Ropy

Ropy
Nyinyiran Mantan Ipar



Ropy dan keluarga besar ngumpul di meja yang sama untuk makan bersama, hatinya merasa bahagia karena acara akad nikah anaknya yang pertama berjalan lancar.


Wendy menatap Ropy secara sembunyi-sembunyi dia begitu mengagumi mantan istrinya yang sudah sukses dan semakin cantik dia juga semakin menyesal telah menghianatinya, dan akhirnya Ropy dinikahi laki-laki yang lebih baik darinya dia juga merasa cemburu melihat tangan Hartawan yang selalu melingkar di pinggang Ropy dia ingin ada di posisi itu sekarang.


Karena sering dan lama menatap mantan istrinya akhirnya ketauan Hartono anak bungsunya, karena duduk berdampingan dengannya.


"Ayah, mama tambah cantik ya? Jangan di lihatin terus yah itu milik orang"


Hartono berbisik menggoda ayahnya


"Apaan sih dek?"


Wendy mukanya memerah karena malu ketahuan anaknya menatap Ropy terus, dia pura-pura tenang dengan melanjutkan makannya.


"Ada apa Wen?"


Mas Juna bertanya karena dia duduk di samping Wendi dan mendengar perkataan Wendy walaupun pelan tapi jelas.


"Enggak ada apa-apa mas, ini masakannya enak"


Wendy pura-pura menikmati makanannya, karena takut di ketahui semua orang yang berkumpul di situ.


Nina menatap Ropy tajam dari tadi dia gatel mulutnya pingin ngomong, tapi masih ada besan Wendy orang tua Sinta dan keluarganya yang masih makan di situ.


Ropy mengobrol banyak dengan ibunya Sinta sebagai besan dia berusaha mendekatkan diri, supaya kedepannya tidak canggung.


Selesai acara makan-makan sebagian membubarkan diri termasuk pengantin masuk kamar untuk ganti baju dan istirahat, untuk mempersiapkan diri nanti siang pada acara resepsinya.


orang tua sinta juga beliau masuk kamar untuk ganti pakaian santai karena memang keluarga besar semua menginap dari jam tujuh malam kemarin di hotel itu untuk memudahkan persiapan, hanya untuk satu malam saja karena selesai resepsi mereka akan cek out dari hotel itu kembali ke rumah masing-masing. Kecuali pengantin dan keluarga yang jauh dari luar kota.


Hartawan menggandeng istrinya berjalan dia mengantar istrinya ke kamar untuk ganti pakaian santai karena pake kebaya dipadukan dengan kain lama-lama kurang nyaman juga, baru aja lima langkah Ropy sudah di hadang oleh Nina.


"Eh ada apa teh?"


Ropy kaget karena tangannya di tarik tiba-tiba, untung tangan satunya lagi di gandeng Hartawan jadi tubuh Ropy aman tidak oleng.


"Sini kamu sebentar Rop, aku ada perlu"


Nina mengajak Ropy berbicara dia menunjuk ke arah sofa yang ada di lobi hotel.


"perlu apa ya teh?, disini aja gak apa-apa" Hartawan menimpali.


"Ini urusan perempuan, aku ada perlu sama Ropy"


Ropy mengelus punggung tangan suaminya dia minta ijin untuk berbicara sebentar dengan teh Nina, Hartawan mengijinkannya namun hanya 10 menit saja tidak boleh lebih


"pah tunggu sebentar ya"


"Iya sayang jangan lama-lama papa kasih waktu sepuluh menit ya"


Hartawan mengijinkannya dia mencium bibir istrinya sekilas.


Nina mencibir mrlihat dua insan yang romantis, dia tidak suka melihat Ropy di perlakukan manis di depannya.


"mau pergi sepuluh menit aja seperti mau pergi setahun" Nina berbicara pelan sambil menjulurkan lidshnya nengejek.


Ropy penasaran karena tidak mendengar jelas ucapan Nina.


