RUN

RUN
Canggung Sekamar (2)



Ini adalah hari kedua Dinda dan Reza tidur seranjang. Malam ini sama seperti malam kemarin, Dinda asyik dengan kegiatan menulisnya sembari menunggu Reza untuk tertidur lebih dulu. Sebenarnya mata Dinda sudah tidak bisa diajak kompromi untuk tetap bertahan.


Sementara itu, Reza yang berusaha memejamkan mata untuk menghilangkan rasa groginya jadi tidak bisa tidur. Berbalik kesana kemari mencari posisi tidur yang enak tapi tidak juga rasa kantuk menghinggapi. "Kenapa aku jadi nggak bisa tidur? Perasaan kemarin aku bisa tidur pulas, deh"


"Dek" Reza menatap Dinda. Yang dipanggil hanya melirik sebentar lalu meneruskan kembali kegiatannya.


"Aku nggak bisa tidur. Lampunya aku matikan ya?"


"Eh!!! Jangan dulu. Aku masih nulis"


"Lanjut besok aja"


KLIK. Lampu padam.


Dinda terkejut dalam kegelapan. "Resek banget nih orang!!" Dinda menyalakan lampu belajar berukuran kecil.


Dari penerangan remang-remang itu, Reza mencuri pandang ke Dinda. "Sudah lama sekali kami nggak sekamar. Biasanya sebelum tidur kami ngobrol dulu, apa saja diobrolkan. Terus dia suka mengusap-usap rambutku, lalu memelukku, lalu..." Suara nada WA di Handphone Dinda berbunyi. " Brengsek!! Pasti Danton itu!!' Saking kesalnya, Reza menendang guling hingga jatuh ke lantai.


Dinda menoleh, "Itu orang kenapa sih. Marah marah?" Dinda mendengus, mengetik beberapa kalimat dan mengirim balasan WA.


"Kalau Dinda sudah berpisah dariku, pasti Danton sialan itu yang akan merebut Dinda. Danton itu yang akan diusap - usap rambutnya.... Membayangkannya jadi kesal sendiri!!"


Reza bangun, ia mematikan lampu belajar.


"Kok dimatikan, Mas?"


"Sudah aku bilang, aku tidak bisa tidur" Reza menarik paksa lengan Dinda, "Kamu juga tidur saja!!" Ia menggeret Dinda ke tempat tidur.


" Dinda kebingungan, "Loh, loh?"


"Kamu nggak usah khawatir. Kamu nggak bakalan aku apa-apain meski sebenarnya aku masih punya hak . Yang penting kamu tidur aja dan jangan menyalakan lampu, titik!!!"


Reza berbaring dan menarik selimutnya, tidur membelakangi Dinda. Sementara Dinda terpaksa tidur di sebelahnya, memeluk guling dengan wajah cemberut.


Reza tersenyum lega. "Tuhan, segera datangkan kantuk yang seberat-beratnya sebelum aku berpikir yang bukan-bukan."


Dinda menoleh,"Doa macam apa itu?" meski menoleh, namun Dinda tidak bisa menangkap bayangan Reza karena gelap. Tapi keberadaan Reza bisa dirasakan sangat dekat dengannya. Hawa hangat dari dua orang yang berdekatan tetap saling terasa meski tanpa melihat sama sekali.


Dinda memukul Reza dengan guling. "Enak aja!! Yang dari tadi berisik itu kan kamu!!"


******


Reza meminum orange juice di rumah Dantonnya. Hari ini sepulang dari kerja, Reza disuruh Pak Ali untuk menyerahkan berkas ke rumah Fajar. Sebenarnya Reza sudah meminta Irfan untuk mengambil alih tugasnya, tapi Irfan tidak mau.


Baru saja ia meletakkan gelas ke meja ia mendengar suara mencurigakan. Ia beranjak dari sofa dan pergi ke arah sumber suara.


"Ahh..... Ah....."


Reza kaget. Itu suara Dinda!! Reza segera membuka pintu kamarnya. Sialnya, pintunya terkunci dari dalam.


"Ah.... Ah.... Enak banget Mas." Dinda meracau "Punyamu lebih gede daripada punya Reza"


"ahhhh...."


Reza terbelalak. Ia berusaha membuka pintu itu dengan mendobraknya.


Reza melihat Tangan Fajar sedang memainkan payudara Dinda. Kedua kaki Dinda berada di pundak Fajar. Mereka berdua telanjang bulat.


"Apa-apaan ini?!" Teriaknya.


Dinda dan Fajar memandang heran pada Reza. Mereka terpaksa menghentikan kegiatan mereka.


Reza menghampiri Fajar dan langsung meninju wajahnya. Fajar yang tidak siap jadi oleng.


"Kamu kenapa Mas?"


"Kenapa?? Kenapa kamu bilang??" Teriak Reza. "Kau selingkuh!! Kau berbuat seperti itu padahal aku kita masih berstatus suami-istri!!"


"Sadar, Mas!! Apa mas sudah gila atau hilang ingatan?! Kita kan sudah bercerai tiga bulan yang lalu!! Dan aku baru saja menikah dengan Mas Fajar"


Seperti disambar petir, Reza terperanjat.bIa menggelengkan kepala, "Tidak mungkin!!!"