
Sore itu Dinda menakar pakan untuk ternak ayam kampungnya. 7 gram untuk ayam DOC sampai umur seminggu, 19 gram untuk ayam sampai umur 2 minggu, dan takaran pakan meningkat sesuai umur. Nutrisi di pakan untuk ayamnya benar-benar Dinda perhatikan, protein kasar sekitar 12% dan energi metabolisme sebesar 2.500 Kkal/kg. Dinda sungguh serius menggeluti profesi barunya sebagai peternak ayam kampung. Ia berharap dari usaha ternak ayam kampung ini akan mampu mencukupi kehidupannya bersama Dela tanpa tergantung pada Reza.
Dela serius memperhatikan Mamanya ketika Dinda mencampurkan vitamin ke air minum ternaknya.
"Dikasih apa itu, Ma?"
"Vitamin, Nak." Dinda tersenyum pada putrinya.
Dinda memandangi ayam-ayamnya yang baru beberapa ekor. Terdiam merenung, berharap kandang yang ia bangun di lahan yang dibelinya segera jadi.
"Dela"
"Ya, Ma?"
"Besok Sabtu Mama mau lihat kandang ayamnya udah jadi apa belum. Mau ikut?"
"Mau,mau!" Dela menyambut riang ajakan Mamanya.
"Dela kok senang banget, Nak?" Reza muncul dengan masih berpakaian dinas, namun sepatunya sudahh dilepas sejak di luar rumah.
"Besok Sabtu Dela mau diajak Mama lihat kandang, Pa."
Reza duduk, mendengarkan cerita putrinya, mengusap rambutnya. Sesekali ia melirik ke arah Dinda yang mengurus ayam-ayam. "Papa boleh ikut, nggak?"
Dela menoleh ke Mamanya," Ma, Papa boleh ikut?"
Dinda tak menoleh, pandangannya tetap fokus ke ayam-ayam. " Oh, Papa mau ikut? Yakin? Besok Sabtu loh!" Dinda secara halus menyindir Reza yang tiap weekend sebelumnya jarang ada di rumah.
Reza seperti mati kutu.
"Nanti bilang mau ikut, tahu-tahu ada telepon, kemudian batal ikut. Seperti waktu itu, bilang mau pulang bareng, ada WA, eh... nggak jadi nganter" sindir Dinda. Ia membayangkan wajah Reza pucat.
Dinda lalu tertawa, melirik Reza," Kok serius banget ekspresinya, Mas? Aku cuma bercanda,kok. Kalau mau ikut, ya ikut aja"
Reza lega, lalu nyengir tertawa meski tawanya amat garing. Ia jadi malu sendiri.
"Oh ya, Ma. Om Fajar diajak sekalian,ya. Dela udah janji ngajak Om Fajar" Dela sebelumnya memang pernah bercerita ke Fajar kalau Mamanya membangun kandang dan bocah cilik itu berjanji mengajak Fajar untuk melihat kandang jika sudah jadi.
Reza tersentak kaget. "Aduh, kenapa si Danton harus ikut!!" Reza benar benar seperti anak ayam yang terpojok, nggak mungkin membatalkan ingin ikut jika Dinda sudah menyindirnya seperti tadi.
Dinda tersenyum, "Iya, Nak, Om Fajar nanti Mama telepon ya"
Reza lemas mendengar jawaban 'iya' Dinda.
" Nggak usah, Ma. Biar aku kerumah Om sekarang aja. Om Fajar tadi janji mau main sama Dela" Dela turun dari tempat duduknya. Lalu berlari keluar rumah.
"Jangan malam-malam pulangnya" teriak Dinda.
"Iya, Ma!!"
Reza memperhatikan Dinda mencuci tangan dan kakinya di kran dekat tanaman melati. Ada debaran jantung yang sudah lama sekali tidak ia rasakan. Dinda yang sadar kalau sedari tadi diperhatikan langsung menghampiri begitu selesai mencuci tangan dan kakinya.
" Sudah makan, Mas?"
Reza kaget, "Eh... ehm.. belum nich. Tadi jatah makananku diembat Yoyok."
"Pantas saja melihatku seperti macan kelaparan" canda Dinda. Reza tersipu malu. "Ganti baju dulu gih!! Tu di atas meja makan ada sayur brongkos sama ayam goreng kremes."
"Kamu nggak ikut makan, dek?" Reza mencoba berbasa-basi
"Tadi udah sama Dela." ucap Dinda sambil lalu.