
"Ah,Bu Danki, nih.. ngerjain saya"
"Hehehehe, nggak apa-apa toh. sekali sekali" Renata tertawa kecil. "Ngomong - ngomong,kok lama banget di toilet,Bu?"
Dinda tersenyum-senyum "Ketemu teman lama, Bu"
"Siapa?"
"Itu loh,Bu. Yang baru pindah di Yon kita"
"Pak Fajar? Danton yang baru selesai sekolah Capa itu?"
"Nah,iya,itu Bu. Kok saya baru tahu kalau Mas, eh... Pak Fajar pindah ke Yon kita?"
"Lah, Bu Reza jarang keluar rumah,sih ... Jadinya ya *kudet"
"Kudet*?"
"Kurang update" Renata tersenyum menahan tawa.
"Hehehehe, Bisa aja,Bu"
"Pak Fajar itu masih single lho,Bu"
"Untung tadi saya nggak nyeplos nanya mana keluarganya,Bu."
Dinda dan Renata menukar kupon sovenir mereka di meja depan gedung.
"Jadi kan,Bu Reza pulang bareng saya?"
"Ja..." Reza muncul tiba-tiba di sebelah Dinda. "Maaf Bu, biar Dek Dinda pulang bareng saya" sela Reza.
Renata mengangguk. Ia tersenyum pada Dinda. "Iya, silahkan saja. Bukan begitu,Bu Reza?"
Dinda terkejut dengan kehadiran Reza yang masih suaminya. " iya Bu"
Renata meninggalkan mereka berdua, mengedipkan mata pada Dinda, membuat Dinda semakin terkejut. "Apa maksudnya? Bu Danki nggak ngerjain saya lagi, kan?" kata Dinda dalam hati.
"Ayo Dek. Dela ikut siapa?" Mereka berdua berjalan pelan menuruni tangga gedung.
"Ku titipkan ke gurunya, temanku juga"
"Ok.. sekalian kita jemput Dela"
Sekilas Dinda melihat WA dari Siska, meski sudut hatinya ada rasa kecewa. Reza yang kebingungan menunjukkan tingkah yang aneh. Beberapa kali ia menggaruk ataupun mengusap belakang lehernya.
"Ya sudah, Mas. Kalau memang ada acara lain, pulang duluan saja."
"Aku jadi nggak enak. Aku antar kamu pulang dulu lah."
Sebenarnya kesal juga sama sikap suaminya yang nggak konsisten. Tapi ketika melihat ada peluang bagus di depan mata, Dinda malah tersenyum manis.
"Nggak usah. Entar ada yang marah. Aku pulang bareng Mas Fajar aja." Dinda melambai pada Fajar yang berjalan ke parkiran mobil. "Mas Fajar!!!" panggilnya.
"Nebeng ya!!" Ujarnya dari kejauhan.
Fajar melambaikan tangan,"Kemarilah"
"Aku pulang duluan ya, Mas" ujar Dinda dengan senyum yang menawan, kemudian berjalan cepat meninggalkan Reza.
Sudah bisa dibayangkan betapa heran dan kagetnya Reza. "Kenapa Dinda kenal sama Danton baru itu? Panggil mas, lagi!!"
Di parkiran yang sama, Renata yang berada di dalam mobil menyaksikan semua. Ia tertawa geli. "Bu Reza dan Om Reza.... Dasar!!"
###
Di dalam mobil Fajar.
"Tadi itu suamimu,ya, Dinda?"
"Iya,Mas"
"Kok nggak bareng pulangnya?"
Dinda menoleh "Jadi aku nggak boleh nebeng, nih?"
Fajar terkekeh,"Bukan... bukan begitu. Cuma heran aja sama kalian"
Dinda menyimpangkan tangannya dan menghela nafas panjang, meski raut wajahnya tidak menunjukkan kesedihan tapi lebih ke sudah menerima. " Kami sepakat cerai, Mas"
Saking kagetnya Fajar, ia mendadak menginjak rem. Dinda terhuyung ke depan. "Ada apa, Mas?" Tanya Dinda terkejut ketika Fajar menghentikan mobilnya mendadak.
Fajar tersenyum kecil,"Ah... enggak... Itu tadi ada kucing nyebrang. Aku kan jadi kaget... " dusta Fajar.
"Kirain apa, Mas!!" Dinda memukul pelan lengan Fajar.