
Saya duduk mengambang di pojokan, masih berada di dalam gudang lantai tiga. Sebenarnya saya mau keluar dan melihat kesenangan teman-teman dari dekat, tapi saya hanya bisa keluar dari lapisan pelindung ruangan ini ketika malam Jum'at Kliwon saja, selebihnya.. kekuatan saya tak cukup mampu untuk melakukannya.
Tapi tak apalah. Ini juga sudah bagus. Setidaknya saya punya tempat untuk di huni dan tak di ganggu siapapun kan. Lagipula, sudah bagus kiyai tak datang dan menghukum saya lagi perihal saya yang melepaskan diri dari ikatannya. Tidak usah ngelunjak dan keluar dari ruangan ini. Yaah, walaupun saya suka sekali membantah kata-kata kiyai. Sudah sejak hidup sih kebiasaan itu selalu saya terapkan, sekarang sudah seperti hal wajib untuk di lakukan.
Besok pagi para manusia itu makan-makan ya? Makanannya apa saja ya?? Nasi bungkus kah?? Atau lempah kuning?? Ada kue Jongkong tidak ya??
Saya mengalihkan pandangan dari kaca jendela yang sudah tertutup kayu. Saya menempelkan tangan saya ke sela-sela kayu sambil menatap lirih ke arah teman-teman yang sedang asik berjoget di tengah lapangan. Sangat tidak berfaedah.
Sebaiknya saya juga berjoget di dalam sini. Ya, mumpung masih ada suara musik senamnya kan.
Saya mengambil aba-aba, berdiri tegap sembari mengambang. Saya mulai bergerak sesuai musik yang ada.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan." bunyi suara musik, dan saya mengangkat alis saya secara bergantian, sesuai dengan musik yang ada.
"Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, delapan." lanjutnya, dan saya menggerakkan bibir ke depan dan belakang, seperti ****** ayam yang sedang cepirit.
Musik berikutnya masih sama, saya sejak dulu bertanya-tanya, apakah guru olahraga dan instruktur senam itu tak bisa berhitung ya?? Menghitungnya hanya satu sampai delapan terus, tak pernah tuh sampai sepuluh.
Kini saya mengembangkan senyum lalu merungut, sesuai dengan ritme musik yang ada.
"Haaaaa!! Cape juga ya senam wajah. Itulah kenapa saya malas sekali bergerak." gerutu saya sambil berselonjor di atas angin, tepatnya di samping lemari jebol.
Saya kembali beralih, mengambil bola kempes dengan kekuatan saya. Cahaya memanjang keluar dari telunjuk saya, dan cahaya itu menggerakkan bola hingga terjatuh dari tumpukkan kardus.
"Hm, lihat Tamusong!! Meski tak kau ajarkan dengan detil, tapi saya sudah bisa tuh mengendalikan energi gaib. Yaa, meskipun semuanya berkat bulu hidungmu sih. Kalau tak ada dirimu, saya pasti masih kebingungan bagaimana cara mengendalikan kekuatan ini."
"Berkat tiga ilmu dasar yang ia ajarkan, setidaknya saya sudah bisa menempatkan kekuatan ini dengan baik dan benar. Tinggal mengendalikannya saja dengan cara yang berbeda. Yang penting, rumusnya sudah saya dapatkan. Perihal soalnya yang berbeda, yaa.. nanti jawabannya ketemu juga. Seperti matematika." oceh saya seorang diri.
Sebenarnya saya merasa kesepian di ruangan yang sudah tak terlihat seperti ruang seni. Tapi lebih kepada gudang dengan barang-barang usang dan berdebu. Ocehan saya sebenarnya hanya kamuflase agar saya tak merasa benar-benar sendiri.
Menyedihkan! Mati itu menyedihkan. Apalagi mati penasaran begini. Huft!!
Dalam kegelisahan saya, tiba-tiba saja saya tersentak dan kedua mata saya terbelalak. Dengan spontan saya langsung menoleh ke arah pintu gudang.
Mata saya berkilat-kilat dan tubuh saya bergetar hebat. Saya menarik bibir serupa lengkung dan tersenyum dengan seringaian. "Ooh, ada tamu??
.......
.......
.......
.......
*Ariandi POV
Masing-masing dari mereka tetap konsisten untuk diam usai mendengar ocehanku. Aku langsung keluar dengan membawa lap dan juga pembersih kaca.
