
Usai mengakatan hal tersebut, Tamusong keluar dari ruangan seni. Sebenarnya saya tak bermaksud buruk, tapi.. sepertinya dia sudah cukup membantu. Saya takut, kalau dia bertindak lebih jauh, maka dia akan terkena dampak dari perbuatan saya. Saya tak mau, karena saya.. dia jadi kena getahnya juga.
Sebelumnya, ia berkata tak bisa masuk ke dalam sekolah karena ada dinding pembatas yang di buat oleh kiyai. Saat saya mengerahkan kekuatan besar pun, ia masih berdiri saja di depan tembok, seolah benar-benar tak bisa masuk ke dalam sini.
Tapi, hari ini.. ia malah berada di ruang seni usai membantu menyembunyikan saya dari kiyai. Saya takut, kalau sebelumnya ia di apa-apakan oleh kiyai, sampai-sampai rohnya di panggil masuk ke dalam sini.
Di tambah lagi, kiyai menyelipkan kata agar saya tak mempercayai hantu lain, dan berarti Tamusong juga termasuk dalam larangan yang ia beri.
Saya di hukum, tak boleh keluar ruangan ini. Entah itu di waktu siang ataupun malam. Tak tahu masa hukuman itu berlaku sampai kapan, tapi.. karena hal ini, tentu saja saya tak akan bisa bertemu dengan Tamusong lagi di malam hari.
Daripada membuatnya khawatir dan ikut campur, sebaiknya saya berkata hal yang buruk agar ia menjauh dan membenci saya. Bukankah hal ini memang keahlian saya. Membuat orang menjauh sendiri, tanpa meminta mereka untuk melakukannya.
Tapi, pada akhirnya saya malah menjadi sendirian lagi. Benar juga untuk tak terlalu mempercayai seseorang, toh.. kalau saya tak ikut Tamusong keluar, mungkin saja saya tak akan di hukum kurungan siang malam di tempat ini.
Tapi, tak mempercayai seseorang juga tak terlalu baik, buktinya.. saya meremehkan perhatian kiyai pada saya. Seharusnya saya yakin, kalau dia tak akan menyakiti saya. Dia akan melindungi saya sebagaimana ia selalu melindungi saya semasa hidup.
Ini menjadi sebuah penyesalan yang menyesakkan. Percaya atau tak percaya seseorang sama buruknya. Seharusnya sejak awal saya memiliki pendirian dan teguh akan hal itu. Jadi, ini semua tak akan terjadi, kan?
Tapi apa boleh buat, nasi sudah menjadi d*bur, eh.. maksudnya bubur. Sekarang, saya harus memikirkan apa yang akan saya lakukan di tempat ini?
Di luar semua itu, ada hal baik juga yang saya dapat. Saya, akhirnya berhasil melalui tahap akhir dari ilmu dasar para hantu.
Yaitu, merasuki manusia.
Bahkan, saya mampu membagi roh saya ke beberapa tubuh, dan tubuh inti ini masih terdiam di tempat tanpa ikut masuk.
.........
*Flashback
Saya melihat para polisi masuk bersama dengan seorang ustadz. Tak ada rasa yang aneh awalnya, sampai si ustadz tadi mulai bergumam dan berkomat-kamit menggerakkan bibirnya.
Seketika rasa panas mulai menyeruak di dalam dada saya. Telinga saya pun terasa terbakar, rasanya mirip seperti tertempel panci yang masih berasap, bahkan kerongkongan saya mendadak kering dan susah sekali untuk menelan ludah. Saluran hidung dan mulut terasa terbakar, bak tersedak oleh bubuk cabai.
Saya mengerang, mencengkram kepala saya sendiri dengan kuat. "Arrgh!! Sakit!! Panas!! Panas sekali!!" desah saya, sambil berteriak tak jelas.
Tak bisa! Ini tak bisa di biarkan! Saya bisa mati dua kali kalau terus-terusan seperti ini. Rasanya sakit sekali, tak tahan dan begitu pedih.
