RUN

RUN
Kuno dalam Bahaya



"Kihihihi, bagaimana?? Saya tak menggunakan bola kekuatan saya loh. Itu milik kalian sendiri." balas saya, membuat mereka mendecih.


Dari penampilan dan perawakannya, sepertinya mereka ini sepantaran dengan guru si Abbe, dan anehnya, Abbe serta gurunya tersebut sama sekali tak ada di tempat ini. Padahal kan mereka berdua yang mengajak saya kemari.


"Cih, jangan senang dulu bocah. Kau yang baru mati beberapa bulan tak akan sanggup melawan kami yang sudah mati puluhan tahun. Dari segi pengalaman, kami lebih unggul." ucap mereka.


"Pengalaman unggul, berarti kekuatan berada di bawah, ya?" sambar saya, membuat mereka semakin mengerekatkan gigi karena kesal.


"Kalau begitu, ayo.. tunjukkan kekuatanmu pada kami sekarang. Biar kami bisa menilai, seberapa besarnya kekuatanmu atau mulutmu!" lanjut mereka.


"Adil itu!" sahut saya. "Tapi maju satu-satu."


Beberapa dari mereka langsung mundur, membiarkan seorang lelaki berambut coklat kemerahan berdiri tegap di hadapan saya. Saya hampir menyangkanya sebagai perempuan, karena rambutnya itu tergerai panjang dan bergelombang.


Ia langsung mengangkat kedua tangannya, membentuknya serupa genggaman. Bola-bola kecil yang tadi kembali muncul, melingkar di antara kedua tangannya seperti sedang bermain sirkus.


Ia melompat, sembari mengayunkan kedua tangannya, membuat bola-bola tersebut mengikuti alur pergerakannya.


Saya mengernyit, karena gerakannya begitu lambat dan gemulai. Lelaki ini seperti bencong saja, wajahnya juga bisa di katakan cantik, dan.. bisa tampan juga.


Ia berputar di udara, dengan kaki yang melayang lurus bagaikan sedang melakukan kungfu.


Bola-bola tadi di arahkan kepada saya, bentuknya seperti bulatan tasbih yang memanjang, dengan benda rancung di bagian ujungnya.


Saya menekan kekuatan, menahan dan melepaskannya. Saya muncul di belakangnya, membuat lelaki ini masih fokus dengan serangannya yang belum selesai. Ketika menyadari kalau saya telah menghilang, barulah ia terkesiap dan menoleh ke belakang, tak lupa sambil mengibaskan tangannya, bersiap menerima serangan mendadak dari saya.


Saya mengerjap, kemudian kembali berpindah ke atap langit-langit. Ia kembali melemparkan serangan, namun lagi-lagi saya berpindah cepat dan sepertinya itu membuatnya gelagapan.


Ia meringis sebal. "Cuma itu yang bisa kau lakukan? Menghindar seperti seekor lalat?" ledeknya, membuat saya yang bergantung di langit-langit menatap datar ke arahnya.


"Belum sih, cuma mau melihat kekuatan bapak saja." sahut saya, membuatnya semakin meringis kesal.


"Bapak katamu?? Aku yang setampan dan secantik ini, kau bilang bapak?" keluhnya.


"Oh, salah ya?? Tante??" tanya saya menimpali.


"Huaaarrgh!!" Ia berteriak sambil mengeluarkan kekuatannya tiba-tiba.


Saya terkejut karena ia tiba-tiba saja menjerit, membuat konsentrasi saya sedikit buyar dan tak siap menghindari serangannya.


Saya mengeluarkan tangan saya, membentuknya seperti sedang menggenggam angin. Bola cahaya saya ubah menjadi kuku, dan saya gunakan itu untuk mencakar bola kekuatan yang ia lemparkan pada saya.


Claaang!!!


Pantukan antara kuku dan juga benda runcing tadi memberikan efek suara bagaikan tabrakan pedang. Bola kekuatan saya yang berwarna putih keluar dan mengelilingi tubuh saya bagaikan helaian tali pita.


