RUN

RUN
Seseorang



*Author POV


Berlatar di sebuah tempat dengan tikar yang mencuat, ruangan gelap dan asap-asap yang sengaja di buat menggunakan pembakaran di dalam kendi dari tanah liat, seseorang melemparkan butiran garam di dalamnya.


Jenggotnya bergerak naik turun, membaca apa-apa saja yang hanya ia seorang mengetahuinya.


Dalam keseriusannya, tiba-tiba saja ia membuka mata, melihat isi di dalam kendi yang telah terbakar, dan menampakkan api berwarna kehijauan.


Ia tersenyum tipis, hingga senyum itu mengembang melebar seluas batas pipinya. Kaki hitamnya yang merekah beranjak, meninggalkan meja yang di penuh foto-foto serta bunga bermacam-macam rupa di atasnya.


Ia mengeluarkan rokok di saku celananya, dan menyalakan rokok tersebut seraya menyesap dan membuang asapnya ke udara.


Dari kejauhan, ia menatap ke gedung sekolah yang di batasi pagar tinggi, sambil mengangguk dan kembali mengembangkan senyum.


"Aura yang manis.. Anak lelaki???" gumamnya sambil memejamkan matanya. "Putihnya, dan berbau wangi.. tampan dan menarik??" gumamnya lagi, dengan suara berat khas lelaki tua yang suka menghisap rokok dan menyesap kopi.


"Ada manusia yang mati, anak Sholeh yang gentayangan?? Hehehe, tak tau jalan pulang, tak tau mengendalikan kekuatan?? Bingung dan ketakutan??" Ia masih memejamkan mata, berusaha menerawang si makhluk itu dari kejauhan.


"Kemarin pun ia melakukan hal yang sama, melepaskan kekuatan besar hingga membuatku tersentak dalam semedi yang lama."


"Hantu yang tak tahu apa-apa ini pasti butuh pedoman. Pertama aku mengabaikannya, karena merasa ini adalah kekuatan yang tak sengaja di lepaskan. Tapi, sepertinya yang bagian kedua, di lakukan dengan kesengajaan."


"Kalau di lepas, maka akan ada yang tertarik padanya. Tapi kalau sampai aku mendapatkannya," Ia kembali mengembang senyum untuk tertawa. "Aku akan memperbudaknya, menggunakan kekuatannya yang besar itu, untuk mencari uang." lanjutnya lagi.


"Biar ku lihat sekali lagi, apakah ia masih bermain-main dengan kekuatannya?" gumam si kakek tua berkulit hitam mengkilap ini.


Ia kembali memejamkan mata, menerawang dan berusaha menembus kekuatan makhluk halus dari kejauhan. Ia mengernyit, ketika tiba-tiba saja aura besar itu mendadak hilang.


Ia menggeleng, membaca mantranya dan membuka mata batinnya, menembus kegelapan, menembus dinding tebal, dan melampaui batas jarak, hanya saja ia masih mengernyit dalam, kenapa tiba-tiba saja, ada dinding tebal yang tak bisa di tembusnya?


Apa itu? Kekuatan apa yang berusaha menghalau dan menjaganya? Apa yang membuat sesuatu melindunginya??


Kekuatan itu tak bisa di terka oleh si kakek tua, ia tak tahu ini berasal dari makhluk halus atau bukan. Tapi, jika para dukun melakukan hal serupa dan merasa tertarik pada kekuatan besar itu, tentu yang akan mereka lakukan adalah saling berebutan dan adu kekuatan untuk menunjukkan, siapa yang paling pantas mendapatkan hantu lelaki itu.


Tapi, ini bukan semacam kekuatan para dukun, atau juga bukan kekuatan dari orang-orang khusus. Ini, kekuatan yang tipis, apakah berasal dari sesama hantu, atau apa.. yang pasti itu berhasil menutup penglihatan si dukun dari hantu lelaki kuat itu.


Ia menggeram kesal, meludahi lantai hingga jatuh lah rokok yang ada di dalam mulutnya. Ia mendengkus dan menghajar dinding beton dari bata yang belum di plester, membuat percikan darah menempel di dinding tersebut.


"Sialan!! Benda apa yang mengacau ini? Kenapa ia mengalihkan dan menutup pandanganku dari hantu ini? Kurang ajar!" desahnya kesal.


.........


Sementara itu, Pak ustadz terdiam di tempat sambil menatap ke seluruh anggota polisi yang mulai terdiam. Dari seluruh anggota tubuhnya, hanya keringatnya saja yang bergerak, mengalir dari rambut ke pelipisnya.


