RUN

RUN
Pembunuhan dan Kekuatan Baru



Saya terpaku, ketika ia mengatakan sebuah nama yang tak asing padahal baru pertama kali saya dengar. Nama.. yang mirip dengan tulisan itu, dan juga nama yang mirip dengan nama saya sendiri.


Agam Suganda??


Apakah itu, adalah lelaki tampan yang pertemuannya dengan saya di takuti oleh kiyai? Seseorang yang dulu pernah muncul di kala mimpi.


Dan lagi, ia ingin melenyapkan bukti yang sangat mengarah pada Ayah. Kalau bukti itu lenyap sebelum lelaki itu muncul ke muka bumi, apakah artinya misi saya telah gagal?? Apakah artinya tidak akan ada orang yang menemukan Ludira?? Apakah semuanya akan terus berlanjut dan terus memakan korban??


Kalau clue serta buktinya hilang, lantas dengan menggunakan apa lagi saya bisa menunjukkan jalan pada anak itu? Apakah nanti, ia akan terlahir dengan kemampuan khusus dan bisa melihat hantu?? Secara logika, sepertinya itu masuk akal. Saya akan membantunya di masa depan, jadi otomatis kami bisa berinteraksi satu sama lain, jadi hal yang paling mungkin, lelaki itu adalah seorang yang memiliki indra keenam dan bisa melihat hantu.


Tapi saya tidak boleh berspekulasi ke satu arah saja. Kalausaja dia tak memiliki kemampuan tersebut, dan barang buktinya hilang.. dengan cara apa saya membantunya?? Semua akan sia-sia saja bukan??


Si Anjing ini masih memandang lukisan saya. Ia mulai mengangkatnya setinggi kepala, seolah bersiap untuk menghempasnya ke lantai. "Pertama hancurkan dulu.. lalu yang kedua, bakar semuanya sampai hangus! Berikutnya, akan ku cari barang bukti lain sampai ketemu! Belati yang bernama Asmaul Husna itu, akan ku lenyapkan dari muka bumi ini!" tukasnya sembari melayangkan tangannya ke bawah dengan cepat. Dan...


Zuuuummm....


Mata saya terbelalak menatapnya. Semburat cahaya keluar dari jiwa saya, mengalir melalui siku sampai ke ujung jemari. Hal yang sama terjadi, sebagaimana saya yang kala itu merasuki sekumpulan polisi yang berusaha mengusir saya dari tempat ini.


Satu wujud saya, terbelah menjadi dua. Wujud inti mengendalikan, dan yang terbelah berada di dalam jiwa si anjing untuk di kendalikan.


Anjing ini tersentak, hingga matanya melotot keluar. Saya merasakan sebagian jiwa saya masuk ke dalam dirinya. Tak mudah, karena wujud asli saya mengerahkan kemampuan di luar batas hingga urat mata saya memerah. Tubuh lelaki ini, sungguh menolak adanya benda asing yang berusaha masuk. Dan rasanya cukup menyakiti jiwa saya di dalam tubuhnya.


"Arrgh!!" Saya menjerit, begitu juga dengan dirinya. Saya berusaha masuk tapi ia berusaha untuk membuat saya keluar.


Di antara perlawanan kami, ada sesuatu yang membuat saya merasa heran. Dimana saya membuka mata, tapi suasananya begitu gelap seolah sedang menutup mata.


Jiwanya, jiwa anjing ini berbeda dengan jiwa manusia yang pernah saya masuki. Tak ada memori, tak ada kesedihan, dan tak ada emosi apapun. Seolah hidupnya memang tak di peruntukkan untuk itu. Ia seolah berjalan di kegelapan dan itu cukup mengerikan.


Serius, saya merasakan aura hitam di dalam tubuhnya. Baru kali ini saya merasakan sesuatu yang aneh ketika merasuki tubuh manusia. Dia ini, seperti setengah iblis dan seperempat manusia. Condong pada iblis dan saya tak merasakan sedikitpun kepercayaannya kepada ilahi.


Mengerikan.. ternyata ada manusia yang sekotor ini jiwanya. Bukan lagi berdebu, tapi sudah ada tumpukkan pasir dan juga lumpur hitam di dalamnya.


Saya terus mengerahkan kekuatan, dan mulai merasakan kalau orang ini mulai melemah. Saya hendak mengembalikan lukisan ini ke tempat semula, tapi ia berusaha melawan gerak tubuhnya yang saya perintah.


