RUN

RUN
Tidak Pernah Ada



Saya hendak beranjak, terbang menembus ke lantai bawah, tepatnya berada di antara dua orang yang sedang berdebat tersebut.


Baru saja hendak melakukannya, tiba-tiba saja Tamusong menahan, membuat saya mengernyit bingung menatapnya.


"Apa sih?"


"Mau kemana kau, Kuno? Jangan bilang kau mau kabur dari perdebatan ini." ujarnya, membuat saya menyipitkan mata dan menatapnya dengan sinis.


"Dih, siapa juga yang mau kabur. Saya mendengar pembicaraan dua manusia astral di bawah sana. Sepertinya itu kiyai, dan yang satunya lagi tak tahu deh siapa. Tapi cungurnya itu menyebalkan."


Tamusong memasamkan wajahnya. "Cungur?? Apa yang kau maksud itu congor?" Ia mengoreksi.


"Sama saja lah, salah sedikit saja."


"Memangnya kau mendengar apa barusan? Serius, aku tak mendengar perkataan apapun." ujarnya, membuat saya menjelekkan wajah.


"Hah? Yang benar, itu jelas terdengar tahu. Hanya ada dua orang yang berada di bawah sana. Satunya tak memiliki aroma, dan yang satunya lagi beraroma aneh."


Tamusong menilik mendengarnya, bahkan ia mengerjap seolah tak mempercayai apa yang saya katakan barusan. "Aroma aneh? Aroma macam apa memangnya?" tanyanya dalam.


"Hm, tidak lezat. Baunya tidak lezat, seperti aneh. Bukan seperti bau manusia yang pernah saya cium sebelumnya. Ini aneh." terang saya.


Tamusong mengendus, berusaha mencium aroma yang saya cium. Ia mengerling, melirikkan matanya ke atas setelah berhenti mengendus. Tiba-tiba saja ia terkesiap, seolah baru saja mengetahui sesuatu.


Tamusong melompat-lompat mendahului saya, terlihat tergesa-gesa. Setelah mengendus bau, kenapa ia langsung ketakutan begitu.


"Tamusong, hei.. Mau kemana?" tanya saya, sambil terbang mengejarnya.


Ia terhenti, tapi enggan berbalik menatap saya. "Segera masuk ke dalam gudang, dan jangan pernah keluar dari dalam sana apapun yang terjadi." perintahnya, membuat saya mengernyit heran.


Kenapa ia ketakutan dan panik? Apakah karena takut dengan kedatangan kiyai?? Sepertinya saya memang harus masuk ke dalam gudang. Meski ingin sekali mengganggu si OB, tapi ia manusia kan?? Tentu saja saya akan mendapat hukuman kalau melakukan hal yang satu ini.


Saya berbalik arah, memunggungi Tamusong dan segera masuk ke dalam ruangan seni. Awalnya saya kira, kedatangan manusia tadi karena jiwanya di panggil oleh beruang kaya raya ke dalam bunker. Tapi, sepertinya bukan. Ia seorang OB, dan saya pun tak merasakan aura kuat dari iblis di badan Ayah.


Kalau dia benar-benar ada, maka pasti aromanya juga tercium, kan? Tapi, saya tak merasakan keberadaannya. Apakah artinya ia tak datang? Dan kasus penumbalan itu memang telah berhenti, untuk sementara waktu??


Yah, meskipun hanya untuk sementara, tapi tak ada korban di bulan berikutnya menjadi seperti sebuah keberhasilan. Akhirnya, tak akan ada kesedihan dan air mata yang tumpah dari para keluarga siswi yang meninggal. Tapi, bayaran untuk penghentian kasus ini lumayan mahal.


Itu, adalah nyawa saya.


Tapi, tak apa lah. Meskipun tak ada yang tahu tentang pengorbanan saya, tapi melihat mereka merasa aman itu terasa menyenangkan juga.


.........


Keesokan harinya, sekolah kembali di datangi oleh pihak kepolisian. Mereka mengawasi sekeliling, sambil menunggu kabar dari para orang tua yang biasanya mengajukan protes atas kinerja kepolisian yang di nilai lambat dalam usaha perlindungan anak-anak mereka.


Saya mengintip dari celah jendela, melihat ke arah lapangan upacara di mana para siswa yang piket memasang speaker besar untuk di letakkan di depan halaman upacara, sebagai suara musik yang akan mengiringi jalannya senam.


Beberapa murid pun berbaris di pinggir lapangan, wajah mereka semua tampak pucat dan cemas, seolah menunggu kabar buruk mengenai siapa tumbal yang pada akhirnya mati dalam malam Jum'at Kliwon.


