
Saya terengah, berkeringat di sebuah tempat sempit dan juga gelap. Tak tahu, saya tak tahu ini di mana, hanya saja kesakitan terasa menjalar di sekujur tubuh saya. Bak sabetan cambuk yang di terpa keseluruh tubuh secara berulang-ulang. Saya terbaring, tapi tempat ini seperti tak nyaman untuk di tiduri.
Keringat mulai mengucur, saya mendongak ke atas untuk memastikan, apakah saya sudah boleh keluar? Atau harus menunggu aba-aba seperti sebelumnya? Meski mendongak pun saya tak tahu di mana saya berada sekarang. Tempat ini gelap, tapi sempitnya benar-benar terasa.
Saya mulai merasa panik, bukan karena tak sungguh bisa bernafas, hanya saja saya merasa seperti masih bernafas dan terpendap di dalam tempat pengap yang menyesakkan dada.
Mata saya mengerjap ketika serpihan pasir sedikit runtuh tepat di hadapan wajah saya. Sungguh, menunggu itu membuat saya merasa cukup takut. Bukan hanya dengan kondisi tempat ini, melainkan dengan situasi yang sedang saya alami.
Saya, di suruh menunggu di sini. Agar tak terlalu menyakitkan memandang matahari, maka saya di simpan di dalam sini. Hanya saja, ini kali pertama saya keluar dan pergi dari dalam ruang seni, saat matahari telah terbit.
Sejujurnya ini yang menjadi momok menakutkan bagi saya. Saya, melanggar janji yang di buat bersama kiyai, lalu.. apa yang harus saya lakukan sekarang?
Meski begitu, saya tak yakin kalau kiyai akan menghukum saya, seperti apa yang di katakan oleh Tamusong. Tapi di sisi lain, Tamusong benar. Saya bukan lagi seorang anak manusia, saya adalah hantu sekarang. Dan saya sendiri paham betul, kalau hantu dan sejenis jin atau iblis, adalah musuh bagi kiyai dan bagi semua manusia di bumi ini.
Saya melanggar kesepakatan, dan mengganggu manusia. Bahkan mengganggu kinerja kepolisian, menakuti para siswa, dan melepaskan kekuatan besar. Saya tak tahu apa yang akan di lakukan kiyai, pun ia adalah seorang yang tak pernah mau bernegosiasi dengan para hantu. Tapi, kalau hantunya saya?? Apakah bisa di terima?
Dalam diam, tiba-tiba saja saya merasakan aura dingin yang berkejaran di dalam perut. Rasanya cukup aneh, dan.. ini membuat saya merasa mual.
Dalam kegelapan, mendadak ada cahaya putih yang sangat terang, bahkan terangnya membuat saya mampu melihat sekeliling tempat sempit ini.
Dan sungguh, saya terkesiap ketika menyadari dimana saya berada. Tempat sempit persegi panjang. Tanah kuning yang sedikit lembab. Dinding dan juga bawahan saya dari tanah yang sama. Dan di atasnya? Ada susunan papan dari kayu yang terlihat hampir tua.
Dan saya di biarkan berbaring di tempat ini? Kurang ajar memang, dimana Tamusong menyimpan saya? Saya sebenarnya tak ingin berprasangka buruk terhadap tempat ini. Hanya saja, yang membuat saya yakin adalah.. banyak ulat-ulat tanah di sekitaran dinding dan tempat saya berbaring.
Saya melipat tangan ke depan dada, sedikit jijik dengan benda melata ini. Tubuh saya bergeser sedikit, bermaksud menjauh dan beralih dari makhluk tadi.
Tiba-tiba saja, runtuhan pasir halus kembali jatuh ke wajah saya. Saya menutup mata, dan membiarkan serpihannya melewati telinga.
Krotak.. krotek..
Suara pasir yang halus terdengar besar di telinga. Saya menggeleng, membuat sesuatu tiba-tiba saja terjatuh dan merayap di antara wajah serta mata. Buru-buru saya membuka mata melihat sesuatu berjalan bergantian menggunakan kakinya yang sebesar korek api. Saya terkejut tatkala menyadari kalau makhluk ini adalah kelabang. Bahkan ia berjalan santai mengelilingi wajah saya.
"Huaaaaa!! Kelabang!! Kelabang!!" Saya memekik, menepis dan menjauhkan makhluk ini dari wajah saya.
"Tamusong!! Keterlaluan sekali!! Bisa-bisanya menyimpan saya di dalam kuburaaaaaan!!" Saya memekik, ketika suara kaki makhluk-makhluk melata ini terdengar bak merayap-rayap di segala sisi.
Cahaya terang yang tadinya menerangi, kini perlahan memudar. Tentu saja ini membuat saya semakin panik bukan kepalang.
