
"Abbe, ternyata kau yang datang dengan keributan di tempat ini?" tanya si pemimpin, membuat Abbe langsung bergidik dan tubuhnya seketika gemetaran.
"Ma.. maafkan kelancangan saya, tuan. Sekali lagi saya mohon maaf sebesar-besarnya." ucap Abbe, penuh penyesalan. Kasihan juga sih melihatnya seperti itu, sepertinya dia memang ketakutan dengan hantu di hadapannya ini.
"Pak pemimpin, sebenarnya saya yang menggedor pintu. Habis, si Abbe ketakutan sekali ketika berdiri di sana. Saya pikir, saya bisa sedikit membantunya dengan mengetuk pintu." terang saya, membuat Abbe semakin terkejut dan menatap saya tak terima.
Pemimpin ini menoleh ke arah saya, setelah sebelumnya terfokus pada Abbe saja. Ia menatap saya dari atas ke bawah, lalu menyisakan kernyitan di dahinya.
"Siapa kamu? Baru kali ini aku melihatnya." timpalnya, sama sekali tak mendengarkan penjelasan saya tadi.
"Saya Kuno, sekarang sih tamu. Mau namu, boleh tidak? Maaf nih malam-malam, ganggu waktu tidurnya." ucap saya, berbasa-basi hingga membuat pemimpin ini tertawa.
"Hahaha, basa-basi manusia?? Sudah lama aku tak mendengarnya. Apakah kau baru dua hari meninggal? Mengocok perutku saja!" ujarnya sambil terus tertawa.
Itu sih selalu saya dengar jika Yuk Arsya bertamu ke rumah orang malam-malam, jadi.. ya saya menuruti perkataan itu saja, apakah itu lucu baginya?
"Sudah berapa bulan sih matinya. Saya di usir dari tempat kematian saya karena telah membunuh manusia, jadi saya ke sini mau minta tempat tinggal. Berikan saya satu." pinta saya terus terang, seolah minta di buatkan air minum ke Mbak yang ada di rumah.
Abbe terkejut mendengar perkataan saya. "Apa? I.. itu, itu kedengaran seperti permintaan kaum bangsawan pada kaum jelata?" gumamnya tak percaya.
Hah? Miskin kaya, bangsawan jelata! Berisik sekali congornya! Dia tidak tahu saja, saat masih hidup saya ini anak sultan dan keturunan bangsawan.
"Siapa kau ini sebenarnya, apakah itu kebiasaanmu? Tapi, kau salah tempat jika meminta hal seperti itu pada orang yang lebih tinggi daripada kamu." ujar si Abbe, membuat saya menatap ke arah si pemimpin yang berada di hadapannya.
"Iya sih, tinggi saya cuma 149 cm." sahut saya, membuatnya tersedak ludah sendiri.
"Maksudku derajatnya, miskin!" balasnya.
"Ngomong yang jelas dong! Bahasa Indonesia mu remedial nih!" balas saya lagi, membuat pemimpin yang ada di hadapan kami ini menggelengkan kepala.
"Baru kali ini aku melihatmu banyak bicara pada hantu lain. Abbe, apakah kau menyukai anak ini untuk di jadikan teman?" tanya sang pemimpin, membuat Abbe menoleh dan seketika menggeleng sembari menundukkan kepalanya, seperti orang yang malu.
"Tidak! Itu karena dia sangat menjengkelkan! Dan lagi, setiap hantu yang ku cemooh, akan membenci, sakit hati, lalu menjauhiku. Tapi, bocah ini sepertinya biasa saja mendengar ocehanku. Bahkan ocehannya hampir mirip denganku." ucap Abbe, membuat pemimpin ini kembali tertawa. Bisa-bisanya ia memirip-miripkan kami berdua.
"Apasih? Cuma berkata seperti itu saja, tidak berasa sama sekali ke hati." balas saya, membuat dua hantu ini menoleh dan terkejut.
Tentu saja saya tak akan sakit hati dengan perkataan yang seperti itu. Bahkan, selama SD, SMP dan SMA.. kata-kata semacam itu belum seberapa sih. Di tambah lagi dengan mulut si najis Ariandi, dan juga perkataan Ayah ketika terakhir kali membunuh saya. Saya rasa, semua hal itu membuat saya mati rasa. Terlihat kebal oleh hantu lain, padahal.. karena saya terbiasa mendengarkan kalimat yang lebih buruk daripada itu.
"Ti.. tidak berasa?" Abbe mengulang.