Ini memang terjadi dalam diri saya, tapi pasti faktornya berasal dari luar.
Mana?? Yang mana yang berisik? Dimana asal muasal kesakitan ini?
Saya mulai melirik sekeliling, dan melihat cahaya aneh mengelilingi tubuh si ustadz, sementara di tubuh para polisi tak terlihat cahaya apapun dalam dirinya. Ternyata dia adalah sumbernya. Saya ingin menghentikannya, tapi.. melihatnya saja sudah memberikan saya gambaran kesakitan.
Dan saya yakin, saya tak akan mampu untuk menghentikannya. Tapi bagaimana? Ini harus tetap di hentikan?
Salah satu jalan untuk melakukannya adalah..
Saya harus menghancurkan konsentrasinya, dengan cara merasuki salah seorang dari polisi ini.
Saya mulai mengamati, menatap polisi mana yang memberikan aura terlemah, dan menunjukkan lorong terdalam dari dirinya.
Dan salah satu di antara mereka, terlihat membuka lorongnya lebar-lebar, seolah telah mengucapkan selamat datang dan silakan masuk pada saya.
Saya hendak terbang dan memasukinya, tapi.. tubuh ini mendadak kaku karena terkejut dengan doa si ustadz yang di lakukan dari dekat. *Jadi, saya kesulitan masuk karena para polisi tadi berada di sekitaran ustadz?
Berarti, saya harus melakukan cara lain, agar wujud saya tetap di sini, sementara roh saya masuk ke dalam lorong jiwa manusia*.
Saya mulai merentangkan tangan, dan melepaskan sebuah bola kekuatan dari ujung lipatan tangan sampai ke ujung jemari. Rasanya seperti tersengat listrik, atau seperti siku yang terhantuk dinding.
Tiba-tiba saja, bola kekuatan itu berubah, menjadi bagian dalam diri saya lalu masuk sebagian ke dalam lorong jiwa manusia. Saya merasa, roh saya ada di sana, padahal wujud saya masih berdiri di satu tempat dan menatap mereka.
Dari tempat ini, saya mengangkat satu tangan saya, dan ternyata polisi yang saya lemparkan oleh bola kekuatan tadi pun melakukan hal yang sama. Ia ikut mengangkat tangannya, seolah saya bisa mengendalikannya dari jauh.
Saya pun berinisiatif melakukan hal yang lain, menggerakkan jemari dan juga kaki, dan tentu saja gerakan saya di tiru oleh si polisi.
Ini menarik! Ternyata keren sekali! Saya bisa merasuki seseorang dari jauh, tanpa perlu masuk ke dalam lorong jiwa mereka. Dan menggerakkan tubuh mereka, sama seperti bermain boneka, bisa di kendalikan sesuka hati.
Para polisi yang berada di sekitar saya mulai curiga dan merasa khawatir terhadap tubuh yang saya kendalikan ini.
"Oi, Joko, kenapa lu? Ngagetin aja!!" bisiknya.
"Sakit tahu!" ucap saya. Tapi si lelaki yang saya kendalikan ini malah berbicara seperti berkumur. Ia berusaha melawan dan menahan perkataan saya dari mulutnya, boleh juga dia.
"Apa sih? Jangan nakutin lah!" keluh temannya.
Saya berusaha mengendalikan polisi ini sepenuhnya, agar bisa berbicara dengan jelas. "Sakit.. tiba-tiba rasanya sakit." ucap saya, akhirnya saya bisa melakukannya. Polisi lain berjongkok mengelilingi polisi yang saya kendalikan.
"Sakit?" gumam mereka bertanya, sambil mengernyitkan dahi.
Nyuuuut!!
Tiba-tiba saja perut saya kembali merasakan sakit. Ustadz ini masih bersikeras untuk menghajar saya melalui doanya.
"Ya, tiba-tiba saja sakit." lanjut saya sambil memejamkan mata, dan hal serupa di lakukan oleh si Joko tadi. Saya menunduk menahan perut, sambil terus mengeluh kesakitan.
