RUN

RUN
Mati



*Author POV


Keesokan harinya, berita mengenai Ariandi yang berhasil masuk ke ruangan seni tanpa kesurupan pun geger. Berita ini cepat tersebar dari office girl di sekolah.


Meski mereka tak ikut bersama Ariandi dan yang lainnya, tapi mereka sangat terkejut mendengar perkataan teman-teman mereka yang laki-laki. Kalausanya, Ariandi tak mengalami apapun di dalam ruangan itu, dan sekarang malah berlenggang bebas seolah tak ada hal yang terjadi.


"Masa' iya sih? Apa benar dia masuk betulan? Jangan-jangan cuma bohongan lagi."


"Enggak, beneran kok. Kata si Ucup, dia memang masuk ke dalam sana. Bahkan bawa bola kempes yang sudah di letakkan di dalam sana."


"Masa' sih tak terjadi apa-apa? Wong Bu Desti aja di ganggu. Anak-anak murid yang lain di ganggu. Bahkan, kepolisian pun di ganggu juga. Kenapa dia gak di ganggu?"


"Dia pemuja setan kali."


"Hush!" dengkus salah seorang dari mereka. "Ngomong kok sembarangan sih? Zaman sekarang mana ada yang seperti itu? Dukun aja udah gak ada."


"Lah, kau pikir Wanto itu apaan?"


"Hush!!" lagi-lagi wanita tadi mendengkus. "Jangan sembarang ngomong kamu, ya. Wanto itu pawang sekolah, gak sama kayak dukun-dukun. Lagi pula, kalau Wanto dengar dan dia tersinggung, memangnya kau mau dia pergi dari sekolah ini dan tak mau lagi memberikan perlindungan? Hah, mau?" lawan bicaranya hanya menggelengkan kepala.


"Yasudah kalau gak mau! Diam aja, lebih bagus."


Seseorang yang baru saja datang mendengar perkataan mereka. Lelaki itu membawa sebuah gelas kosong dan meletakkan ke atas meja.


Suara gelas yang terpantuk ke meja menyadarkan para OB, kalau ada orang lain yang datang ke ruangan mereka.


"Maaf mengganggu pembicaraan seru kalian. Tapi, bisakah kalian membuatkan aku secangkir kopi hangat?" pintanya, membuat para OB tersebut mematung dengan mulut yang menganga.


Mereka saling pandang, usai menyadari kalau kepala sekolah telah datang ke hadapan mereka. Buru-buru mereka mengambil gelas tersebut, dan yang lainnya mulai menghidupkan kompor untuk memasak air panas.


Kepala sekolah duduk di antara mereka, membuat kecanggungan muncul dan mereka terlihat salah tingkah. "Aku sengaja membawa gelas sendiri, karena gelas yang kalian cuci biasanya menyisakan busa sabun. Bisa-bisa perutku licin ketika meminumnya." ucap kepala sekolah, berusaha memecahkan kecanggungan yang ada.


Tubuh para OB yang sebelumnya menegang, kini tampak rileks usai mereka tertawa renyah. "Maafkan aku, pak. Mungkin air bilasannya kurang banyak, jadi masih licin gelasnya." sahutnya sambil menggarukkan kepala yang tidak gatal.


"Ya, tak apa. Namanya juga manusia. Tempatnya salah, kan?" ucap kepala sekolah. Suasana kembali canggung usai mereka saling terdiam. Kini raut wajah kepala sekolah mulai serius. "Oh ya, tadi ketika masuk ke dalam sini, aku tak sengaja mendengar pembicaraan kalian mengenai Ariandi yang masuk ke dalam ruangan seni. Apa itu benar?" tanyanya, berusaha mengulik informasi yang ingin ia dapat.


Mereka saling melirik, seperti ketakutan dan ragu untuk mengiyakannya. Di sisi lain, mereka tak mau sampai Ariandi kesal karena mereka selalu ikut campur dan mengadu kepada kepala sekolah.


"Tak usah ragu, lagi pula sepanjang selasar kelas, aku selalu mendengar para OB mengatakan hal serupa. Mumpung aku sudah berada di sini, tak maukah kalian berbagi sedikit padaku tentang hal ini?" rayu kepala sekolah, membuat semua OB menoleh ke arah Saripudin.


