
Tamusong tampak terkejut mendengar perkataan saya. Padahal sebenarnya saya hanya bercanda saja padanya. Tapi.. kenapa raut wajahnya seperti panik dan ketakutan? Seolah saya benar-benar hebat seperti hantu yang ia ceritakan.
"Apa maksudmu itu?? Jadi maksudmu, kau lebih kuat darinya? Bahkan di antara semua hantu yang ada di kuburan ini? Begitu?" tanyanya.
Saya terdiam, sengaja memasang wajah datar dan serius, menambah kepanikan pada wajahnya. "Saya tak bermaksud begitu. Saya kan hanya bilang, dia belum mengenal saya saja. Kalau sudah kenal, siapa tahu mau jualan keripik sama-sama. Kau tahu Tamusong, lebih baik kerja sendiri daripada ada bosnya. Tak enak! Jadi, mau saya ajak jual keripik kulit." Tamusong langsung memasamkan wajahnya menatap saya.
"Apa hubungannya dengan menjual keripik, Kuno?"
Saya mendengkus tawa mendengarnya. "Ya tak ada hubungan memang. Tapi itu hanya umpama saja. Maksud saya, dari pada dia menjadi budak manusia, bukankah lebih baik mencari makanan sendiri seperti yang kita lakukan. Kalau mau darah hewan, datang saja ke tempat pemotongan hewan. Di sana kan ada banyak darah. Atau, minum saja darah yang ada di tempat donor darah. Benar tidak?" ucap saya, membuat Tamusong mengeluarkan tangannya hanya untuk mengurut dahi.
"Haaaah.. kalau semua hantu pikirannya sama denganmu sih bagus. Tapi sayangnya, para hantu tak ada yang berpikiran seperti itu. Lagian kau ini aneh-aneh saja. Anak seusiamu memang selalu menyepelekan hal-hal penting. Memangnya kau pikir mudah saja kita masuk ke tempat donor darah dan menghisap darahnya? Kalau itu bisa di lakukan, tak akan ada setan yang mau di peralat manusia. Mengerti?!" tukasnya marah.
Saya yang sedang berjongkok pun beranjak, membuat Tamusong mengerjap dan menatap saya.
"Sudah selesai makannya?" tanyanya heran.
"Sudah kenyang." sahut saya sambil terbang menuju ke sumur kuburan.
Tante muka gosong menoleh, menatap ke pohon melati. "Kenyang apanya?? Ini melatinya sudah kau habiskan, Kuno!" pekiknya sambil melompat mengikuti saya.
Saya duduk di besi penggerek sumur dan menunggu sampai Tamusong datang. "Hei Tamusong. Saya sudah melewati tahap dasar yang kedua. Berarti tinggal tahap dasar yang ketiga, maka kau akan menunjukkan bagaimana caranya mengendalikan kekuatan kuntilanak secara spesifik. Benar kan?" tagih saya.
Tamusong tak menggeleng ataupun mengangguk. "Kau benar. Tapi, tahap ketiga ini sedikit rumit sih. Aku harap agar kau tak bertindak berlebihan seperti menakuti manusia tadi. Dan jika kau melakukan tahap yang satu ini... aku punya pesan khusus untukmu." tukasnya, dan lagi-lagi wajah seriusnya itu membuat saya ingin tertawa.
"Pfftt.. Pesan apa itu?" tanya saya, sambil menahan tawa.
"Apanya yang kau tertawakan? Wajahku?!" terkanya kesal. Saya hanya menggelengkan kepala untuk berdalih. "Kalau seandainya kau merasuki seseorang, lalu orang yang ada di sekitaran sekolah tahu, biasanya mereka akan memanggil ustadz untuk datang dan mengeluarkan mu dari dalam tubuh manusia."
"Nah, kau belum pernah berhadapan dengan para ustadz kan?? Kalau belum, sebaiknya jangan bertindak sembrono dan menarik perhatian banyak orang. Rasuki saja seseorang yang kau rasa cocok, kemudian segera keluar."
"Aku tak memintamu untuk menunjukkan skill berlebihan, aku hanya memintamu untuk masuk lalu keluar setelah mengetahui caranya." lanjutnya, membuat rasa penasaran saya berkobar-kobar.