"Arrghh!! Aku.. aku merasakan auramu!! Kekuatan putih kehijauan.. sama seperti yang ku lihat waktu itu. Ternyata... Ternyata kekuatan itu, kau lah pemiliknya?" tanyanya, berbicara dengan sulit.


"Kau.. adalah anak iblis yang sangat ku benci, karena tuan... tuan sangat membenci kehadiranmu! Hidup mu, membuat nyawanya kehilangan separuh. Kau..."


"Kau adalah darah kotor yang menjijikkan!! ADAM SUGANDA!!" pekiknya sambil menarik lukisan itu kembali.


Saya mengernyit, menahan gerakan tubuhnya yang berusaha melawan. "Diam kau, Anjing berliur racun! Menjijikkan dan penjilat! Bahkan kau rela memakan kotoran jika iblis itu menyuruhnya, kan? Tak pernah saya temukan boneka sebodoh dirimu di dunia ini. Kau adalah kebodohan dari seluruh lambang kebodohan di muka bumi."


"Kau membuang hidupmu, untuk kehidupan yang tak di mengerti. Kehidupan yang saya sendiri merasa bingung di dalamnya. Membuang cinta yang sebenarnya kau cintai. Menelantarkan anak yang sebenarnya kau sayangi. Kau..."


"Kakak ipar yang paling bodoh yang pernah saya temui!" pekik saya, berbicara dengan bibirnya sendiri.


Ia terkesiap, ketika mendengar kata-kata itu keluar dari mulut saya. Saya merasakan sesuatu di dalam hatinya. Sedih, hancur, dan kecewa. Semuanya bercampur aduk bahkan cairan hangat mulai terasa menggenang di wajahnya dan saya pun merasakan hal serupa.


"A.. apa? Kau, memanggilku kakak ipar?" gumamnya tak percaya. Tentu saja ia tak percaya, karena seumur hidup saya memang tak pernah memanggilnya kakak ipar.


"Kau.. memanggilku kakak ipar?" tanyanya lagi. "Untuk pertama kalinya kau memanggil ku kakak ipar??"


"Kenapa begitu terlambat, ketika tubuh mu sudah hilang, kau baru mau memanggilku kakak ipar." Ia menyusut ingus di hidungnya, dan saya merasakan hal itu juga. Hueeek!! Ingusnya asin, menggelikan!


"Ha?? Hahahaha.." Ia tertawa. "Kakak ipar?" Ia kembali mengulangi kalimat itu dengan wajah yang ambigu dan perasaan yang tak di mengerti. "Kau pikir aku akan percaya jika kau melakukan manipulasi agar aku mengurungkan niat ini?? Kau pikir aku akan melakukannya untukmu?" tanyanya sambil terus-terusan tertawa. "Kau pikir, aku baru satu hari bertemu denganmu??"


"Aku!! Sangat paham dengan sifat mu itu! Kau melakukan itu, karena kau akan di hukum kala menyentuhku kan?? Makanya, kau memilih menjadi manipulatif, hanya agar aku menghentikan ini.. dan menyelamatkanmu dari situasi ini. Benar, kan?" terkanya.


Kali ini senyum di bibirnya mendatar, saya mengambil alih tubuhnya dan terdiam sambil mengatup gigi dengan rapat.


"Hahaha, kau.. tak akan berani menyentuhku.. sebagaimana kau yang tak berani membalas ucapanku yang telah menghina wanita ****** it-"


"Kurang ajar." bisik saya, membuat anjing ini terkesiap dan tak mendengar. "Kurang ajar kau ya." lanjut saya, dengan suara yang lebih besar daripada sebelumnya.


"Kau pikir, saya tak berani membunuhmu hanya karena saya di larang oleh kiyai?" tanya saya, seolah menantangnya. "Kau kan kenal saya.. Memangnya, kapan saya mau mendengarkan perkataan orang lain?" tanya saya dengan tubuhnya, membuatnya terkejut hingga kedua matanya melotot keluar.


"Kau pikir, saya.. tak berani membunuhmu?" tanya saya lagi. "Kihihihi... Kihihihi..." Saya tertawa keras, kemudian seketika mendatarkan wajah. "Kau lucu sekali memang, anjing si*lan!!"


Wujud sempurna saya langsung meletakkan kedua tangan di leher saya sendiri, membuat boneka santet yang sedang saya permainkan ini melakukan hal serupa.


