
*Flashback
"Bunuh dia, Barend Otte!!" Perintah iblis itu lagi, dan agaknya, ia tak dapat membunuh saya dengan kedua tangannya sendiri, ia memerintahkan tubuh Ayah yang melakukannya.
"Apa.. permintaan terakhirmu, nak?" Ayah bertanya pada saya, seolah ia bisa mengabulkan permintaan saya saja. Saya tersenyum sebelum kehilangan kesadaran.
"Ya Allah, ini doa hamba kepadamu, ugh.. Izinkan hamba membunuh iblis ini, dan berikan saya kesempatan hidup sekali lagi.."
"Dengan terlahir, dalam bentuk dua wujud anak laki-laki!!" Pinta saya dengan sisa-sisa kehidupan dan napas terakhir.
"Kurang ajaaar!! Bunuh anak ini!!!" Perintah iblis itu, dan dengan segera, Ayah mencengkram leher saya hingga membuat saya kesulitan bernapas dan akhirnya...
Krak!!!
Saya merasakan rasa sakit di sekujur tubuh saya, bak sedang di kuliti hidup-hidup. Mirip juga dengan sabetan ribuan pedang di seluruh tubuh saya secara bersamaan.
Roh saya terpental keluar dari dalam tubuh, dan tersembunyi di suatu tempat yang tak saya ketahui. Saya kebingungan, seolah baru saja terbangun dari tidur.
Apakah saya.. benar-benar sudah mati??
Saya.. sudah mati dan, dimana ini???
Saya beranjak, usai terlepas dari tubuh. Seluruh badan saya sakit, tapi ini seperti berada di alam lain, atau cuma mimpi.
Suara tertawaan nyaring terdengar, begitu menggelegar membuat saya terkesiap dan menoleh ke asal suara. Ruangan ini masih sama seperti sebelumnya, tak ada yang berbeda, hanya ada satu kejanggalan yang membuat saya terperangah. Saya terpaku, menatap diri saya sendiri, benar-benar menatap saya sendiri.
Ini, seperti melihat gambaran diri, melihat cermin, atau foto?? Tapi bedanya, ini seperti seonggok tubuh secara nyata, tapi.. saya sendiri malahan yang tak nyata.
Saya menilik lekat-lekat, menatap saya di lantai yang terbaring dalam keadaan kaku. Aneh, sungguh ini benar-benar aneh. Ini mimpi kan? Betulan ini hanya mimpi saja kan? Benar-benar tak nyata dan saya sungguh, ini mengerikan.
"Huuuu.. Hiks." suara seseorang kembali terdengar. Saya menoleh, ke seseorang yang berdiri angkuh di dekat tubuh saya yang terkapar. Saya melihat air mata Ayah, menetes dan membasahi pipinya. Matanya memerah begitu juga dengan wajahnya. Dari sorot matanya, ia begitu hancur dan menderita, bahkan saya bisa merasakan kesedihannya. Tapi ketika melihat bibirnya, saya tercengang ketika ia tersenyum dengan sangat lebar. Ini membuat tubuh saya gemetaran, tak percaya dengan apa yang saya lihat sendiri.
Pertama, saya keluar dari tubuh saya, lalu melihat diri saya sendiri terkapar tak berdaya di lantai, lalu selanjutnya, saya melihat Ayah menangis sambil tertawa melihat keadaan saya.
Ia menggerung, tertawa sambil terisak. Dan sungguh, itu menakutkan. Suara tertawaan dan deritanya itu terdengar begitu menakutkan. Saya merinding, di tambah merasa sangat kebingungan.
"Mati kau!! Mati kau bocah kurang ajar!! Mati kau sekarang!!" pekiknya girang, sambil menginjak tubuh saya berkali-kali hingga saya...
"Ugh!!" ikut merasakan sakit.
Apakah? Apakah ini yang di katakan orang-orang? Ketika memandikan mayat yang telah mati, yang masih hidup harus berhati-hati dan sangat lembut melakukannya. Karena tubuh mereka bagai terluka oleh ribuan pedang, dan itu bisa menyakiti rohnya. Dan sekarang, cerita-cerita yang semasa hidup di anggap manusia sebagai dongeng, kini malah saya rasakan kebenarannya. Sungguh, Islam tak pernah berbohong pada hal sekecil apapun.
Bugh!! Bugh!!!
Tendangan itu di arahkan bertubi-tubi, bahkan pada tubuh mati yang tak akan bisa melindungi diri. Saya mulai mengerang, sakitnya tak tertahankan hingga rasanya ingin ikut menangis.
"Huuuuu, anak.. Anak-" suara tangisan itu terdengar memilukan, tapi perkataannya tak tersampaikan. Saya yakin, kalausaja tak di kendalikan, maka Ayah anak menangis lebih para dari ini.
Saya tahu dia menyayangi saya, dan ayah mana yang mau anaknya kesakitan, entah ketika masih hidup atau setelah kematiannya. Tapi, ketika mengingat bagaimana ia menuruti kemauan iblis, itu sungguh sangat menyakitkan.