Tak terlihat para orang tua yang datang, sebenarnya ini sudah cukup meyakinkan kalau tak ada korban yang jatuh, tapi tetap saja.. mereka semua merasa cemas.


Lonceng di bunyikan, tanda mereka harus mulai berbaris dan memasuki lapangan. Mereka mulai berbisik, sedikit berisik karena tak hanya keluar dari satu mulut saja.


Raut sumringah terpancar dari guru matematika dan guru olahraga yang menjadi instruktur senam. Instruktur senam memberikan mic kepada guru matematika tersebut. Tapi, ada hal yang cukup janggal ya selama saya mati. Kenapa, Ayah tak terlihat mendatangi sekolah? Dia kan kepala sekolahnya?


Setiap hari Senin pun saya tak pernah melihatnya menjadi pembina upacara. Kenapa ya??


"Ehem, tes.. tes.." guru matematika ini mencoba berbicara di depan mic. Setelah merasa suaranya terdengar lebih besar, ia dengan mantap mendekatkan bibirnya ke mic tersebut. "Assalamualaikum, anak-anak murid yang sangat bapak cintai." ucapnya berbasa-basi, dan di jawab pula oleh para siswa. "Wa'alaikumussalam.."


Guru matematika itu terlihat semakin bersemangat untuk menyampaikan apa yang hendak ia katakan. "Alhamdulillah, puji dan syukur kita panjatkan atas kehadirat Allah SWT, karena berkat Rahmat dan ridhonya lah, kita dapat berkumpul di pagi yang ceria ini." Saya menyipitkan mata mendengarnya. Karena tak suka dengan basa-basi yang selalu di lakukan sebelum memulai pidato di depan semua orang.


"Baiklah anak-anak, untuk mempersingkat waktu, bapak selaku kepala sekolah ingin menyampaikan kabar yang sangat menggembirakan." tukasnya, membuat saya terkesiap kaget.


"Apa katanya? Kepala sekolah?? Jadi, dia kepala sekolah yang baru??" saya mengulangi. "Huh! Jadi begitu ya? Pasti si iblis yang berada di badan Ayah sok-sokan bersedih atas meninggalnya saya, dan memilih mengundurkan diri dari jabatannya menjadi kepala sekolah. Jadi, tak akan ada yang mencurigai dirinya, kan?? Licik memang." gerutu saya, sambil kembali memasang telinga untuk mendengarkan apa yang hendak di sampaikan kepala sekolah yang baru ini.


"Bahwa, hari ini.. untuk pertama kalinya dalam sejarah sekolah kita, setelah selalu bersedih selama bertahun-tahun lamanya, akhirnya.. pada hari ini, bapak menyatakan, bahwa tidak ada siswi yang menghilang di malam Jum'at Kliwon. Dalam artian, semua tragedi ini, sudah selesai!!" seru kepala sekolah, membuat para siswa dan siswi terperangah, seolah tak percaya atau menganggap ini semua hanya sekedar mimpi.


"Benar kah? Gak ada siswi yang menghilang, atau hanya sekedar di tutup rapat seperti sebelumnya?" gumam para siswa, berbisik-bisik dari kepala sekolah. Tapi sayangnya, saya bisa mendengarkan itu semua.


Saya berdecak kagum, bukan dengan perkataannya. Tapi cara bicaranya itu, bisa-bisanya ia berbicara kalimat panjang dengan satu tarikan nafas saja.


"Maka dari itu, hari Sabtu nanti, kita akan mengadakan syukuran di sekolah ini. Semua murid di harapkan untuk datang, kita shalat berjamaah, berdoa dan makan-makan." tukas kepala sekolah itu, membuat raut yang awalnya meringis, mulai merekahkan senyuman. Para siswi mulai menangis, tak tahu apa yang mereka tangisi. Padahal kan ini berita bagus.


Murid yang laki-laki mulai bersorak-sorai, mereka bahkan saling peluk satu sama lain, tak lupa sambil menjitak kepala masing-masing.


Meski terlihat senang, tapi masih ada perasaan was-was di dalam hatinya. Mereka takut, setelah bersenang-senang, maka akan datang kabar yang tak mengenakkan lagi.


"Woaaah!! Makan-makan?! Saya tak di undang kah?? Saya kan masih murid dari sekolah ini. Jadi boleh datang juga, kan? Kihihi.."


.........


*Ariandi POV


Aku mengernyit, ada perasaan aneh yang mengganjal di hatiku ketika melihat kebahagiaan para murid dan guru di sekolah ini. Hal yang mengganjal itu cuma satu...