Lelaki yang merupakan OB paling senior tersebut pun menghela napas mengalah. Mau tidak mau ia mulai berdiri tepat di sisi kepala sekolah.


"Yah, sebenarnya saya juga rekan-rekan yang lain sudah berusaha memperingati Ariandi, Pak. Bahkan saya sudah mengatakan untuk tidak mau ikut campur dan terlibat atas segala hal yang ia lakukan. Jadi sebenarnya saya tak tahu menahu tentang hal itu. Tapi, mewakili rekan-rekan yang lain, dan dari cerita yang di ungkapkan oleh para saksi yang terlibat.."


"Ariandi memang benar-benar masuk ke dalam sana." terang Saripudin, membuat kepala sekolah tak hentinya mengernyit.


"Hah! Ada-ada saja anak itu. Untuk apa sebenarnya ia masuk ke dalam sana? Ia bahkan tak menghiraukan perkataanku sama sekali." keluhnya.


Para OB saling melirik, dan kali ini Saripudin memilih diam karena memang ia sudah menyatakan diri untuk tidak ikut campur.


"Katanya, dia mau membuktikan pada kami semua, bahwa gudang lantai tiga itu tidak angker, dan tidak ada yang namanya hantu di sana. Semua berita mengenai kehilangan siswi adalah kebohongan, dan dia juga bilang kalau pantangan yang di buat oleh tetua Wanto, adalah cerita orang-orang kolot." terang Ucup yang berada tak jauh dari tempat Saripudin berdiri.


Kepala sekolah hanya terdiam, sambil mengurut dahi. Ia di hampiri oleh salah satu office girl yang membawakannya kopi. "Ini kopinya, Pak." ujarnya.


Kepala sekolah menyambut kopi tersebut sambil kembali menatap para OB satu demi satu. "Yah, ku harap dari sekian banyak orang, hanya Ariandi yang bersikap demikian. Patuhilah pantangan dan jangan cari masalah." ucap kepala sekolah sambil beranjak dari tempat duduknya, merasa kalau tak ada lagi alasan baginya untuk berada di sana terlalu lama. "Dan satu lagi.." Kepala sekolah menyergah, sembari berhenti mendadak. "Jangan pernah ada yang mempercayai ucapan Ariandi, meskipun ia sudah membuktikan kalau tak terjadi apa-apa padanya ketika masuk ke dalam sana, tanpa meminta izin dari Wanto. Ayo, ikut para siswa dan siswi bergabung untuk berdoa dan makan di aula." tuturnya sembari berlalu dan meniup kopinya.


"Ah, maaf pak.." Ucup berusaha memanggil kepala sekolah. Lelaki itu pun menoleh ke arah Ucup.


"Kenapa?"


"Ada satu hal lagi yang ingin ku katakan padamu.. Tentang ruang gudang lantai tiga. Tapi sebelumnya, aku ingin meminta maaf terlebih dahulu, dan ku harap agar kau tak marah karena kebod*hanku." tukasnya, membuat kepala sekolah mengernyit.


.........


Di sisi lain, Ariandi yang sedang sibuk merapikan bonsai yang ada di halaman depan sekolah di hampiri oleh salah seorang murid.


"Pak.. selamat pagi, Pak." sapa anak tersebut, membuat Ariandi menoleh ke arahnya.


"Ada apa?" tanyanya.


"Anu, Pak. Tadi pas lewat di depan ruang guru, kepala sekolah menyuruh saya memanggil OB yang bernama Pak Ariandi. Saya sudah cari ke ruang OB, kata mereka bapak ada di sini." tuturnya, menyampaikan pesan dari kepala sekolah.


"Ya, terimakasih." sahut Ariandi sambil meletakkan gunting besar di atas rumput.


Ia berjalan mendahului anak tersebut sembari merutuk di dalam hati. Apa lagi yang di katakan para OB itu pada kepala sekolah?? Batinnya.


Sesampainya di ruang kepala sekolah, ia segera mengetuk pintu dan kepala sekolah mempersilakannya untuk masuk.


"Duduk." tukas kepala sekolah.


