RUN

RUN
Alasan Terkurung



Usai mendengar pertanyaannya saya masih terdiam. Bukan karena tak dapat bicara seperti sebelumnya, tapi saya benar-benar yakin, dengan siapa saya berbicara saat ini.


Anak nakal? Bocah nakal? Ya, itu adalah panggilan khususnya pada saya di depan saya, namun akan berubah jika ia berbicara dengan Ayuk. Saya, pasti akan di panggil Den Adam olehnya.


Saya termenung, sangat senang ketika mengetahui seseorang yang pertama kali berbicara pada saya setelah mati adalah dirinya, tapi saya juga sedih, karena penglihatan aneh ini membuktikan, kalau saya bukan lagi manusia seperti sebelumnya.


Penjaga sekolah, sekaligus pawang sekolah. Bukan sesuatu yang tak sopan atas ucapan saya barusan, hanya saja.. saya tak mampu mengucapakan atau menyebut namanya. Memikirkannya saja membuat telinga saya berdengung hingga mengeluarkan darah. Apalagi jika saya benar-benar menyebutkan namanya.


Ternyata.. ini adalah kehebatannya. Saya tahu, ia mampu menembus batin dan membaca isi hati saya ataupun orang lain ketika kami bicara berhadapan kala saya masih hidup. Tapi, ketika telah menjadi roh seperti ini, sepertinya saya menyadari, apa yang telah membuatnya di takuti oleh para hantu di sekolah ini.


Ia, tak mampu di lihat oleh mata tel*njang. Kami hanya bisa mendengar suaranya tanpa melihat rupa aslinya. Dia di lindungi oleh cahaya yang menyilaukan, bahkan di tutupi lagi oleh sayap-sayap aneh yang mengeliling seluruh tubuhnya.


Saya mengerjap, mengucek mata saya untuk berusaha melihatnya. Tapi yang terjadi, saya malah melihat rupa seseorang bertubuh besar tinggi di dekatnya. Berada di sisi kiri dan kanannya, dan sayap mereka benar-benar lebar, melebihi sayap bidadari palsu pada umumnya yang saya lihat kala kakak kelas bermain pentas seni. Saya menenggak ludah dan mematung, takut kalau bergerak, maka lelaki itu akan bergeming.


Saya masih terdiam, sengaja memberikan ia ruang dan waktu untuk memulai obrolan terlebih dahulu. Saya menahan pandangan, melihatnya mencoba mendekat, membuat sayap-sayap lelaki besar tadi perlahan mengencup, seolah dia paham betul, itu mengganggu komunikasi antara kami berdua.


"Sudah ku katakan, jangan ikut campur terlalu jauh. Ini perkara yang berbahaya, bahkan aku pun tak bisa melawan iblis itu." tukasnya lirih, pada akhirnya membuka obrolan di antara kami.


"Pun aku menyadari kalau aku terlalu percaya diri dengan mempercayai seorang anak berusia enam belas tahun untuk melakukan semua ini." lanjutnya.


"Dengar lah bocah nakal.. Sebuah sesal yang menyesakkan, yang mungkin akan menyakiti perasaanku seumur hidup..." suaranya terdengar aneh. "Aku, membiarkan anak sebaik dan sesholeh dirimu, mati dalam misi berbahaya ini." tambahnya, dengan suara yang bergetar hebat. Saya tak tahu bagaimana reaksi dan ekspresinya sekarang. Hanya saja, saya merasa kalau ia menangisi kematian saya.


"Kau mati karena misi itu! Kau mati karena hal itu! Kau mati karena berusaha melawan. Sudah ku bilang, aku tak mampu menolong dan melindungimu seutuhnya. Kenapa kau masih bersikeras dan datang setiap hari ke tempat itu? Kenapa?" tanyanya lirih, membuat dada saya terasa tercekat. "Kau mati, karena kecerobohan ku. Aku, benci sekali pada diriku sendiri."