Mereka terkesiap dan saling lirik. "Anak yang baru meninggal beberapa bulan ini, menguasai teknik mengubah bola kekuatan menjadi cakaran??" gumam salah satu dari mereka.


"Boleh juga, aku boleh ikut bertarung tidak?" tanya seorang lagi, terlihat begitu napsu ketika berbicara dan menatap saya.


"Dia meminta pertarungan yang adil. Satu lawan satu, majulah kalau Cleo sudah kalah." balas temannya yang berwajah dingin dengan rambut kuning yang menjuntai sehelai di dahinya.


"Cih, kau kira aku bisa di kalahkan bocah?" tanya si rambut bergelombang.


"Ya, sepertinya begitu." sahut si wajah dingin.


"Baiklah, setelah ku habisi bocah ini, aku akan menghabisi mu." balasnya, membuat si wajah dingin terlihat biasa saja mendengarnya.


Ia kembali menatap saya, mengarahkan tangannya seperti sebuah pisau. Bulatan kekuatan tadi mengikuti, bahkan rupanya lebih mirip sebagai pisau ketimbang tangannya.


Ia melemparkan benda itu lagi, tapi kali ini serangannya benar-benar meleset hingga saya tak mengelaknya. Saya menoleh, melihat benda yang menghantam dinding. Tiba-tiba saja, benda itu terlepas, dan berbalik arah menuju saya.


Saya melompat mundur, dan mengibaskan cakaran ke arah benda tersebut, tapi sayangnya, benda itu ternyata bisa di gerakan dan menghindari serangan saya.


Benda itu berbalik arah, kembali menyerang setelah bertahan. Kekuatan cahaya yang menyerupai tali di sekeliling saya menangkap senjata itu dengan cepat sebelum menyentuh saya.


Butuh konsentrasi luar biasa ketika harus mengendalikan kekuatan dan bertarung. Tali saya yang melambai kini berubah menjadi benda rancung, dan bersiap menyerang si lelaki bencong.


Saya menahan tangan ke udara, membuat tali tersebut menyerang bergantian, bagaikan ular yang sedang mengejar mangsanya. Si lelaki bencong melompat-lompat untuk menghindari serangan. Satu, dua dan tiga ia berhasil menghindarinya. Melompat dan berputar di udara, bahkan menapak di tali tersebut ketika berhasil menghindari yang lainnya.


Tapi, bukan hanya ada satu tali yang menyerang, ada berbagai banyak tali berbahaya yang terus melambai-lambai. Si lelaki bencong kepayahan, ia salah mendaratkan kaki hingga membuatnya jatuh terperosok.


Tentu saja tali ini tidak menunggunya bangun, kedua matanya melotot, melihat kedatangan benda tersebut.


Ketika tali saya hampir menancap tepat di tubuh dan wajahnya...


Klaaaang!!!


Si pria dingin dan pria nafsuan tadi menyergah, menangkis serangan tersebut, bahkan si pria dingin memotongnya. Saya terkesiap, ketika bola kekuatan cahaya itu di potong, saya bisa merasakan kesakitan dan kelelahan.


Saya tertunduk, menahan perut saya hingga tersungkur. Keadaan ini di manfaatkan oleh dua pria tadi, mereka mengepalkan bola cahaya, membentuknya serupa sabit dan juga pedang panjang.


Mereka melompat bersamaan, hendak menyerang saya yang tak berdaya. Tubuh saya sulit untuk di gerakkan, dan sepertinya saya berlebihan menggunakan tenaga saya.


Kibasan pedang dan sabit di arahkan, dengan sisa tenaga terakhir, saya menekan kekuatan lalu melepaskannya dengan sekuat tenaga.


Zuuuuuuuum!!!


Mereka mengibas angin, karena posisi saya berganti dengan cepat, bahkan sebelum mereka selesai dengan serangan tersebut. Mereka lagi-lagi terkesiap, menoleh serentak ke arah saya yang telah berdiri di belakang mereka sambil terengah.