"Ehem!" pemimpin hantu asing mendehem, membuat Abbe terperanjat kaget sambil kembali sedikit menundukkan tubuhnya. "Jadi namamu, Kuno. Dan kedatanganmu bersama Abbe ke sini untuk menghadapku, dan meminta persetujuan bergabung bersama kelompok ini?" tanyanya lagi, tak berniat sedikit pun untuk mengajak kami masuk dan bicara di dalam. Saya kan ingin melihat apa yang ada di dalam sana.
"Ya, kurang lebih begitu." sahut saya.
Pemimpin hantu asing ini mendengkus, kemudian memecah tawa sambil mengurut dahinya. "Kenapa kau repot-repot datang kemari, bukankah kau serupa hantu kuntilanak?" tanyanya, membuat saya menatap datar ke arahnya.
"Saya sudah datang ke sana, dan mereka menolak saya. Katanya, saya memang hantu kuntilanak, tapi saya memiliki perawakan yang berbeda. Wajah saya asing, makanya mereka tak mau menerima kedatangan saya dan menyarankan untuk mengunjungi tempat ini. Bahkan saya di antar Nana ke sini. Si pemimpin Kuntilanak katanya mau mengamuk kalau saya berada lama-lama di sana." terang saya, membuat Abbe dan pemimpin ini mengernyit.
"Lancang sekali Farisa menyuruhmu ke tempatku, bahkan tanpa sepengetahuan ku. Alasannya tak logis, harusnya kau tetap bersikeras tinggal di sana bukan?" ujarnya, tapi saya hanya menatap malas ke arahnya.
Sudah di tolak untuk apa bersikeras meminta tinggal di sana, seperti orang bodoh saja.
"Dia tetap menolak. Dia tak menerima hantu lemah dan juga yang berperawakan tampan. Makanya, dia bilang kalau sebaiknya saya pergi ke tempatmu."
"Apa katamu?!" si pemimpin ini tampak tak suka ketika mendengarnya. "Jadi dia menganggap kalau kelompokku lemah dan modal tampang saja?" geramnya.
"Saya tak bermaksud mengadu domba loh, itu memang alasan yang sebenarnya atas penolakan saya. Jadi bagaimana, apakah saya boleh tinggal di sini?" tanya saya lagi. Tentu saya ingin kepastian, bukan hanya sekedar di tanya-tanya tanpa adanya jawaban.
Pemimpin ini menghela napas panjang. Dahinya tampak mengernyit, menunjukkan garis-garis halus. Ia kembali memandang saya dari atas ke bawah, dan itu di lakukannya secara berulang-ulang.
"Hantu asing, tak hanya menerima manusia yang gentayangan dengan modal perawakan bule saja, tapi mereka pun harus kuat dan berwibawa."
"Sejujurnya, aku sangat terpesona dengan perawakan dan keindahanmu. Kau seperti kaum bangsawan atau manusia berdarah biru. Kau memiliki mata hijau yang menawan, yang menjadi ciri khas kalau kau tak berasal dari pribumi asli."
"Kau memiliki warna rambut yang menonjol dan berbeda. Tidak blonde, brown ataupun hitam. Warna rambutmu putih atau mendekati silver."
"Untuk kekuatan, aku belum bisa menilai mu. Tapi, memang hal yang pertama kali di pertimbangkan ketika menerima sesosok hantu adalah..."
"Penampilannya." tukasnya, membuat saya masih terdiam sembari mencerna maksud dari setiap ucapannya.
Ternyata, perkataan panjang lebarnya hanyalah sekedar basa-basi untuk menolak saya??
"Kau, tak berpakaian seperti kami ketika mati." ujarnya, dan saya hanya bisa mengernyit bingung.
"Hah?" Saya mendesah, karena hanya itu yang bisa saya ucapkan atas respon dari perkataannya.
"Lihat.. Apa yang sekarang di kenakan Abbe?" ujarnya sambil menunjuk lelaki yang berada di sebelah saya. "Dia mengenakan jas hitam dengan kemeja berkerah warna putih. Ia mengenakan sepatu hitam lengkap, dan rambutnya tertata rapi."
"Lalu, lihat bagaimana pakaianku." pintanya, tapi saya hanya melihat tanpa terlalu memperhatikannya. "Aku mengenakan jas serupa, dengan kerah bergelombang serta rambut yang tertata rapi. Itu lah yang ku maksud."
"Kita, ini berbeda kasta.. dan tak seharunya, hantu asing yang mengenakan pakaian elok, berwajah tampan, dan bertempat tinggal di istana, menerima seorang hantu berperawakan asing, tapi dengan pakaian Asia tenggara."
"Kau, terlalu kumuh dalam berpenampilan, dan itu membuktikan kalau kau tak cocok menjadi bagian dari hantu asing seperti kami." terangnya panjang lebar, benar-benar semacam omong kosong belaka.