"Oke!! Saya tak akan bertindak sembrono dan berlebihan. Tapi ajari saya mengenai ciri-ciri manusia yang bisa di masuki. Tadi sih ketika hendak menyerupai guru, saya merasa si siswi yang menjadi target saya melemahkan konsentrasinya dan melamun. Saat itu, saya merasakan sesuatu dan yakin kalau bisa merasuki wanita itu. Tapi saya mengurungkan niat itu, masa' saya langsung melompat ke tahap ketiga sih." gerutu saya.
Tamusong mengernyitkan dahi hingga bibirnya terangkat ketika mendengarnya. "Heh, ternyata kau ini seseorang yang perfeksionis. Tak mau melangkahi tahap yang sudah di ajarkan. Bagus.. bagus.. artinya kau menurut pada gurumu ini. Kahahaha..." Ia tertawa sejadinya.
"Lakukan hal yang ku katakan tadi. Dan apakah kau mau aku mengulangi penjelasan tentang bagaimana cara merasuki tubuh manusia?" tanyanya.
"Heh! Tamusong pikir saya ini dungu? Saya sudah hafal penjelasannya tahu!!" gerutu saya kesal.
Ia menganga mendengarnya. "Yang benar? Perasaan aku hanya mengatakannya satu kali padamu. Masa' sih kau langsung mengingatnya. Mustahil sekali." Ia terdengar meremeh.
"Hah, sebenarnya saya malas membuang-buang tenaga untuk mengatakannya. Tapi apa boleh buat." Saya mendehem sebelum memulai.
"Tahap dasar yang paling tinggi adalah yang ketiga. Tahap ini, adalah merasuki jiwa manusia. Tahap ini cukup rumit, dimana kau harus menemukan kecocokan pada sesuatu yang ingin kau rasuki. Momen dan juga situasi sangat di perhitungkan. Pikiran dan juga jiwa manusia perlu di pertimbangkan agar kau berhasil masuk."
"Moment yang perlu di pertimbangkan adalah situasi di mana manusia itu hanya sendiri. Sendiri di sini tak harus benar-benar sendiri. Tapi kita berbicara tentang jiwanya. Merasa kalut, sedih, tak mempercayai seseorang, khayalan yang terlalu tinggi dan selalu ketakutan."
"Lalu, dia harus merasa sangat ketakutan, entah itu karena situasi yang sengaja kau ciptakan, atau dia memang takut pada cerita-cerita seram yang sengaja di cari atau di dengar."
"Selanjutnya, dia berada di tempat yang angker, atau daerah kekuasaan para makhluk halus."
"Dan yang terakhir, jiwanya harus kosong, dalam artian.. suka atau selalu melamun. Yang terakhir adalah kesempatan emas, dan kita paling cepat merasuki jiwa mereka. Begitu kan yang kau jelaskan pada saya?" terang saya panjang lebar, membuat Tamusong menggelengkan kepalanya sembari bertepuk tangan dari balik kafannya.
"Ckckck! Luar biasa. Kau mengingat perkataanku sedetil itu, padahal aku hanya mengatakannya satu kali saja. Kau ini cerdas sekali, apa jangan-jangan matinya tersambar petir di otak??"
"Bukannya yang tersambar petir itu Tamusong? Kan gosong.." Ia terdiam mendengar perkataan saya. Sedikit salah tingkah dengan menggerakkan tubuhnya.
"Dasar kurang ajar! Begini-begini kematianku menyedihkan tahu!!" pekiknya.
Saya terdiam sambil terus mengamatinya. "Dimana-mana, kematian seseorang itu sudah pasti menyedihkan. Entah itu sakit, kecelakaan, di bunuh, semuanya sama-sama menyedihkan kok. Jadi kembali ke pembicaraan tadi, saya sudah boleh merasuki seseorang, kan?" tanya saya lagi.
Ia mendengkus dengan wajah sinis. "Boleh saja, tapi..."
"Yeaaaaay!! Sampai jumpa Tamusong!!" ucap saya seraya pergi meninggalkannya.
"Woi!! Belum selesai tahu!! Dengarkan dulu aku bicara!!" pekiknya dari belakang, namun saya hanya mengabaikan dan tetap berlalu meninggalkannya.