"A.. apa ada yang mau membantu saya?? Rasanya sakit." tukas saya sambil bersiap mengangkat kepalanya.
"Ngomong apa sih lu?!" keluh polisi yang lain, sambil memperhatikan pak ustadz yang masih sibuk dalam doanya.
Saya mulai merentangkan tubuh, dan si Joko melakukan hal serupa. Saya pun menangkap tangan salah satu anggota kepolisian yang berada di dekatnya.
Polisi yang ditatap ini bergeming, ia terkesiap dan memelototkan kedua matanya kala melihat tatapan aneh saya.
Ada!
Ada sebuah jalan dan lorong yang muncul ketika mata serta tangan Joko menyentuh tangan teman polisinya. Saya merasakannya. Sebagian energi yang terlempar pada diri Joko, mulai masuk dan merambat ke temannya.
Saya, ternyata bisa mengalirkan bola kekuatan saya serupa roh ke dua orang berbeda dengan wujud yang masih berada di luar tubuh mereka. Saya meresap masuk, membuat polisi ini melawan sambil melengkingkan teriakannya. "Aaaaarrggghhh!!"
*End Of Flashback
Saya tersenyum kala mengingatnya. Sebenarnya itu sudah masuk kategori merasuki tubuh manusia atau belum sih, soalnya.. roh inti atau wujud saya tak masuk seluruhnya dalam diri mereka. Dan saya pun tak menemukan memori-memori aneh seperti yang dimiliki oleh Bu Desti kala itu.
Ini seperti hanya mengendalikan raga mereka saja, dan saya tak memiliki kuasa khusus untuk benar-benar masuk ke dalam jiwanya.
Tapi, si*lnya saya tak bisa menyempurnakan tahap terakhir lagi dari pengendalian kekuatan ini. Sudah tak bisa keluar ruangan, saya pun tak di perbolehkan merasuki dan mengganggu orang-orang.
.........
Waktu demi waktu berlalu. Suara keramaian khas sekolah terdengar di telinga. Saya hanya bisa menikmati hal tersebut dari kejauhan, sama seperti biasanya kala siang hari terjadi.
Lonceng sudah berbunyi kembali. Teman-teman di sekolahan mulai keluar dan berjalan berbaur menuju kantin. Ada yang berlari kencang ke toilet, sebagiannya memilih memisahkan diri ke perpustakaan, dan yang lainnya sibuk nongkrong di depan kelas. Saya mengintip mereka dari jendela, mengamati mereka satu persatu sampai lonceng kembali berbunyi.
Pemandangan mendadak sepi. Mereka semua meninggalkan segala aktifitas yang ada dan kembali masuk ke dalam kelas untuk mendapatkan pelajaran.
Saya masih mematung, berdiri di depan jendela sampai lonceng istirahat berbunyi kembali. Hal yang sama terjadi lagi, ramai.. kemudian sepi saat lonceng masuk berbunyi.
Hari ini berlangsung seperti biasanya. Hanya saja, tak ada seorang pun yang masuk ke dalam sini untuk melukis dan mengisi pelajaran yang ada.
Rasanya.. sedikit hambar, tapi terasa sepi dan menyedihkan. Rasanya tak enak, seperti melihat awan hitam dan mendung di saat orang lain melihat matahari.
Baru satu hari tak ada yang masuk ke sini, tapi rasanya benar-benar aneh. Meskipun saya tak bisa berkomunikasi dengan manusia, tapi melihat mereka masuk ke sini dan melukis, setidaknya membuat saya tak merasa sendirian.
Tapi sekarang, rasanya benar-benar di jauhi. Seperti terpenjara oleh sepi, dan tak ada lagi yang perduli. Apalagi setelah teman-teman SMA saya pulang, keadaan semakin senyap saja. Tak ada lagi suara tertawaan dan perbicangan mereka, benar-benar terasa sepi dan kembali seperti keadaan di malam hari.
