RUN

RUN
Aruna, Kuntilanak



Saya memutuskan pembicaraan dengan Tamusong secara sepihak. Ia pasti marah, tapi saya sudah tak tahan dengan ocehannya. Intinya, saya sudah mendapatkan informasi yang saya inginkan, dan sekarang.. saatnya pembuktian.


Tamusong bilang, malam Jum'at Kliwon akan terjadi sekitar lima hari dari sekarang. Entah kenapa, sembari menunggu dalam kondisi tubuh yang terikat, saya terus-menerus merasa khawatir dan ketakutan.


Kejadian mengerikan itu, bagaimana saya mendengar suara jeritan yang menakutkan, bahkan lebih mengerikan dari suara jeritan wanita melahirkan dan seseorang yang di jahit tubuhnya tanpa anestesi. Ya, itu adalah suara para siswi yang meminta pertolongan sebelum kematiannya.


Lalu ruangan gelap, berlumut, licin dan lembab. Bau tanah basah dan juga karatnya sangat melekat di ingatan, bahkan dengan memikirkannya saja sudah membuat saya merasakan aromanya.


Lalu, pintu yang berada di dalam bunker. Pintu tanpa gagang di bagian dalam, seolah menjadi pengingat bagaimana para siswi terkurung dan tak dapat keluar meski pintu berada di hadapan mereka.


Altar yang luas dengan lilin-lilin kecil di sekeliling tanah. Darah pekat yang di lukis sedemikan rupa menjadi sebuah simbol di atas lantai, dan yang terakhir.. adalah monster yang memanfaatkan tubuh Ayah saya.


Suara kepala yang retak ketika di gigit dan suara seruput dari darah yang di hisap pun membuat perut saya terasa terbalik. Itu benar-benar mengerikan sekaligus menjijikkan.


Dan yang paling mengerikan dan membekas di ingatan saya adalah.. tempat yang kini di pakai untuk mengurung saya, yaitu ruang seni yang telah beralihfungsi menjadi gudang tak terpakai dan di asingkan.


Tempat ini menjadi saksi bisu, bagaimana saya di siksa dan di bunuh. Mengingatnya saja membuat tubuh saya gemetaran. Saya masih merasa ketakutan, seolah itu menjadi kejadian traumatis sepanjang hidup saya.


Untungnya mati hanya sekali, kalau dua kali, maka tak akan ada manusia yang mau merasakannya lagi.


Di ruangan ini.. akankan ada siswi yang memaksa datang dan masuk, serta di bawah sana.. apakah lelaki bertubuh besar itu telah menunggu dengan iblis yang keluar dari dalam mulutnya, menyerupai lidah raksasa.


Sudah mati pun saya masih bisa merasakan ketakutannya, apalagi orang-orang yang masih hidup, terutama para siswi.


Malam berlalu, dan saya hanya bisa menghabiskan malam ini dengan merenung serta memikirkan apa yang akan terjadi di malam Jum'at Kliwon nanti.


Untungnya saya hantu, jadi terikat dan tak bergerak selama berjam-jam tak membuat tulang-tulang saya ngilu, rasanya biasa saja dan tak menyakitkan, kecuali kalau mencoba bergerak dan melawan, maka lilitan ini akan semakin kuat dan mendesak saya.


Hari demi hari berlalu, dan semakin mendekati malam yang di tunggu-tunggu. Saya masih tak bergerak, berada di tempat semula dan tak berniat untuk melakukan apa-apa. Saya sengaja untuk menyimpan tenaga yang ada. Entah itu untuk melepaskan diri, atau untuk melawan si iblis Ludira yang berusaha merenggut korban lagi.


Kita saksikan saja nanti, untuk kepentingan apa kekuatan itu saya gunakan.


.......


.......


.......


.......


*Author POV


Di sebuah ruangan besar nan gelap, terdapat lilin-lilin kecil yang di letakkan di atas lantai. Di dalam ruangan ini, ada kolam renang berukuran besar, berbentuk huruf U, kolam renang tanpa atap meski di tutupi oleh tembok tinggi di sekelilingnya.


Dedaunan meranggas dan memenuhi permukaan air kolam. Sementara itu, di pertengahan kolam renang yang berbentuk U, terdapat sebuah saung dengan kelambu putih yang menutupi sekelilingnya.


Lilin-lilin tadi mengelilingi saung tersebut, tak bergeming meski angin meniupnya dengan ribut.


Di dalam saung, ada seorang lelaki yang duduk di sana. Ia menghadap ke sebuah tampah berisi bermacam-macam bunga, sebuah kendi berisi darah, serta kemenyan yang di bakar di dalam wadah kecil, membuat asapnya berbaur di segala sisi. Di dekat tampah, ada sebuah kertas dan juga paku yang ujungnya telah di rendam oleh darah.


