RUN

RUN
Pembalasan



Saya beranjak usai bisa melepaskan diri. Saya termenung sesaat, menyaksikan tali yang mengikat saya telah putus dan raib bak abu yang hangus di makan api. Bahkan butiran debunya terlihat terbang terhembus angin.


Saya menggeleng, mengangkat kedua tangan sejajar dengan wajah. Saya menatapnya ke kiri dan kanan secara bergantian. Terus terang saja, kekuatan ini...


Mengalir dengan dahsyat di tubuh saya?


Saya merasakannya. Adrenalin yang memacu. Detakan serupa jantung ketika masih hidup. Dan dada yang terengah seolah bisa bernapas.


Kekuatan macam apa ini?? Jadi, ini yang mempengaruhi para manusia untuk melakukan ritual di malam Jum'at Kliwon?? Karena pada saat ini, kekuatan para hantu dan makhluk-makhluk gaib, berada di puncak tertinggi dari segala kekuatan yang mereka miliki.


Selain itu.. perubahan warna baju dari putih ke merah apakah menandakan sesuatu?? Seperti waktu itu, saya pernah mengalami hal yang sama saat pertama kali di ajari Tamusong untuk mengendalikan kekuatan.


Apa yang di katakan Tamusong benar adanya? Jika kekuatan maksimal para hantu biasanya hanya sekitar seratus persen, maka ketika malam Jum'at Kliwon tiba, maka kekuatan kami akan meningkat sebesar seribu persen, atau bahkan lebih??


Saya mengerjap, ketika mendengar suara berisik seolah berada di keramaian. Tentu saya telah menekan frekuensi kekuatan agar tak terusik oleh makhluk sejenis, tapi.. kenapa sekarang suara mereka ikut terdengar??


Saya mengerjap, memperhatikan sekeliling ruangan. Memang tak ada siapa-siapa, tapi saya mendengar suara itu berada di lantai dasar dan di luar ruangan ini.


Mungkin saja mereka tak bisa masuk karena kiyai telah membuat perlindungan. Huh, ada untungnya juga ia mengurung saya, saya jadi terlindungi dari kebisingan makhluk-makhluk yang membully saya.


Ngomong-ngomong tentang membully... bukankah mereka melakukan hal yang buruk ketika saya masih lemah??? Kalau sekarang, apa boleh saya mencoba menghajar mereka dengan kekuatan ini??


Lagi pula pelarangan kiyai kan hanya seputaran manusia saja. Saya tak boleh mengganggu manusia di sekolah ini. Tapi, kalau saya melakukannya pada sesama hantu... tentu tak ada pelarangan tentang hal itu bukan??


Saya menyeringai, sambil menatap pintu yang berada di hadapan saya. Ayolah para hantu, temani saya bermain.


.......


.......


.......


*Author POV


Beberapa saat sebelumnya...


Seorang lelaki duduk dengan kaki yang bersila di atas sajadah. Ia memejamkan mata dan berzikir dengan khusu'. Namun sesuatu seolah mengejutkannya, ia terkesiap dan membuka matanya tiba-tiba.


Keningnya berkerut, dan tatapannya langsung tertuju pada ruangan seni yang sudah almarhum, karena sekarang di alihfungsikan menjadi gudang.


Ia mendecakkan lidahnya, sambil melirik ke arah jam yang ada di ruang shalatnya. Jarum pendek menunjukkan angka sebelas lewat, lelaki ini menggelengkan kepalanya sambil mendesah napas berat ke udara.


"Ada-ada saja toh kelakuan bocah cilik. Dia selalu tak suka kalau di kekang dan di perlakukan seperti itu. Sekarang dia berhasil melepaskan diri dari tali yang menjaga kekuatannya."


"Meski begitu, aku memang sengaja tak memperkuat kekebalan tali itu, hanya sekedar untuk membuktikan, apakah ia akan melepaskan diri dari tali itu atau tidak, ternyata dia memang benar-benar melakukannya."