Ketika aku melewati ambang pintu, mereka serentak beranjak dan berjalan kecil mengikuti langkahku dari belakang. Aku tahu kalau mereka mengikutiku, tapi aku pura-pura tak tahu saja.
Mereka berbisik-bisik kecil, sampai suara itu perlahan terdengar di telingaku. Aku pun terhenti tepat di depan ruang laboratorium, membuat mereka terkesiap dan ikut terhenti. Aku menoleh ke belakang, dan dengan sigap mereka berpura-pura melakukan aktifitas yang di lakukan di tempat tak wajar.
Ada yang mengelap pintu, menyapu di satu tempat, bahkan ada yang mengepel tanpa membawa ember dan air. Dan lucunya, mereka melakukan itu semua di satu tempat, yaitu selasar kelas yang berada di dekatku.
"Kenapa kalian mengikuti ku begitu? Apa kalian ingin menjadi saksi kalau aku memang benar-benar masuk ke dalam sana dan tentu saja tak akan melihat keberadaan hantu." ujarku, membuat sorot mata mereka berubah.
"Heh, OB Baru. Kalau saja kau ingin benar-benar membuktikan kalau di gudang lantai tiga itu tidak ada hantu, coba buktikan itu di malam hari. Kalau siang hari, kami juga pernah masuk tahu untuk meletakkan barang-barang bekas. " ucap seseorang, yang name tag-nya bernama Ucup.
Aku mendengkus. Sebenarnya cukup gentar, mengingat kalau hantu itu memang benar-benar ada. Apalagi, Adam sejak dulu memang tak menyukai kehadiranku, meski aku sudah berusaha baik dan mengambil hatinya.
"Oke, jam berapa kalian memintaku melakukannya?" balasku menantang, membuat Saripudin hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Aku tak tahu menahu tentang ini ya. Aku tak mau ikut campur dan anggap saja aku tak pernah mendengarkan apapun. Kalau kalian mau main-main dengan nyawa, silakan saja. Aku mau bekerja mencari nafkah dulu." tukasnya kesal, sambil beralih dengan lap yang masih berada di tangannya.
Aku menoleh sekitar, menatap para OB secara bergantian.
.........
Tepat pukul sembilan malam, aku sudah bersiap-siap di depan gerbang sekolah. Tentu saja para OB yang besar mulut itu ikut denganku untuk menyaksikannya.
"Karena kau yang berani sendirian, kami tunggu di sini saja ya. Kau saja yang masuk. Soalnya kami penakut dan kami percaya dengan adanya hantu." ucap Ucup, sangat menekankan kalau mereka sama sekali enggan menginjakkan kakinya ke dalam sekolah.
"Dan ini, adalah kunci gembok yang ada di gudang." ucap Jeki sambil menyodorkan sebuah kunci padaku.
Tanpa basa-basi, aku berjalan cepat melewati loby sekolah dan juga Selasar kelas demi kelas. Tujuanku adalah ruang kelas, karena di sana lah adanya tangga untuk membawaku masuk ke gudang lantai tiga.
Aku menaiki anak tangga, sambil menengadah ke atas. Lampu-lampu kelas tampak di matikan, yang di hidupkan hanyalah lampu disetiap selasar kelas.
Lantai dua terlewati, dan kini aku telah berada di lantai tiga. Di lantai ini pemandangannya remang-remang sekali. Lampu yang di hidupkan hanya satu, tapi lumayan untuk memberikan penerangan.
Beberapa benda tak kasat mata mulai menarik perhatian, tapi aku hanya mengabaikan meski jantung ku berdegup tak karuan.
Suara-suara mereka terdengar lantang, dekat dan kadang jauh. Mereka muncul dengan tiba-tiba, rasanya ingin menutup mata ketika melewati mereka. Mungkin karena aku setengah setan, jadi aku bisa melihat penampakan itu.
Sebagiannya ada yang terbang dari satu tirai ke tirai lainnya. Sebagiannya sengaja merayap sambil meneteskan ludahnya. Aku berpura-pura buta, berjalan tanpa menoleh ke segala arah.
Waktu terasa melambat, hingga keringat ku menetes deras, dan suara napas ku terdengar nyaring di telinga. Walaupun selalu berhadapan dengan perkumpulan sekte sesat, tapi perasaan ini jauh berbeda. Apakah karena mereka ini adalah bekas tumbal tuan, jadi mereka marah dan memberikan aura mencekam kepada siapa saja yang melewatinya.