"Heh.. sedang apa kalian?" tanya saya, mengejek.


"Sudah selesai main-mainnya, nak?" tanyanya.


Saya terkesiap dengan mata yang terbelalak, hingga sesuatu yang keras menghantam tengkuk saya, membuat saya terkejut dan...


Bruk!!!


Semuanya, menjadi gelap.


.........


*Author POV


Pagi sekali, Tamusong telah keluar dari dalam ruangan yang terbuat dari segala hal tentang pohon pisang. Ia melompat-lompat, bergegas keluar dan hendak menemui Kuno yang berada di rumah barunya.


Berbekal pengetahuan dan pengenalan tempat dari Pojata, Tamusong pun mencarinya sendirian. Setelah puas berkeliling, akhirnya Tamusong melihat pepohonan besar, rimbun, berlumut, dan berakar gantung di tengah hutan.


Di antara pepohonan, terlihat para kuntilanak wanita yang terbang dari dahan satu ke dahan yang lainnya. Di antara mereka ada yang duduk sambil bersenandung dan menggoyangkan kepalanya ke kiri dan kanan, membuat rambut panjangnya yang kusut ikut bergerak seirama.


Tamusong mengernyitkan dahi, memilah siapa hantu yang cocok untuk dia tanyakan mengenai Kuno.


"Tante pocong sedang apa?" tanya sebuah suara, membuat Tamusong terkesiap dan menoleh sekeliling, tapi ia tak mendapati sesosok hantu pun di sana. "Di bawah sini!" tukasnya lagi, membuat Tamusong menundukkan kepala dan memperlihatkan sesosok hantu kecil dengan rambut lurus panjang yang tergerai menutupi sebelah wajahnya. Mata tajam dengan lingkaran hitam menyeringai, tak lupa dengan lelehan darah di bagian wajahnya yang tak tertutup.


"Oh, kau ya ternyata. Adik kecil, aku ingin menanyakan sesuatu hal padamu. Kamu tau tidak dengan hantu kuntilanak berisik, menyebalkan, suka cari perkara dan suka membuat orang berteriak di sini?" tanya Tamusong, membuat adik kecil ini mengerjapkan matanya dengan polos, hingga para hantu yang berada di sekitarnya pun menoleh ke arah Tamusong.


"Semua hantu kuntilanak memang begitu, jadi maunya yang mana, Tante?" tanyanya lagi.


Tamusong menepuk jidatnya, lupa kalau tipe hantu kuntilanak memang seperti itu, tapi Kuno memang sedikit lebih menyebalkan dari mereka semua.


"Ah, maaf.." keluhnya sambil kembali memasukkan tangannya ke kain kafan. "Itu loh, hantu kuntilanak laki-laki, rambutnya perak dan kulitnya putih seperti susu b*bi." jelas Tamusong, membuat anak ini mengernyit sesaat.


"Susu b*bi?? Kakak ganteng yang bernama Kuno bukan?" tanyanya, membuat Tamusong menaikkan kedua alisnya dengan tinggi.


"Ya, itu dia. Dia dapat ruangan kah?? Tolong antarkan aku ke sana, aku ingin bertemu dengannya." pinta Tamusong, membuat anak ini mematutkan wajahnya.


"Tante siapanya kakak ganteng? Nana temannya loh, jangan sembarangan di ambil!" ujarnya, membuat Tamusong terkesiap dan menggeleng dengan cepat.


"Oh, tidak.. Aku temannya juga kok. Kami datang bersama ke tempat ini, jadi aku mau bertemu dengannya lagi. Cuma memastikan dia dapat tempat tinggal atau tidak." tuturnya, membuat anak ini menganggukkan kepalanya


"Oh, terimakasih Tante sudah membawanya ke sini. Tapi, dia tidak tinggal di tempat ini." sahut si anak kecil yang menyebut dirinya Nana.


Tamusong mengernyitkan dahinya. "Kenapa?? Kemarin dia pamit untuk ke tempat ini karena tak bisa tinggal bersamaku di kelompok pocong, jadi.. kalau dia tak tinggal di tempat ini, artinya ia tak di terima di perkumpulan Kuntilanak?" terka Tamusong, tak percaya.


