
Saya masih melongo dengan tubuh yang terikat, dan membiarkan Tamusong memanggil saya terus-menerus. Benarkah ini pilihan yang terbaik??
Kalau kiyai sengaja mengurung saya agar saya membangkang dan melarikan diri, supaya tak terjadi pertemuan di antara saya dan lelaki itu, semestinya saya menurut.
Ia tak pernah memikirkan egonya sendiri, meskipun terlihat begitu egois karena tak mengemukakan alasannya. Tapi di balik itu semua, ia menyimpan kebaikan.
Sudah berapa kali ia melakukan hal tersebut, dan seringkali saya salah paham dan membangkang. Apakah inilah saatnya bagi saya, untuk menuruti kemauannya??
Pun kedatangan lelaki itu saya tak tahu apakah akan membuka suatu keberhasilan yang mampu melenyapkan iblis, atau malah ikut terbunuh seperti yang telah terjadi pada saya dan juga lelaki di masa lalu. Pasti kiyai mengalami dilema itu, ia tak ingin mencelakai anak enam belas tahun sebanyak dua kali, dan pada dasarnya.. lelaki itu bisa jadi adalah reinkarnasi dari diri saya sendiri. Kiyai pasti mengetahui hal tersebut.
Kiyai selalu memikirkan orang lain ketika hendak bertindak, bahkan karena terlalu memikirkan orang lain, keluarganya sendiri yang menjadi taruhannya.
Istrinya sering sakit, bahkan anak lelaki satu-satunya kini harus di titipkan kepada orang tua istrinya di Jawa. Dia banyak berkorban, belum lagi di ganggu oleh si iblis. Tapi, dia tetap saja berusaha melindungi sekolah dan seisinya, meskipun penumbalan itu tak serta-merta berhenti begitu saja. Hanya saja yang di lihat bukan hanya hasilnya, tapi.. usaha dan kerja keras yang telah ia lakukan.
Ia banyak berkorban bukan? Bahkan sekarang juga. Ia meminta agar saya tetap tinggal di sini, padahal pihak kepolisian ingin mengusir saya, dan tentu saja ini mendapat dukungan dari pihak sekolah, kalau tidak.. pasti tidak akan di izinkan untuk melakukan hal tersebut.
Ayah pasti yang melakukannya, dan memberikan izin agar kiyai melakukan semua itu. Menyebalkan sekali!
Sementara kiyai, meski dia adalah orang asing yang tak sedarah dengan saya, tapi dia benar-benar berusaha melindungi dan menjaga sukma saya kala itu.
Dia selalu berharap agar penumbalan ini segera berhenti. Tapi yang saya lakukan, malah berharap bertemu dengan lelaki tampan itu. Yang kemungkinan akan menjadi pembuka kasus penumbalan ini lagi.
Betapa egoisnya saya. Di saat kiyai berusaha mencegah, saya malah membuat tragedi ini kemungkinan akan terulang lagi.
Hanya saja, apakah perkataan dari si iblis dapat di percaya? Dia berjanji pada ayah untuk berhenti meminta tumbal dan tetap memberikan kejayaan pada Ayah. Tapi dengan syarat, Ayah harus mengorbankan saya.
Ayah telah berkorban, dan sekarang saatnya menunggu, apakah perkataan si iblis itu benar adanya atau hanya seperti yang selalu mereka lakukan. Berdusta.
"Kuno, hei apakah kau mendengarkan ku?" suara Tamusong memecahkan lamunan saya. Bisa-bisanya ia berteriak di otak saya, setelah sebelumnya selalu berteriak di telinga saya.
Saya memejamkan mata dan membayangkan wajah, tingkah, nama serta suaranya, agar dapat kembali melakukan telepati dengannya.
"Ya, saya mendengarmu." sahut saya.
"Sekarang bagaimana keadaanmu? Apakah kau terkurung? Aku rasa kau pasti sedang di kurung oleh kiyai, kan? Kalau tidak, tak mungkin kau tak pernah lagi keluar dari ruang seni. Dan aku juga tak merasakan kekuatanmu beberapa waktu terakhir. Tapi tiba-tiba saja, aku kembali merasakan kekuatanmu dan juga kiyai. Saling bertabrakan, makanya aku khawatir dan menghubungimu lagi. Tapi sekarang, kekuatanmu lenyap lagi, tak di tekan, karena aku tak merasakan kiyai mengerahkan kekuatannya juga. Jadi, kau sedang di kurung kan? Benar kan?" tanyanya bertubi-tubi. Kenapa dia begitu khawatir sih??
Saya menghela napas panjang. "Ya. Saya memang di kurung usai melepaskan kekuatan terhadap para polisi. Saya mencoba meloloskan diri dengan menghancurkan dinding penghalang yang di buat kiyai. Karena tahu, kiyai menarik saya untuk berhadapan dengannya. Saya melawan, makanya terjadi lah tabrakan kekuatan di antara kami berdua."