"Jadi, semoga harapanku bisa terwujud. Mengurung Adam, agar ia merasa terkekang, memberontak dan melarikan diri dari dalam gudang."


"Cara ini adalah yang terbaik. Aku tak mungkin bisa meminta pengertian darinya mengenai pertemuannya dengan lelaki itu, karena jikalau pertemuan mereka terjadi, maka..."


"Iblis itu akan beraksi kembali." gerutu Wanto dengan suara rendah.


"Memang terdengar egois, tapi... ini masih menjadi hal yang traumatis. Kepercayaan ku pada Adam, membuat nyawanya terenggut. Dan sekarang, aku di hadapkan oleh hal yang serupa, untuk beberapa belas tahun kedepan. Dan aku hanya tak mau, hal itu menjadi penyesalan ku yang kesekian kali seumur hidupku."


"Aku, kehilangan kepercayaan untuk membiarkan bocah enam belas tahun mengemban tugas seberat ini."


"Meski waktu itu Adam ku percaya sebagai anak luar biasa yang kemungkinan tak akan terkalahkan. Nyatanya, itu hanya harapan kosong. Dan yang patut di tuduh sebagai pembunuh Adam bukanlah Ayahnya, melainkan aku."


"Aku yang membiarkan semua itu terjadi." ujarnya lirih.


Ia menghela napas, sambil kembali memejamkan matanya untuk memulai dzikir kembali, dengan bulir-bulir tasbih yang melingkar di jemarinya.


"Maafkan aku Adam. Meski kau terlihat senang melihat anak lelaki itu, tapi.. aku tak akan membiarkan kalian bertemu."


"Tidak akan!"


.........


Sementara itu, Tamusong berdiri kaku di ujung gerbang pemahkaman. Tatapannya tertuju pada gedung sekolah. Ia terdiam membiarkan para hantu di kuburan berpesta ria, sementara ia menyendiri seorang.


"Ini adalah malam Jum'at Kliwon. Kira-kira, apa yang akan di lakukan oleh Kuno nakal itu?? Dia sudah menunggu cukup lama, dan yang aku takutkan adalah.. jika ia melepaskan tali kiyai, maka pasti kiyai akan menyadarinya."


"Tapi, apakah ia benar-benar akan melepaskannya?? Ku rasa itu bukan pertanyaan, karena jawabannya sudah pasti ia akan melakukannya."


"Rasanya resah dan cukup gugup. Aku takut, takut akan tindakan yang di ambil oleh anak itu. Rasanya cukup menyesal mengatakan mengenai cara melepaskan diri dari jerat tali kiyai. Tapi mana mau aku diam saja, kalau kiyai.. memperlakukannya dengan keterlaluan."


"Yang harus ku lakukan disini adalah bersiap, kalau-kalau pelepasan kekuatannya terlalu brutal, maka aku harus melakukan sesuatu."


.........


Di sisi lain, tepat di antara kolam renang berbentuk U, lagi-lagi pria tampan itu membakar kemenyan dengan sesajen di atas tampah. Ia berkomat-kamit membaca mantra, sambil sesekali mencipratkan darah Ayam hitam di antara pembakaran.


Psssshh!!


Suara desisan api yang dengan cepat melahap darah, meski sebelumnya sempat terkejut dan apinya mengecil.


"Ini adalah malam Jum'at Kliwon, dimana seharusnya tuan memakan tumbal. Aku tak tahu, di luar sana apakah ia mencari tumbal secara mandiri, atau melakukan hal lain. Yang pasti, ia tak akan berhenti menghisap darah, bukan??"


"Ia pasti akan tetap datang ke sekolah itu, meski dalam rupa yang berbeda daripada yang semestinya. Ia tak akan meninggalkanku sebagai pengikutnya. Tidak akan pernah." desahnya dalam keraguan. Sebenarnya lelaki ini pun tak punya pilihan kecuali berharap pada mantan Ayah mertuanya.