Akhirnya, aku pun sampai di depan pintu gudang yang tertutup rapat. Aku mengangkat gembok dan memasukkan kunci ke dalamnya. Setelah kunci gembok tersebut terbuka, rantai-rantai yang membelit gagang pintu pun terlepas sepenuhnya, membuatku dengan leluasa dapat membuka pintu.
Aku yang masih berdiri kaku di depan pintu pun menilik ke sekeliling ruangan. Tak ada yang menyeramkan dari tempat ini, selain benda-benda rusak dan tak terpakai.
Aku mengedarkan pandangan kembali, memperhatikan tempat ini sambil melangkah masuk.
Yang mana benda yang di maksud oleh tuan?? Aku harus menggunakan senter untuk mencarinya. Penerangan di sini cukup buruk, di tambah aura mencekam dan perasaan menggigil terus menyeruak di perutku.
Aku hampir muntah, bahkan menahan ini membuat mataku berair. Harus cepat keluar, rasanya menyeramkan sekali. Ini adalah ruangan kosong dengan kursi-kursi patah yang tak terpakai lagi, dan di tumpuk menjadi satu tumpukan tinggi. Tak ada yang harus ditakutkan. Ini bukan kuburan atau bekas rumah sakit.
Aku mengambil sembarang benda yang ada di sekitarku. Apapun itu, yang penting bisa di jadikan bukti kalau aku benar-benar masuk ke dalam tempat ini.
Benda yang berhasil ku jangkau adalah bola yang sepertinya sudah kempes. Ini saja ku bawakan pada mereka.
Aku langsung berbalik dan segera keluar dari ruangan ini. Ketika baru saja berjalan beberapa langkah, tiba-tiba...
Grosaak!!
Sesuatu terjatuh ke atas lantai. Aku langsung membanting pintu tanpa sempat menoleh ke dalam. Buru-buru aku membelit gagang pintu dengan rantai dan segera menguncinya.
Aku bahkan lari terbirit-birit, tak perduli dengan para hantu yang terkikik menertawakan ketakutan ku. Tidak juga dengan ribuan makhluk putih yang berlari mendekat dan menyergah ke hadapanku.
Jantungku terasa berhenti, tapi adrenalinnya memacu. Tak perlu menunggu waktu yang lama, aku berhasil keluar dari dalam gedung dan segera menuju ke gerbang utama sekolah.
Ketika hampir sampai ke sana, aku berhenti, berusaha mengatur napas sebaik mungkin agar tak ada yang menyadari kalau barusan aku begitu ketakutan. Aku menyeka keringat, tersenyum dan melangkah yakin ke arah mereka.
Dari kejauhan, pandangan mereka tertuju padaku. Aku pun mendekat dan menyodorkan bola kempes tadi untuk mereka. "Ini. Bola kempes dari gudang." ucapku dengan wajah santai.
Ucup menerima bola itu, dan menunjukkannya pada OB yang lain. "Benar, ini dari gudang. Aku sendiri yang menaruhnya."
"Iya benar. Ini memang bola kempes yang berada di gudang. Karena semua bola rusak di gedung olahraga, sudah di pindahkan ke sana semua."
Oceh mereka, dan aku berpura-pura tak memperdulikannya. "Nah, bagaimana? Aku tak apa-apa, kan? Tak terjadi apapun padaku, kan? Benar kan apa yang ku katakan, kalau sebenarnya, hantu itu tidak pernah ada. Itu hanyalah cerita rekaan orang zaman dulu. Dan kalian malah mempercayainya." ujarku sombong.
Satu persatu dari kami bubar dari tempat ini setelah mendapatkan fakta yang mengejutkan bagi mereka. Karena aku, sama sekali tak apa-apa.
Aku sudah masuk ke dalam sana, ternyata itu adalah ruangannya. Meskipun mencekam, tapi setidaknya tak terlalu menyeramkan.
Aku masih memegang kunci tadi, dan sepertinya mereka pun lupa untuk memintanya kembali.
Ini bagus, karena dalam waktu dekat.. aku akan kembali ke dalam gudang dan menyelesaikan misi ku.
Tuan Barend Otte, tunggu lah. Aku akan memenuhi permintaanmu.
*Ariandi POV End
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......