Saya meringis, sedikit kesal dengan penolakannya. "Lalu sekarang bagaimana? Saya di tolak di sana karena berperawakan asing, lalu saya pun di tolak di sini karena berpenampilan hantu Asia? Jadi, sekarang saya harus tinggal di komplotan yang mana?" protes saya, membuat Abbe terkesiap. Mungkin dia kaget kenapa saya begitu berani untuk melawan dan menyahut perkataan pemimpin mereka.
"Aku tak perduli dengan masalahmu, aku hanya menerima para hantu yang sesuai dengan kriteria kami, dan jika tak memiliki semua itu, maka aku bisa dengan bebas menolaknya. Itu adalah wewenang ku." balasnya, membuat saya mendengkus sebal.
"Oke!! Tak masalah jika menolak saya malam ini, tapi biarkan saya bermalam di satu tempat! Malam ini saja, setelah itu terserah, mau mengusir saya atau tidak pun saya tak perduli." pinta saya, membuat pemimpin ini kembali mengernyit.
"Abbe, sebenarnya siapa yang memerintahkan mu untuk mengantar anak ini padaku?" tanya si pemimpin.
Abbe mencetutkan wajahnya. "Guru yang memintaku melakukannya, tuan Arnold." sahut Abbe, membuat pemimpin ini semakin mengernyit.
"Brian yang melakukannya? Apa alasan yang membuatnya menyuruh anak ini untuk menemui ku?" tanyanya, terlihat sangat penasaran.
"Mungkin, karena tadi saya di serang anak itu." sahut saya, membuat Abbe memelototkan kedua matanya pada saya.
Si pemimpin yang bernama Arnold ini mengerling, lalu menatap Abbe yang berada di hadapannya. "Kau menyerang hantu lain?" tanyanya tak percaya.
"Bu.. bukan begitu, tuan. Hanya saja, waktu itu aku sedang berlatih bersama guru Brian, tapi ia mendadak menghilang dan aku kesulitan mencarinya. Ketika terbang sampai ke pintu utama, tanpa sengaja aku melihat sesosok cahaya putih yang kuat. Aku langsung menyerangnya karena mengira itu adalah guru."
"Lalu, ternyata cahaya itu bisa dengan mudah menghindari serangan yang bahkan tak bisa di elak sebagian hantu ketika pertama kali melihatnya. Tapi, karena anak ini bisa menghindarinya, makanya aku menganggap kalau dia adalah guru yang sedang menyamar."
"Pertarungan sengit terjadi, hingga akhirnya guru datang dan mengatakan kalau aku salah serang. Makanya aku kaget dan menjelaskan pada guru, kalau anak ini bisa mengelak serangan ku hanya dengan sekali lihat saja. Itu mustahil dan menyebalkan, hantu miskin ini membuatku jengkel!" terang Abbe panjang lebar, tapi salut sih.. soalnya dia jujur sekali tanpa ada cerita yang di tambah atau di kurang.
"Woaaah, amazing!" sahut si pemimpin.
"Amazon." Saya malah membalas perkataannya itu, tapi sepertinya ia hanya abai dan pura-pura tidak dengar.
"Jadi, anak ini.. kuat?" tanya si pemimpin, tapi Abbe tak mengangguk ataupun menggeleng.
"Sepertinya kau beruntung, aku punya alasan untuk mempertahankan mu di tempatku." saya menghela napas lega mendengarnya. "Tapi, ingat.. aku hanya menerimamu sementara waktu. Setelah itu, kau harus bisa meyakinkan Farisa, pemimpin kuntilanak untuk dapat menerimamu kembali."
"Itu pun kalau kau masih mau kembali setelah mendapat penolakan darinya." ujarnya.
Saya mengernyit dan tetap menahan pandangan padanya. "Kalau saya mau selama-lamanya di sini, apakah boleh?" tanya saya, membuat Tuan Arnold mendengkus dan kembali menahan tawa.
"Kenapa, kau tak mau tinggal bersama mereka?"
"Tidak juga sih. Soalnya, pemimpinnya wanita. Saya kurang suka di pimpin oleh wanita." sahut saya, membuat tuan Arnold mengangkat alisnya dengan tinggi, seolah terkejut mendengar jawaban saya.
"Woah!! Kau punya pikiran yang sama denganku. Bahwasanya aku juga tak suka di perbudak oleh perempuan. Jadi, kau sungguh-sungguh ingin tinggal bersamaku?" tanya tuan Arnold, dan saya mengangguk untuk membenarkan ucapannya.
"Bagus, kalau begitu.. kau boleh tetap tinggal di sini, dengan satu syarat.. yang hanya kau, dan aku saja yang mengetahuinya." ujarnya, sambil berbisik dengan suara yang terdengar jelas.
.......
.......
.......
.......
...Bersambung......