"Tidak, kata nona Farisa, kakak ganteng itu lemah, dia juga ganteng, jadi tak di terima di tempat ini." sahut Nana, membuat Tamusong semakin mengerutkan dahi.


"Lalu, kemana dia?? Apa jangan-jangan dia tidur di luar? Kasihan sekali si cerewet itu, dia pasti kecewa dan kesepian. Soalnya aku bilang kalau di tempat ini, ia bisa di terima semua hantu, berbeda dengan cerita semasa ia hidup." ucap Tamusong, membuat Nana menatap khawatir.


"Tapi, dia ke tempat lain kok. Di kediaman hantu asing, dia di terima di sana. Nana yang mengantar dan memastikan kalau kakak ganteng memang tinggal di sana dan di terima." terangnya, membuat Tamusong merasa lebih lega.


"Cepat, antarkan aku ke sana ya. Nanti kita main petak umpet sama-sama." ajak Tamusong sambil menarik tangan Nana.


"Yeay asiiik! Main bersama Tante dan kakak ganteng!!" pekik Nana sambil melesat terbang dengan cepat, membuat Tamusong melompat-lompat dengan kecepatan maksimal untuk menyamai Nana.


Saking senangnya, Nana tak sengaja terbang di atas air, hingga Tamusong menapak di perairan sungai tersebut. Tentu saja air di pulau ini tak benar-benar kosong, bukan hanya berisi hewan laut, tapi ada makhluk halus juga yang mendiami perairan tersebut.


"Aaagh!!!" pekik sesuatu yang tiba-tiba saja keluar tepat di bawah kaki Tamusong.


Tamusong dan Nana berteriak karena kaget, bahkan si hantu air ikutan kaget karena mereka berdua berteriak.


Teriakan itu terhenti ketika Tamusong mendapati Wenna yang baru saja keluar dari dalam air.


"Ah, Tamusong dan Nana?"


"Wenna?"


"Kakak putri duyung?!"


Mereka bertiga saling sapa, dan tentu saja sudah mengenal satu sama lain. Wenna seketika tersenyum, matanya melirik ke segala sisi, seperti mencari sesuatu.


"Mm.. Mana Kuno? Kalian datang bersamanya?" tanyanya semangat, bahkan wajahnya mendadak cantik ketika menanyakan tentang Kuno


"Wah, kakak putri duyung juga kenal kakak ganteng?? Kami baru saja mau menemuinya loh di sana." Nana menunjuk lurus ke arah barat, dan tentu saja Wenna menoleh mengikuti arah tangannya.


"Kediaman hantu asing?? Bukannya Kuno itu kuntilanak, ya?" tanyanya heran. "Apa jangan-jangan, Farisa menolak Kuno? Yang benar?" terkanya, dan Nana hanya menganggukkan kepala. "Kenapa Farisa selalu sok kuat dan berkuasa sih? Jelas Kuno itu Kuntilanak, apa alasannya menolak Kuno?" protesnya.


"Kata nona, Kakak itu tampan dan lemah, tak sesuai dengan hantu kuntilanak yang kuat dan menyeramkan. Jadi dia menyuruh kakak ganteng ke perkumpulan hantu asing, lebih sesuai katanya, dan lagi.. kakak ganteng di terima kok di sana." jawab Nana, membuat raut khawatir terpancar dari wajah Wenna.


"Di terima?? Bukannya jenisnya berbeda? Kenapa bisa di terima??" gumam Wenna, dengan wajah yang begitu khawatir. "Apa jangan-jangan...." perkataannya membuat Nana dan Tamusong mengernyit bingung. "Gawat!! Kalau Kuno sampai masuk ke sana, bisa jadi..."


"Dia di belenggu oleh Arnold, karena orang itu.. licik dan jahat! Bisa-bisa, Kuno.. akan di siksa olehnya."


.......


.......


.......


.......


...Bersambung......