RUN

RUN
Komunikasi Jarak Jauh



Krieeet... Krieeet...


Bunyi suara deritan kuku saya pada kaca jendela. Ruangan yang semula berantakan dengan dedaunan meranggas ini mulai berdebu, tak terjamah oleh siapa pun. Sudah satu Minggu saya melongo seorang diri di tempat ini. Bernyanyi, bersiul sambil melukis di atas lantai berdebu ini.


Tak ada yang bisa saya lakukan. Saya juga bingung, bosan terkadang takut juga. Saya ingin keluar dan bertemu seseorang. Terserah, hantu atau manusia juga boleh. Asal tak seperti ini terus.


"Kiyai.. kau mendengarkan saya, bukan? Ayolah buka kan segel ini. Jangan mengurung saya begini dong. Bisa tua muka saya kalau di sini terus." gumam saya, berharap kalau kiyai bisa mendengarnya.


"Ayolah... tolong buka.. buka dong!!" keluh saya sambil merengek, dan mencakar pintu.


Sama sekali tak ada jawaban. Apakah harus menyebut namanya dulu supaya dia bisa mendengarnya? Tapi, nanti saya lagi yang kebakaran jenggot. Tak lucu kan kalau saya telah keluar, malahan wajahnya jadi gosong. Bisa-bisa saya di ledek oleh Tamusong. Lagipula saya juga tak punya jenggot sih, jadi tak akan terbakar kan?


Ngomong-ngomong tentang Tamusong.. Bagaimana kabarnya sekarang? Sudah satu Minggu tak melihatnya. Saya jadi rindu dengan suaranya, dan juga ocehannya kalau marah-marah.


Tapi setidaknya, ia tak akan mencari saya kan? Atau curiga mengenai saya yang tak muncul di hadapannya. Perkataan saya waktu itu cukup jahat sih, dan saya harap dia bisa mengacuhkan saya dan tak perduli.


Saya mulai terbang melihat keluar jendela. Saya juga jadi merindukan Yuk Arsya. Kenapa dia tak pernah kelihatan datang kemari selepas saya meninggal? Apakah dia sudah melupakan saya? Ataukah ia masih mencari keberadaan saya? Bagaimana keadaannya? Masih menangis kah?? Lalu, kehamilannya bagaimana?


Waktu itu, dia sering sekali meminta saya menemaninya tidur sambil membacakan surah Yusuf. Katanya, bayi di dalam kandungannya selalu bereaksi ketika ada saya. Selalu menendang-nendang. Bahkan saya bisa melihat tendangannya menyembul di perut Yuk Arsya.


Pasti anaknya nanti laki-laki yang galak. Kihihi, saya selalu bilang pada Ayuk, kalau anaknya lahir nanti, masukan saja jadi atlit. Atlit lempar lembing kek, pemain catur atau panahan. Jangan jadi pemain bola, soalnya saya tak suka olahraga yang membuat tubuh berkeringat. Jadi saya tak bisa menemaninya bermain itu.


Tapi, ternyata itu hanya angan-angan saja. Saya tak berpikir kalau hidup akan sependek ini. Saya juga ingin di panggil paman oleh keponakan pertama saya. Main dengannya, menjaganya, tapi ternyata tak bisa ya?? Sama sekali tak bisa. Tak pernah terpikir kalau itu hanya impian saja.


Ini sudah bulan keberapa ya?? Beberapa bulan lagi dia melahirkan? Sepertinya sebentar lagi. Kemarin saat hari kematian saya, dia sampai shock berat dan pendarahan. Apakah dia baik-baik saja?


Saya lupa bertanya pada Tamusong, apakah bisa keluar dari batas jalur pelalu? Saya juga ingin menjumpai Yuk Arsya walaupun cuma satu kali. Setidaknya ke rumah untuk terakhir kalinya, bertemu dengan para mbak, satpam, yuk Arsya dan juga kucing kurus tak berbulu yang sering datang ke rumah dan memakan kue milik saya.


Saya tak tahu, malam Jumat itu menjadi malam terakhir bagi saya. Malam yang harusnya saya gunakan untuk melukis santai di ruangan ini, malah menjadi malam terakhir yang tragis bagi saya.


Semuanya begitu cepat, seperti tak di sangka akan terjadi meski saya pun telah menyangkanya. Dugaan saya terhadap Ayah, memberikan pukulan yang berat dan menyakitkan ketika mengetahui kalau semua prasangka itu benar. Dan karena kebenaran itu pula yang telah mengantarkan saya ke tempat ini.


Langit gelap ini tampak mendung. Tak terlihat bulan ataupun bintang yang menghiasinya. Saya meratapi langit sebagaimana nasib, berdiam diri dan membiarkannya segera berakhir.


Awan hitam telah di telan langit kebiruan. Matahari mulai terbit dan bulan mulai tenggelam. Beberapa hari berlalu, sama saja seperti sebelum-sebelumnya, bahkan saya tak lagi memperhitungkannya, hingga upacara yang menandakan hari Senin kembali lagi. Tak terasa, begitu cepat dan membosankan. Saya hanya berdiam diri sambil bermain dengan bola kekuatan.