Saya mulai terbang dan berdiri mengambang di depan jendela. Menatap ke arah luar, dimana kegelapan mulai mendominasi semuanya. Saya mencoba menyentuh dinding, tapi tangan saya memang benar-benar menyentuhnya. Tak tembus seperti sebelumnya. Ini semakin membuktikan kebenaran dari ucapan kiyai kalau saya memang benar-benar di kurung di dalam sini, ketika malam hari tiba, sama seperti siang harinya.
Tak tahu sampai berapa lama, entah sementara atau selama-lamanya.
Dari jendela yang sedang saya tatap, beberapa orang kembali datang ke lapangan upacara. Bukan anggota kepolisian, tapi saya seperti mengenalnya.
Langkah mereka mantap, berjalan menuju ke lapangan belakang sekolah. Sepertinya tujuan mereka adalah rumah kiyai. Apa lagi yang mau mereka lakukan pada saya dan tempat ini?
Saya mulai terbang ke jendela lainnya. Karena ruangan seni berada paling ujung di antara ruangan lain yang saling berhadapan, jadi saya bisa melihat kebelakang, tepatnya ke sumur belakang sekolah.
Tujuan mereka memang rumah kiyai, tapi tak cukup lama mereka berada di sana, mereka telah kembali dan berjalan menuju ke gedung sekolahan yang merupakan ruang-ruang kelas.
Firasat saya tak ada yang lain, mereka memang mau melakukan sesuatu pada ruangan ini. Langkah mereka cepat meski penuh keraguan. Seperti ketakutan, tapi ada secercah keberanian yang mereka dapat.
Aroma mereka benar-benar membuat saya kehausan, apalagi ketika langkah mereka terhenti tepat di depan pintu ruang seni.
Rukiah lagi kah? Tapi sepertinya mustahil, mengingat perjanjian yang telah di setujui oleh saya bersama kiyai.
Saya terbang, menghampiri ke arah pintu, dan menempelkan telinga saya di sana. Sebenarnya, tanpa melakukan hal ini pun saya bisa menembus suara mereka, tapi.. ya masih kebiasaan tingkah manusia saja sih.
"Ayo lah buruan, pak. Saya merinding ini." ucap sebuah suara dari luar. Sepertinya saya memang tahu siapa pria-pria berbaju biasa yang datang tergopoh-gopoh ini.
"Iya lah pak, saya juga tau. Tangan saya cuma dua, susah ngelilit rantainya!" sahutnya.
Saya mengernyit. Melilit rantai?? Apa jangan-jangan...
"Bantu gembokin pak rantainya." lanjutnya berujar.
Saya menghela napas panjang. Ternyata benar. Ini adalah para guru lelaki yang datang dengan baju biasa, bermaksud untuk mengunci ruangan ini.
"Sudah, pak. Sudah saya kunci. Kalau begini, gak bakalan ada yang nekat buat masuk ke sini, meski cuma sekedar iseng saja." tambahnya.
"Sudah ya? Ayo, kita segera kembali. Badan saya gak enak dari tadi, kayak benar-benar sedang di perhatikan seseorang."
Suara derap langkah seribu terdengar. Mereka sama-sama berlari menjauhi tempat ini. Ternyata mereka mengunci pintu ini agar tak di masuki. Dengan rantai lagi. Apakah artinya, ruangan ini.. memang benar-benar tak akan di gunakan lagi??
Lantas, bagaimana dengan seluruh isi prakarya yang sudah kami buat dan pajang di sini?? Dan bagaimana dengan teman-teman yang suka melukis di tempat ini?? Bagaimana dengan ekskul Seni lukis?? Apakah semuanya akan di hilangkan dari tempat ini??
Saya menjauhkan telinga dari pintu, sambil duduk berjongkok dan memeluk lutut. Di jauhi secara nyata ya??
Menyedihkan!
Kalau saya berontak, maka saya.. akan di hukum dan di usir dari tempat ini. Semua sama buruknya. Tapi, bukankah ini kesendirian yang saya inginkan semasa hidup? Sekarang setelah semua ini di kabulkan, saya...
Merasa menyesal telah berharap seperti itu.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......