Kenapa, tuan tak memakan tumbal malam itu??


Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah ia kesulitan menyesuaikan diri?? Atau kenapa?? Bukankah kekuatannya akan melemah jika ia tak memakan darah perawan???


Sulit di mengerti apa yang menjadi tujuannya. Ia begitu pintar dan licik, jadi aku tak akan bisa menebak alur pemikirannya.


Yang harus ku pikirkan sekarang adalah... bagaimana caranya aku bisa masuk ke dalam ruangan seni yang berada di lantai tiga?? Kalau aku tak bisa melakukannya, habis lah aku.


Aku mulai mengambil lap dan pembersih kaca. OB yang lain melirik ke arahku, mungkin masih asing karena aku adalah orang baru.


"Ehem. Maaf, OB baru ya?" tanya seseorang, yang tanda pengenalnya ku baca sebagai Saripudin. Aku hanya menganggukkan kepala sambil membalas tatapannya.


"Tanda pengenalnya belum ada? Siapa namamu? Aku adalah OB senior di sini. Jadi kalau ada hal-hal yang mengganjal, atau ada hal yang membingungkan, maka jangan segan-segan untuk bertanya, ya. Jangan malu." ujar Saripudin, tersenyum dengan begitu ramah.


"Oh, namaku Ariandi. Terimakasih atas tawaranmu." sahutku.


Ia menatap dua benda yang kini ada di tanganku. "Kau mau mengelap apa? Dapat tugas membersihkan kaca jendela?" tanyanya lagi.


"Ya. Kepala sekolah menugaskan aku untuk membersihkan semua kaca jendela di sekolah ini." sahutku.


Beberapa OB yang berada di ruangan yang sama pun mulai mendekat ke arahku. Mereka bergumam dan menanyakan hal yang sama, mengenai namaku dan lain sebagainya.


"Oh ya, dia kan masih baru di sini. Apa tidak sebaiknya, Pak Saripudin mengatakan padanya tentang hal itu." ujar salah seorang OG, name tag-nya bernama Melati.


Saripudin terkesiap kala mendengarnya. Seolah baru ingat untuk menyampaikan hal yang mereka maksud padaku. "Oh, iya.. Kau kan masih baru. Jadi kau belum begitu mengerti seluk beluk sekolah ini. Kau yang orang luar pasti pernah mendengar mengenai berita yang terjadi di sekolah ini, kan? Khususnya mengenai siswi yang menghilang, dan yang terbaru adalah gedung lantai tiga yang angker?" tuturnya.


"Ya, bukankah itu semua cerita rekaan?" ujarku, membuatnya terkesiap kaget. Seolah tak mempercayai apa yang ku katakan barusan. Para OB yang lain pun memberikan reaksi serupa.


"Ya, sebenarnya memang seperti tak nyata sih. Tapi memang tak perlu kau pikirkan, aku hanya ingin mengatakan padamu. Ini adalah hal yang serius. Kau, dan kami, ataupun semua OB yang lain, di larang keras untuk masuk atau membersihkan sebuah ruangan, yang dulunya adalah ruangan seni."


Aku mengernyit mendengarnya. "Kenapa?" tanyaku, berlagak seolah tak mengetahui apapun.


"Yah, kemarin ada yang meninggal di dalam sana. Jasadnya sampai sekarang tidak di temukan. Semenjak itu, ada yang aneh dengan ruangan seni. Makanya, sekarang ruangan itu di larang pakai, dan beralihfungsi menjadi gudang. Kalau kau ingin meletakkan sesuatu atau pun membersihkannya, kau harus meminta izin pada pawang sekolah, rumahnya ada di belakang gedung sekolah." terangnya sambil menunjuk ke ujung sekolah dengan bibirnya.


"Kenapa harus meminta izin padanya?? Dan lagi, kenapa membiarkan ruangan kosong begitu saja. Bukankah itu akan membuatnya semakin angker?"


"Lagipula, alasanku melamar pekerjaan di sekolah ini, hanya untuk membuktikan suatu hal." Para OB yang lain menatap sengit ke arahku. "Aku tidak pernah melihat hantu seumur hidupku. Makanya, aku tak mempercayai cerita itu. Dan aku pun ingin membuktikan kebenaran dari ucapan kalian semua."


"Bahwa cerita yang beredar di masyarakat mengenai keangkeran sekolah adalah palsu." Mereka semua terkesiap mendengar ucapanku.


"Karena sesungguhnya, hantu itu.. tidak pernah ada di dunia ini."


.......


.......


.......


.......


...Bersambung......