
Setelah seminggu di rawat akhirnya ibunya Nurdin pulang dari rumah sakit, cuma gitu kalau TBC harus rutin minum obat selama enam bulan jadi baru sembuh total.
Nurdin menelpon Ropy untuk memberitahu bahwa ibunya sudah ada dirumah, dia sangat berterimakasih dengan bantuan dari Ropy.
"assalammualaikum Din bagaimana kabar ibumu"
"waalaikum salam, alhamdulillah bu sekarang sudah jauh lebih baik dan sekarang ibu saya sudah di rumah"
"syukurlah kalau gitu, besok ibu mampir ke rumahmu ya"
"iya bu terima kasih jadi merepotkan"
"tidak apa-apa Din"
Telpon terputus setelah itu Nurdin membantu ibunya memasak sop ayam, karena tadi pulang dari rumah sakit dia mampir ke pasar untuk beli ayam dan sayuran karena uang dari bu Ropy belum di pakai sama sekali malah di tambahin waktu menengok ibunya dan biyaya rumah sakit itu gratis.
"nak, ibu boleh minta tolong ga?
"iya bu ibu mau apa?"
"karena kita ada uang dari bu Ropy, bagaimana kalau buat modal usaha bikin kue-kue basah, mulai besok ibu mau bikin kue dan kamu bawa ke sekolah jualan di sekolah boleh tidak?"
"ibu kan baru sehat jangan cape-cape dulu"
"enggak apa-apa daripada ibu bosan di rumah, nyuci di rumah orang masih belum berani soalnya kalau terlalu lama kena air suka dingin walau mandi air hangat juga, kalau bikin kue kan enggak kedinginan"
"ya udah ibu lakukan aja yang ibu mau asal jangan cape-cape, Nurdin gak tega kalau ibu sakit"
"iya, ibu akan atur kalau sudah merasa lelah ibu akan berenti ko ibu juga akan jualan keliling di sekitaran rumah kita aja sambil olahraga"
"iya bu"
"setelah makan siang nanti kita belanja bahan-bahan dulu, di mini market dekat sini aja dulu kalau ke pasar lagi jauh harus naik bis"
"iya bu"
Mereka berdua ngobrol sambil masak, biasanya ibunya Nurdin suka mencuci dan menyetrika di rumah orang yang meminta jasanya.
...****************...
Hari ini Hartono mendatangi rumah makan selain kangen sama mamanya dia, juga sudah lama tidak makan siang dengan orang tuanya.
"Assalammualaikum mama kangen"
Hartono memeluk mamanya manja, Ropy pun membalas pelukan anaknya erat sambil mengelus-elus punggung anaknya.
"waalaikum salam, mama juga kangen dek udah lama gak ketemu"
"iya kemarin-kemarin sibuk terus sampai sering lembur baru sekarang agak longgar"
"si kakak dan Doni sibuk juga?"
"iya mah kan kita satu bagian"
"duh kacian anak-anak mama pada sibuk"
"iya mah, kak Sinta juga hampir tiap hari kalau pulang jerja langsung datang ke kantor nganterin kita makanan sambil ya gitu manas-manasin yang jomblo seperti mama dan papa kalau ketemu kaya apa"
"hihihi rupanya ada yang cemburu toh, nanti juga adik gitu kalau sudah nikah"
"iya aku akan manasin kalian semua pokonya, mah mau makan"
"iya mama tunggu calonnya di bawa ke rumah, sekarang ayo makan dulu suapin sama mama"
"nah gitu dong jangan nyuapin papa aja, adik juga mau"
"iyaaa, ayo makan mau sama apa?"
"biasa aja mah makanan kesukaan adik semua"
Ropy dan Hartono makan siang bersama sesekali dia menyuapi anaknya yang sedang ingin di manja itu, setelah makan selesai Hartono pamit lagi ke mamanya untuk kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaannya.
"dik ini buat kakakmu, ini buat adik dan yang ini buat Doni. kalau tidak di makan sekarang bisa buat makan malam nanti tinggal masukin aja kotaknya ke microwave"
"iya mah terima kasih ya"
"iya sayang, hati-hati di jalan"
"iya mah assalammualaikum"
"waalaikum salam"
Hartono melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kantornya, Ropy pun melanjutkan kesibukannya yang sudah biasa tiap jam makan siang selalu di penuhi pengunjung sampai mengantri.
Rumah makan Ropy sudah terkenal di Jakarta selain masakannya enak dan bersih harganyapun sangat merakyat, jadi semua kalangan bisa makan di sana.
Jam empat sore Ropy mengunjungi rumah Nurdin memenuhi janjinya kemarin, dia membawa masakan dari rumah makannya juga membeli buah-buahan untuk oleh-oleh.
"Din ibu sudah di depan sekolah, rumahmu yang mana?"
"tunggu sebentar bu, Nurdin jemput ke sana"
"iya ibu nunggu dekat pos satpam"
"iya, ini Nurdin sambil jalan menuju ke sana"
Ropy menunggu Nurdin di dekat pos satpam tidak sampai dua menit Nurdin sudah terlihat olehnya, Ropy membuka bagasi mobilnya untuk mengambil oleh-oleh.
"assalammualaikum ibu apa kabar?"
"waalaikum salam alhamdulillah baik Din, ini kotak makannya bawa biar ibu yang bawa buah-buahannya"
"ya ampun ibu, selalu membawa banyak makanan untuk kami jadi mereporkan terus"
"nggak apa-apa nak, tidak tiap hari ini ayo"
"iya bu ayo, hati-hati jalannya masuk gang"
Ropy mengikuti Nurdin dari belakang, dia begitu kagum sama anak itu baru aja kla 4 SD tapi mandiri dan bersikap dewasa, mungkin keadaan dan lingkungan yang membentuknya seperti itu.
"ini rumah Nurdin bu"
Nurdin berhenti di depan pagar rumahnya, rumah sederhana dengan halaman sedikit tapi di penuhi tanaman toga dan bunga tertata rapi dan di pagar besi, Nurdin membuka pagar sambil mengucap salam.
"assalammualaikum, ibuu"
"waalaikum salam nak ayo langsung masuk, ibu lagi menggoreng pisang"
Terdengar teriakan jawaban salam dari dalam Nurdinpun mempersilakan tamunya masuk, pas masuk di dalamnya sangat rapi dan bersih rumah dua kamar dengan satu set sofa tamu dan rak tv dengan poto-poto tertata rapi di samping tv dan di dinding di belakang rak tv ada meja makan dengan empat kursi dan di tengah mejanya terdapat pot bunga mawar yang lagi berbunga.
Rumahnya sangat rapi dan bersih rumahnyapun terlihat kuat dan kokoh, dapurnya kecil di belakang tapi rapi dan bersih dengan pentilasi yang cukup untuk ukuran dua orang tinggal di jakarta punya rumah bagus dan rapi itu tergolong mampu cuma penghasilan ibunya Nurdin tidak menentu setiap bulannya.
"ibu ini nyonya Ropy sudah datang"
Nurdin langsung ke dapur di ikuti Ropy dari belakang.
"ya ampuuuun teh Ropy ya ini"
"iya ini Susi kan?"
"iya teh, ya ampun teh Ropy apa kabar sudah lama tidak bertemu"
"kabar teteh baik Sus, kamu sudah lama tinggal di sini? Bukannya kata emak, Susi kerja di Saudi yah"
"Susi di sini baru dua tahun teh, pulang dari Saudi Susi beli rumah ini karena tidak mau hidup di kampung dekat mantan suami dan mantan mertua yang jahat, aku sakit hati sama mereka teh, di sini aku kerja jadi buruh cuci dan setrika tapi dalam tiga bulan ini aku sakit jadi tabunganku habis dan hp juga di jual sampai aku lagi ngedrop tidak punya uang sepeserpun dan malam itu Nurdin ngamen untuk pertama kalinya pas pulang dia bawa uang sejuta seratus ribu yang ternyata dari teteh hik hik"
Susi nangis mengingat kejadian itu, dia bersyukur bertemu dengan Ropy sekarang.
"ya ampun Sus ko bisa, yang sabar ya... gimana ceritanya teteh kira kamu tidak bercerai?"
"kan setelah menikah setahun Susi melahirkan Nurdin, ketika Nurdin setahun dia menceraikan Susi dan dia menikah lagi dengan teman kerjanya di pabrik texstil di Bandung dia tidak membiyayai Nurdin teh. Nah setelah Nurdun selesai ASI Susi berangkat ke Saudi jadi TKW Nurdin di asuh sama ambu dan abah di kampung. Selama 6 tahun Susi kerja di Saudi bapaknya Nurdin tidak pernah memberi nafkah kepada anaknya untung Susi beli sawah waktu hasil kerja dua tahun di Saudi yang lumayan bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari di kampung, makanya Susi sakit hati sama mereka"
"ya ampun Sus yang sabar ya, insyaallah kamu akan menemukan lelaki yang mencintai dan menyayangi kamu apa adanya"
"aamiin teh, smoga aja ya... Eh ayo teh dimakan tuh pisang gorengnya sudah matang"
"Iya Sus terima kasih"
Mereka bertiga ngobrol di meja makan, Susi banyak cerita tentang jalan hidupnya dan Ropy menceritakan kisah hidupnya juga, Susi banyak belajar dari Ropy tentang semangat hidupnya dia bertekad hidupnya akan berubah jauh lebih baik.
Susi itu Tetangga Ropy di kampung rumah orang tua Susi tetanggaan dengan rumah orang tuanya Ropy.
"assalammualaikum"
Terdengar suara tamu yang datang di luar rumah Susi, Susi berdiri dan berjalan menghampiri pintu rumahnya.
"eh ada pak guru, silahkan masuk pak"
"apa kabar mamanya Nurdin?"
"alhamdulillah baik pak guru ayo silahkan duduk.... Nak ada pak guru ni"
Susi memanggil anaknya karena ada gurunya datang bertamu.
"saya mau menengok bu Susi ko syukurlah sudah sehat, ini oleh-olehnya di terima bu"
"terima kasih bapak jadi merepotkan"
"tidak apa-apa bu, bagaimana sudah ada jawaban belum?"
"maaf pak guru, saya belum bisa jawab sekarang insyaallah setelah saya sembuh total saya akan jawab"
"baiklah saya tunggu jawabannya ya, permisi saya langsung pulang ya"
"gak minum dulu pak"
"tidak usah saya takut di gebukin warga masuk rumah janda, mending kalau di gerebek langsung di nikahkan hehe"
"ih si bapak ada-ada aja, ya udah terima kasih oleh-olehnya"
"sama-sama.... Assalammualaikum"
"waalaikum salam"
Susi nutup lagi pintu rumahnya lalu membawa bingkisan ke dalam dan menarohnya di meja makan.
"siapa sus kok kedengarannya berbau asmara tuh"
"itu gurunya Nurdin dia seorang duda dan ingin menikahi Susi dari setahun yang lalu, tapi Susi belum mau menikah lagi teh masih belum percaya laki-laki"
"jangan begitu Sus buktinya teteh, suami teteh yang pertama selingkuh dan menikahi selingkuhannya, eh teteh di temukan dengan suami teteh yang sekarang yang segalanya lebih baik. Jadi jangan lama-lama memendam trauma gak baik buat kesehatanmu"
"iya teh nanti Susi pikirkan"
"nah gitu dong, ingat hidup kamu masih panjang jangan mengingat-nginat orang yang telah menyakiti kita, tunjukan kepada mereka bahwa kita lebih baik dan bisa lebih sukses dari mereka"
"iya teh terima kasih"
"teteh pamit ya Sus udah jam lima nih, nanti main ke rumah teteh ya sama Nurdin kalau libur sekolah nanti alamatnya di kirim lewat WA"
"insyaallah teh terima kasih yah, aduh padahal masih sono"
"nanti ketemu lagi, yuk teteh pulang ya assalammualaikum"
"waalaikum salam"
"ayo Nurdin anterin ya bu"
"ayo nak"
Ropy pulang dianterin Nurdin dan Susi sampai depan SD, setelah itu dia melajukan mobilnya ke jalan raya.