RUN

RUN
Rencana Tertunda



"Nak, Om Fajar telepon Mama nggak bisa ikutan dulu, ada tugas mendadak." Dinda memasangkan helm kecil ke kepala Dela lalu memastikan tali helm benar-benar sudah terikat sempurna. Kemudian Dinda memasang helm di kepalanya sendiri.


"Ya.... nggak rame dong, Ma"


"Nggak apa-apa, kan ada Papa" ujar Dinda sambil mengeluarkan motor matic dari garasi kecil.


Dela memandang pintu kamar Reza yang masih tertutup melalui pintu de rumah. " Papa payah... jam segini belum bangun juga"


"Hust! Mungkin Papa masih capek. Ya udah, nanti Papa biar menyusul. Yuk, berangkat duluan"


Dinda menulis alamat di sebuah kertas kecil dan menyelipkannya di bawah pintu kamar Reza.


Setengah jam kemudian, mereka telah sampai di lokasi. Lahan yang akan dibuat peternakan ayam kampung oleh Dinda. Kandang 75% sudah hampir jadi. Lokasinya rindang. Ada pohon rambutan dan mangga. Bentuk kandang postal dengan lantai yang dilapisi litter yang terdiri dari campuran sekam, serbuk gergaji dan kapur setebal kurang lebih 15 cm


"Pak, yang kandang boknya dimana?" tanya Dinda pada tukang yang mengerjakan kandang ternaknya.


"Sebelah sana, Bu"


" Oh, iya, Pak"


Kandang bok atau kandang dengan pemanas digunakan untuk ayam yang berusia 1-4 minggu.


"Sanitasi sudah ok kan, pak?"


"Iya Bu, hanya saja saya menyarankan bagaimana kalau pembatas sekelilingnya jangan pagar tapi tembok, Bu?Biar angin nggak berhembus langsung masuk ke dalam kandang"


" Hmmm, kira-kira habis berapa itu Pak, kalau ditembok keliling?"


Dan tukang itu menyebutkan angkanya.


"Baiklah, Pak. Saya usahakan"


Dinda berpikir," Duh, buat beli mesin penetas aja aku baru bayar setengah. Ini ditembok keliling, dapat uang dari mana lagi?Hmmm"


Dinda lama duduk merenung di bawah pohon mangga. Dela bermain di sekitar kandang. Bocah perempuan itu tidak sabar kandangnya terisi ayam-ayam.


"*Kalau begini caranya, aku harus kerja sampingan!! Tapi Dela bagaimana selama aku kerja sampingan?"


"Dela!!"


"Papa, Ma!!" Teriak Dela. Dinda menoleh.


"Mas Reza, nggak nyasar kan, waktu nyari alamat ini?"


Reza duduk* di sebelah Dinda meski dadanya selalu berdebar kencang saat di sampingnya. " Kok aku ditinggal, Dek?"


"Papa tadi masih tidur, sih!!"


" Iya, Mas. Kamu tadi masih tidur"


"Ah, bilang aja mau ninggalin, kan? Terus mana Pak Fajar?"


"Fajar nggak bisa ikut, ada keperluan mendadak."


"Oh, syukur deh"


Dinda mendelik "Maksudnya?"


"Hehehehe, nggak apa-apa, soalnya habis ini kita ke terminal"


" Ke terminal? Siapa yang mau datang?"


"Ibu, katanya kangen sama Dela."


"Ini kandangmu, Dek? Besar juga"


"Bukan kandangku, tapi kandang ternakku"


Reza tersenyum jenaka,"Bisa aja kamu"


Dinda tersenyum" Semoga berjalan lancar, jadi aku nggak perlu ngrepotin Mas nantinya"


"Ngomong apa,sih, kamu Dek? Aku kan masih tetap Papanya Dela, aku tetap akan bertanggung jawab padanya"


Dinda tersenyum sembari memandang kosong ke depan. Mereka sama-sama terdiam untuk beberapa saat. Ada perasaan yang begitu asing.


"Oh ya, Mas, kandangnya masih butuh tembok dan lain-lain. Aku minta waktu penundaan perceraian kita.Aku mau fokus nyelesaiin kandang dan ternakku, setelah itu baru aku bisa fokus mengurus perceraian"


Dalam hati Reza ada perasaan senang ketika Dinda memutuskan menunda pengurusan perceraian mereka. Reza jadi tak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Semua menjadi berbeda dengan apa yang direncanakan dan akhirnya dirasakan.


"Aku sih tak masalah. Lalu apa rencanamu?"


"Aku ingin kerja sampingan, Mas"


"Memang berapa kekurangannya? Mungkin aku bisa bantu"


"Kenapa? Apa kau udah nggak sabar mau cerai denganku?"


Reza tersentak" Bukan! Bukan begitu maksudku. Aduh... jadi salah paham, kan"


Dinda tertawa kecil" Aku hanya bercanda,Mas. Aku ngerti kok maksud baikmu. Tapi aku mau peternakan ayamku berkembang hanya dengan usahaku. Dengan tanganku sendiri."


"Kenapa kamu harus berkata seperti itu, Dinda?" Reza semakin merasa kacau.


Dinda berdiri membetulkan kemeja sifon tipis yang dipakainya berpadu dengan celana jeans sebetis, bajunya terlihat tembus pandang ketika terik matahari menyinari tubuhnya, hingga tank top hitamnya terlihat. Dinda memakai kacamata hitam karena matahari semakin terik.


Sesekali Reza mencuri pandang melihat kesan yang ditinggalkan Dinda dengan kacamata hitamnya, begitu elegan.


" Kenapa, Mas?"


Reza terkejut. "Ah, nggak apa-apa"


"Oh"


Dinda melambaikan tangan pada putrinya yang masih berlari-lari di sekitar kandang. "Ayo, Nak. Kita jemput Nenek"


Dela berlari mendatangi Dinda. Tangan mungilnya melingkar di pinggang Dinda. Reza tak berhenti menatap pinggang itu. Naluri lelaki.


"Kenapa sih, Mas? Ngeliatinnya gitu?"


Kesekian kalinya Reza terkejut. "Ehmmm, rasa-rasanya tadi ada ulat bulu nempel di bajumu" Reza terpaksa berbohong.


Dinda menoleh ke kanan kiri ke bagian belakang bajunya. "Ah, masa sih?!" Dinda panik, "Ambilkan dong, Mas!!"


Reza terbengong, ia jadi gugup sendiri. Tangannya gemetar ketika menyentuh bagian belakang baju Dinda. Terjebak sendiri karena kebohongannya.


"Ada nggak ulat bulunya?"


"Bulunya udah hilang, eh, maksudnya ulatnya" Reza berpura-pura mengambil sesuatu dari baju belakang Dinda.


"Aduh, harus segera ganti baju, nih. Bisa-bisa gatal semua badanku"


Reza menghela nafas teramat panjang, Aku jadi mikir yang bukan-bukan!"