
Anak ini menjerit dengan suara yang lantang. Awalnya tak ada yang mengganggu, hingga suara lantang ini perlahan semakin menjadi dan menyakiti telinga.
Saya meringis, menutup kedua telinga saya tapi suara teriakannya seolah menembus ke dalam gendang telinga. Saya mendengkus sambil membungkam mulutnya agar diam.
"Sssst!!! Berisik tahu! Bisa pecah gendang kulit lembu saya kalau suaramu begitu!" bisik saya, membuatnya terdiam dan menatap saya.
Saya melepaskan bekapan di mulutnya, karena sepertinya ia hendak berbicara. "Tadi katanya mau main? Nana ajak main kok marah?"
"Nyinyinyinyi, mau saya getok kepalamu pakai palu, hah? Siapa yang mau main-main, saya kan mau mengantarmu pulang. Cepat tunjukkan di mana rumahmu!" gerutu saya, anak ini benar-benar menyebalkan.
"Memangnya kakak ganteng mau cari apa di rumah Nana? Tak ada apa-apa kok di sana. Kakak jangan meninggalkan Nana sendiri, nanti di sana banyak orang dan kakak tak mau lagi berteman dengan Nana." rengeknya.
"Memangnya kau pikir sekarang kita berteman, ya? Tidak!" balas saya tanpa perasaan.
"Kyaaaaaaa."
"Oke!! Berteman! Kita teman selamanyaaa!!" pekik saya sambil menutupi telinga, sebelum ia berteriak semakin menjadi.
"Nah, begitu. Ayo, Nana antar ke rumah." ucapnya sambil menggenggam tangan saya dan menyeretnya.
Saya meringis geli sambil menatap genggaman tangannya, seolah sedang memegang taik ayam.
Kali ini saya tak merasa dia berbohong, karena rute yang ia ambil pun terlihat berbeda dari pada yang sebelumnya.
"Nama kakak ganteng siapa? Sudah lama matinya?" tanyanya, seolah benar-benar ingin berteman baik dengan saya.
"Baru berapa bulan." sahut saya datar.
Ia menoleh saya dengan lirikannya. "Tahu tempat ini dari mana? Apakah kakak di usir oleh Ibu juga?"
Saya mengernyit mendengar perkataannya. "Kau di usir ibumu?" terka saya.
Ia mengangguk sambil kembali menatap ke depan. "Waktu itu Nana di tabrak truk ketika ingin beli eskrim di sebrang jalan. Ibu menangis dan Nana melihat tubuh Nana penuh darah. Sampai Nana di bawa ke rumah sakit, dan di mahkamkan."
"Sejak saat itu Nana selalu berada di dekat Ibu. Melihat ibu menangis dan bersedih. Tak mau makan. Sampai akhirnya, Ayah datang dan membawa seorang teman."
Saya mengernyit, membawa seorang teman??
"Nana kira, itu adalah teman untuk Nana. Dan supaya Ibu tidak sedih. Tapi ternyata, itu seperti pengganti Nana. Ibu sayang sekali padanya, sampai akhirnya Nana marah, dan menghancurkan barang-barang yang ada di kamar Nana, yang sekarang di tempati anak itu."
"Anak itu takut, dan Nana mendengar Ibu mengusir Nana. Bahkan ia membawa seorang ustadz ke rumah dan melakukan pembersihan. Nana di buang, Nana tak diinginkan Ibu lagi. Teman Nana mengambil Ibu dan Ayah. Nana di lempar oleh ustadz ke tempat ini. Sejak saat itu Nana tak ingat lagi wajah Ibu. Nana sedih." terangnya panjang lebar, dengan nada suara yang terdengar penuh dan gemetar.
Dan saya merasa kalau genggaman tangannya melemah. Ia gemetaran, bahkan saya bisa merasakannya langsung.
Kasihan sih, tapi.. saya harus apa? Jadi pengasuhnya?? Saya benci manusia, apalagi anak kecil. Hantu lagi.
"Ya sudah." singkat saya datar, seolah tak terlalu iba dan tertarik pada ceritanya. Tapi, raut senyum terpancar dari wajah Nana, ketika ia berbalik dan menatap saya. Ia menilik, menunduk dan memandang jalinan tangan kami.
"Kakak, membalas genggaman tangan Nana?" tanyanya tak percaya. Tapi, sepertinya itu cukup bagus untuk menenangkannya. Saya tak tahu bagaimana caranya menghibur orang atau hantu lain dan berkata kalimat yang manis untuk mereka. Hanya saja, ketika sedih.. saya selalu membutuhkan seseorang yang bisa menggenggam tangan saya, dan sepertinya.. Nana juga butuh itu, kan??
Wajah Nana yang sedikit menyeramkan kini mulai berubah. Wajahnya terlihat mungil, tembam dan pesek. Bahkan dua matanya terlihat sangat besar.
