RUN

RUN
Canggung Sekamar



Siska. Maaf, telepon sementara aku off kan, karena Ibuku datang.


Reza mengirim WA ke Siska.Memberi pengertian pada Siska yang mulai protes karena Reza akhir-akhir ini jarang meneleponnya. Namun Siska tak mau tahu dan terus menerus menelpon.


"Bunyi terus ini telepon, berisik!!" Reza mematikan handphonenya.


Dinda masuk ke dalam kamar dan mendapati wajah Reza yang cemberut. "Kenapa, Mas? Wajahnya cemberut gitu?Habis bertengkar ama pacar ya?" goda Dinda.


Reza tersentak dengan candaan istrinya. "Kenapa Dinda santai begitu ya?"


Dinda duduk di kursi depan meja yang biasa dipakai Reza untuk menulis. Ia meletakkan buku catatan dan kalkulatornya di atas meja.


"Kamu kok nggak marah atau cemburu, Dek?"


Dinda tertawa geli. "Ah, ngapain cemburu? Cintamu telah berlalu"


Reza seperti orang yang patah hati mendengar kalimat itu diucapkan istrinya sendiri. "Yang benar?"


Dinda melirik sebentar dan melempar pandang kembali pada bukunya tanpa berkata apapun.


"Dek?"


Dinda nggak nyaman dengan situasi seperti itu. Ia menjaga betul perasaannya untuk mengurangi masalah yang sama. Ia pun sudah berusaha menata kembali hatinya agar lepas dari beban sakit hati itu. Ia ingin melupakan segalanya dan mulai hal yang baru tapi tidak bersama Reza. Reza sudah menjadi bagian dari masa lalunya yang pahit. Dinda tak mau terbelenggu. Ia memutuskan untuk berdamai dengan rasa sakit hati dan memandang keberadaan Reza sebagai kawan semata. Kawan yang membantunya membesarkan putrinya.


"Sungguh, Mas. Cintamu telah berlalu" Dinda berusaha tersenyum. "Terpaksa aku buang semua perasaanku padamu agar aku tidak usah merasakan sakit hati lagi karenamu"


Reza tertegun. Ia menyadari hal itu terjadi karenanya. "Kenapa aku jadi sedih begini,ya? Padahal aku sudah mengkhianati cinta ini. Aku jadi meragukan cintaku pada Siska. Apa ini cinta atau hanya pelarian dari kejenuhan dalam hubungan rumah tanggaku?"


"Sudahlah, Mas, Kita nggak usah membahas ini"


" Iya deh... Hmmm, ngomong-ngomong kamu sudah bilang Dela untuk tidak bilang ke Ibu kalau kita tidur terpisah kan?"


"Ya. Tadi aku sudah kasih pengertian ke Dela."


"Ya sudah. Kamu belum mau tidur, Dek?"


Dinda melirik ke ranjang dengan pandangan gugup. "Aku belum ngantuk. Kamu tidur duluan saja"


"Mas...."


"Ya?"


"Mas nggak ada niatan tidur di bawah gitu?"


Reza tertawa"Oh... kamu mengusirku?"


" Nggak... Cuma nanya aja"


Reza meledek "Enggak ah, dibawah dingin. Lagipula kalau nanti ibu tiba-tiba masuk,gimana ngejelasinnya? Kalau Ibu tahu kita nggak seranjang kan ibu jadi berpikir kalau kita ada apa-apa.Ya... meskipun memang ada apa-apa"


"Iya juga sih" Tangan Dinda menopang wajahnya yang tirus sambil berpikir.


Lagu Pupus yang dinyanyikan oleh Geun band Dewa terdengar, Dinda terkejut "Aku lupa silent HP ku"


"Siapa tuh yang malam-malam WA?" Reza menyelidik. "Mencurigakan"


Dinda melirik "Aneh kamu, Mas"


Reza membuang muka. "Pasti dari Pak Danton itu. Brengsek !!"


"Mas"


"Hmm" jawab Reza agak sewot.


"Ma. Aku besok mulai kerja sampingan Mumpung ibu ada di sini. Jadi bisa nitip Dela"


"Terserah kamu aja, Dek" sahutnya malas


."Ini orang lagi PMS kali ya? Langsung berubah gitu" Batin Dinda. Ia kembali melanjutkan kegiatan pembukuannya hingga larut malam.


Sementara itu, Reza diam-diam memperhatikan Dinda di balik selimut yang sengaja ia sarungkan hingga leher.