Kedua tangannya bergetar hebat, karena berusaha menahan gerakan yang sedang saya lakukan. Ia mendongak, berusaha menjauhkan lehernya dari tangan, bahkan matanya sampai melotot seolah ketakutan melihat kedua tangannya sendiri.


Ia mengeratkan gigi sambil mengerang hebat. "Arrrghhh!! Aku tak akan mati hanya karena mu.. bocah si*lan!!" pekiknya menggeram.


Saya tetap menatap datar ke arahnya. Maaf Tamusong, sepertinya saya harus melakukan ini.. saya tak akan membiarkan orang lain merusak apa yang telah saya rancang sejauh ini. Saya.. tak akan membiarkan satu-satunya pengabdi iblis hidup di muka bumi ini. Dan saya, tak akan membiarkan siapapun menemukan belati Asmaul Husna, karena hanya itu satu-satunya alat untuk menghabisi iblis Ludira.


Kalaupun ulah saya ini membuat saya akan di lenyapkan oleh kiyai, saya tak akan pernah menyesal melakukannya. Dan kalaupun saya lenyap, maka saya tak akan bertemu dengan orang itu, dan semua yang di takutkan kiyai tak akan pernah terjadi.


"Arrrghhh!" Saya mengencangkan sergapan tangan saya pada leher, sambil berteriak sekeras yang saya bisa. Pada akhirnya, saya lenyap sebagai hantu dengan cara di cekik, sekarang saya mengulangi hal yang sama. Lenyap dari dunia fana, dengan cara mencekik diri saya sendiri, lagi.


"Groaaaaah!!!!!" cahaya putih keluar dari sela-sela jari saya, cengkraman ini semakin kencang dan saya bisa merasakan kesakitan.


"Keeh.. Keeeh.." budak iblis ini terkekeh, bukan tertawa.. tapi ia kesulitan bernapas. Matanya melotot keluar, tepat menatap ke sebuah lukisan yang berusaha ia lenyapkan.


Ia mencoba bertahan, tapi semakin lama mulutnya mulai terbuka. Lidahnya menjulur seperti orang yang gantung diri. Liur putih yang kental mulai keluar dari sela bibirnya. "Huuuk.. hueeekh!!!" urat lehernya mulai keluar, bahkan wajahnya mulai memerah.


Bulir keringat sebesar biji jagung keluar dari dahinya. Bahkan matanya kini melotot seolah bersiap untuk keluar. Saya sebenarnya merasakan apa yang ia rasakan, tapi bedanya.. saya di unggulkan karena tak akan mati kehabisan nafas, sementara dia.. dia adalah manusia yang membutuhkan nafas.


"Maaf ya, ka.. kakak ipar busuk.." ucap saya terengah. "Sepertinya ini adalah kali terakhir kau menjadi seorang manusia.. Karena.. karena sebentar lagi.." Saya tertawa menatapnya. "Kau akan menyusul saya ke dunia ini."


"Groooaaaaah!! Bocah bi*dab!! Mati kauuuuuu!!" pekiknya dengan sisa tenaga, hingga kekuatan terakhir yang saya kerahkan membuat sesuatu yang berada di genggaman menjadi..


Krak!!!


Patah.


Angin kencang langsung menyeruak, bersamaan dengan dentuman keras yang berbunyi Buuuuum!!!


Kekuatan saya yang masuk ke dalam jiwa anjing ini keluar secara paksa, terhempas ke dalam wujud saya sendiri. Saya terpental, ketika kekuatan besar meledak di sertai angin yang berputar yang entah masuk dari mana, padahal tempat ini adalah tempat yang tertutup.


Si anjing ini berdiri kaku, bahkan tubuhnya tak saya biarkan menyentuh lantai. Ia mati dalam posisi berdiri dengan leher yang patah, dan kepala terhuyung, berlenggak-lenggok ke sebelah kanan. Ia mati tepat di depan lukisan saya, memelototkan matanya, mengeluarkan liur putih seperti pasta gigi, dan lidahnya pun menjulur keluar.


Saya terengah, menatapnya sambil terduduk di atas angin. Ketika saya hendak beranjak, saya terkesiap saat sesuatu tiba-tiba saja berada di belakang saya, entah kapan dan siapa..


Saya berbalik dan menoleh ke belakang. Saya terkejut, ketika sebuah tangan bercahaya mengarahkan jemarinya serupa pistol tepat ke kepala saya.