"Ah!! Ini baik atau buruk sih? Kalau gelap, setidaknya saya tak akan tahu benda apa yang sedang merayap. Tapi, kalau salah satunya ada yang masuk ke dalam hidung dan telinga bagaimana??" pekik saya kencang, bermaksud agar Tamusong bisa mendengarnya.
Dada saya naik turun semakin cepat, seperti bisa bernapas saja. Tempat ini gelap dan sempit. Ini, seperti gambaran kalau saya mati dan tersadar di alam kubur.
Takut sekali, benar-benar takut. Suara makhluk merayap tadi masih terus terdengar. Meski mengedarkan pandangan, tapi tetap saja saya tak mampu melihat apapun. Hanya saja, saya berharap secercah cahaya tadi kembali, dan mengeluarkan saya dari tempat ini.
"Tamusong!!! Buka!! Keluarkan saya dari tempat ini!!" pekik saya, sebelum mencoba berusaha untuk keluar.
Tak mendengar jawaban, saya mulai menyentuh dinding tanah di sisi kiri dan kanan yang sempit. Saya mendorongnya, berusaha agar ini dapat bergeser atau saya bisa menembusnya.
Tapi.. Ini seperti dinding di ruang seni. Benar-benar tak bisa di tembus. Tebal seperti kaca atau dinding transparan. Ini pembatas?? Sengaja di ciptakan untuk mengurung saya, atau agar saya bisa keluar ruang seni, dengan tempat ini sebagai penggantinya?
"Assalamualaikum.." sebuah suara terdengar, dan saya mengerjap ketika mendengarnya. "Pemilik nama Adam Suganda.." sapanya lagi. Dia.. memanggil saya?? Siapa ini? Suaranya menggema, jelas tapi juga tak jelas.
"Apakah hamba Allah bernama Adam Suganda mendengar ku? Apakah kau mendengarkan panggilanku?" gema suaranya lagi.
Saya bimbang, apakah harus menyahut atau tidak. Karena suara ini terdengar seperti pantulan batin, tak ada karakteristik pemiliknya. Ada baiknya kalau saya mendengarkan keinginannya terlebih dahulu.
"Jika kau mendengarnya, maka atas izin Allah.. Aku minta agar rohmu meresap dan terpanggil ke tempatmu. Tempat dimana kau meregang nyawamu. Bismillahirrahmanirrahim..."
Saya mendengar suaranya mulai pelan dan berkomat-kamit. Ia membacakan sesuatu, dan gaya bicaranya ini.. seperti seseorang yang saya kenal.
Bzzzzt.... Bzzzzt..
Roh saya terasa gamang dan bergetar. Saya merasakan tekanan di sekujur tubuh, seolah-olah tertindih oleh tanah padat. Tapi, tekanan ini seperti menyedot, atau bahkan menarik saya dengan kencang.
Wuuusshh!!
Tubuh saya terhempas, tersentak bagaikan naik kendaraan dengan kecepatan maksimal. Mata saya terpejam, karena angin yang bertiup seakan membuat mata perih.
Apa yang terjadi? Kenapa.. roh ini tiba-tiba saja tersedot dengan kuat?? Sebenarnya, kenapa saya di panggil? Apakah orang itu, ingin mengeksekusi saya??"
Saya terus mengerang, menahan roh saya agar tak terbang melayang. Ketika tarikan ini semakin kuat, tiba-tiba saja..
Buuum!!!
Tubuh saya terhempas kembali dengan kuat, membuat roh ini seakan-akan jatuh dari lantai tertinggi sebuah ruangan.
*Author POV
Para guru dan juga kepolisian mulai berdzikir, sebisa mungkin mereka terus melakukannya dalam tekanan ketakutan. Mereka menunduk, melindungi kepala masing-masing dari terpaan angin kencang yang kini mulai membawa ranting-ranting pohon tajam memasuki ruangan.
Di antara semua orang yang berlindung, hanya Wanto yang berdiri dengan tegap, seolah tak takut dan yakin kalau apa yang menerpa tak akan berani mengenainya.
Tatapan mata lelaki ini awas, tajam dan penuh dominasi. Ia menatap lekat ke arah sesosok makhluk yang kini telah berada di hadapannya. Makhluk yang kelelahan, dan keringat mengucur di seluruh tubuhnya.
Ia terengah, tak berani memandang Wanto meski hanya sekejap. Ia menunduk, terus menundukkan kepalanya dengan rasa takut.
Wanto menggerakkan sedikit alisnya, sambil mengepalkan tangannya sendiri. "Kau...?" Wanto mulai berujar, dan suaranya itu membuat sosok ini menjerit ketakutan.
Ia menutup telinga, sembari menggeleng dengan kencang, seakan-akan Wanto berniat untuk membunuh dan menghabisinya.