Lelaki tersebut menyomot bunga dan melemparkannya ke dalam api kemenyan. Aroma harum dan aneh mulai tercium, mulut lelaki ini komat-kamit, membaca mantra yang hanya ia seorang yang mengetahuinya.


Ia mengenakan baju hitam seperti jas hujan, tapi menutupi seluruh kepalanya, hanya menyisakan wajahnya saja. Ketika mulutnya semakin cepat bergerak, paku yang berada di atas kertas perlahan bergerak.


Ia terkesiap, bukan kaget karena ketakutan, tapi karena merasa senang. "Akhirnya, kau membalas pesanku, tuan." tukasnya gemetaran, karena menahan tawa girang.


"Aku, sebagai pengikutmu.. ingin mengetahui keadaanmu yang sesungguhnya, tepat setelah kejadian membingungkan itu terjadi. Kau, tak mungkin dengan mudah pergi dari dunia ini, kan?" ucapnya lagi. Jika di lihat dengan kasat mata, ia hanya bicara seorang diri seperti orang yang tak waras, tapi di balik itu semua.. ia memang memiliki teman interaksi, namun tak semua orang bisa melihatnya.


"Jadi, sebagai budak yang patuh padamu.. apa yang hendak ku lakukan sesuai keinginanmu?" tanyanya.


Perlahan namun pasti, paku karat di atas kertas mulai terangkat. Paku tersebut bergerak dengan posisi tegak di atas kertas, seolah di gantung oleh tali transparan di atasnya. Satu persatu huruf mulai di tuliskan, dan dengan tak sabaran, lelaki tadi membacanya.


Ia tersenyum, meski tulisan yang di hasilkan tidak indah atau makna yang di tuliskan tidak berarti puitis, tapi ia tersenyum ketika mendapati tugas dari iblis yang ia panggil tuan.


"Oh, jadi.. itu yang ingin tuan perintahkan kepada saya? Tuan hanya meminta saya melakukan hal itu saja?" gumamnya, seperti orang yang sedang berkumur-kumur.


Paku tersebut kembali bergerak, dan senyuman indah kembali merekah dari wajah lelaki tampan yang terus-menerus tertawa.


Ia menutup sebelah matanya sambil melirik tajam ke arah sebuah lukisan besar yang berada tepat di hadapannya dan menempel di antara tiang kiri dan kanan. "Baiklah, aku akan melaksanakan tugas darimu.. Tuan, Barend Otte." gumamnya dengan suara yang dalam.


.........


Kepala sekolah sedang sibuk dengan tumpukan kertas yang berada di hadapannya. Ia sedang membuat rencana kerja sekolah, yang belum sempat di selesaikan oleh kepala sekolah yang dulu.


Tengah sibuk mengerjakan hal tersebut, tiba-tiba saja telepon di sampingnya berbunyi. Ia mengambil telepon berkabel tersebut dan menempelkan di antara telinga dan pundaknya, dan kedua tangannya masih sibuk dengan keyboard komputer tabung yang ada di hadapannya.


"Halo, selamat pagi." sapanya. Ia terdiam, menunggu perkataan yang ingin di sampaikan oleh si penelepon.


Tiba-tiba saja ia langsung melepaskan perhatiannya dari komputer, dan lebih memilih fokus pada benda yang kini berada di telinganya.


Ia pun meletakkan telepon ketika lawan bicaranya menutup pembicaraan. Ia menghela napas panjang. "Melamar kerja menjadi OB di sekolah ini?? Apakah seburuk itu perekonomiannya setelah tak bersama nona Arsya?? Tapi, kenapa dia harus melamar kerja di sekolah ini, bukankah sama saja, sekolah ini pun sekarang menjadi milik nona Arsya??" gumamnya sembari menatap layar komputer di hadapannya.


"Ah, jadi begitu!!" Ia tersenyum usai tersentak dan menepuk meja. "Ini namanya metode untuk menarik perhatian mantan. Hahaa, ternyata mantan suami nona Arsya masih mencintainya, kah?? Rela sekali menjadi OB demi dapat perhatian mantannya. Boleh, boleh.. Ada baiknya jika ia segera bekerja di tempat ini. Semoga mereka bisa rujuk kembali." tambahnya, sambil kembali melanjutkan pekerjaannya lagi.


*Author POV End


.......


.......


.......


.......


Saya menatap sendu ke satu arah, rasanya mulai bosan tergeletak kaku seperti ini. Tapi untungnya, saya masih bisa melakukan telepati dan berbicara di dalam hati. Kalau sampai kiyai pun membatasi hal tersebut karena berhubungan dengan ilmu gaib, habislah saya. Lebih baik dia melenyapkan roh saya saja, tak mau saya begini terus-terusan.