Hari berlalu seperti sebelumnya, ruangan ini masih kosong dan saya mulai merasakan kalut berkepanjangan. Langkah kaki dari luar memang terdengar, tapi batasnya tak sampai di depan ruangan.


Tapi tidak dengan hari ini. Beberapa orang kembali, terdengar bergumam sambil melantunkan doa di bibir. Tak sampai ke hati, jadi panas di telinga saya hanya sekedarnya saja.


"Rantainya besar sekali, apa kunci gemboknya pas?" tanya sebuah suara dari luar.


"Pas, ini memang kuncinya." sahut suara yang lainnya.


Saya yang sedang duduk berjongkok di atas lemari kini mulai menengadah, mendengar suara kunci pintu yang mulai terbuka. Ketika pintu terbuka untuk pertama kalinya setelah sekian lama, barulah saya bangun dan beranjak, terbang lalu berdiri di tengah ruangan.


Beberapa orang tak di kenal masuk. Mereka mengawasi sekeliling sebelum mendaratkan kakinya di ruangan ini. Saya sedikit mengernyit ketika melihat barang-barang yang mereka bawa.


Ada papan kayu, tas berbentuk kotak yang di selempangkan di pundak, dan.. saya tak tahu lagi apa itu. Sambil berdzikir, mereka membagi tugas dan mengeluarkan semua barang-barang yang ada di dalam tas.


"Papannya pas tidak? Coba ukur ke jendelanya." ucap si bapak berkulit hitam. Bapak lain yang membawa papan pun langsung menuruti perkataannya, menempelkan papan ke depan jendela.


"Pas, sudah di kasih kok ukurannya sama pihak sekolah." balasnya.


"Oke." sahut bapak berkulit hitam sambil mengeluarkan palu sebesar kepalan tangan dan sekotak paku sebesar jari telunjuk.


Saya mengernyit, memperhatikan kegiatan mereka. Salah seorangnya memegang papan dan yang satunya memasang paku dan memukulnya dengan palu.


Tok!! Tok!! Tok!!


Suara ketukan nyaring terdengar di seluruh sudut ruangan. Ternyata... mereka menutup jendela ruang seni dengan papan. Kalau begini, saya tak bisa lagi memandang lapangan upacara dan juga langit dari dalam sini.


Semuanya sudah di pasang papan, seperti rumah yang tak akan pernah di tempati lagi oleh siapapun. Mereka keluar dari ruangan ini setelah menyelesaikan tugasnya. Dan membiarkan saya semakin terkurung di tempat ini.


Satu Minggu terlewati. Lagi-lagi terasa cepat dan tak berarti. Jika kalian ingin tahu apakah ada yang masuk dan datang ke ruangan ini, tentu saja ada. Mereka masuk, dan meletakkan barang-barang bekas ke dalam ruangan seni. Seperti kursi yang patah, peta yang sobek, bola-bola kempes, dan benda-benda tak terpakai lainnya, hingga saya menyadari.. kalau mereka telah menjadikan tempat indah dan artistik ini sebagai gudang, yang tak akan pernah terpakai lagi.


Saya mulai menghampiri bola-bola kempes, mengambilnya dan memperhatikannya dengan seksama. Setidaknya, barang-barang bekas yang di letakkan di dalam sini, menjadi mainan baru bagi saya.


Saya melemparkan bola kempes tersebut ke atas dan bawah. Jangan tanyakan kenapa saya dengan mudah dapat melakukannya, selama beberapa Minggu, tak mungkin saya hanya melongo hingga air liur mengalir keluar, kan? Tentu saja saya berlatih setiap hari di tempat ini. Mengendalikan kekuatan tanpa menarik perhatian orang-orang di sekitar.


Bola kempes terlempar, dan dengan sigap saya menyantapnya lagi. Suara tangkapan bola di tangan saya terdengar jelas, saya mulai bersiul di tempat ini untuk menghilangkan kesepian yang ada.


"Dari yakin ku teguh.. Hati ikhlas ku penuh. Akan karuniamu. Tanah air pusaka. Indonesia tercinta. Syukur aku sembahkan, kehadiratmu.. tuhan."


Ketika saya bersiul dan bermain sesuatu di dalam sini, saya selalu mendengar langkah kaki yang mencoba mendekat tapi tak berani terlalu dekat.


Meski tahu kalau suara saya tertangkap oleh indra pendengaran mereka, tapi tetap saja saya tak mau diam dan terus menyanyikannya.


Saya tak bermaksud mengganggu mereka, tapi mereka lah yang mencoba mendekati saya, padahal kiyai sudah berusaha keras untuk mengingatkan mereka agar tak mendekat ke ruang seni yang telah menjadi gudang ini.


Isu lama terjadi lagi. Mereka yang terlalu penasaran dengan keberadaan hantu di dalam gudang kini mulai mencari-cari. Tak banyak yang mereka lakukan, mereka hanya sengaja datang dan mendekat ke pintu gudang hanya untuk menguping dan mendengarkan suara apa yang di hasilkan dari dalam.