Ariandi melakukan apa yang di perintahkan. "Ada apa Bapak memanggil saya lagi ke sini? Mendapat aduan dari para OB?" terkanya, tapi tak membuat kepala sekolah terkejut.


Ariandi mendengkus dan memberikan benda tersebut pada kepala sekolah.


"Ini adalah yang pertama dan terakhir kau masuk ke dalam sana. Kau boleh saja membantah kabar apa yang beredar di sekolah ini mengenai hantu, tapi aku tak meminta kau unjuk gigi dengan masuk sembarang ke tempat terlarang itu. Dan jika kau tak menuruti perkataanku, akan ku pastikan hari itu adalah hari terakhir mu bekerja di sekolah ini." ancam kepala sekolah, membuat Ariandi terkesiap kaget mendengar ucapannya.


Bukan tanpa alasan, hanya saja Ariandi masih sok berkuasa seolah-olah dia adalah menantu kesayangan Barend Otte. Sementara kepala sekolah adalah seseorang yang profesional terhadap pekerjaannya, dan itulah sebabnya kenapa dari sekian banyak guru, ia yang terpilih menjadi wakil kepala sekolah. Kepala sekolah, akan bertindak tegas pada apapun yang berusaha menentang perkataannya.


"Raut wajahmu seperti tak suka. Kau harus tahu posisimu sekarang. Aku adalah atasan dan kau adalah bawahan. Mau kau itu mantan menantu tuan Barend Otte, ataupun masih menantunya sekalipun. Aku, tetap tak akan main-main dengan pegawai yang melanggar aturan terdahulu." lanjutnya.


Ariandi hanya terdiam dan tak dapat berkata-kata apapun. "Silakan keluar dari ruangan ku jika tak ada lagi yang ingin kau sampaikan." pintanya, dan hal itu langsung di turuti oleh Ariandi. Lelaki itu segera beranjak bahkan tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Setelah menutup pintu ruang kepala sekolah, Ariandi yang berwajah kesal dan ketus mendadak mengubah ekspresinya menjadi tersenyum. Bahkan ia mengatup mulutnya rapat-rapat agar suara tertawaan yang ia tahan tak terdengar oleh kepala sekolah.


"Hahaha, lucu sekali. Dia pikir aku sebodoh itu untuk menuruti kemauannya. Aku sudah menduplikat kunci itu terlebih dahulu, dan aku akan tetap masuk ke dalam gudang apapun yang terjadi. Karena, posisi jabatan mu, tidak setinggi tuanku, Barend Otte. Jadi, untuk apa aku mendengarkanmu?" batinnya dalam hati.


.........


Hari ini Ariandi bekerja sebagaimana mestinya. Tak terlihat gelagat aneh yang ia lakukan. Beberapa orang OB juga di tugaskan untuk memantaunya, apakah ia berlaku aneh dan masih bersikeras untuk masuk ke dalam gudang


Ternyata, kecurigaan mereka tak berarti. Karena sampai pulang sekolah pun Ariandi sama sekali tak naik ke lantai tiga.


Keesokan harinya, ia masih melakukan pekerjaan sebagaimana mestinya. Para OB yang kemarin sibuk memantaunya kini seolah tak peduli, karena yakin kalau Ariandi sudah mendapat sanksi dari kepala sekolah dan tak akan berani menentangnya.


Ini sebenarnya adalah siasat dari Ariandi. Sengaja berlaku normal agar tak ada yang mencurigainya, dan mengabaikan dirinya.


Ariandi memperhatikan sekeliling, sudah tak ada lagi yang mengikutinya secara diam-diam. Meski begitu, ia tak bisa masuk ke dalam gudang meskipun ini hari Minggu dan tak ada pelajaran. Di tambah lagi anggota kepolisian datang dan memeriksa gudang lantai tiga, serta ke rumah Wanto untuk menanyakan sesuatu. Jadi, waktu yang tepat baginya untuk masuk ke dalam sana adalah...


Malam hari.


Karena pada malam itu, tak ada seorang pun yang berani masuk ke dalam sana.