"Mati kau bocah! Mati kau sekarang! Anak yang menyusahkan! Kau tak akan bisa hidup dengan tenang di alam sana. Bahkan aku akan memusnahkan jasadmu, hingga tak ada seorang pun yang menemukannya!" pekiknya seraya berhenti, membuat saya terengah usai di pukuli berkali-kali.
"Arggh!" saya kembali mengerang dan terkapar menyentuh kaki. Rasanya sakit seperti di ikat oleh besi panas yang berduri. Saya menjerit, menengadah menatap ke arah tubuh saya dan Ayah.
Jelas, saya melihat sendiri bagaimana tubuh saya di seret usai babak belur, bahkan ia menyeret dengan menarik kaki saya. Dan yang paling bi*dabnya lagi adalah...
Leher saya berlenggak ke kiri dan kanan, bagaikan kulit ayam tanpa tulang. Saya memejamkan mata, ketakutan melihat diri saya sendiri yang tak bernyawa. Mulut saya ternganga dan lidahnya menjulur keluar, mata saya melotot dan yang terlihat hanya putihnya saja. Bagian mata hijaunya melirik ke atas mata. Darah kental keluar dari hidung bahkan jemari saya pun mengeluarkan darah.
Itu saya. Dan itu sungguhan saya. Roh saya melihat jasad saya tanpa nyawa. Tubuh saya gemetaran dan rasanya ketakutan. Apakah.. apakah ketika roh terlepas dari dalam tubuh, maka saya bisa menyaksikan sendiri bagaimana keadaan tubuh itu ketika mati??
Benar!
Itu saya. Leher saya patah, saya mati di cekik dan darah di tangan saya keluar dengan kentalnya. Saya menggeleng, mulai terduduk di sudut ruangan gelap sambil mengusal kepala sendiri. Bahkan beberapa bagian tubuh saya masih merasakan sakit.
"Apa ini? Ada apa ini?? Di mana saya? Dimana ini?" gumam saya, terus mengulangi perkataan itu berkali-kali, seolah-olah akan ada seseorang yang mendengarkan perkataan saya. Padahal, saya hanya seorang diri berada di ruangan ini.
Dalam diam dan gelap, tiba-tiba saja saya merasakan suatu keanehan. Rasanya mirip dengan tangan yang teriris pisau, bersamaan dengan sebuah cahaya keluar dalam diri saya.
"Hah? Arrghh!!" saya tak henti-hentinya mengerang dan kesakitan. Saya tersungkur ketika merasa tubuh ini seolah terbelah.
Ini keluar! Tubuh saya keluar bak membelah diri, membuat saya melihat diri saya sendiri. Lagi? Diri saya yang bercahaya begitu terang, hingga saya merasakan kehangatan yang tak menakutkan. Bahkan ia menghilangkan rasa sakit yang saya alami.
Saya membuka mata dengan lebar, menyaksikan keindahannya. Rasanya tak ingin berpaling, saya tak tahu kenapa saya terlihat begitu indah.
Mata yang teduh namun tajam. Alis yang tegas namun berwajah lembut. Tubuh tinggi, kulit putih, dan rambut hitam?? Saya telah menginginkan rambut hitam itu sejak dulu. Dan tubuh tinggi? Saya menginginkannya juga.
Penampakan itu seolah halusinasi, yang merupakan fatamorgana yang selama ini saya harapkan terjadi pada diri saya sendiri.
Dalam lamunan yang menghipnotis, cahaya tersebut perlahan memudar. Hanya sedikit, tak terlalu banyak. Diri saya sendiri yang berada berhadapan dengan saya, kini sedikit memudar dan kabur juga.
Semakin lama saya mengerjap, maka pandangan itu semakin jelas terlihat. Sosok yang tadinya saya pikir sebagai diri saya sendiri, kini malah tampak seperti orang lain tepat ketika cahaya itu memendar.
Tapi masih saja, ia terlihat bercahaya terang hingga saya tak mampu untuk memandangnya. Ini.. ini seorang lelaki, dengan banyak cahaya di seluruh tubuhnya. Saya bahkan tak mampu memandangnya sama sekali, meski hanya untuk memastikan siapa yang kini beradu pandang dengan saya.
Ada sayap, begitu besar di punggung, kanan, kiri, serta kaki. Bahkan itu seperti menutupi dirinya dari pandangan saya, seolah tak sudi memandang manusia seperti saya.
Air jernih mengalir, bagai bulir cahaya di tengah kegelapan. Saya terpaku, memastikan apa yang saya lihat ini betulan atau halusinasi.
Sosok itu mendekat, membuat saya memundurkan langkah karena ketakutan. Ia begitu besar, dan saya takut tiap kali melihat sayapnya bergerak. Saya takut, itu akan mengepak dan membuat saya terbang melayang.
"Assalamualaikum, makhluk ciptaan Allah." sapanya, sambil berhenti seolah memberikan jarak agar dapat berkomunikasi dengan saya, tanpa menyakiti.
Saya mengernyit, menahan telapak tangan di dahi layaknya seseorang yang sedang hormat, tapi sebenarnya saya hanya menahan pandangan dari cahaya silau ini.
