
Pagi itu udara begitu sejuk. Suara burung-burung yang berkicau menambah suasana pagi yang cerah.
"Bu Reza bilang gitu? Hahahaha, keren juga" Renata terkekeh sembari duduk dengan kaki lurus.
"Siapa dulu gurunya... Bu Danki! Hehehehe"
"Keliatannya Bu Reza sudah siap sekali mau berpisah"
Tawa Dinda meredup berganti senyuman hampa "Saya harus siap sejak dini, Bu. Biar nggak terlalu terluka"
Renata menatapnya lekat, ada perasaan iba. Akhir-akhir ini Dinda sudah seperti sahabatnya sendiri karena saking seringnya ngobrol. "Bu Reza masih cinta sama Om Reza?"
"Iya, Bu. saya masih cinta" ujarnya tanpa ragu. "Saya tipe wanita yang tidak mudah menghilangkan cinta di hati."
Renata berdebar mendengar pernyataan itu, "Tapi kenapa Bu Reza seolah sudah siap melepaskan Om Reza?"
"Pepatah lama, Bu. Karena cinta nggak harus memiliki"
Renata memandangi Dinda. Ia tahu pasti dalam perkataan Dinda ada kesedihan yang tersimpan.
###
Diantara jalan beraspal yang kian halus, Dinda menapakkan kakinya. Teringat dulu waktu pertama kali datang ke batalyon itu, jalannya belum semulus sekarang. Dinda membuka resleting jaketnya agar udara sedikit menghilangkan rasa gerahnya setelah berlari mengelilingi lapangan. Terus berjalan dan melepas jaketnya, tubuhnya terlihat semakin segar setelah berlari. Kaos pendek dan celana pendek warna hitam serta sepatu kets putih tampak serasi di pagi hari yang cerah itu.
Melewati halaman belakang batalyon, ternyata sedang banyak prajurit yang sedang bersih-bersih.
"Aduh .. salah jalan sepertinya nih" batin Dinda. Tapi terlambat menarik langkah.
###
Dono dan Doni berlari-lari berkumpul bersama prajurit lainnya yang sedang bersih-bersih.
"Darimana aja kalian?" Tanya Irfan yang jongkok di sebelah Reza dan Yoyok, mencabuti rumput.
"Ini nih, Fan. Habis mergokin Dono ngintip ibu-ibu olahraga"
Dono memoles kepala kembarannya, " Asem tenan Ki!! Kamu juga ikutan ngintip"
Budi yang menguping di belakang nyeletuk pelan, " Ngintipin Bu Danki sama Mbak Dinda olahraga ya? Emang ibu-ibu sini yang badannya paling ok ya cuma mereka. Hihihi"
Terkejut Reza mendengar seruan Abang Lettingnya. Dono dan Doni sungkan pada Reza, kawan se Lettingnya.
Budi menyenggol Reza, " Tenang aja, Reza nggak marah kok. Dia kan mau ngurus cerai."
"Kenapa sih, pisah? Cantik gitu dianggurin. Kalau dia istriku nih, udah aku rantai di rumah, hahahaha" tawa Dono terdengar nyaring, diikuti tawa lainnya, kecuali Reza.
"Ssst, ssst, Mbak Dinda lewat tuh!!" bisik Budi. Dan mereka semua serius memperhatikan Dinda. "Jangan ngiler ya, jangan ngiler" canda Budi.
"Alamak, body-nya" seru pelan Dono. Reza melirik, ia tahu tabiat Dono yang mata keranjang.
Budi berdiri dari jongkoknya, "Mbak Dinda habis olahraga, ya?" Basa-basi Budi.
"Bang, inget anak istri di rumah. Tumben juga panggil Mbak Dinda, biasanya panggil Tante." goda Irfan dalam bisikannya, dan yang lainnya tertawa namun disembunyikan di balik tangan mereka.
"Iya nih, Om. Habis nemenin Bu Danki olahraga" senyumnya mengembang.
"Body udah aduhai gitu kok masih rutin olahraga sih, mbak?"
Dinda tertawa kecil membuat Budi semakin bersemangat berbasa-basi.
" Kapan-kapan ajakin istri saya lah, mbak. Biar sekalian refreshing, gitu."
"Boleh, Om."
"Ehem!!!" Reza pura-pura batuk, Dinda melihatnya, mereka bertatapan mata sesaat. Dinda tersenyum, terasa antara dia dan Reza seperti orang lain yang tak saling kenal. Reza membalas senyuman Dinda namun sangat kaku.
"Om Budi, saya pulang dulu, ya"
Budi nyengir-nyengir " Monggo - monggo,, Mbak Dinda"
Dinda melewatinya, Budi geleng-geleng kepala, "Ayu men rek. Nggak nyesel apa nanti kamu Reza, nyeraiin Mbak Dinda?"
Reza diam mematung, ia menoleh ke belakang. Mengamati Dinda yang telah berlalu. Namun di ujung taman, ia melihat Dinda disapa Fajar dan mereka berdua pergi bersama.
"Waduh, Pak Danton baru sudah curi start. Kalah kamu Don!" seru Yoyok
Dono protes, " Loh, kok saya Yok?"
"Yo Iyo toh. Kan kamu yang sering Ngintipin"
"Kan Doni juga suka Ngintipin"
"Podo wae,!!"
Reza berdiri dan meninggalkan lokasi itu. Berjalan menjauh dari rekannya, dan tidak pula mengejar Dinda.