"Dan sekarang.. saya kembali di kurung olehnya, malah yang lebih parahnya lagi, saya diikat dengan tali yang menyerap tenaga dan juga melemahkan saya. Saya tak bisa bergerak, hanya bisa tergeletak di atas angin." terang saya, membuat suara Tamusong menghilang sesaat.
"Apa? Kau melawan? Lalu, dikurung, dan diikat?" Ia mengulang perkataan yang saya katakan.
"Iya tuli! Kenapa sih wanita itu selalu saja menanyakan ulang hal yang ia sudah dengar, atau sudah tahu. Menyebalkan tahu!" keluh saya, membuat Tamusong mendecakkan lidahnya, suaranya terdengar kesal.
"Aku bukan tuli, Kuno pendek! Aku sedang kaget! Bisa-bisanya kau melawan kiyai? Kau itu belum tahu siapa dia ya?!" sergahnya, terdengar bertambah panik.
"Ya tahu lah, makanya saya berani melawannya." sahut saya seenaknya.
"Ck! Kau ini!! Sekarang bagaimana? Kau terikat oleh tali yang di ciptakan oleh kiyai? Syukur-syukur kau tak di hancurkan olehnya. Nekat sekali sih!" balasnya, terus-terusan menggerutu.
"Ck, berisik tahu! Sudah terjadi juga! Marah-marah pun tak ada gunanya! Tak akan mengembalikan waktu." desah saya.
"Memang tak akan mengembalikan waktu, tapi setidaknya kau jadi tahu diri setelah di marah-marah sampai telingamu terbakar! Jadi kau tak akan mengulang perbuatan itu lagi!" omelnya lagi.
Saya memutar bola mata dan menggerakkan bibir meski kini dalam keadaan terkatup rapat. Tamusong tak tahu saja, kalau marah ke saya pun tak ada gunanya. Itu hanya masuk kuping kiri lalu mental. Kalau masuk kuping kiri keluar kuping kanan sih masih bagus, artinya masih sedikit di dengarkan karena sudah masuk. Kalau pun saya penurut dan mendengarkan ucapan Ayuk dan kiyai, maka saya tak akan gentayangan seperti sekarang ini.
"Ya, ini sudah terbakar kok Tamusong. Ayo, sekarang bantu saya melepaskan tali ini. Saya tak bisa melepaskannya sendiri, karena setiap kali melakukannya, maka tenaga saya akan terhisap dan melemah. Jadi saya memilih diam dan tak bergerak, agar ia tak menyerap apapun dari diri saya."
Tamusong langsung menimpali dengan cepat. "Enak saja kau bicara! Mana bisa aku melepaskanmu! Yang ada, aku di tarik lagi oleh kiyai gara-gara mengkhawatirkan mu!" ocehnya lagi.
"Lalu sekarang bagaimana caranya melepaskan diri? Apa telepon saja kiyai pakai telepati. Minta dia melepaskan in-"
"GYAAAAAAH!! KAU MEMBUATKU GILA!! Bisa-bisanya kau meminta bantuan orang yang baru saja kau lawan, memangnya kau pikir dia akan memaafkanmu begitu saja?" bentaknya kesal.
"Ya, tentu." sahut saya, dan suara Tamusong terdengar menggerutu tapi tak cukup jelas apa yang ia ucapkan. "Kalau pun tak bisa sih ya sudah, padahal saya bermaksud untuk kabur dari kiyai dan menemani mu ke tempat yang kau katakan waktu itu. Tamusong juga bilang kan, mau menceritakan gambaran mengenai tempat itu. Kalau tak jadi sih, tak apa-apa juga sih."
"Hah? Apa? Apa kau bilang barusan?"
Saya menyipitkan mata meski ia tak dapat melihat saya. "Benar kan, memang tuli."
Saya sedikit tersinggung sih dengan ucapannya itu, karena apa yang ia takutkan benar adanya. Orang-orang kan pernah bilang, kalau ada sebuah nasehat yang melukai hati, artinya itu memang benar. Karena luka yang di obati, akan selalu terasa sakit.
"Ck, muka saya satu lah! Ini juga banyak yang mau, apalagi kalau dua!!" balas saya asal.
"Cuih!!" balas Tamusong dari jauh. Bisa-bisanya ia meludah begitu. Dan kenapa tiba-tiba saja saya bisa membayangkan wajah gosongnya dan ludah busuknya itu.
"Saya sungguh-sungguh ingin pergi bersamamu. Untuk alasan, ceritanya lumayan panjang dan saya malas menceritakannya. Membuang nyawa."
"Nyawamu kan memang sudah tak ada, memangnya kau selalu berpikir kalau kau bukan hantu ya?" balasnya kesal.