Hari ini masih malam, saya sudah tak sabar menunggu esok. Tadi sore itu saya hampir merasuki si siswi, tapi saya tahan niat itu, tak mau mendengar suara berisik Tamusong yang marah-marah karena tak sesuai dengan prosedur yang ia berikan.
Untuk besok, saya harus mempersiapkan diri. Gila!! Ini lebih mendebarkan ketimbang ujian mendadak di sekolah. Saya senang sekali!!
Setiap harinya, ruangan seni selalu di pakai untuk kegiatan melukis ataupun sekedar menyelesaikan mata pelajaran. Di tempat ini, orang-orang selalu di arahkan untuk melukis apa yang mereka inginkan.
Pengalaman saya sebagai manusia, sebelum melukis, saya pasti berimajinasi terlebih dahulu. Imajinasi ini membutuhkan waktu dan juga harus melambungkan pikiran ke suatu tempat yang di pikirkan atau yang di khayalkan. Terlalu banyak mengkhayal, biasanya membuat seseorang mengantuk dan melamun.
Ini keuntungan bagi saya. Saya bisa memilih korban yang melamun, dan tentu itu sangat mudah untuk di lakukan.
Sejauh ini, yang saya ketahui hanyalah tentang seseorang yang kesurupan, meskipun saya tak pernah merasakannya. Tapi, saya sempat berpikir, orang yang kesurupan itu, betulan kesurupan atau sedang bermain sinetron untuk mencari perhatian?
Aneh saja, ketika seseorang kesurupan, bertingkah aneh dan.. yah, saya tak yakin itu betulan. Saya berpikir, bagaimana kalau para hantu yang masuk ke dalam, tidak mau keluar lagi dari tubuh manusia? Apa yang akan terjadi??
Tapi sekarang, posisinya menjadi terbalik. Saya yang harus merasuki tubuh manusia yang sedang kosong. Dan kalau di dalam sana, apakah ada sensasi yang berbeda atau sama saja? Apa jangan-jangan, kesurupan yang sering terjadi di sekolah karena suruhan dari Tamusong?
Sepertinya tidak.. Itu pasti ulah korban Ludira.
Sebenarnya waktu berlalu dengan cepat. Tapi entah kenapa, saya rasa, kematian ini membuat waktu terhenti. Beberapa hari berlalu terasa bagai satu hari yang tak ada habisnya.
Membosankan? Tentu saja sangat membosankan. Beruntung saya bertemu Tamusong yang mau mengajari saya menjadi hantu kuat. Meski dia berniat memperalat saya menjadi kekuatannya, saya juga bisa mengambil keuntungan dari sini. Kemungkinan saya bisa melawan Ludira dalam keadaan roh begini. Dan.. mengendalikan kekuatan hantu pastinya.
Lonceng sekolah kembali terdengar. Di jam pelajaran pertama, tak ada yang masuk ke ruangan ini. Sepertinya tidak ada kelas yang memiliki mata pelajaran seni di jam pertamanya.
Saya celingak-celinguk dan mondar-mandir tak karuan. Di jam pelajaran ketiga, selepas istirahat, akhirnya ketukan sepatu dari Bu Desti terdengar menuju ke ruangan seni. Ya, saking sering mendengarnya, saya jadi hafal kalau itu adalah dia.
Ia menjadi yang pertama kali membuka pintu. Dari luar, ia berusaha menilik ke dalam ruangan, tak langsung masuk sebagaimana yang biasa ia lakukan.
Wajahnya memucat dan keringat sedikit mengalir di dahinya. Ia menelan ludah, sambil melangkah masuk ke dalam kelas.
Saya mengerjap, menatapnya dengan lekat dari atas lemari. Ia meletakkan alat lukis dan juga kanvas di atas meja, sambil terus menoleh sekitar.
Saya pun mendekati Bu Desti, tak lama ia bergidik dan menyentuh tengkuknya sendiri. "Kok jadi merinding?" gumamnya pelan. Saya bisa melihat tangannya yang gemetaran.
Ia.. ketakutan??
Ia duduk dengan was-was sambil mulai mendirikan kanvas di samping meja. Tak ada murid lain yang masuk, apakah ia kesini hanya untuk beristirahat seperti biasa, bukan sedang mengajar??