Waktu terasa melambat. Tapi saya masih terus menghitung waktu mundur, sampai tiba pada malam Jumat Kliwon, tepatnya di hari ini. Sekarang sudah masuk waktu Maghrib, saya menghitung berapa kali adzan dalam satu hari ini, dan ini adalah adzan keempat.


Sejak sore tadi, saya mulai merasakan ada hal yang aneh di dalam tubuh saya. Entah kenapa, rasanya seperti menjadi air mendidih, meledak-ledak dan panas, bahkan saya ingin sekali menghajar siapa saja yang lewat.


Aura ini aneh, rasanya seperti demam tapi bersemangat. Kalau atlit, mungkin ini seperti memakai doping. Jantung berpacu dengan cepat, gemetaran dan rasanya ingin bergerak dengan lincah. Tak mau hanya berdiam diri saja.


Perasaan yang menggelora ini membakar diri saya. Saya terengah, dengan keringat yang mulai mengalir deras. Si*lan, saya ingin bergerak.. melepaskan perasaan aneh ini. Saya tak tahan, apakah ini sudah waktunya untuk melepaskan diri??


Tapi Tamusong bilang, saya harus menunggu di jam dua belas malam. Itu adalah malam yang terbaik.


Ketika tubuh saya terasa mendidih, tali-tali yang mengikat ini bereaksi. Saya bisa merasakannya. Benda ini, seperti sengaja menekan kekuatan tersebut, menyedotnya hingga saya merasa pada kondisi yang kembali normal.


Tapi itu tak berlangsung lama, energi saya kembali meningkat dengan pesat, dan saya mulai kepanasan hingga menggerakkan beberapa bagian tubuh saya.


Dan tali ini kembali menyerap tenaga tersebut, dan itu berlangsung secara berkali-kali hingga sampai pada waktu isya. Saya mendengar suara adzannya, dan ini.. memberikan suatu tekanan yang melemahkan kekuatan saya.


Rasanya lemas, seperti orang yang sedang berpuasa dan kekuarangan cairan. Tak sanggup, energi yang naik turun ini seakan membuat saya merasa mual.


Saya mulai berbalik, tengkurap dan berjalan melata bagaikan ulat keladi. Saya merayap dengan bantuan dagu, karena tangan saya pun terikat kuat.


Panas!! Panaaas!! Rasanya panas!!


Saya menggeram, kalau seandainya mulut saya tak di belit oleh tali, mungkin saja saya sudah menjerit.


Semakin malam, tubuh saya semakin menunjukkan tanda-tanda aneh. Panasnya sudah tak tertahankan, aura panas dari dalam perut saya seolah beriak dan hendak menerobos keluar.


Kali ini, saya tak merasa bahwa tali ini semakin kuat, ia tak menghisap tenaga terlalu banyak. Apakah jangan-jangan, kemampuan hisapannya sudah mencapai batas?


Tapi, saya.. saya merasa panas.. Benar-benar panas. Seperti terbakar, panas sekali!!


Dalam diam, saya tak bergeming. Namun tidak dengan kekuatan saya. Ia terus beradu, berusaha melepaskan diri dari jerat yang mengikat ini, seolah hewan liar yang berusaha lepas dari dalam kandang. Maka ketika keluar, siapa saja akan di terkam dan di mangsa olehnya.


Tali-tali kuat ini perlahan merenggang. Bahkan saya bisa melihat beberapa di antara talinya mulai berserat dan hendak memisahkan diri satu dengan yang lainnya.


Tangan saya yang awalnya terjepit, kini bisa mulai terbebas sedikit.


Auuuuuuuuu!!!


Suara lolongan anjing terdengar, atau saya tak percaya kalau itu betulan anjing. Kekuatan saya berkumpul, penuh dan tak terkendali. Mata saya terasa terbalik, dan saya tak mampu mengendalikan energi ini.


Buuuum!!


Suara ledakan terdengar, disertai angin kencang akibat hembusannya. Tali-tali ini putus, dan saya terpelanting tak tentu arah.


Saya menghantam dinding pembatas, dan darah hitam keluar dari mulut saya. Saya mendengkus, menyekanya dengan pundak baju. Tapi kedua mata saya terbelalak ketika mendapati sesuatu yang janggal.


Tubuh saya bercahaya dengan terang, warna putih silau. Sementara baju yang saya kenakan, kini serupa dengan darah yang saya keluarkan.


Apa-apaan ini?? Saya berubah?? Menjadi kuntilanak merah??


.......


.......


.......


.......


...Bersambung......