Saya terdiam, seolah tak mampu untuk mendebati dirinya, padahal berdebat itu adalah kebiasaan yang selalu saya lakukan padanya. Saya menundukkan kepala, menahan tangis.


"Bu.." suara saya terdengar parau, saya menggeleng karena sesungguhnya tak sanggup lagi untuk berkata-kata.


"Bukan karena siapapun saya mati." lanjut saya, berusaha keras untuk mengungkapkan apa yang ada di hati saya.


"Bukan karena kecerobohan siapapun. Bukan karena misi apapun, bukan karena menantang atau bukan karena berani melawan." saya terdiam sesaat, membiarkan jeda membantu saya berbicara dengan sedikit lega.


"Tapi takdir saya memang seperti ini. Itu adalah sesuatu yang di gariskan. Yang maha kuasa tahu apa yang terbaik sementara saya tak mengetahuinya. Jodoh, rezeki dan maut, tak ada yang tahu. Jadi, jangan menyalahkan siapapun atas kejadian ini." ucap saya, membuat geraman suara yang setengah mati menahan tangis terdengar di telinga saya.


"Jangan takut." Saya melanjutkan dengan beban berat yang tertancap di pundak. "Jangan pernah merasa takut atas kematian ini. Tak ada yang mampu menyabut nyawa manusia termasuk si iblis. Saya... hiks.."


"Saya mati, karena takdir."


"Karena saya memang sudah di gariskan untuk mati." ucap saya, membuat seseorang yang berada di balik cahaya memecahkan tangisnya.


Saya meringis, berusaha agar tak menjatuhkan air mata yang sebenarnya telah terlebih dahulu tumpah. Gigi atas dan bawah saya bertemu. Bibir saya terbuka untuk meringis, menampakan gigi-gigi tersebut.


Saya mencengkeram dada dengan sekuat tenaga. "Lalu sekarang bagaimana? Apa yang saya lakukan di tempat ini?? Kenapa saya tak berada di tempat lain?" tanya saya dengan suara serak.


"Kau.. harus bertanggung jawab dengan ucapan mu sendiri. Kesalahan yang kau lakukan sendiri, kau harus bertanggung jawab dan menebusnya. Kau yang telah berjanji untuk menyelesaikan semua tragedi ini, maka kau harus benar-benar menyelesaikannya."


Saya menggeleng kuat, karena tahu saya tak mampu melakukannya sekarang. "Bagaimana?" tanya saya getir. "Bagaimana saya bisa menyelesaikannya, sementara saya berada pada kondisi seperti ini? Saya sendiri pun bingung, dan.." Saya terhenti, tak tahu harus mengatakan kalimat apa lagi.


"Kau harus menyelesaikan misi ini, dengan dirimu.. atau seseorang yang kau percaya bisa melakukannya." sahutnya.


Saya terdiam, memahami setiap bahasanya. "Bagaimana saya bisa mempercayai seseorang? Bahkan kau tahu, saya tak memiliki seorang pun teman di dunia ini."


"Tak ada manusia yang tak bisa memiliki teman. Allah menciptakan manusia lebih dari satu, agar kita mensyukuri nikmat, bahwasanya kita bisa saling berbagi suka, duka, sedih, keluh, dan kesah bersama dengan orang yang kau percaya."


"Ayukmu, Mbak di rumahmu, satpammu, supirmu, semuanya itu.. juga teman bagimu." tukasnya, membuat kedua mata saya terbelalak mendengarnya.


"Dan kau pasti tahu, Allah tak memberikan ujian di luar batas kemampuan umatnya. Meski sekarang kau telah gagal, tapi nanti.. aku yakin kau berhasil bersama dengan seseorang yang lain. Seseorang, yang kau lihat sebelum kemunculanku." lanjutnya, membuat saya kembali terkesiap sambil menggelengkan kepala. Tak percaya dengan apa yang ia katakan barusan.


