RUN

RUN
Power



*Author POV


Para hantu menatap kesal ke arah lelaki bertubuh pendek ini. Mereka mengatup mulut dengan rapat dan beberapanya segera beranjak, seolah merasa tertantang dengan apa yang telah ia ucapkan barusan.


Bagaimana tidak, di antara mereka ada hantu yang telah lama meninggal, dan tentu saja sudah bisa menguasai kekuatan kuntilanak, tapi Adam?? Ia yang baru meninggal hampir satu bulan lebih malah menantang mereka. Tentu saja ini membuat mereka lumayan berang, terlebih lagi Adam adalah anak dari seseorang yang mereka benci, lengkap lah sudah kemarahan mereka pada anak lelaki itu.


Para hantu berada di sekelilingnya, berdiri mengambang dengan kedua tangan yang berada di samping tubuhnya. Mereka tak bergeming, tapi raut wajah mereka mengisyaratkan kemarahan.


"Kenapa cuma tatap-tatapan? Saya menantang bertarung, bukan adu siapa yang pertama kali mengedip, tahu!" cecar Adam, membuat para hantu ini menjerit sembari terbang melayang ke arahnya, bagaikan kantong kresek yang tertiup angin.


"Kyaaaaaaak!! Mati kau!!" seru mereka, tiga orang maju bersamaan. Bukannya panik, Adam malah mengembangkan senyum tapi tak berniat untuk beralih.


Salah seorang Kuntilanak mengeluarkan kekuatannya, kuku tajam yang panjang dengan kulit tubuh yang berubah menghitam, layaknya mayat yang sudah busuk.


Ia mengarahkan kukunya ke wajah Adam, dan lelaki cebol ini mencondongkan tubuhnya ke belakang, layaknya sedang kayang. Dua di antaranya melesat cepat, hendak menyambar kedua kakinya yang putih pucat.


Adam langsung menjatuhkan kedua tangannya ke udara, satu cm di atas lantai, membuat kakinya terangkat, bagaikan sedang salto belakang.


Tapi ternyata ia tak melakukan hal tersebut. Kedua tangannya ia gunakan sebagai tumpuan, dan kedua kakinya yang melayang lebih tinggi dari kepalanya pun menerjang, menghantam perut dua sosok yang hendak menyergahnya.


"Argh!!" mereka mengerang, ketika tendangan Adam mengenai tepat di sumber kekuatan mereka. Yaitu dasar perut.


Sesosok kuntilanak berkuku panjang mengayunkan tangannya tepat dan lurus di atas perut Adam. Sosok ini mengembang senyum, karena beranggapan telah berhasil mengenai Adam.


Kedua matanya menatap lekat ke arah lelaki yang rambutnya melayang lembut, mengenai besarnya kekuatan yang ia lancarkan. Ia memejam, tak lama.. hanya sekitar sepersekian detik. Dan ketika kedua matanya terbuka di waktu bersamaan..


"Apa?!" kuntilanak ini terbelalak, terkejut karena sosok Adam tadi sudah menghilang dari hadapannya. Alhasil, ia hanya mencakar angin dengan sekuat tenaga, sama sekali tak mengenai apa yang telah ia perhitungkan.


Tangannya menyelusup, menyentuh udara di atas lantai akibat lesatan serangannya. Baru saja mendarat satu detik di lantai, ia kembali di buat terkesiap dengan sesuatu yang bersuara di dekatnya.


"Kamu berharap itu bisa mencabik-cabik saya?" tanyanya, membuat kuntilanak ini segera menoleh ke belakang. Ketika hendak melakukannya,


Buaagh!!


Pukulan dari bola kekuatan menghantam tepat di wajah si kuntilanak. Bahkan saking cepatnya, ia belum sempat sama sekali untuk menoleh ke belakang.


Akibat serangan tadi, ia berputar di udara, dan terhenti ketika tubuhnya menghantam dinding ruangan seni. Darah busuk yang menghitam kembali keluar dari mulut dan hidungnya. Kalau seandainya mereka bukan sesuatu hal gaib, mungkin saja giginya telah patah akibat serangan tadi.


Para kuntilanak yang menyaksikan hanya bisa mengerjap, takjub dengan kecepatan yang di ciptakan oleh Adam.


Mereka yang awalnya geram, kini tampak gentar. Mereka ketakutan, setelah melihat apa yang telah terjadi.


Adam menyungging senyum, meski terlihat cool tapi kesan wajah lucunya tidak pernah pupus. Ia melipat tangan ke dadanya, seolah-olah sedang meniru seorang pocong yang tangannya berada di balik kain kafan.