Di kondisi sekarang ini membuatnya merasa di campakkan begitu saja, tanpa ada kejelasan. Beruntung, ia masih bisa berkomunikasi dengan iblis itu, meskipun melalui media seperti ini, di lengkapi sesajen dan juga darah ayam.


Wusshh!!


Tiba-tiba saja api yang sebelumnya berwarna merah, kini berpendar menjadi putih kehijauan. Lelaki ini terkesiap bukan kepalang, dan kebingungan mengenai apa yang tengah terjadi.


Sementara di tempat yang berlawanan, Wanto yang tengah duduk di atas sajadah pun terkesiap. Ia terbelalak, mematung sesaat lalu menoleh ke ujung gedung, dan hal yang sama di lakukan oleh Tamusong. Bahkan kedua kaki Tamusong yang terikat oleh tali pocong mulai bergetar.


Deg!!!


"Aaaauuuu...."


Jantung Wanto dan Ariandi terasa terjeda, mereka bergidik dan tiba-tiba saja tubuh mereka meremang, membuat pori-pori di tangan mereka menyembul dengan jelas.


Sementara Tamusong, ia masih menggigil gemetaran, merasakan aura mengerikan yang di rasakan pula oleh seluruh hantu yang ada di dalam kuburan. Bahkan saking terasanya, mereka semua yang sibuk berpesta, kini mematung dalam waktu yang bersamaan.


"Aura ini??" ujar Wanto, Ariandi dan Tamusong bersamaan, meski tak berada di tempat yang sama.


.........


Sesosok hantu perempuan yang merupakan korban Barend Otte duduk merenung dengan tangis di atas jendela selasar lantai tiga. Ia tersedu, mengingat betapa setiap malam Jum'at Kliwon adalah hari dimana nyawa mereka terenggut. Ini seolah nostalgia bagi mereka, baik itu siswi yang baru saja meninggal atau yang sudah lama.


Tak jauh dari tempat hantu perempuan ini, ada sosok lain yang bernasib serupa. Mereka bergelantungan di jendela, ada yang merayap di atap, duduk di antara kursi ruang kelas, mondar-mandir di perbatasan tangga lantai dua dan tiga.


Belum lagi dengan yang berada di luar. Intinya, pada malam ini mereka menempatkan diri pada frekuensi yang sama dengan manusia. Maka dari itu, kebanyakan para manusia bisa melihat penampakan hantu di malam Jum'at Kliwon. (Jangan tanya haditsnya, ini gak ada dan cuma pemikiran author).


Para hantu yang berada di lantai tiga adalah wanita-wanita yang mati di bunuh di dalam bunker. Mereka ini tak pernah berjalan jauh, hanya seputaran wilayah gedung lantai tiga dan juga bunker.


Hantu para korban berada pada posisinya masing-masing, begitu rapat dan hanya tersisa sedikit spasi di antara mereka. Mereka bergerak dengan kebiasaan mereka yang cukup aneh.


"Huuuu.. Huuuuu.." beberapanya menangis, masih tak terima akan pembunuhan yang terjadi, dan yang lainnya menggeram benci. Mereka sangat membenci Barend Otte serta keturunan-keturunannya, meskipun mereka tak bersalah dan tak tahu apa-apa.


Sesosok hantu perempuan yang duduk di dekat jendela tadi menggigit bibir bawahnya, sembari mengerutkan dahi. "Kalau saja beruang kaya raya tak ada.. pasti.. pasti saya masih hidup dan bersenang-senang bersama manusia yang lain. Karena ulahnya..." hantu ini mengepalkan kedua tangannya. "... saya, harus mati dan gentayangan di tempat ini. Aku benci sekali dengannya, dan juga semua keturunan-keturunannya!" geramnya dengan tatapan penuh benci.


Tepat setelah ucapannya...


Duuuum!!!