Ia masih tak bergeming, seolah menahan napasnya sampai terjadi pergerakan dari setiap anggota kepolisian.


"Uuuh.." suara ringisan terdengar, disertai dengan pergerakan tipis dari salah satu anggota kepolisian. Pak ustadz ini mulai menghembuskan napas, sedikit lega agaknya.


Ia menyeka keringatnya, sambil berjalan merangkak menghampiri si polisi. Ia membalikkan tubuh polisi yang tengkurap, menatap kedua mata yang masih terpejam.


"Pak.. Pak Tanu, kau sudah sadar, pak?" tanyanya pelan, sambil menggoyang-goyangkan tubuh si polisi.


Pak Tanu mengernyit, mengeratkan kedua matanya yang terpejam lalu mengerjap, menampakkan wajahnya yang memucat.


Ia terkesiap, dan buru-buru beranjak usai melihat wajah pak ustadz. "Hah?! Apa.. apa yang terjadi, pak?" tanyanya cepat.


Pak ustadz hanya terdiam, tak mau menjelaskan apa pun atau bahkan tak terlalu berani untuk menceritakannya. Pak Tanu pun menggeleng, mengalihkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang tampak berantakan. Di tambah lagi teman-teman kepolisiannya terkapar tak sadarkan diri di setiap bagian lantai ruang seni.


"Hah?" mulutnya ternganga lebar. "A.. apa yang telah terjadi sebenarnya?" tanyanya keheranan.


Ia bergegas beranjak dan membangunkan teman-temannya. "Oi, Sep!! Nok, Fer!! Jok, Bangun!! Kalian ngapain?" tanyanya sambil bergantian menggoyangkan tubuh temannya.


"Mmh?" salah satu temannya bergeming, bergerak dan berusaha membuka matanya yang terkatup rapat. Ketika pandangan samarnya tampak jelas dan memperlihatkan wajah Tanu, Joko terkesiap dan bangun mendadak. Ia bahkan memeriksa seluruh anggota tubuhnya sendiri, membuat Tanu mengernyit heran.


"Apa tadi itu?? Sekelabat bayangan menabrak ke pundak gue!" desahnya, membuat Tanu terkesiap, dan teringat tentang apa yang ia lihat sebelum kehilangan kesadaran.


Benar, wajah Joko sebelumnya tampak berbeda. Bahkan kedua bola matanya berubah menjadi hijau dan mengerikan.


Ia menoleh sekeliling lagi, dan tahu kalau terjadi sesuatu kepada mereka, dan ini berhubungan dengan sesuatu yang mistis. Bulu kuduknya meremang, ia bahkan bergidik sambil menoleh ke arah pak ustadz yang terlihat pucat dan sempoyongan.


"Pak ustadz, apa yang terjadi? Sepertinya semua anggota polisi pingsan setelah kau berteriak, apakah kau satu-satunya yang masih sadarkan diri?" tanyanya.


Pak ustadz terdiam, berusaha menahan tubuhnya dengan kedua tangan di lantai, dan beranjak perlahan, meskipun tubuhnya sangat gemetaran. "Kita keluar dari tempat ini secepatnya. Dan katakan pada atasan kalian, kalau jangan pernah sekali-kali, mengusik tempat ini lagi." ujarnya parau, sambil berjalan tertatih menuju pintu keluar.


Tanu berlari, membiarkan Joko untuk membangunkan teman-temannya seorang diri. Ketika ia membuka pintu dan melihat keluar, ternyata pak ustadz tadi, jatuh terkapar dan tak sadarkan diri.


.........


Sementara itu, Tamusong terengah sambil terduduk di atas angin. Ia kelelahan, seperti baru saja berlari di malam hari. Kedua tangannya keluar dari kain kafan, sambil menahan tubuhnya sendiri di udara.


Ia menoleh ke arah gedung sekolah, mulutnya ternganga dan matanya awas. Ia melirik sekeliling, dan sungguh.. hantu ini menunjukkan wajah ketakutannya yang menakutkan.


"Adam Suganda, Adam Suganda, Adam Suganda." Ia memanggil nama tersebut berulang-ulang, dengan kedua mata yang terbuka lebar.


Panggilan batin tentu akan terdengar dan sampai ke pendengar Adam. Ia terus memanggilnya berulang-ulang, seolah hendak memastikan suatu hal. Ia tak mau berhenti, sebelum hantu kuntilanak laki-laki itu menampakkan diri.


"Adam.. Adam.. Adam.. Adam.." suaranya perlahan mengecil, dan ia tampak ketakutan hingga berkeringat dingin.


Bruuuk!!