"Ayolah, masa' cuma segitu? Saya belum menunjukkan kekuatan lain dari kekuatan yang saya miliki. Ayo lawan saya, bukankah saya ini anak pembunuh? Jadi cepat tunjukkan, bagaimana kebencian kalian itu." tukasnya, membuat para hantu di lantai tiga saling melirik satu sama lain.


Para hantu yang semula terlihat padat dan jelas, kini berubah menjadi bentuk lain serupa benda hologram, bahkan warna dinding, serta benda-benda yang ada di belakang mereka terlihat jelas, benar-benar tembus pandang.


Adam terdiam, melirik keanehan yang terjadi pada diri mereka. Tubuh yang awalnya tampak gemulai dan lembut, kini mulai berubah kaku. Bahkan mereka sengaja menggerakkan kaki, tangan dan lehernya serupa gerakan patah-patah, membuat rambut panjang mereka menutupi keseluruhan wajah, dan itu lumayan terlihat menyeramkan bagi Adam.


Bahkan, beberapa di antara mereka mulai menunjukkan wujud asli mereka ketika mati. Yaitu kurus kering bagaikan ikan asin, bahkan bagian kulit mereka jatuh serupa serpihan-serpihan kecil. Baunya busuk, bahkan beberapa lalat mulai mengerumuni mereka. Kulit mereka menghitam, bukan gosong, tapi serupa kulit tubuh yang sangat kering hingga merekah bagaikan tanah yang kekurangan air.


Gerakan kepala mereka masih patah-patah, dan kini mereka mengangkat kepala sambil menatap Adam dengan tatapan yang tajam dan mengerikan.


"Hihihihi Hihihihi..."


Suara tertawaan mereka melengking, membuat Adam meringis dan menutup telinganya dengan kedua tangan.


"Ah! Si*l!! Berisik sekali!" keluh hantu lelaki itu.


"Hihihi.. Hihihihi.. Hihihi.." Mereka berteriak semakin menjadi, bahkan kini suaranya seperti jeritan yang menyakiti telinga.


Adam menunduk, menekan telinganya dengan kuat, hingga sesuatu yang hangat mengalir dari dalam lubang telinganya.


Ngiiiiing... Ngiiiiing...


Suara tersebut berdenging, membuat pandangan Adam berputar di tempat. Ia mulai sempoyongan, terkulai ke kiri dan kanan, tak mantap dalam posisinya.


"Hihihi, bagaimana?? Kau menyukai nyanyian ini?" tanya salah satu dari mereka, dan suara tertawaan itu masih bersahut-sahutan.


Adam yang tertunduk dengan bibir yang tertekuk, kini mulai menarik lengkung di bibirnya. Ia mengembang senyum, bahkan sampai gigi-giginya terlihat.


"Kuntilanak merah adalah kuntilanak yang terkuat." ucapnya, membuat suara mereka berhenti tiba-tiba. "Tapi, kuntilanak lelaki, adalah yang paling terkuat daripada jenisnya." Para hantu perempuan ini mengernyit mendengar ucapannya.


"Lalu bagaimana?? Kalau kuntilanak merah itu, ada pada diri kuntilanak laki-laki?" tanyanya, sambil mulai mengangkat wajah dan membalas tatapan mereka dengan tajam.


Adam mulai membuka mulutnya dengan lebar, dan....


Ngiiiiiiiing....


Para hantu perempuan berteriak dan mengelepar, bak ayam yang baru saja di sembelih. Mereka menutupi telinganya masing-masing, tak kuasa menahan lengkingan suara yang bahkan tak pernah mereka dengar seumur hidupnya.


Satu persatu dari mereka hendak terbang, tak tahan dengan pekikan ini. Ketika salah satu hantu hendak berbalik dan bersiap menembus dinding,


"Mau kemana kamu?"


"Kaaaaaaaaak!!" Ia berteriak kencang, terkejut dengan penampakkan Adam yang tiba-tiba muncul di hadapannya.


Para hantu ini terbang tunggang-langgang, berhamburan bagaikan debu yang tertiup angin.


Adam hanya melayang di tempat, menikmati ketakutan hantu-hantu yang berusaha lari dan kabur darinya.


Para anjing yang berada di sekitaran hutan dekat sekolah mulai meraung-raung. Para manusia yang rumahnya berada di sekitaran sekolah terbangun, dan melihat ke arah jam.


"Jam dua belas malam?" gumam mereka, membuat tubuh mereka meremang seketika tatkala suara para anjing mulai bising dan bersahut-sahutan.


"Auuuuuuuuu... Auuuuuuu.."