"Maaf, maafkan aku! Aku minta maaf! Maafkan aku!" pekiknya berulang-ulang, tapi masih tak berani untuk memandang lelaki di hadapannya.
"Aku minta maaf, maafkan aku!" berulang kali ia mengatakan hal itu, tapi raut wajah Wanto sama sekali tak berubah sedikit pun.
"Apa yang membawamu datang kemari? Padahal aku.. bukan memanggilmu, kan?? Hantu pocong wanita?" tanya Wanto, membuat Tamusong menutup wajahnya sendiri.
Ia panik, tapi juga takut. Seluruh tubuhnya gemetaran, hingga bibirnya bergetar dan tak mampu menjawab pertanyaan lelaki keturunan Jawa ini.
"Maafkan aku, maaf." lagi-lagi ia mengucapkan kalimat serupa, dan ini membuat Wanto merasa sedikit jengkel.
"Ku tegaskan lagi ya, aku tak memanggilmu. Kenapa kau yang datang?" tanya Wanto lagi, tapi Tamusong masih saja mengatakan hal serupa.
"Maafkan aku." ujarnya sembari menunduk.
Wanto hanya terdiam, ia menatap lekat-lekat pocong berwajah gosong ini. Seketika dirinya terkesiap, ketika berhasil menembus wajah asli dari pocong ini.
"Jadi.. ini anda?" tanya Wanto sambil terus menahan pandangannya. Tamusong menunduk, sebagaimana Wanto pun ikut menunduk.
Wanto memejamkan matanya, berusaha membaca isi hati dan batin dari Tamusong. Seketika itu genggaman tangan erat Wanto perlahan melemah. Ia membuka mata dan menghela napas panjang.
"Jadi.. karena itu kau menyembunyikan Adam?" tanya Wanto, tapi Tamusong masih terus menunduk, berusaha agar Wanto tak terlalu banyak membaca cerita hidupnya.
"Tenanglah, jangan takut. Aku tak akan mengganggu Adam, aku tak akan mengusik atau mengusirnya."
"Tapi kau mengurungnya!" sahut Tamusong, dengan cepat memotong perkataan Wanto.
Wanto terdiam, ia merenung sesaat kemudian tertawa. "Anak itu.. masih saja mempermainkan kebaikan orang lain." batinnya dalam hati.
"Kau sepertinya salah paham, katakan padaku dimana kau menyembunyikan Adam, atau aku sendiri yang akan menariknya keluar?" tukas Wanto, membuat Tamusong terkesiap dan mengepalkan tangannya di dalam kafan.
Sementara itu, para guru dan juga kepolisian terlihat bingung, karena mereka tak bisa mendengar percakapan batin antara Wanto dengan Tamusong.
Tamusong menggelengkan kepalanya. "Aku akan membawanya pergi, aku akan menjauhkan siapa saja yang berusaha melukai dan mencelakainya!" balas Tamusong. Tubuh dan suaranya bergetar, saking takutnya pada Wanto tapi ia berusaha untuk melawan rasa takutnya itu.
"Anda dengar.." suara Wanto terdengar berat. "Saya telah mengenal anak ini dan saya pun tak akan melakukan apa yang kau khawatirkan. Kau tahu, bahkan aku.. adalah orang yang paling mempercayainya semasa hidup. Aku yang membantu dan melindunginya. Aku yang menerima kehadiran dan kenakalannya. Aku yang selalu membuka pintu rumah ketika ia ingin masuk, aku.. orang itu adalah aku."
"Jadi, masih kah kau tak mempercayai ku? Aku.."
"Tak akan pernah menyakiti anak itu. Saat dia hidup, ataupun ketika dia telah mati." Tamusong terbelalak mendengarnya. Bahkan kedua alisnya terangkat dengan tinggi, hingga mulutnya menganga lebar.
"Jadi.. sekarang, lepaskan anak itu." pinta Wanto, dan kali ini Tamusong tampak melemah. Ia terdiam cukup lama, seolah berdebat dengan dirinya sendiri. Entah perkataan Wanto dapat di percaya atau tidak, tapi kasih sayang manusia lelaki ini seolah bisa di rasakan oleh Tamusong.
Tamusong menghela napas, entah menyerah atau mengalah. Setidaknya ia menganggap kalau perkataan Wanto adalah sebuah janji, dan itu harus di tepati. Dan ia pun yakin, Wanto bukanlah orang yang ingkar akan apa yang ia katakan.
Tamusong mulai mengubah ekspresi tegangnya. Senyum mulai terukir di bibirnya. Ia menganggukkan kepala dengan tatapan sayu.
"Baiklah, aku.. akan melepaskan anak itu. Dari dalam kuburanku." sahutnya.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......