
Dua orang prajurit berpangkat sersan menatap seorang pria yang baru saja masuk ke sebuah mobil. Gerak-gerik pria berpangkat letnan dua itu diperhatikan seksama oleh keduanya. Mobil yang dimasuki pria berpangkat letnan dua itu melewati pos dan kedua sersan itu memberi hormat kepada Fajar yang baru saja berlalu dengan mobil yang dikendarainya.
"Pak Fajar itu kalau dilihat-lihat tampan juga,ya?Baik lagi. Sayangnya karena beliau masih baru jadi belum bisa gabung akrab dengan anggotanya." tutur Irfan. Secangkir kopi ia seruput tepat setelah ia duduk di pos penjagaan. "Aku sering ditraktir makan siang,lho"
"Menurutku biasa saja." tangkas Reza.
Irfan melirik, menyelesaikan maksud untuk tersenyum. Ia bisa membaca jika Reza ada rasa cemburu dengan letnan baru itu. "Ah, kamu paling hanya cemburu"
"Siapa yang cemburu!!"
"Kelihatan dari wajahmu"
Reza salah tingkah.
"Reza, kamu kan sudah bulat mau berpisah sama istrimu. Comblangkan saja dia dengan pak Fajar. Apa lagi mereka saling kenal,kan? Jadi lebih mudah. Dari pada ntar istrimu menikah dengan orang yang nggak jelas, kan kasian anakmu juga nanti. Mending sama pak Fajar. Sudah jelas dari segi ekonomi dia pria yang mapan, dari segi usia juga sudah dewasa dan matang. Pria macam dia pasti lebih bertanggung jawab"
"Kamu ini melantur ya, Fan? Jadi menurutmu, aku ini tidak bertanggung jawab?!"
"Jelas iya,Reza." Budi tetiba saja muncul dari samping Reza. "Wong buktinya kalian mau cerai kok."
"Benar tuh,apa kata bang Budi." Irfan tersenyum "Kamu udah menyia-nyiakan anak istri, tidak hanya lahir, tapi juga batin. Kalau bukan kamu tidak bertanggung jawab, lalu namanya apa?"
Reza diam mematung.
"Aku berkata seperti ini sebagai teman loh,ya." Irfan kembali menyeruput kopinya, menghirup aroma kopi panas yang menguapkan asap-asap beraroma wangi.
"Ya, kalau aku jadi Dek Dinda, pasti milihnya pak Fajar. Hahahaha" Budi menepuk-nepuk pundak Reza.
"Permisi" sapa seorang wanita.
Reza kaget melihat wanita yang berdiri di depannya. "Siska?!"
Wanita yang mengenakan Hem batik dan celana jeans itu tersenyum. Reza berdiri dan segera pergi membawa wanita itu menjauh dari rekannya.
"Ngapain kamu kesini?"
"Ih, mas Reza kok gitu,sih?" Siska cemberut. "Aku kangen tau"
"Kan aku udah bilang, Ibuku datang. Untuk sementara kita nggak bisa ketemu dulu"
"Justru itu, Mas. Aku pengen ketemu sama calon mertuaku. Aku udah bawa oleh-oleh juga." Siska menunjukkan paper bag silver yang dipegangnya.
"Buat apa?"
Reza menepuk jidatnya, "Aku masih kerja. Baru satu jam lagi pulangnya."
******
"Kamu siapanya Reza?" ucap ibu Reza. Ia menatap Siska dari ujung kepala hingga ujung kaki. Reza jadi salah tingkah.
"Saya calon me.. "
"Kawan lama, Bu" sela Reza. "Dia teman SMAku dulu. Mau reunian. Aku ke dalam dulu ya"
"Oh... Suaminya mana,mbak? kok nggak diajak?"
"Saya belum menikah" jawab Siska rada keki. Siska berusaha mengalihkan pembicaraan. "Oh ya,ini ada oleh-oleh buat ibu. Ini kimchi dari Korea. Kemarin saya liburan ke sana. Beli banyak."
"Wah, makasih ya,nak. Tapi sayangnya ibu nggak doyan makanan begituan. Tapi istri Reza pasti suka."
"Oh ya? Bagus deh. Ehm, istri Reza mana Bu?" Siska berusaha ramah meski dalam hatinya jengkel.
"Istriku kerja." Reza muncul dengan pakaian yang telah berganti menjadi kaos dan celana pendek.
*****
Suara air bergemericik ketika menghujani piring dan gelas dari keran air. Sisa-sisa sabun di piring dan gelas itu dibilas Dinda hingga bersih. Suara denda gurau antara nenek dan cucu itu terdengar hingga ke dapur. Suara Tv yang sedang menayangkan kartun Spongebob tak kalah kencangnya. Dinda membersihkan tangannya pada lap kain yang menggantung. Melirik dari jendela dapur yang kecil, menutup tirai gorden jendela kecil itu.
"Sudah gelap begini, Mas Reza belum pulang. Tidak mungkin di rumah Om Irfan. Motornya nggak ada. Pasti menemui wanita itu!! Ah, sudahlah, bukan urusanku"
Melalui pintu dapur ia keluar dengan sebuah senter kecil, mengecek ayam-ayam peliharaannya di kandang. Jika siang hari ia meminta tolong Mang Nurdin untuk mengurus ayam-ayam peliharaannya untuk sementara.
Suara motor terdengar memasuki halaman rumah, lalu terdengar lagi di garasi. "Pasti Mas Reza. Ah, biar saja, ada ibu yang membuka pintu" Dinda masih berada di sebelah kandang, memastikan kondisi ayam-ayamnya untuk beberapa saat, lalu masuk kembali ke dalam. Pintu dapur ia kunci ganda biar aman.
"Dinda, Dela sudah tidur"
"Iya Bu. Biar saya pindahkan ke dalam kamar"
"Tidak usah, biar aku saja" sela Reza, kemudian segera menggendong tubuh mungil putrinya.
"Dari mana saja kamu,Za! Masa cuma ngantar teman lama sampai jam segini baru pulang?" tanya ibu mertua Dinda.
"Teman lama?" Dinda mengernyit
"Iya, tadi sore. Ada teman Reza waktu SMA datang kemari. Katanya mau ada reuni." Jelas ibu. "Awas ya kamu,Za. Besok kalau reuniannya sudah selesai, jangan berhubungan terlalu jauh sama temanmu. Ingat, kamu sudah punya istri"
"Iya, Bu." jawab singkat Reza tanpa berani menatap mata ibunya juga Dinda.