Ledakan keras terdengar, membuatnya berserta hantu yang lain terkejut bukan kepalang. Ledakan ini tak membuat kerusakan apapun pada benda-benda manusia, hanya bagi semua makhluk tak kasat mata, mereka lah yang dapat melihat dan merasakannya.


Para hantu berbaju putih yang bergelantungan, merayap di dinding, berada di dekat tangga dan yang mondar-mandir sepanjang selasar terkesiap dan menoleh ke arah sejurus.


Di ruangan paling ujung yang tak dapat mereka masuki, terlihat sebuah cahaya yang begitu putih. Mereka semua mengernyit hingga hidung mereka terangkat.


Ketika cahaya tersebut memudar, kibasan baju oversize mulai tampak. Mereka menajamkan pandangan, dan melihat kibaran baju tadi berwarna merah pekat, persis seperti darah. Pandangan mereka pun teralih pada wajah sang sosok lelaki berambut putih yang kini sedang menunduk dan menyembunyikan tatapannya.


"Cih, ternyata anak pembunuh?" ujar mereka bengis.


"Sudah lama tak menampakkan diri usai melepaskan kekuatan besar, sekarang datang dengan keributan. Apa kau, mau mati lagi?" tanya salah satu hantu di antara mereka.


Hantu kuntilanak lelaki ini hanya terdiam di tempat, dan dengan perlahan ia mengangkat wajahnya, bersamaan dengan desiran hordeng dari dalam jendela kelas.


Hantu wanita ini mengangkat tangannya, dan melepaskan bola kekuatan berwarna abu-abu ke arah Adam, dan...


Buuuuum!!


Bola kekuatan itu meletus, bersamaan dengan asap yang mulai mengepul. Hantu yang lain menyaksikan, belum berniat untuk ikut menyerang.


Hantu wanita ini mengembangkan senyuman. "Huh, hantu kuntilanak terkuat dari jenisnya? Siapa yang menyematkan perkataan macam itu padanya, nyatanya dengan serangan seperti itu saja ia tak bisa bergerak untuk menghindar. Apakah kau kaget melihat kecepatannya?" ocehnya, sambil melihat asap yang kini mulai menipis.


Ketika asap menghilang seluruhnya, hantu wanita ini mengerjap, merasa kehilangan sosok yang baru saja ia serang.


Matanya mencari, melirik ke kiri, kanan, atas dan bawah, tapi tetap saja ia hanya melihat selasar gelap dengan para hantu wanita berbaju putih di sekitarnya.


"Kemana dia?? Kabur karena ketakutan?" geramnya.


"Siapa yang kabur?" sebuah suara muncul tiba-tiba di belakangnya, dan dengan cepat hantu wanita ini membalikkan tubuh. Belum sempat melakukannya, hantu wanita ini merasa keadaan menjadi lambat, hingga ia bisa melihat hantu lelaki ini yang bergerak begitu cepat.


Adam mengangkat tangannya, membuat hantu wanita ini hanya mampu menggerakkan alisnya. "Cepat seka-"


Buuuuum!!


Bola kekuatan yang padat dan bercahaya putih silau menghantam si hantu wanita, hingga membuat tubuhnya terperosok dan mulutnya mengeluarkan darah.


Hantu yang lain terkejut, menatap Adam dengan raut takut. Bahkan mereka mulai beranjak dengan tubuh kaku, tak melepaskan pandangan mereka dari Adam.


"Aih, jangan terkejut begitu." tukas Adam dengan suara dalam. "Saya hanya sedang menunjukkan padamu, apa arti dari kecepatan yang sesungguhnya!" lanjutnya dengan kedua mata yang melotot dan senyuman menyeringai.


"Ayo.. sekarang serang saya! Biar saya lawan kalian semua, yang ketika pertama kali saya mati, membuat saya merasa tak berarti!"


*Author POV End


.......


.......


.......


.......


...Bersambung......