"Wajahmu berubah tuh?" ujar saya takjub, karena kini ia lebih terlihat seperti anak manusia yang lucu.
Ia menganggukkan kepalanya. "Hantu akan menunjukkan wajah indahnya ketika mempercayai lawan bicaranya." sahutnya.
Saya mengerjap dan membayangkan wajah Wenna yang mendadak cantik ketika bertemu dengan kami. Jadi dia juga mempercayai kami?? Tapi, Tamusong??
Kenapa saya masih melihat wajah jeleknya. Apakah ia tak mempercayai saya, bahkan semua orang yang ia ajak bicara??
"Masa'? Saya menunjukkan wajah ini bukan karena mempercayaimu loh." balas saya, membuat Nana menoleh dengan matanya yang besar.
"Lalu karena apa? Karena kakak memang tampan ya? Jadi tak bisa menjelekkan wajahnya?" terkanya, membuat saya menahan tawa.
"Bukan sih. Mungkin karena, saya tak merutuki dan tak terlalu memikirkan kematian saya. Bentuk saya ketika saya mati pun hampir lupa, ingat pun karena ada yang mengingatkan." sahut saya, membuat Nana mengernyit sambil menatap ke arah depan lagi.
"Sebenarnya Nana takut melihat wajah hantu-hantu yang seram, apalagi hantu kuntilanak seperti kita. Tapi, lama-lama Nana jadi terbiasa, lagi pula kan Nana juga hantu, jadi untuk apa takut?" gumamnya, terus saja berbicara seolah tak kehabisan bahan.
Nana yang tengah terbang tiba-tiba saja terhenti, ia menunjuk ke arah depan sambil menatap saya. "Di sana tempat tinggal kuntilanak. Mau masuk?" tawarnya. "Nana bisa memanggil pemimpin kita, mau?" tanyanya lagi.
"Ya." sahut saya singkat. Memangnya untuk apa saya kemari kalau bukan karena itu. Tamusong kan sudah dapat tempat tinggalnya bersama teman-teman sejenisnya, jadi saya juga mau mendapatkan hal yang sama.
Nana kembali terbang, menuju ke sebuah pohon rindang yang besar-besar. Akar pohon gantung menjulur panjang, bahkan sampai tergulung di atas tanah yang tertutup daun kering dan semak-semak.
Di setiap pohon besar, ada banyak benalu dan juga tumbuhan sejenis rumput yang melilit. Bahkan lumut kehijauhan pun menghiasi pohon ini.
Saya menyibakkan helaian akar gantung yang menghalangi pandangan. Semakin masuk ke dalam, semakin banyak pohon yang lebih besar daripada sebelumnya.
"Uph!" Saya terkesiap, ketika bau aneh tercium di hidung. Baunya menyengat, ada yang beraroma wangi ada juga yang sangat busuk.
Perlahan namun pasti, saya melihat beberapa penampakan kuntilanak perempuan yang bermain dan berayun di pohon gantung. Ada yang merayap di setiap pohon seperti seekor cicak. Ada yang bertengger di atas sana hanya sekedar bercengkrama.
Saya menunduk, mengernyit menatap sesosok hantu kuntilanak yang menyeringai tawa lebar sambil menggoyangkan kepalanya ke kiri dan kanan dengan gerakan memutar.
Nana langsung menyergah, memeluk tangan saya sambil menahan tangannya ke arah kuntilanak tadi. "Jangan di ganggu!! Ini punya Nana!!" pekiknya, membuat hantu ini terkesiap dan menutup telinganya, seolah sudah tahu kalau suara Nana memang semenggelegarkan itu.
"Siapa yang kau bawa? Tak pernah terlihat. Ganteng sekali wajahnya." timpalnya sambil masih menatap saya.
"Dia teman baru Nana, datang ke sini untuk bertemu dengan tuan. Dia mau tinggal bersama kita." terang Nana, membuat Kuntilanak ini semakin mengembangkan senyum.
"Huh, ku pikir apa tadi. Ya sudah, sana!" ujarnya mengusir kami.
Nana kembali terbang, mengabaikan setiap mata yang memandang ke arah kami. Saya masih menoleh sekeliling, hingga sesuatu yang aneh tiba-tiba saja terasa menyeruak di dalam diri saya.
Nyuuuut...
Kepala saya mendadak pening. Saya terkesiap dan mencengkeram kepala saya sendiri. Nana memanggil, ketika melihat saya seolah merasakan kesakitan, tapi suara itu hanya serupa dengungan yang tak terdengar.
Semakin lama, saya merasa Indra pendengaran ini perlahan menghilang. Saya hanya bisa melihat wajah khawatir dari Nana dan mulutnya yang bergerak tanpa suara.