"Perkenalkanlah dan perkenankan aku untuk bertanya." ujarnya lagi, dan semakin lama mendengarnya, saya semakin yakin kalau ini adalah suara yang saya kenal.
"Siapa pemilik cahaya hangat yang bersih ini?" tanyanya lagi, dan mendengar perkataan itu, saya tak bisa membendung perasaan saya sendiri.
Ini.. Ini..
Ngiiiiiiiiing~
Saya kenal suara ini, pemilik suara ini. Saya hendak menyebutkan namanya, tapi sesuatu yang mengganjal terasa di telinga, hingga telinga saya berdengung, dan suaranya cukup mengganggu. Saya berhenti berbisik dan memilih menutup telinga. Meski begitu, tetap saja tak menghilangkan dengungan itu. Saya merasakan cairan hangat mengalir di sela tangan, ketika menilik.. cairan itu berwarna merah pekat.
"Diamlah, dan jangan melawan." pintanya, dan saya tak bisa menyangkal atau membantah ucapannya, bahkan saya seolah tak dapat mengucapkan namanya meski di dalam hati.
"Di malam ini, hari ini, waktu ini.. Aku merasakan hal menyakitkan yang membelit di ulu hati. Beberapa orang siswi gugur dan mati dalam peristiwa memilukan ini." ujarnya lagi.
"Di antara semua korban, aura rohmu yang paling menawan. Tapi, kau tak tampak serupa wujud, hanya gumpalan asap dan juga kabut." lanjutnya.
"Kau.. telah terlepas dari seluruh urusan dunia, kau telah berada pada dunia fana yang selama-lamanya."
"Kau tak kembali, tak dapat kembali. Kau berada di sini, di dunia tapi sebagai makhluk mati."
"Kalau boleh tahu, siapakah dirimu? Bolehkan kau memperkenalkan diri dan menceritakan kehidupanmu?" tanyanya lagi. Saya terdiam, menelan ludah yang terasa membuat saya bisu. "Ku lepaskan belenggu di kerongkonganmu, bicaralah semua yang ku inginkan. Dan jangan ada kebohongan dari perkataanmu." tukasnya tegas.
Saya terdiam, membuka mulut lalu menjawab. "Pelajar yang pandai. Tubuh pendek, hidup berkecukupan. Saya berasal dari keluarga kaya raya, dan Ayuk serta Ayah saya memiliki kekuatan kuat di kota ini."
Suara itu lantas terdiam, seolah menerka siapa diri saya yang sebenarnya. "Apa yang telah membuatmu mati?" tanyanya lagi.
"Di bunuh. Saya ini di bunuh. Dibunuh Ayah saya. Di sekolah, ruang seni!" ucap saya. Dan setiap kali menjawab pertanyaannya, maka luka di hati saya seolah terbuka. Saya kembali mengingat kejadian yang terjadi, yang merenggut nyawa saya sendiri.
"Huuuu.. Saya mati. Di bunuh." suara saya mulai gemetar dan ketakutan. Sebenarnya saya ingin berhenti karena pertanyaan ini tak menyenangkan bagi saya. Ini mengusik jiwa saya, tapi saya seolah menjawab sendiri, bahkan meski saya tak menginginkannya.
"Dia.. Ayah pelakunya! Ayah yang membunuh saya. Ia juga membunuh para siswi! Buktinya sudah ada. Saya mohon, tangkap dan kurung dia!!"
"Dia memakan darah, menghisapnya dari ubun-ubun hingga meretakkan kerangka kepala. Ia menyedotnya hingga kering bagaikan ikan asin. Ia melakukannya di bawah, di bawah sana ada lorong. Di bawah, di sana. Huuuu.." Saya menjelaskan dengan perasaan takut, dan hati saya seolah teriris sembilu.
"Kau menangis?" tanyanya, dan saya mengangguk cepat, saya merasa terancam seolah berdiri di hadapan seorang pembunuh yang kapan saja bisa merenggut nyawa saya.
"Apakah, kau seorang lelaki?" tanyanya. Saya kembali mengangguk dan terisak. "Lalu, siapa.."
"Namamu?" lanjutnya.
Terdengar keraguan dari suaranya. Ia seperti sudah tahu siapa saya, tapi malah kembali menanyakan hal ini hanya untuk memastikannya saja.
"Saya.. Nama saya.." suara saya mendadak tertahan, seolah tak tahu apa yang telah menahannya. "Uuuh, nama saya..." suara saya bergetar hebat, seolah terlalu berat untuk mengatakannya sendiri.
"Tenanglah, aku tak berniat buruk padamu. Jawablah pertanyaanku ini. Kau tak akan apa-apa dan aku bukan sesuatu yang jahat." lanjutnya merayu.
"Saya.." saya mengernyit, menahan tangis yang sudah tumpah terlebih dahulu. "Saya Adam. Nama saya, Adam Suganda." saya menelan ludah yang tercekat dan suara yang tertahan.
"Ini saya, Almarhum Adam Suganda." sahut saya, seolah merobek isi hati dan jantung saya sendiri.
"Ja.. jadi benar, ini kau, anak nakal?" sahutnya dengan suara yang begitu berat, seolah menahan gejolak di dadanya.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......