanya, menariknya seolah itu bisa membantunya untuk dapat menggerakkan kaki.


"Woi!! Tolongin!! Kaki gue.." Ia mengerang, sambil menatap teman-temannya yang terhenti. Meski tahu kalau temannya butuh bantuan, tapi tak ada seorang pun dari mereka yang berani menghampirinya.


"Pak!! Pak ustadz!!" pekik mereka, berharap lelaki dengan baju muslim ini akan menghiraukannya.


Semakin gaduh mereka, maka semakin cepat gerakan mulut si pak ustadz. Beberapa orang yang berlari menjauhi temannya, hendak menuju ke pintu keluar, tapi tiba-tiba saja..


Duuum!!


Pintu ruang seni tertutup begitu saja. Mereka terperanjat, hendak berteriak dan menjerit kalausaja mereka bukan anggota kepolisian. Jantung mereka terasa terjeda, mereka melihat ke arah pak ustadz yang gemetaran hingga keringat menetes membanjiri baju bagian belakangnya. Pak ustadz ikut terkesiap, terkejut melihat pintu yang tertutup tiba-tiba.


"Uh, sial! Pak ustadz itu tak bisa di andalkan!" bisik mereka menggeram, hingga tiba-tiba saja...


"Hueeek!!" pak ustadz hampir memuntahkan isi perutnya seraya jatuh terduduk di atas lantai. Dengan sisa tenaga, pak ustadz menoleh ke arah para polisi dan berteriak. "Bentengi diri kalian dengan dzikir, atau kalian akan-" Ia terhenti, ketika melihat anggota kepolisian tersentak dan jatuh dalam posisi punggung yang melentik secara bergiliran.


"Hah.." Para polisi mendesah, hingga bulir-bulir keringat sebesar biji jagung keluar, sebagaimana kedua biji mata yang hampir copot dari sarangnya.


"Aaaaarrggghhh!!" Mereka mengerang, hingga satu persatu dari mereka ikut berteriak dan sambung menyambung hingga tak ada celah. Pak ustadz menutup telinganya yang terasa berdenging, panik akan situasi yang kini tengah ia hadapi.


Ia gemetar ketakutan, ingin lari dan pergi sejauh mungkin dari ruangan ini, tapi di sisi lain ia tak tahu harus pergi meninggalkan para anggota kepolisian dalam keadaan kesurupan atau tetap berada di sana dengan resiko yang berbahaya.


"Astaghfirullah!! A'uzubil-"


"HENTIKAN SUARAMU ITUUUU!! HUAAAA!!" Seorang polisi memekik, sembari mengangkat sebuah kursi dan melemparkannya ke arah pak ustadz.


Lelaki berbaju muslim ini kaget dan menunduk, membuat kursi melesat dengan tepat melewati kepalanya dengan jarak satu cm saja.


Duuum!!


Ia menoleh, melihat ke arah kursi yang telah hancur menghantam dinding yang ada di belakangnya. Para anggota kepolisian yang lain mulai melakukan hal yang sama, meraih segala yang bisa mereka capai di dekatnya.


Ketika merasa anggota kepolisian yang kesurupan ini hendak menyerangnya kembali, pak ustadz mulai bersuara. "Astaghfirullah, hentikan semua itu! Allah murka terhadap makhluknya yang membangkang!" pekiknya, membuat para anggota polisi ini mematung, namun ekspresi wajahnya tetap bermain.


Mereka memelototkan matanya, menjulurkan lidah dan mengerekatkan giginya. Mereka pun menggaruk lantai dengan kuku-kukunya, sambil terus menatap tajam ke arah pak ustadz, membuat lelaki ini merasakan mulas dan mual di sudut perutnya.


"Hentikan doamu itu! Ustadz gadungan!!" pekik salah seorang polisi, membuat pak ustadz ini menggeleng sambil mengusap dadanya.


"Subhanallah! Saya hanya hamba Allah yang berniat untuk membantu anggota kepolisian dalam menjalankan tugasnya. Tak ada niat buruk sama sekali bagi saya, bahkan saya bukanlah ustadz gadungan seperti yang kau katakan." polisi ini terdiam dan mengerucutkan bibir mendengarnya.


"Kau hamba Allah kan? Tak sepantasnya mengganggu manusia di sini. Apalagi mereka yang hendak melakukan tugas mulia dengan membantu menyelidiki kasus ini. Jadi untuk apa kau merusak barang-barang dan mengganggu mereka, bahkan sekarang pun kau merasuki mereka? Apa yang salah pada dirimu? Apakah kedatangan kami mengusikmu?" tanya sang ustadz, berusaha berkomunikasi dengan apa yang ada di dalam tubuh para polisi.


