
*Kejadian sebelumnya...
Kihihi, benar. Kenapa tak terpikirkan oleh saya sebelumnya? Dia kan pernah berkata demikian. Jadi, seharusnya tak masalah kalau saya pergi dari tempat ini.
Saya menunduk, menatap lantai yang berdebu. Beberapa Minggu di sini, saya sudah bisa memainkan dan mengeluarkan bola-bola energi di tangan saya. Cukup menghancurkan dinding penghalang ini saja kan???
Pertama, saya perlu berkonsentrasi dan memusatkan tenaga dalam di antara kedua tangan.
Yang kedua, saya harus mengurangi atau melemahkan volume benda yang menjadi target. Karena saat ini saya ingin membobol dinding gaib bagian bawah yang di buat kiyai, maka saya harus menekan tangan ini ke atas lantai. Tekan hingga bisa menyentuh seutuhnya.
Ketika tangan saya merasakan dinginnya lantai yang berdebu, saya mengerahkan tenaga dan mengumpulkannya di telapak tangan. Tekanan saya lakukan, bukan dengan mendorong lantai, tapi mendorong kekuatan yang berasal dari diri saya sendiri.
Dinding ini terasa tebal, rasanya menjadi kurang percaya diri untuk bisa menembusnya. Saya masih terus berusaha mendorong kekuatan ini, rasanya mirip seperti mengebor tanah padat yang susah sekali di tembus. Tapi, susah bukan berarti tidak bisa kan?
Batu keras dan besar pun bisa hancur jika terus-menerus di tetesi oleh air, apalagi cuma dinding seperti ini.
"Biasanya kalau berteriak, maka kekuatan akan menjadi berlipat-lipat. Apa sebaiknya saya berteriak saja ya?? Aooookihihihi!!!! Uaaahahahaa!" pekik saya dengan kencang.
Benar juga sih, semacam ada kekuatan tambahan ketika berteriak. Pantas saja, di film-film superhero, mereka selalu menamai jurus mereka dan mengeluarkannya seraya berteriak. Jadi begini fungsinya?? Seharusnya saya juga memberikan nama untuk kekuatan saya.
"Jurus cahaya kuntilanak, kihihihi.. keren juga nama itu. Sekarang ini adalah nama yang akan saya pakai untuk memberantas kegelapan yang ada! Kihihihi!" seru saya, persis seperti orang yang sakit jiwa karena sejak tadi selalu bicara sendirian.
"Ayo cahaya kuntilanak!! Segera hancurkan tembok dari kiyai bau jempol kaki!!" pekik saya, mendorong dinding gaib ini dengan sekuat tenaga.
Perlahan-lahan saya bisa merasakan sensasinya. Satu lapisan, dua lapisan, tiga lapisan, dan dinding ini mulai goyah. Satu retakkan membuat bagian yang lainnya runtuh dan...
Buuuum!!
Saya melesat, menembus lalu melewati benda padat. Rasanya mirip seperti terjun ke dalam air yang sedikit berat, seperti lumpur yang cairannya kental.
Saya mengambang, sembari menengadah ke atas, menatap pemandangan plafon yang sedikit berbeda dari pada sebelumnya. Ternyata, saya muncul di langit-langit lantai dua yang ruangannya tepat berada di bawah ruangan seni, mm.. maksud saya gudang baru.
Kedua mata saya terbuka lebar, saya menatap kedua tangan saya yang masih memendarkan cahaya. Senyum lebar terukir di bibir, saya menengadah ke atas dan menilik ke sekeliling ruangan.
Untuk pertama kali setelah sekian lama, saya bisa melihat ruangan dengan pemandangan berbeda, dari apa yang selalu saya lihat sebelumnya.
"Yeeeeeeeey!! Akhirnya saya melihat kursi!!" pekik saya sambil terbang mengitari kursi ruang kelas sebanyak enam belas kali, sama seperti umur saya.
Saya kembali mengedarkan pandangan. "Waaaw, itu ada papan tulis!!" pekik saya lagi sambil mulai terbang mendekati benda tersebut. Saya mengurut permukaan papan tulis dengan jemari, lalu mencakar papan tulis tersebut dengan kuku, hingga deritan suaranya terdengar dengan begitu merdu. "Waaah, suara yang merdu." gumam saya, sambil tersenyum dan melihat ke sekitar papan tulis.
"Ha, itu apa?? Spidol pengamen??" gumam saya sambil mengambil spidol tersebut dari atas meja dan mencoret papan tulis hitam dengan spidol tersebut. "Hm.. tak ada warnanya? Apa karena sama-sama hitam, ya? Kihihi, dasar dungu. Tapi, ini memang spidol pengamen.. soalnya tak bisa di hapus." gumam saya sambil melemparkan spidol tersebut ke sembarang tempat. Saya kembali celingak-celinguk, dan mendapati sesuatu yang sangat mengagumkan.