"itu kucing lewat, cepetan Rop lama amat"


Nina menarik tangan Ropy sambil berjalan cepat, Ropy hampir aja oleng karena pake kain dan sepatu hak tinggi jadi tidak leluasa melangkah.


mereka duduk berdua di sofa.


Hartawan kesal sama teh Nina melihat istrinya di tarik-tarik.


"Ada apa sih teh?"


"Sebentar ini urusan perempuan tunggu aja tidak usah ikut, kamu hanya orang luar di sini"


"Ko gitu sih teh ngomongnya jahat, Ropy istri saya jadi saya berkewajiban melindunginya, jadi jangan macrm-macem ya"


"Iya gitu aja sewot"


Nina menarik lagi tangan Ropy dan duduk di sofa, Hartawan berdiri memperhatikan mereka dari jarak lima meter.


"Apa kamu senang anak kamu lebih dekat dengan ayah tirinya daripada ayah kandungnya, tadi aku lihat mereka lebih sering bersama suamimu daripada Wendy"


"Ya senang teh tapi kan anak-anak juga menghormati ayahnya mereka tadi ngobrol bersama dengan suamiku ko, kalau terlihat lebih dekat dengan suamiku ya wajar karena hampir tiap hari mereka bertemu. Kalau sama mas Wendi kan jarang bertemu teh"


"Wow hebat ya didikan kamu anak-anak lebih dekat ke bapak tirinya, ayah kandung sendiri kurang perhatian padahal dulu juga sebelum mereka kuliah tiap hari bersama ayahnya. Apa kamu lupa itu Rop?"


"Bukan begitu teh, tapi kan sekarang jalan kami sudah berbeda dan anak-anak juga sudah dewasa di sibukan dengan pekerjaan dan urusan mereka masing-masing ya masa harus selalu bersama.


Kan beda kota juga dengan mas Wendy, kalau kang Hartawan kan satu kota dekat pula jaraknya, ya wajarlah mereka lebih akrab"


Ropy membela anaknya dia tidak terima dengan tuduhan Nina, dulu dia hanya diam saja kalau Nina berkata merendahkannya karena belum berani dan menghormati suami, mertua dan kakak iparnya, kalau sekarang berani melawan karena sudah tidak ada ikatan apa-apa lagi pikirnya.


"Kenapa tidak kembali lagi dengan Wendy yang jelas kalian punya anak bersama daripada terus dengan Hartawan tidak ada anak darinya"


"Tidak bisa begitu teh lagian kan mas Wendy yang memulai dan memilih orang lain daripada saya, masa saya harus diam aja?"


"Orang lain juga di madu banyak terlihat baik-baik aja ko kamunya aja yang tidak sabaran pingin cerai, padahal beristri lebih dari satu diperbolehkan di agama kita"


"Daripada saya makan hati setiap hari kesepian sendirian di rumah, suami lebih sering bersama selingkuhannya dan anak-anak kuliah disini. Ya lebih baik nyusul anak-anak dan minta cerai daripada dekat dengan suami tapi tidak di anggap"


"Tapi Wendy katanya mau balik lagi sama kamu Rop"


"Tapi saya tidak teh"


"Jangan belagu kamu Rop mentang-mentang suamimu lebih baik sekarang, tapi Wendy ayah dari anak-anakmu dan jangan lupa dengan keadaanmu waktu susah dulu"


"Bukan belagu teh, tapi saya mempertahankan cinta saya teh dan sekarang sudah bahagia setelah menikah dengan kang Hartawan. Jadi teh Nina tidak usah meminta saya kembali ke mas Wendy karena saya punya suami yang sangat menyayangi saya"


"Alah kamunya aja yang ganjen tidak tau malu, anak-anak sudah besar juga berani mesra-mesra di depan umum"


"Mesra dengan suami sendiri sah-sah saja, daripada mesra dengan selingkuhan"


Jawaban Ropy sangat menohok dan membungkam mulut Nina yang ikut campur rumah tangga orang, mungkin Nina iri melihat Ropy bahagia dan sukses jadi dia berusaha mengganggunya.