"Sebenarnya.. ada ketakutan dalam diriku pada tempat ini. Tempat yang sungguh ku sukai ini." suara hatinya mulai terdengar, bimbang dan getir.
Tangannya menekan cat air yang berbentuk pasta sikat gigi ke dalam wadah. Ia mencampur warna dasar, biru muda lalu menatap ke kanvas kosong yang ada di hadapannya.
"Kemarin, ada yang bercerita kalau melihat sosok anak lelaki terbang dengan kecatatan albino yang berada di depan halte, lebih tepatnya di depan kuburan." batinnya. "Lalu.. kemarin ada kabar dari warga yang sampai ke pihak kepolisian setempat, kalau seorang siswi dari SMA ini jatuh pingsan dan dalam keadaan yang sangat ketakutan. Siswi itu bilang, ikut kelas seni, dan bertemu denganku di ruangan ini. Padahal, kemarin aku izin tak masuk karena anakku sedang sakit." lanjutnya.
"Siswi itu tak mungkin bohong, ia pingsan berkali-kali dan sekarang berada di rumah sakit untuk penanganan. Ia tak mau makan dan minum saking ketakutannya. Cerita ini sudah heboh dan beredar ke masyarakat, sampai ke tempat tinggalku yang jaraknya lumayan jauh dari sekolah. Cerita ini tersebar dari mulut ke mulut, hingga aku yakin.. hampir semua masyarakat Bangka sebentar lagi akan mengetahuinya."
"Di luar semua itu, ada yang mengganjal di dalam hatiku." Ia mulai memandang ke lukisan yang saya buat. "Adam... kau kah itu?" tanyanya getir dengan kedua mata yang sendu.
Ia terdiam.. cukup lama ia terdiam menatap lukisan saya. Tak berkedip sama sekali, hingga tiba-tiba saja suatu sensasi aneh kembali terjadi. Di hadapan saya, sebuah lorong yang pernah saya lihat itu muncul kembali!
Saya melihat lorong lurus yang menembus ke dalam jiwanya. Ia.. sedang melamun, dan jiwanya sedang kosong sekarang.
Bu Desti?? Benarkah saya harus merasuki Bu Desti??
Tapi, rasanya tak tega. Ia adalah guru yang sangat baik terhadap saya. Ia juga sedih dan menangis perihal kematian saya. Rasanya, menjadi tak tega jika harus menjadikannya wadah yang saya masuki untuk merasukinya.
Tapi.. di sisi lain, Tamusong juga bilang..
"Nah, kau belum pernah berhadapan dengan para ustadz kan?? Kalau belum, sebaiknya jangan bertindak sembrono dan menarik perhatian banyak orang. Rasuki saja seseorang yang kau rasa cocok, kemudian segera keluar. Aku tak memintamu untuk menunjukkan skill berlebihan, aku hanya memintamu untuk masuk lalu keluar setelah mengetahui caranya." begitu katanya.
Sebenarnya, momentum ini bagus. Kami hanya berdua saja, dan tak ada orang lain disini. Kalau saya merasuki Bu Desti, saya akan segera keluar sebelum orang lain menyadarinya.
Saya tak diminta untuk menarik perhatian banyak orang, kan. Kalau saya berlaku sebaliknya dan menarik perhatian, pihak sekolah akan memanggil ustadz dan membacakan doa untuk saya. Saya pasti akan kepanasan mendengarnya.
Saya mengeratkan gigi. Bingung dan bimbang dengan apa yang harus saya lakukan. Tapi.. jika saya menarik perhatian banyak orang?? Ustadz, akan datang??
Kalau saya menarik perhatian banyak orang lebih parah, apakah orang itu akan datang juga??
Tapi, momen dengan Bu Desti ini pun tak boleh terlewatkan. Saya tak akan mendapatkan kesempatan yang sama sebanyak dua kali.
"Kihihih.." Saya mulai menertawakan diri sendiri. "Kalau saya bisa melakukan keduanya, kenapa harus memilih salah satunya??"
"Rasuki seseorang di kala sendiri, dan tarik perhatian banyak orang di keramaian." gumam saya, sambil terbang lurus menuju ke dalam lorong jiwa Bu Desti.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......