"Gyaaaaaah!! Ada jendela!! Jendela yang terbuka! Jendela yang bisa melihat pemandangan luar dan tak di paku dengan papan!! Waaah!!" Saya melesat cepat ke depan jendela dan menyibakkan tirai tersebut. Mata saya langsung menatap ke luar, dan betapa indahnya pemandangan yang terlihat dari jendela yang besar, tidak perlu mengintip dari lubang-lubang kecil, ini... ini sungguh menyenangkan mengingat saya sudah berapa lama terkurung di tempat menyebalkan itu.
Rasanya senang sekali, benar-benar senang. Terkurung itu ternyata menyeramkan, dan di luar sini.. terasa begitu indah dan bebas, hingga saya rasanya ingin segera keluar dan terbang mengelilingi sekolah.
Saya kembali terbang, menembus dinding kelas demi kelas hingga dinding terakhir membawa saya keluar dari dalam gedung sekolah. Saya langsung di hadapkan oleh rumput setinggi lutut dan juga tebing tinggi yang sering di sebut sebagai pagar yang mengelilingi batas sekolah.
Seketika saya teringat oleh pesan yang di sampaikan Tamusong, bahwa ia menunggu saya di depan pagar sekolah. Apa saya ke sana saja untuk menghampirinya?
"Tamus-"
Nyuuut!!
Kepala saya mendadak berguncang hebat, seperti terhentak dengan kuat. Saya mendadak oleng, dan jatuh terjerembab di atas angin.
Pandangan saya berputar, tak tahu apa yang sedang terjadi, tapi perlahan saya merasakan sesuatu yang pernah saya rasakan sebelumnya. Tersedot oleh sesuatu, dan saya sudah tahu siapa orang yang melakukan semua ini.
Kedua kaki saya tiba-tiba saja terangkat ke atas, meski tubuh saya masih berada satu cm di atas tanah. Bukan saya yang menggerakkan ini, tapi hisapan ini langsung menyergap ke telapak kaki.
Saya mengeluarkan bola cahaya dari kedua tangan saya, membentuknya sebagai dua cakaran tajam dan menusuknya ke dalam tanah.
"Argggh!! Kiyai kurang kerjaan sekali! Lebih baik kita bisnis keripik pisang albino saja daripada sibuk menyedot saya, memangnya saya ini ingus, di sedot-sedot terus?!" pekik saya kesal.
Dengan sekuat tenaga, cakaran ini semakin terbenam di dalam tanah. Tapi saking kuatnya hisapan ini, tanah yang tertancap malah tercabut dan membuat saya terbang ke atas.
Saya mengernyit, melemparkan bola cahaya ke beberapa ranting pepohonan, membuat efek memanjang serupa tali dengan kait yang mencengkeram ranting.
Tubuh saya terhenti, dan saya melingkarkan cahaya ini ke pinggang, untuk menghentikan hisapan ini.
"Argh!! Ngotot sekali sih menyedot saya, suka sekali melihat saya sepertinya!! Mau minta tanda tangan kah?!" pekik saya dan tiba-tiba saja...
Kraaaak!!
Dahan pohon yang saya lilit patah, tak sanggup menahan kekuatan dari kiyai. Hisapan ini semakin kuat, dan melawan pun sepertinya sudah tak mungkin saya lakukan.
Dari pada membuang tenaga, saya membiarkan roh ini terhisap dan...
Roh saya hampir terhempas ke tanah, tapi dengan cepat saya mengganti masa tubuh menjadi gumpalan angin sebelum itu terjadi.
Ketika saya berhasil mendarat dengan sempurna, saya mengubah pusaran angin yang telah mengepul menjadi wujud sempurna dari Adam Suganda.
Saya mengernyit dalam dan memejamkan mata, tak tahan menatapnya lebih lama.
Cahaya putih itu berhenti mengerahkan kekuatannya, tapi tak serta merta membuatnya berhenti bersinar. "Anak nakal, kau.. benar-benar ingin di hukum, dan menjadi musuhku, ya?" tanyanya dalam.
Saya mengernyit, mengeratkan gigi sambil menunduk, tak berani memandangnya. "Kau lagi kau lagi!" kecam saya. "Kenapa lagi sih? Memangnya saya salah apa?" balas saya, membuat suara dengkusan terdengar dari kiyai.
"Kamu jangan pura-pura amnesia! Kita sudah mengadakan perjanjian, berhenti lah bermain-main denganku." tukasnya, terdengar sangat jengkel.
"Lah, kan waktu itu kiyai sendiri yang bilang, kalau saya tidak boleh mengganggu manusia di sini, kalau saya melanggar janji, maka saya akan di usir." sahut saya sambil menyipitkan mata menatapnya.
Tak ada jawaban dari kiyai, entah apa yang ia pikirkan sekarang. Apa dia sedang menghitung gigi kambing untuk di jadikan gigi palsu?
"Kapan aku mengatakannya?" tanyanya, bersuara setelah diam beberapa saat.
Saya langsung mendecakkan lidah. "Waktu itu kan kiyai bilang begini...