"Intinya saya tak mau menjelaskan apapun. Tapi saya tak akan berbohong padamu. Saya memang mau keluar dari tempat ini. Saya tak mau di kurung. Saya muak! Lagipula, apakah tempat yang kau ajak itu jauh dari sekolah ini? Kalau jauh, kiyai tak akan bisa menarik roh saya dengan mudah, kan?"
Tamusong terdiam, sepertinya ia sendiri pun tak yakin kalau tempat itu bisa menjauhkan saya dari kiyai. "Jadi kau ingin pergi, karena tak mau terus di kurung oleh kiyai? Kau bermaksud pergi jauh agar ia tak mudah menjangkau mu, begitu?" tanyanya berhati-hati.
Sebenarnya alasan saya lebih rumit dari itu, tapi saya tak ingin Tamusong mengetahui kehidupan saya lebih jauh, alasan pertemuan dengan si lelaki tampan, dan lain sebagainya. Saya tak ingin ia masuk lebih dalam ke kehidupan saya, sebagaimana dirinya yang merahasiakan kehidupannya sebelum mati.
"Ya, memang begitu." sahut saya, pasrah.
"Hm, kalau kau memang ingin pergi jauh karena tak mau terus-terusan di kurung kiyai, sepertinya aku bisa sedikit memberikan saran untukmu. Tapi kau harus melakukannya seorang diri, karena aku tak bisa masuk ke dalam gedung sekolahmu itu. Sepertinya perlindungan dari kiyai semakin besar saja, bahkan hanya dengan menatap ke ujung gedung sekolah saja bisa membuat saya merasa kesakitan."
Saya mengernyit, benarkah Tamusong bisa memberitahukan saya bagaimana cara untuk melepaskan diri dari jeratan ini??
"Ya, katakan saja.. apa yang harus saya lakukan untuk dapat melepaskan diri?" tanya saya cepat, sangat bersemangat.
"Ehem.. jadi begini. Kau harus mendengarkannya dengan seksama."
Saya memutar bola mata lagi. "Ah, pakai ehem ehem segala, ayo langsung katakan saja!" sergah saya.
"Huh, aku sengaja kok memperlambat ucapan ku. Untuk mengetes kesabaranmu. Karena cara ini butuh kesabaran ekstra, dan jika kau tak sabar, maka kau tak akan bisa melakukannya." ujarnya lagi. Benar-benar ya, saya ini tak sabaran kalau sudah penasaran.
"Baiklah, saya adalah anak yang sabar...." ujar saya, bernada meledek.
"Gahahah, lucu juga." timpalnya. Dasar, untung saja saya ada maunya. Kalau tidak, sudah saya sambit kepalanya pakai tanaman hias. "Cara yang bisa kau lakukan untuk melepaskan diri dari benda itu, adalah dengan menunggu kekuatan para hantu terbuka secara maksimal." Saya mengerjap mendengar perkataannya.
"Jadi anggap tali itu bisa menampung daya kekuatan sebanyak sepuluh kali lipat. Tapi ketika kekuatan hantu terbuka maksimal, maka kau memiliki kekuatan sebanyak seratus kali lipat. Besarnya kekuatan itu membuat si tali tak dapat menyerap energi terlalu besar, menyebabkan terjadinya ledakan. Dan ledakan itu yang akan membuat tali tersebut putus dan hancur." terangnya.
Saya menyipitkan mata mendengarnya. "Itu artinya, saya juga ikutan meledak kan? Tamusong ingin saya memiliki wajah gosong juga, ya?" keluh saya.
"Ya, pintar-pintar dirimu saja lah dalam mengendalikannya. Jangan sampai meledak juga. Kau kan pintar." perkataan terakhir darinya terkesan seperti sarkas.
Saya mendengkus, sebenarnya sedikit kesal dengan ide Tamusong, tapi apa boleh buat. Itu yang paling masuk akal sih, dan kemungkinan memang itu yang bisa di gunakan untuk melepaskan jerat tali ini.
Semoga saja kiyai tak memikirkan hal ini dan menambah daya tampung tali terhadap kekuatan hantu.
"Jadi bagaimana, apa yang harus saya lakukan? Kapan waktu yang tepat untuk melakukannya?" tanya saya datar.
"Waktu yang tepat untuk melakukannya adalah..."
"Di malam Jum'at Kliwon, tepatnya pada pukul 00.00." tukasnya, membuat tubuh saya merinding tiba-tiba.
Malam Jum'at Kliwon??
Entah kenapa, perasaan saya menjadi tak enak ketika mendengar kalimat tersebut. Kalian tahu, karena kata-kata itu, membuat saya merasa gentar, dan takut kalau si iblis Ludira mengkhianati Ayah, dan memakan tumbal di malam yang sama.
Dan lagi, saya jadi tahu.. kapan malam Jum'at Kliwon itu tiba. Dan hendak membuktikan, apakah janji itu benar, atau saya harus mengobrak-abrik bunker ketika penumbalan itu terjadi.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......