Lonceng sekolah berdenting, tanda para pahlawan pembersih sekolah sudah dapat pulang ke rumah masing-masing. Ariandi kembali ke kediamannya, dan menunggu langit gelap untuk dapat kembali ke sekolah.


Ketika waktu yang di tentukan sudah tiba, Ariandi masuk ke dalam sekolah tanpa ragu. Ia bahkan tak melakukannya dengan sembunyi-sembunyi, langsung saja melewati gerbang utama dan membiarkannya terbuka.


Dengan berbekal senter di tangannya, Ariandi berjalan masuk ke dalam gedung sekolah dan menuju ke lantai tiga. Rasa gugup yang ia rasakan masih sama seperti sebelumnya, keberadaan hantu masih berseliweran di sekolah, bahkan mencoba untuk mengganggunya.


Tapi terlalu besar tekad yang ia mau, sampai-sampai ia mengabaikan semua itu. Ariandi kini telah sampai di depan pintu gudang, ia membuka kuncinya dan membiarkan rantai berjatuhan di atas lantai.


Krieeeeeet..


Pintu gudang berderit, berbeda dengan sebelumnya, tapi suara deritan itu terasa menyakitkan telinga malam ini. Ariandi menyalakan senter dan masuk ke dalam sana.


.........


Keesokannya harinya, satpam sekolah yang datang pertama kali merasa heran dengan keadaan pagar yang terbuka. Dengan cepat ia memeriksa ruang komputer dan ruang-ruang lain yang kemungkinan bisa di masuki dan mengundang para pencuri untuk datang. Tapi sama sekali tak ada hal yang aneh dan tak ada kehilangan.


Ia pun melaporkan hal ini pada Wanto untuk menanyakan keadaan sekolah malam tadi. Dan anehnya, Wanto menyuruh satpam untuk menghubungi kepala sekolah, karena ia bilang.. dari semalam ia berusaha menghubungi kepala sekolah dan polisi, tapi tak ada jawaban.


Kepala sekolah segera datang dan menemui Wanto di rumahnya, dengan suguhan kopi yang di berikan oleh istrinya.


"Jadi, pintu gerbang utama terbuka tapi tak di temukan adanya tanda-tanda barang yang hilang?" tanya kepala sekolah, dan Wanto hanya terdiam dengan wajah yang lesu.


"Saya kurang enak badan, Pak. Tapi saya menyarankan agar Bapak memanggil polisi ke sekolah, dan segera masuk ke gudang lantai tiga. Saya tak mendapat dari mereka sejak malam tadi, jadi jangan terkejut jika mengetahui sesuatu yang menyeramkan di dalam sana. Saya tinggal ke dalam dulu ya. Assalamualaikum." ucap Wanto seraya beralih dan masuk ke dalam rumah.


Kepala sekolah dan satpam saling melirik, ada keanehan pada Wanto. Dia pucat dan seperti tak bertenaga. Kepala sekolah pun segera menelepon kepolisian dan mereka datang bersama untuk menuju ke gudang lantai tiga.


Guru-guru yang lain merasa penasaran dan ikut menuju ke sana. Benar saja, dari ujung ruang seni, tampak pintunya terbuka sedikit. Bahkan rantai gembok tergeletak begitu saja di atas lantai.


Mereka berlari, karena perasaan aneh mulai menghantui. Ketika mereka mendorong pintu tersebut sepenuhnya...


"Kyaaaaaaa!!" guru-guru perempuan berteriak kencang dan ketakutan. Bahkan beberapanya ada yang menangis dan menutup wajahnya.


Kepala sekolah melangkah perlahan dan melewati ambang pintu, menatap sesuatu yang berdiri kaku di tempat tepatnya di depan lukisan gedung pengasingan yang di buat oleh Adam.


Dan yang mengerikannya lagi, lelaki yang sedang berdiri tersebut, melingkarkan tangannya di leher, dan batang lehernya.. mengalami kepatahan tulang. Ia, terbujur kaku dan tak bergerak, bahkan tubuhnya mengeras sampai-sampai tak bisa terjatuh ke atas lantai.


"Astaghfirullah.." keluh kepala sekolah, ketika menyadari seseorang yang mati tersebut adalah...


Ariandi??


.......


.......


.......


.......


...Bersambung......