Seseorang yang saya lihat sebelum kemunculannya?? Apakah lelaki bermata teduh dan berparas indah tersebut? Tapi, benarkah ia nyata? Ia hampir mirip dengan rupa fiksi yang di buat begitu sempurna di dalam imajinasi.


"Tapi, tetap saja. Hal gaib, biasanya terlebih dahulu di ketahui oleh yang gaib ketimbang manusia. Iblis itu pasti was-was atas permintaanmu barusan. Dan sesungguhnya, ia merasa ketakutan akan hal itu." kiyai terhenti, meski tak mampu memandang wajahnya, tapi saya tahu.. saat ini ia sedang menahan pandangan untuk dapat melihat ekspresi saya.


"Takut, akan darah keturunan laki-lakinya." tambahnya.


Saya mengernyit. "Tak ada lagi ketakutannya sekarang. Saya telah mati, dan Ayuk saya tak akan mampu membuatnya bergeming. Dia hanyalah keturunan perempuannya yang suka ngupil."


Penjaga sekolah terdiam, ia tak bersuara sekitar beberapa menit selepas ucapan saya tadi.


"Akan ada yang terlahir dan akan ada yang mati. Tunggu lah, meski selama apapun. Sampai kapan pun. Kau tahu, jika di dunia Allah tak mengabulkan doamu, maka di akhirat dia pasti akan memberikan itu. Intinya, dia selalu mengabulkan permohonan setiap hambanya yang berdoa. Baik itu ketika ia masih hidup, atau pun ketika ia telah tiada sekalipun.


Saya terdiam, kembali mencerna perkataannya. Akan ada yang terlahir, dan akan ada yang mati? Doa.. akan selalu di kabulkan?? Dan ia, meminta saya untuk menunggu.


"Apakah jangan-jangan, sebenarnya lelaki tampan yang menyerupai saya, itu benar-benar ada di dunia ini? Sungguh kah? Tapi kenapa sesempurna itu? Tanpa cacat sedikit pun? Manusia itu, diciptakan untuk menjadi nyata, bukan sempurna." lanjut saya, membuat penjaga sekolah mendengkus tawa.


"Kau benar-benar akan bertemu dengannya. Dengan harapan yang selalu kau ucapkan, dengan sahabat yang selalu kau impikan. Dan dia, adalah wujud sempurna dari kesempurnaan yang ada pada dirimu. Dan dia, akan mengemban misi yang berat dengan berdiri tegap atas nama Agama, dan atas nama Adam Suganda." ucapnya tegas.


Saya terdiam, sekujur tubuh saya merinding di buatnya. Apa-apaan kata-katanya itu. Seperti sebuah khayalan dan angan-angan. Tapi kenapa?? Kenapa? Kenapa saya seolah menelannya mentah-mentah, dan mempercayainya.


Tanpa sadar, senyum mengembang tipis di bibir saya. Saya sendiri tak tahu, tapi rasanya begitu lega dan senang mendengar kata-kata itu.


Menyukainya.


"Kapan? Kapan saya bisa bertemu dengannya? Dimana? Dimana saya bisa mencari dan menemukannya? Di sudut bumi sebelah mana? Di belahan bumi yang mana?" tanya saya dengan cepat, tanpa sadar saya malah tersenyum dengan air mata yang berjatuhan.


"Dia, ada di hatimu." tukasnya singkat, dan itu membuat saya terpaku lagi bisu.


"Kau mempercandai saya?" tanya saya, sedikit tersinggung.


"Dia akan muncul, belasan tahun lagi." singkatnya, dan itu seolah mengoyak jantung dan dada saya.


Sesungguhnya, bolehkan saya mempercayai manusia? Perkataannya seolah meyakinkan, tapi.. apakah itu benar adanya? Benarkah ia bisa melihat masa depan?? Tapi.. saya sendiri mengenal penjaga sekolah ini secara pribadi, dan saya tahu.. ia mengatakan hal yang telah ia lihat sebelumnya.