"Kau.. ini keterlaluan." ucapnya, sambil menarik tangannya ke belakang, dan melesatkan dua jari tersebut tepat ke leher saya untuk menusuknya.


Gerakannya cepat, bahkan saya tak bisa bergerak, atau memang dibuatnya tak dapat bergerak. Ketika lesatan tangan itu hampir satu cm mengenai saya..


Duuuum!!!


Ledakan keras kembali terdengar, membuat saya menutup wajah saya dengan kedua lengan. Asap mengepul di sekeliling ruangan, dan ketika saya mengintip dari balik lengan...


Saya, melihat sesosok tubuh putih berdiri teguh di hadapan saya. Tamusong.. Tamusong datang dan melemparkan kekuatan penuh ke arah lelaki yang menyerang saya. Ke arah kiyai?


"Anda berani melawan saya?" tanya kiyai dalam, terdengar tenang tapi marah.


Tamusong memucat, tapi ia masih berdiri tegap di hadapan saya. "Tak akan ku biarkan, siapapun menyakiti Adam, meskipun orang itu.. adalah kau!" balasnya, tak gentar.


Saya mengerjap cepat, ketika Tamusong melompat ke arah saya. Saya kira ia hendak menolong, ternyata ia malah menghantam kekuatan penuh ke arah saya, membuat saya terpelanting dengan kuat.


"Tamusong, kenapa kau menyerang say-?" Saya terdiam, ketika sebuah lesatan kilat seperti sabetan pedang memotong sebuah kursi di mana saya sebelumnya berada.


Saya sebenarnya hendak marah ketika ia menyerang saya tiba-tiba, tapi di antara serangannya, ternyata ada kekuatan kiyai. Ternyata, Tamusong menjauhkan saya dari kekuatan itu.


"Ku bilang jangan menyentuhnya!!" pekik Tamusong, membuat saya terkesiap. Dimana ia mendapatkan keberanian semacam itu??


"Jadi, anda dan Adam ingin lenyap bersamaan?" tanya kiyai.


Ia mengangkat kedua tangannya, dan dengan cepat menunjuk ke arah Tamusong. Tamusong yang baru saja melepaskan kekuatan masih belum pulih sepenuhnya. Ia terdiam di tempat, sempat oleng beberapa kali dan membiarkan serangan itu menuju ke arahnya.


"Tidak!!" Saya memekik, sambil melesat secepat cahaya ke arah Tamusong dan...


Duuuum!!!


Serangan kilat dari kiyai, berhasil saya hindari setelah menyelamatkan Tamusong. Kiyai dan Tamusong sama-sama terkejut, bahkan mereka belum sempat mengedip satu detik pun.


"Kecepatan cahaya?" gumam kiyai dan Tamusong bersamaan.


"Tamusong, maafkan saya. Saya-"


"Nanti aku akan mendengar alasanmu. Sekarang situasinya tak tepat. Kita harus lari!! Lari dari cahaya kiyai!! Lari!!" seru Tamusong dengan wajah ketakutan.


"Kemana? Lari kemana?" tanya saya, ikutan panik karena ia begitu ketakutan. Kiyai kembali mengangkat kedua tangannya, bersiap untuk melakukan serangan berikutnya. Ia sama sekali tak kelelahan, sementara saya dan Tamusong sudah berkeringat berlebihan.


"Tatap mata saya, dan lihat apa yang saya lihat di dalam pikiran." ujarnya, dan saya melakukan hal yang ia pinta.


Di dalam matanya, ada sebuah hutan, gelombang air laut, istana, dan.. para hantu yang berkeliaran.


"Lakukan sekarang!!" pekik Tamusong, tepat ketika kiyai melemparkan kekuatan yang lebih besar daripada sebelumnya.


Saya memejamkan mata, tepat ketika cahaya kiyai berada satu cm di depan hidung saya.


Zuuuuuuuum!!


Tubuh kami lenyap, sebelum cahaya itu menerjang. Ruangan gelap yang saya kenal, tiba-tiba saja berganti menjadi tempat aneh yang saya bayangkan bersama Tamusong.


Saya dan Tamusong jatuh terhempas ke sebuah pasir pantai, dengan bulan yang begitu terang benderang di atasnya.


Tamusong menelan ludah sambil menatap ke arah saya dalam posisi tengkurap. "Kuno.. Kau.." Ia terengah, kesulitan untuk bicara saking lelahnya.


"Kau telah melakukan, teleportasi." tukasnya kaget.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung......