
Dinda duduk di ruang tengah.Ia sedang berkutat dengan buku catatan, kalkulator serta penanya. Sibuk menghitung- hitung. "Masih banyak yang kurang, aku harus cari kekurangan uang biar kandangnya cepat jadi" Dinda berpikir, ia sudah lebih benar-benar fokus rencana masa depannya sebagai peternak ayam. Ia sudah merasa tak banyak waktu lagi untuk tinggal di rumah itu.
Dinda mendapati Dela yang tadi menemaninya sudah tertidur di sampingnya. Ia mengambil remote lalu mematikan Tv. Bersamaan dengan itu ia mendengar suara Reza yang baru pulang. Sudah seminggu ini Reza sering pulang larut malam. Dinda tak tahu dan tak mau tahu kemana Reza pergi setelah pulang dinas. Dinda sudah merasa tak ada hak sejak menandatangani surat cerai itu. Tinggal menunggu tanda tangan Reza. Tapi Dinda heran mengapa Reza belum menandatanganinya.
Dinda berlari ke depan, membukakan pintu untuk Reza. Selalu dan selalu bertemu dengan wajah canggung.
" Sudah pulang?"
"Hmmm" sahut Reza.
" Sudah makan? Kalau belum akan aku......"
"Sudah, aku sudah makan"
"Oh, begitu" Dinda meninggalkan Reza yang masih di ruang tamu dan kembali ke ruang tengah, memindahkan putrinya yang sudah lelap ke dalam kamar.
Reza sendirian di ruang tamu. Beberapa hari ini ia sering pulang larut. Ia menghindari pertemuan dengan Dinda yang membuat hatinya tak karuan. Reza memutuskan menghabiskan sore hingga malam di rumah Irfan, kawan Lettingnya yang belum berkeluarga. Dia juga beberapa hari ini tak menemui Siska. Dan hal itu tidak pernah ia beritahukan pada Dinda karena ia sendiri bingung dengan alasannya.
Tumpukan bingkai foto yang disandarkan ke tembok menarik perhatian Reza. Foto itu adalah foto pernikahannya yang tadinya terpajang di ruang tamu. Reza menghela nafas panjang, ada perasaan sedih menggelayut di pikiran dan hatinya. Ia terjebak rasa di rencananya sendiri.
Reza ketakutan membayangkan jika suatu saat Dinda dan Dela tak ada lagi di dalam rumah itu. Suasana rumah yang dulu begitu damai sebelum ia berselingkuh. Ketakutan itu tak pernah terpikirkan sebelumnya. Dulu dia begitu dibutakan oleh cinta Siska sampai tak peduli dengan istri dan anaknya.
Di ruang yang berbeda, di kamar Dela yang kini juga telah menjadi kamar Dinda sejak hubungan suami istri itu retak, Dinda meletakkan tubuh Dela di atas ranjang lalu menyelimutinya. Ia memandang putrinya dengan rasa iba.
"Kasihan kamu, Nak. Masih sekecil ini tapi sudah harus bersiap dengan hal tak mengenakkan"
Terkadang Dinda berpikir tentang berita-berita yang beredar, jika anak dari keluarga broken home rata-rata tak bahagia dan imbasnya pada sikap anak. Lingkungan sangat berpengaruh dalam perkembangan psikologis mereka sehingga ketidak bahagian dikhawatirkan akan menyebabkan pembentukan karakter dan perilaku negatif. Dinda juga memikirkan hal itu, tapi Dinda percaya jika ia sungguh-sungguh memberi kasih sayang penuh pada Dela, ia yakin akan meminimalisir hal ketidak bahagian itu
Getaran HP Dinda membuyarkan pikirannya. Dinda mengecek HP dan ternyata ada pesan WA tanpa nama. "Dari siapa?" Dinda membuka dan membaca isinya.
Mbak Dinda, saya Irfan, kawan letting Reza.Maaf kalau malam-malam mengganggu. Sebenarnya akhir-akhir ini Reza sering tinggal di rumah saya sampai malam. Reza tak pernah cerita apa-apa, kerjaannya disini hanya melamun dan saya turut prihatin. Maaf cuma memberitahu agar tak terjadi kesalahpahaman.
Dinda membaca isi WA itu dan tertegun, Dinda membalas singkat isi WA itu.
Terima kasih Om Irfan
Dinda menghela nafas, kantuk mulai menyerang matanya, tapi ia harus mengambil buku yang masih tertinggal di ruang tengah.
Di ruang tengah, ternyata ada Reza yang sudah berganti pakaian.
" Iya" Reza melihat Dinda " boleh nanya?"
"Tanya apa?"
" Kenapa kamu nurunin foto kita, dek?"
Dinda tersenyum hampa, " Hmmm, iya, sengaja aku turunin, Mas. Selain memang karena kita sudah mau pisah juga.. "
" Juga apa?"
"Ah, bukan apa-apa"
.Pena Dinda terjatuh dari genggamannya dan menggelinding ke kaki Reza. Reza memungut pena itu dan berjalan lebih dekat ke Dinda untuk menyerahkan pena itu.
"Juga apa?" tanyanya pelan.
Dinda kaget dengan jarak sedekat itu. Ia mundur. " Juga untuk meminimalisir rasa sakit hatiku setiap melihat foto itu"
Reza terpaku, ia membuang muka, menghindari rasa bersalah. " Kamu seperti orang lain, Dek"
"Justru mas Reza lah yang telah lama berubah"
Reza semakin jatuh dalam perasaan menyesal itu. "Dek, waktu kamu nurunin foto itu apa nggak merasakan apapun?"
" Yang kurasakan hanya tak menyangka usia pernikahan kita begitu singkat. Kukira kamu pria terakhir di hidupku dan aku wanita terakhir di hidupmu. Ternyata semua salah"
Pernyataan Dinda bagai tamparan bagi Reza.
"Seandainya ada pria setelah aku, pria seperti apa yang kamu mau, dek?"
"Sosok pria yang menerimaku apa adanya, yang tidak memandang fisik. Dan yang selalu ada untuk istrinya"
"Lalu kenapa kamu tanda tangani begitu saja surat cerai itu tanpa berpikir dulu?"
" Kenapa? Bukannya itu memang keinginan mas? Saya hanya mengabulkannya." Dinda kembali pergi meninggalkan Reza di ruang tengah sendiri. Ia masuk ke dalam kamar Dela. Duduk di ranjang dengan air mata yang jatuh ke pangkuan. Bayangan temaram seolah muncul di sudut-sudut kamar.
Reza terkejut dengan setiap kalimat Dinda, ia tahu itu ungkapan perasaan kekecewaan terhadapnya. Reza yakin pria pilihan Dinda bukan yang seperti dirinya.