Puk!!
Nana memukul pundak saya, membuat saya terkesiap hingga suara yang tadinya menghilang perlahan muncul kembali.
"Kakak kenapa? Kakak sakit?" tanyanya khawatir. Saya menghela napas lega, akhirnya itu terdengar.
Saya menahan tangan ke hadapannya, seolah tak ingin ia terlalu khawatir begitu. Tubuh saya membungkuk dan mata saya pun melirik, menatap sesuatu yang kini telah mengambang di hadapan kami.
Seorang wanita menyeramkan. Rambutnya gimbal, kusut dan panjangnya sampai menyentuh tanah. Bajunya berwarna putih kumal, panjang sampai menutupi kakinya. Kedua tangannya menampakkan jemari yang berkuku panjang, bahkan sampai bergulung saking panjangnya.
Kulit tubuh dan wajahnya sangat pucat, bibirnya berwarna biru keunguan, dan lingkaran di sekitar matanya berwarna hitam kemerahan.
Wujudnya sangat besar dan tinggi, hampir sama dengan pocong Adri yang tadi saya temui. Aura kuntilanak ini sangat kuat, bahkan saya merasa kesakitan akan kedatangannya.
Saya menilik, berusaha menatapnya dengan lekat. Hanya saja, saya melihat gestur tubuh dan juga tatapan matanya kurang bersahabat. Berbeda dengan kedatangan Tamusong tadi.
"Nana, siapa yang telah kau bawa ke tempat kita?" tanyanya, dengan suara falset yang membuat bulu kuduk saya meremang.
"Kakak tampan. Dia mau jadi teman Nana dan tinggal bersama kita." ucap Nana dengan suara yang bersemangat. Bahkan ia tak lupa untuk tersenyum usai mengatakannya.
Wanita ini menilik, menatap saya tanpa berkedip. "Benar, kau mau tinggal di tempat ini?" tanyanya.
Saya menganggukkan kepala dan tak melepaskan pandangan darinya. "Nama saya Kuno, saya belum lama mati dan akhirnya berada di tempat ini. Saya di usir dari kediaman saya sendiri, dan sekarang tempat ini adalah kediaman saya yang terakhir. Saya berharap agar nona menerima kedatangan saya dan menerima kehadiran saya di tempat ini." ujar saya, tak biasanya mengatakan hal yang panjang lebar dengan wajah serius.
Wanita ini menatap saya dengan kernyitan, ia mendengkus sambil mengalihkan pandangannya. "Maaf, tapi kau tak di terima di tempat ini." ucapnya, membuat saya terkesiap dan tentu saja tak terima.
"Hah? Apa-apaan itu? Kenapa? Memangnya ada yang salah dari riwayat kematian saya?? Teman saya tadi gampang-gampang saja kok masuk ke kediaman para pocong, kenapa saya di tolak?" tanya saya heran.
Keributan ini ternyata memancing para kuntilanak yang lain untuk berdatangan. Mereka mendengar apa yang sedang kami ributkan di tempat ini.
"Pocong? Heh, si Adri itu lemah, jadi mudah sekali menerima orang baru di tempatnya. Tapi, aku tak sepertinya, jadi buang saja keinginan mu untuk berada di tempat ini." tolaknya lagi, dan kali ini terdengar angkuh.
"Oke, kalau menolak saya sih tak masalah!" sahut saya, membuat Nana terkesiap kaget.
"Kenapa kakak bicara begitu?" protesnya.
"Tapi.. sertakan alasannya juga." sahut saya, dengan tatapan mata yang begitu tajam dan mengintimidasi.
Kuntilanak ini terbahak usai mendengar perkataan saya, bahkan kuntilanak yang berada di sekitar kami ikut melakukan hal yang sama, sampai hingga pemimpin mereka berhenti, barulah para kuntilanak ini diam.
"Alasannya?? Aku, hanya menerima hantu kuntilanak pada umumnya. Tapi, kau.. lihat kalau kau itu berbeda." ujarnya, membuat saya mengernyit heran. "Kau itu satu-satunya kuntilanak lelaki, dan lagi.. wajahmu, bukan berasal dari hantu asli Indonesia. Kau, hantu asing kah?" tanyanya, membuat kedua mata saya terbelalak, bahkan hampir melompat keluar ketika mendengarnya.
"Kau harus menerimanya, kalau hantu asing.. tak pernah di terima di perkumpulan kuntilanak." tukasnya, mempertegas ucapannya.
Tidak!!
Masa' sih di dunia hantu juga mengucilkan saya perihal perbedaan ini?? Hanya karena saya terlihat asing dan berbeda, makanya saya di pandang sebelah mata.
Kalau begitu, apa bedanya tinggal di sini.. dengan di dunia manusia?? Kalau di sini pun, saya tak di terima.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......