Sesuatu terjatuh, terdengar tepat di belakang Tamusong. Perempuan tersebut menoleh, dan mendapati Adam, tengah duduk di atas angin dengan keadaan tubuh yang sempoyongan.


Mereka berdua terdiam, meski ingin marah atas apa yang dilakukan Adam, tapi kehadirannya membuat Tamusong dapat bernapas sedikit lega, meskipun ia tak bernapas sungguhan.


"Kau.." suara Tamusong akhirnya terdengar, membuat Adam menatap lirih dengan mata hijaunya yang tak bercahaya.


"Maaf.. Maafkan saya." ujar Adam, tak biasanya ia mengatakan itu meskipun telah melakukan kesalahan.


Tamusong terdiam, hendak marah tapi mengurungkan niatnya itu. Ia menghela napas, membiarkan kelelahan sedikit menguap dalam dirinya. "Yah, tak apa. Setidaknya kau tahu kalau yang kau lakukan itu adalah sebuah kesalahan. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi hingga membuatmu semarah itu?" tanyanya lembut, tak galak seperti biasanya.


Adam tertunduk, mengepalkan kedua tangannya dan menatapnya dengan lirih. "Mereka ingin mengusir saya dari tempat itu." sahutnya serak.


Tamusong mengerjap, kembali menoleh ke gedung sekolah lalu menatap Adam. "Mereka mengadakan pembersihan?" tanyanya.


Adam menganggukkan kepala. "Tempat saya di sana. Kalau saya di usir, kemana saya akan pergi? Kemana saya akan tinggal? Saya hanya bisa keluar malam hari, dan kembali keesokan harinya. Kalau saya di usir, harus pergi kemana saya di waktu siang?" tanyanya, tampak sedih dan kebingungan. Di sisi lain, sebenarnya Adam ingin mengalah dan tak mau melawan si ustadz, tapi.. ia hanya mempertahankan tempat tinggalnya. Hanya itu saja harta yang ia miliki sekarang. Sebuah kediaman.


Tamusong mengernyit, menatap iba pada wajah si hantu, lalu kembali menatap ke arah sekolah. Ada satu hal yang ingin ia bilang sejujurnya.


Meski mati di suatu tempat, tak akan ada pelarangan atau batas gaib yang mengurung mereka di siang ataupun malam hari. Tapi, Adam hanya bisa berada di dalam sana di siang hari, terkurung dan tak bisa menembusnya sama sekali.


Seperti ada dinding yang menghalau, dan sebenarnya.. dinding itu di ciptakan oleh seseorang. Sengaja agar Adam tak pergi ke mana-mana.


"Tapi, sebelumnya saya berterimakasih. Saya mendengar suara Tamusong menyapa, makanya saya keluar ke tempat ini. Saya sudah menduga sebelumnya, kalau yang telah menekan kekuatan saya adalah Tamusong, jadi terimakasih untuk itu." ucap Adam, membuat Tamusong mengernyit tapi tak mengatakan apa-apa.


"Kuno, sebenarnya ada sesuatu yang ingin ku tanyakan padamu." ujarnya, membuat Adam mengernyitkan dahi.


"Apa itu?" tanyanya singkat.


"Di awal kematianmu, apakah kau pernah merasakan sesuatu, atau bertemu dengan sesuatu, pernah kah?" tanyanya, membuat Adam bertambah heran.


"Apa?? Apa maksudnya? Bertemu para hantu yang satu frekuensi dengan saya?" terkanya.


Tamusong hanya menggelengkan kepala. "Bukan, jauh sebelum rohmu berada di ruangan seni, seperti berada di tempat hitam putih, siapa kah yang kau temui pertama kali?" tanyanya lagi.


Adam kembali menggeleng, ia tak tahu.. atau mungkin saja ia tak mengingat apapun. "Saya tak tahu."


"Coba, ingat lah lagi!" Tamusong mendesak. "Jauh sebelum kau berada di ruangan seni, kau pasti pernah bertemu dengan seseorang. Tepat ketika nyawamu terpental, dan keluar paksa dari dalam tubuh."


Adam terdiam, memejamkan mata dan berusaha mengingat. Memorinya berputar melambat, dari yang terbaru hingga pertama kali ia mati.


"Sebelum berada di ruangan seni yang lembab?? Bertemu seseorang?"


Ia tersentak, membuka kedua matanya dengan tiba-tiba. "Kau.. benar, Tamusong. Sebelumnya, saya pernah bertemu dengan seseorang, tepat di hari kematian saya."


*Author POV End


.......


.......


.......


.......


...Bersambung......