Mereka mendengar dari teman-teman sekolah, kalau telah mendengar suara aneh dari gudang. Beberapa yang tak percaya, mencoba datang dan membuktikannya. Orang-orang yang sengaja datang ini tak akan saya biarkan mendengarkan aktifitas saya di dalam sini, tapi bagi yang tak sengaja mendengarnya, maka saya akan dengan berisik membuat suara sampai orang itu berlari karena ketakutan.


Hari berlalu dengan cepat, suara riuh pelajar di siang hari, dan kesunyian di malam hari selalu menjadi teman yang menemani. Saya hampir bosan, kalausaja hantu bisa bunuh diri, saya akan melakukannya agar terlepas dari dunia menyebalkan ini.


Daripada berdiam diri, apa salahnya jika saya membuka frekuensi dan bertempur dengan hantu yang ada di sekolah ini. Tak ada kerjaan lain sih. Coba sebelum mengurung, kiyai memberikan pekerjaan yang bisa saya lakukan dalam mengisi kekosongan, jadinya kan tak sebosan ini.


Kalau saja hantu punya telepon, saya akan mengganggu Tamusong setiap hari. Tapi, mana ada hantu telepon, aneh-aneh saja.


Saya berbaring di udara sembari menatap langit-langit. Memperhatikan lampu yang sudah lama di biarkan mati.


Tapi, hantu itu kan tak perlu transmisi sinyal listrik dan jaringan telepon. Kami ini gaib, jadi.. seharusnya bisa berkomunikasi secara gaib kan. Kalau tak salah, ini sesuatu yang di namakan telepati.


Saya beranjak tiba-tiba, kenapa itu tak terpikirkan dari kemarin sih? Benar, seharusnya batin bisa berkomunikasi dengan batin dari jarak jauh. Meskipun kami tak bisa saling membaca isi hati, tapi.. kalau sengaja menyampaikannya dan terhubung, seharusnya bisa kan?


Tapi, bagaimana ya caranya??


Dari pengalaman beberapa waktu menjadi hantu, biasanya sih saya harus fokus pada sesuatu yang di tuju, karena tujuan saya adalah Tamusong, maka fokuskan diri padanya dan pikirkan wajah gosongnya.


Tenangkan pikiranmu, Adam. Ingat wajahnya, suaranya, bentuk fisiknya. Tenangkan pikiran. Seharusnya Tamusong bisa mendengar ini, Tamusong harus mendengarkan suara saya ini.


Wajah gosongnya, bentuk fisiknya, Tamusong mampu mendengarkan saya, ayo dengarkan saya.


Wajah gosong, suaranya, bentuk fisiknya, mampu mendengarkan dan saling menukar pesan. Pasti bisa, Tamusong bisa mendengarkan saya, dan saya membuka diri untuk bisa mendengarkannya.


Saya terus mengulangi kalimat tersebut dengan penuh konsentrasi, sampai saya mendapati apa yang saya inginkan.


Ayo Tamusong, kalau kau menerima pesan saya, mendengarkan suara saya, maka saya izinkan Tamusong untuk menyampaikan pesan secara tersirat dari jarak jauh.


Wajah Tamusong, suaranya, bentuk fisiknya, Tamusong mampu mendengarkan saya dan saya pun mampu mendengarkannya...


Wuuuuuung!!!


"KUNO!! KELUARLAH DARI SANA, SEKARANG!"


Deg!!


Kedua mata saya melotot, ketika tiba-tiba saja suara itu terdengar dengan begitu jelas. Suara Tamusong, ini adalah suaranya. Tidak mungkin salah. Tak ada hantu lain yang memanggil nama saya sebagai Kuno, tak ada.


Jadi, apakah ini betulan dia? Betulan kami bisa saling berkomunikasi dari jauh?? Menggunakan telepati??


Tapi, apa maksud ucapannya itu? Saya harus segera keluar dari sini?? Tapi kenapa? Kalau saya menuruti perkataannya lagi, nanti saya akan mendapatkan hukuman seperti kemarin.


Saya kembali memejamkan mata. Memikirkan wajah Tamusong, suaranya, bentuk fisiknya, dan dengarkan pesan ini di telingamu.


"Tamusong, berhentilah meracau dan jangan pernah menyuruh saya keluar dari tempat ini. Kecuali kalau kau memang memiliki alasan yang kuat untuk itu." batin saya dalam hati, dan pesan ini.. harus sampai kepada hantu itu.


Cukup lama saya mentransfer pesan ini, sampai akhirnya saya kembali mendengar balasan yang terdengar bergumam di dalam hati.


"Tak ada alasan, aku.. merindukanmu."


Saya kembali membuka mata ketika mendengar suara itu. Apa?? Jadi, kami memang berkomunikasi dan saling mengirimkan pesan? Jadi, apakah ini yang di namakan telepati?


.......


.......


.......


.......


...Bersambung.....