"Belasan tahun lagi?" Saya mengulang perkataannya. "Lalu, bagaimana cara saya untuk menemukannya?" tanya saya lagi, dengan sisa-sisa harapan yang seolah tak akan menjadi kenyataan.


"Izinkan aku, untuk mengurungmu di tempat ini."


Deg!!


Saya terkejut mendengar ucapannya. Apa-apaan ini? Kenapa ia ingin mengurung saya di tempat ini? Di tempat apa maksudnya?


"Kau pasti ingin menolak keinginanku?? Sebenarnya aku punya maksud melakukan ini." Saya mengernyit mendengarnya. "Karena nanti, ia.. akan menemukanmu di tempat ini. Tepat di jam, kau mati." lagi-lagi saya merinding mendengar ucapannya.


"Aku hanya akan mengurungmu di siang hari. Dan malam harinya, aku akan membebaskan mu untuk berjelajah. Apakah kau menyetujui hal ini?" tanyanya lagi.


"Kenapa saya harus di kurung? Di siang hari pula, apakah kau mempunyai alasannya?" sergah saya cepat.


"Tentu aku akan melakukan sesuatu berdasarkan alasan yang kuat. Selepas ini, mungkin akan ada memori yang terlupakan secara normal. Karena rasa berikutnya begitu menyakitkan. Jadi aku harap, pengurungan dirimu di siang hari ini akan membuatmu penasaran dan mencari kenapa kau bisa terkurung di tempat ini. Atau kemungkinan lainnya, kau akan masa bodo dengan hal tersebut dan benar-benar melupakannya."


"Tapi lambat laun, kau akan mengingat pembicaraan kita ini, dan sosok lelaki tampan yang menjadi kerinduan bagimu. Jadi, apakah kau mengizinkan aku untuk mengurungmu di tempat ini pada siang hari?"


Saya terdiam, berharap ada keraguan yang tersimpan. Tapi si*lnya, hati ini langsung menyetujui hal tersebut.


"Baiklah.. Saya, bersedia di kurung di tempat ini." tukas saya, begitu yakin.


"Kalau begitu, aku akan mengembalikan rohmu. Pejamkan matamu, dan..."


"...Tidurlah."


Seketika itu juga, seluruh penglihatan saya menghitam. Saya terdorong ke suatu tempat, terasa seperti melesat di bawa angin ribut. Dan...


Buuuum!!


Tubuh, kepala serta kaki saya terhempas kuat. Bagaikan jatuh dari lantai puluhan dan seluruh tulang-tulang saya patah, bahkan kerangka kepala saya pun pecah.


Semuanya menghitam... dan saya merasakan kematian ini dua kali.


Menyakitkan. Sekali.


.........


Kegelapan menyeruak di antara tirai-tirai terbang. Mata saya sayu, meski belum sadar sepenuhnya. Dinding yang saya tahu terasa kering dan berdebu, kini terasa lembab dan berbau karat, semacam darah.


Terlalu menyengat hingga memaksa kesadaran saya yang berada di awang-awang untuk segera bangun dan beranjak.


Tapi...


Tak semestinya begini, saya tak mengerti apa yang telah terjadi. Pun bunyi-bunyi bising yang sebelumnya tak pernah saya ketahui, terasa berputar-putar di kepala hingga membuat pusing.


Sekali lagi, saya hanya sadar tapi tak sepenuhnya. Entah apa yang terjadi, tapi rasanya serupa mimpi.


Tubuh yang ringan dan tempat random yang tak pernah di telusuri. Suasana gelap dan saya hanya melihat warna serupa hitam dan putih. Tidak untuk buta warna, saya adalah seorang pelukis dan saya mampu membuat beribu warna hanya dengan tiga warna dasar.


Ini memang aneh, janggal, tubuh tak beraturan serupa terbang tapi cukup kaku. Sebelumnya saya tak pernah merasakan situasi semacam ini. Dan ini semakin mempertegas kalau semua hanyalah mimpi.


*End Of Flashback


.......


.......


.......


.......


...Bersambung......