"Ya sudah, apa syarat untuk saya?" tanya saya lagi. "Mumpung saya mau mendengarkan nih."
Ia terdiam sesaat, hanya untuk menghela napas. "Para manusia sudah ku minta untuk menjauhi tempat tinggalmu, jadi.. Kau.. dilarang untuk menggangu manusia di sini dengan alasan apapun. Kau di perbolehkan untuk tinggal disini selamanya, ini adalah tempatmu dan kau tak kan terusir. Tapi, kalau kau masih melanggar perjanjian ini dan mengganggu manusia."
"Maka... kau akan mendapatkan hukuman berat, dan aku.. tak akan menganggap mu sebagai seorang bocah nakal lagi. Kau, akan ku musuhi, sebagaimana aku memusuhi iblis pemakan darah itu." tukasnya, membuat dada saya terasa tertusuk duri.
"Apa kau mengerti?" tanyanya lagi. Saya mengangguk, enggan menjawab apapun.
"Nah, begitu lah ceritanya." ujar saya sambil tersenyum senang.
"Dasar anak ini.." keluhnya sambil menghela napas. "Kau ini hanya mendengarkan dan mengingat apa yang kau ingin dengar dan ingat. Tapi pada bagian yang tak kau sukai, kau malah melewatkannya!" lanjutnya.
"Apasih, memang begitu kok." sahut saya.
"Apa kau lupa perkataan terakhir ku, atau kau pura-pura melupakannya?" tanyanya. "Waktu itu aku pernah bilang..."
"Bagus, sekarang.. tetaplah tinggal di tempat ini, dan karena kau melanggar janji pertama kita, maka kau.. akan di kurung siang dan malam di tempat ini. Kau tak akan bisa kemanapun. Dan yang perlu kau ingat.." Adam mengangkat kepala dan menatapku. "Jangan mempercayai hantu mana pun di alam ini. Satu sama lain dari kalian, masing-masing.. tak memiliki manfaat sama sekali. Jadi, berdiri tegaplah dengan kakimu sendiri." ujarnya lagi.
"Aku pernah berkata demikian!" ujarnya.
Saya menghela napas dan menggelengkan kepala. "Ckckck, saya baru pertama kali mendengar yang seperti itu." sahut saya lagi.
"Dasar nakal! Ayo, kembali ke dalam ruangan seni sampai hukumanmu selesai."
"Tidak mau!! Kiyai berbohong. Katanya sebentar, tapi ternyata lama. Memangnya enak di kurung begitu. Tidak enak tahu! Seenaknya saja, memang tidak berprikesetanan!" dengkus saya sebal, sambil membuang muka dan melipat tangan dengan gerakan yang menghentak.
"Kau saja yang membuat perikesetanan sendiri. Kalau kau membangkang, hukumanmu akan ku tambah menjadi lebih lama dari pada sebelumnya!"
"Tidak mau!!" sergah saya, memotong ucapannya.
"Ya Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang, hamba mohon-"
"Tidak tidak tidak!" desah saya.
"Tarik kembali roh yang bernama Adam su-"
"Gyaaaaaah!! Tidak mau!! Saya tidak mau kembali ke sana lagi! Saya tidak mau di kurung lagi!" jerit saya, sambil menggeleng dengan kuat.
Seolah tak mendengar permohonan saya, kiyai terus melanjutkan. "Hamba mohon tarik kembali roh yang bernama Adam Suganda, untuk di kurung di dalam ruangan seni-"
Tiba-tiba saja kiyai terkesiap sambil melepaskan tenaga batinnya ke arah saya, saya tak bergeming dan kini berani menatapnya dengan tatapan yang begitu tajam.
Goresan halus sepertinya melukai pipi kiyai, karena saya bisa merasakan aroma darahnya yang sangat wangi tapi menyesakkan dada. Dan selanjutnya, aroma itu menguap begitu saja. Seolah tak mengizinkan saya atau para hantu yang lain untuk menikmatinya.
Kiyai, baru saja menepis serangan tiba-tiba yang saya lemparkan padanya. Saya tak berniat untuk mencelakainya dengan melemparkan cahaya itu, itu saya lakukan semata-mata agar ia berhenti berbicara dan mengurung saya.
"Astaghfirullah, kau melukai manusia dengan kekuatanmu?" tanyanya, sambil menyeka darah di pipinya. Meski bercahaya, tapi gerakan itu masih kelihatan.
"Saya memintamu untuk berhenti kan, tapi kiyai tak mendengar dan tetap saja melakukannya. Saya hanya berusaha menghentikan mu, itu saja!" sahut saya, membuat cahaya putih di hadapan saya, tiba-tiba saya memecahkan kemilau yang dahsyat, membuat tubuh saya terdorong beberapa langkah ke belakang.
"Kau ini, memang pembangkang ya?" ucapnya dengan aura yang sangat mencekam, hingga mati rasa seluruh tubuh saya.
Pada akhirnya, ia pasti akan tetap mengurung saya. Jadi, maaf saja kiyai. Kali ini, mari kita bertarung.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......