"Saya?? Saya tak mengganggu. Saya takut pada tuhanmu." tukas si polisi dengan raut wajah sedih seperti anak kecil yang sedang merajuk.


"Lalu kenapa kau mengganggu tugas mereka kala itu?"


Polisi ini menggelengkan kepalanya, sambil melihat para polisi lain yang menggeliat dan menggeram di atas lantai. "Saya tak mengganggu tugas mereka. Mereka lah yang mengganggu saya." sahutnya.


"Mengganggu bagaimana yang kau maksud?"


Wajah polisi ini mendadak marah. "Mereka tak berniat membantu tugas, mereka merutuki tugas ini. Bahkan banyak korban yang mereka abaikan. Jadi kau bilang mereka ingin mengungkapkan kasusnya, begitu?" tanyanya, membuat ustadz ini terdiam.


"Lalu untuk apa kau datang? Membantu mereka membersihkan tempat ini?? Kihihi.." polisi ini tertawa terbahak-bahak, lalu sepersekian detik berikutnya, ekspresinya berubah tiba-tiba. "Kau sama saja dengan mematahkan harapan kami.. Kami ini, di bunuh. Tapi kalian tak menangkap pelakunya. Benar kan? Kami ini mati, kami mati.. mati." ujarnya berulang-ulang.


"Membersihkan tempat ini, sama dengan mengusir kami, mengusir kami, artinya kau membiarkan mereka mengabaikan tugas ini lagi. Kami ini mati, matii..." polisi ini mulai tersedu.


Pak ustadz ini terdiam, di satu sisi ia bingung, namun di sisi lain ia juga merasa iba dengan si hantu. "Bukankah hantu tak boleh masuk ke tubuh manusia, Allah membencinya. Jadi keluarlah, biar saya bantu."


Polisi ini menggeleng kuat. "Tidak mau! Tidak mau mati. Tangkap dulu, tidak mau pergi!" ucapnya, dengan nada rengekan anak kecil yang menginginkan mainan.


"Kau ingin aku melakukan apa? Menangkap apa?" tanyanya getir, sedikit berhati-hati.


"Beruang.. tangkap beruang kaya raya. Tangkap dia.." ucapnya dengan suara falset yang tinggi.


"Beruang, kaya raya??" pak ustadz menjeda-jeda kalimatnya ketika mengucapkan. "Siapa itu beruang kaya raya?" tanyanya lagi.


"Dia yang membunuh kami, kihihihi.. Dia jahat, dia mengurung kami, dia mengurung dan membunuh kami." ucap si polisi lagi.


Pak ustadz ini hanya terdiam. Ia bingung mendengar perkataan si hantu. Ia menggunakan kalimat kami pada ucapannya, sementara dari apa yang ia rasakan, hantu yang merasuki semua polisi,


Hanyalah satu makhluk.


Dan ia sendiri tak tahu, makhluk mana yang merasuki, sebesar ini kekuatannya hingga ia tak dapat menahan rasa mual dan hampir memuntahkan isi perutnya. Tekanan tenaganya sangat besar, dan ia sepertinya merasa tak sanggup untuk melawan hantu yang satu ini.


.........


Di sisi lain, Tamusong berdiri kaku tepat di ujung pagar sekolah sambil menatap ke arah dalam gedung. Ia jauh-jauh datang ke sana karena merasakan aura besar dari hantu kuntilanak lelaki yang menjadi muridnya.


"Si*lan sekali! Kenapa anak itu begitu grasak-grusuk?? Aku kan memintanya untuk merasuki satu orang saja tanpa menarik perhatian manusia lain, sekarang ia malah merasuki bukan hanya satu, tapi beberapa orang anggota polisi."


"Kekuatannya memang besar, dan bisa-bisanya.. ia membagi-bagi rohnya ke dalam beberapa raga sekaligus."


"Kuno, memang hantu yang mengerikan. Aku sampai ketakutan dan kakiku gemetaran karena ulahnya. Dan lagi, aku merasa.."


"Ada satu jiwa, yang sedang berusaha menekan kekuatannya."


Tamusong menoleh ke arah lain dari gedung, menatap ke pohon besar yang melewati tingginya atap gedung.


"Manusia, dengan kekuatan khusus?" batinnya dalam hati.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung......