
Waktu berlalu begitu cepat tidak terasa sudah akhir pekan lagi, Ropy sekeluarga lagi menyusun hantaran buat lamaran besok.
"Kak ini semua sudah siap, coba kakak periksa lagi barangkali ada yang kurang atau tidak cocok menurut kakak?"
Hartanto memeriksa semua hantaran satu persatu, setelah itu dia duduk lagi di samping ibunya.
"Sudah mah sudah lengkap semuanya, mudah-mudahan Sinta dan orang tuanya menyukainya"
"Cincinnya sudah di ambil belum kak?"
"Sudah kemarin mah, pokonya besok kita tinggal berangkat aja"
"Cie kakak sudah tidak sabar menanti besok, tapi harus tidur yang nyenyak ya biar muka kakak pres dan ganteng. Kalau kurang tidur nanti mukanya lecek lho"
"Apaan sih anak kecil ngeledek aja dari kemarin"
"eh anak kecil apaan aku ini sudah dua puluh lima tahun kak, teman SMA aku malah sudah banyak yang menikah dan punya anak lho"
"Iya iya yang sudah dewasa, teruas kapan nyusul kakak?"
"Tenang aja jodoh tidak akan kemana, buktinya kakak tidak pernah pacaran jomblo menahun tau-tau ketemu mbak Sinta adik kelas kakak dan langsung jadian"
"Apaan jomblo menahun dasar adik gak ada ahlak"
"Ya terus gak pernah punya pacar disebut apa hayoo kalau bukan jomblo, iya kan Don?"
"Iya kak, terus kakak jomblo juga kan hahaha"
"Iya Don tos dulu dong" Hartanto merasa dapat dukungan dari Doni.
"Tos apaan kita ini semua jomlo akut, sampai ketemu jodoh yang cocok nanti" Hartono tidak mau kalah.
"Iya semua anak mamah awalnya jomblo sampai bertemu jodoh yang saling mencintai dan menyayangi, insyaallah putra-putra mamah tiga-tiganya mendapat istri yang baik dan menghormati kita"
"Aamiiin..." anak- anak serentak menjawab.
Doni malah meledek Hartono, bukannya belain dari Hartanto malah balik ngatain. Itulah keakraban mereka saling ledek, bercanda, bermain bersama dan jalan bersama. Mereka sangat kompak, walaupun Doni adik sambung tapi mereka memperlakukannya sama seperti saudara kandung.
Ropy dan Hartawanpun menyayangi anak sambungnya dan tidak membeda-bedakannya.
Setelah bercengkrama Ropy beranjak ke dapur untuk membuat menu kesukaan keluarganya, yaitu sop sapi, capcay dan ayam goreng. Walaupun ada art yang bekerja di rumahnya, tapi Ropy senang memasak apalagi untuk suami dan anak- anaknya dan memasak adalah hobynya.
selesai masak mereka semua berkumpul di meja makan untuk makan siang, Ropy mengambilkan nasi dan lauk pauknya untuk suaminya setelah itu baru untuknya.
"Papa ini suami kesayangan mamamu jadi wajar di ambilin, kalau mau di layani istri nikah aja jangan sirik sama papa, ni coba sayang enak bangett masakan istriku memang tidak ada duanya"
Hartawan malah ngelekin anaknya sambil menyuapi istrinya, mereka suap-suapan sengaja menggoda anaknya yang jahil.
"Tuh kan dunia berasa milik berdua, kita ini dianggap angin" Hartono gak mau kalah.
"Yeee sirik aja, ayo sayang abisin makannya" Hartawan terus menyuapi istrinya sampai habis.
Ropy tersenyum bahagia menyaksikan keakraban anak dan papa sambung, dia semakin mencintai suaminya yang bijaksana.
-
-
Hari yang di nantipun tiba, akhirnya anaknya bertunangan dan akan melaksanakan pernikahan di bulan oktober mendatang.
Setelah dua keluarga sepakat menentukan tanggal pernikahan, dan anaknya sudah bertukar cincin. Lalu mereka makan bersama dua keluarga besar yang hadir di situ.
Selesai makan mereka berbincang lagi.
"Sayang kalau nikah nanti mau maskawin apa?"
Ropy bertanya sambil menggenggam jari tangan calon menantunya.
"emas aja mah, mau berapa grampun asal tidak memberatkan kak Hartanto yang penting emas mah"
"Terus sama apa lagi"
"Emas aja cukup mah"
"Mas Hartanto juga bisa di tambahin jadi maskawin ko" Hartono mulai jail.
"Kalau kakakmu bukan mas kawin tapi akan menjadi rajaku malah dek" Sinta
"Cie raja dan ratu ceritanya" Hartono
"Lah mulai lagi, kerjaannya jailin orang terus" Ropy
Hartono jail tapi nyambung dengan Sinta calon kakak iparnya, Ropy tambah senang karena mereka cocok.
"mudah-mudahan mereka selalu rukun, sampai akhir hayat mereka. Aamiin" Ropy berbicara dalam hati sambil menatap mereka yang melanjutkan ngobrol sambil bercanda, sesekali terdengar tawa mereka pecah menambah kebahagiaannya.