Suara mereka serupa lengkingan srigala, sedikit aneh dan manusia-manusia ini menyadari, kalau sepertinya.. para anjing tengah melihat apa yang semestinya tak mereka lihat, dan tentu saja penglihatan itu pun tak bisa di lihat pula oleh para manusia.


Beberapa orang beranjak dari tempat tidurnya, menyibakkan tirai dan mengintip dari jendela, melihat keadaan yang ada di luar sana.


Ketika tirai terbuka seluruhnya... Seringaian wajah menyeramkan dengan kedua mata yang melotot bahkan hampir keluar, muncul tepat di hadapan wajah si manusia.


"Tolong aku.. Aku ketakutan." ujar si hantu dengan rambut acak-acakan yang terurai panjang.


"Huaaaaaa!! Hantuuuu!!" pekik manusia ini sambil menutup tirai jendelanya. Ia berlari keluar kamar bagaikan orang yang kesetanan.


Sementara itu, seorang ibu yang memiliki bayi terjaga semalaman. Anaknya menangis tiada henti bahkan tak mau diam meski sudah di beri susu, di gendong dan timang-timang.


Ibu ini memeriksa pampers yang di kenakan anaknya, dan sang anak sama sekali tak poop, bahkan Pampers yang ia kenakan masih begitu kering.


"Aduh, nak.. Kenapa kamu dari tadi nangis terus sih?? Eek enggak, nyusu udah kenyang, di timang gak mau, kenapa ya?" tanya sang wanita dengan lingkar hitam yang terlihat jelas di bawah matanya. Ia menoleh ke arah suaminya yang tertidur dengan nyenyak. "Dasar kebo! Anaknya nangis dia enak-enak tidur!" keluhnya, sambil kembali menggendong sang anak.


"Ayo adik kecil, kakak temani kamu semalaman ya. Kakak takut di sekolah, ada hantu gila yang sedang mengamuk tak jelas." ujar seorang hantu kuntilanak dengan mata yang melotot, sambil tersenyum lebar dengan bibir yang hampir menyentuh telinganya.


"Uweeeek.. Uweeeeek.." sang bayi menangis semakin kencang, melihat wajah sang hantu yang tak tampak di penglihatan ibunya.


Di tempat yang lain, sepasang kakek dan nenek yang tengah tidur terkesiap, ketika mendengar suara nyaring dari si anjing. Mereka langsung beranjak dan mengambil wudhu, shalat dan berdoa, karena aura yang mereka rasakan cukup berbeda dari yang biasanya.


"Ni ade belis yang ngadu ilmu e. Ku lah lama idup di dunia ni, dulu e gati ngerasa mecem ni, sege orang jaman dulu gati ngerasok ilmu. Tapi ne lah ada ulik ok? (Ini ada hantu yang adu kekuatan. Aku sudah lama hidup di dunia, dulu sering merasakan hal ini, soalnya orang zaman dulu sering mengamalkan ilmu. Tapi kenapa sekarang ada lagi?)" tukas si nenek dengan bahasa Bangka.


"Aok mang ok. Kerasa belis ngadu ilmu ni. Asuk ge cigak ningok e. (Iya ya. Terasa seperti hantu yang adu kekuatan. Anjing saja heran melihatnya.)" timpal si kakek.


Kembali ke sebuah sekolah yang terlihat gelap di lantai tiga, Adam tertawa terbahak-bahak ketika para hantu lari ketakutan darinya.


Kesepian yang ia rasa kini seolah terbayarkan dengan pertunjukan menyenangkan ini.


"Kihihihi, mereka semua kabur seperti lalat yang sedang berebutan masuk WC karena mau eek." ucap Adam sambil tertawa terpingkal-pingkal.


"Menyenangkan sekali! Sangat menyenangkan malam Jum'at Kliwon ini. Tapi sayang sekali.." raut senang dari Adam lantas berubah seketika. "Para hantu di sini ternyata tak ada yang kuat. Padahal saya kan mau main perang-perangan hantu, kapan lagi saya punya kekuatan. Semasa hidup selalu mengkhayal punya kekuatan super dan bertarung dengan musuh hebat. Sekarang waktunya tepat, tapi kenapa lawannya malah tak sepadan? Baru di teriakkan saja sudah lari seperti orang yang kena tagih hutang."


"Lemah!" kecamnya sembari meledek.


"Sudah puas main-mainnya?" tanya sebuah suara, hingga membuat Adam langsung menoleh dengan raut terkejut.


"Gyaaaaaaah!!" pekiknya sambil menggerakkan tubuhnya ke kiri dan kanan, persis seperti bebek-bebek mainan yang di tarik talinya agar bisa berjalan.


"Anak nakal!" kecamnya.


.......


.......


.......


.......


...Bersambung...