Ropy

Ropy
Kenyataan Pahit



Ropy bersandar di mobil sambil menangis, dia tidak menyangka niat untuk makan siang malah mendengar hal yang paling di benci perempuan pada umumnya.


'astagfirullah... Kuatkan aku yaa allah" gumam Ropy sambil menarik napas panjang...


Tok... Tok... Seseorang mengetuk pintu mobil, Ropy menoleh ke samping mobil ternyata pelayan tadi... Lalu Ropy membuka kaca mobilnya...


"maaf bu gimana itu pesanannya sudah di siapkan di belakang" kata pelayan menatap Ropy penuh tanya... "maaf mas... saya tidak jadi makan disini, saya ada urusan mendadak, mas boleh antar nasi boxnya ke rumah sakit xxx gak" jawab Ropy sambil membuka tasnya... "bisa bu... Minta alamatnya aja" jawab pelayan itu... "rumah sakit xxx ruang mawar no empat, dan tolong ini sekalian bawain obat ibu mertua saya ya mas" kata Ropy sambil mengeluarkan uang dari dompet lima lembar yang merah... "ini mas obatnya... maaf ya merepotkan... Ini untuk bayar pesanan saya dan ongkirnya... Kembaliannya buat mas aja ya... Terima kasih ya mas" tutur Ropy sambil memberikan uang dan obatnya kepada pelayan itu... "wah kebanyakan bu kembaliannya" kata pelayan itu... "gak apa - apa mas, itu rejeki masnya sebagai tanda terima kasih dari saya mau membantu saya... Ya udah saya permisi dulu ya mas" jelas Ropy sambil menghidupkan mesin mobil... "iya hati - hati bu di jalan, terima kasih ya bu" ujar pelayan memandang Ropy cemas karena melihat kesenduan di mata Ropy... "sama- sama mas... Mari" lanjut Ropy sambil menutup kaca mobil.


-


-


"mas yang tadi di kejar pelayan seperti mbak Ropy deh" di dalam rumah makan Sarah dan Wendy masih makan sambil ngobrol.


"ah masa... mas gak lihat tuh" jawab Wendy santai sambil mengunyah.


" Iih bener mas, pas tadi meja belakang kita seperti di geser aku menoleh. Dan aku lihat seperti mbak Ropy, karena posturnya sama dan baju yang dia pakai sama dengan waktu kita ketemu di rumah ibu... Cuma barusan dia membelakangi kita sedang berlari keluar aku gak lihat mukanya sih, cuma aku merasa yakin itu mbak Ropy deh" jelas Sarah panjang lebar.


Deg... Deg... Jantung Wendy gak karuan, pikirannya berkecamuk... Kalau benar tadi istrinya berarti dia mendengar obrolannya... "apa yang harus aku lakukan sekarang aghk" gumam Wendy sambil menyugar rambutnya ke belakang.


Setelah mereka makan lalu balik lagi ke kantor, karena tidak bisa konsentrasi akhirnya Wendy pulang dari kantor menuju rumah sakit. Dia tidak memberitahu Sarah atas kepulangannya takutnya malah tambah runyam.


"kenapa Wen datang - datang wajahmu di tekuk gitu? Ropy kemana? semenjak pergi beli obat utuk ibu dan beli makan siang tadi, belum kesini lagi... Malah obat dan nasi boxnya di titipkan ke pelayan rumah makan, tadi pelayan yang mengantarkan ke sini" tanya Juna menatap Wendy dengan curiga....


Deg... Jantung Wendy berdegup kencang saking gugupnya "Berarti benar tadi dia di rumah makan itu dan mendengarkan obrolan kami" gumam Wendy sambil menghela napas panjang.


Karena melihat gelagat yang mencurigakan Juna mengajak Wendi ke bangku taman di rumah sakit itu. "kalian gak ada masalah seriuskan Wen? gak biasanya Ropy bersikap gitu sama kita, gak bilang dulu mau pergi kemana, di telpon aja gak di angkat, di WA gak bales tadi sama mbakmu padahal tadi WAnya online" tanya Juna beruntun.


"sebenarnya aku dan Ropy tidak ada masalah, tapi mungkin tadi Ropy salah paham melihat aku dan Sarah sedang makan bersama... Kata Sarah dia melihat Ropy sedang berlari keluar rumah makan... Tapi aku gak melihatnya" jawab Wendy gelisah.


"masa tidak menyapa dulu melihat suami dengan rekan kerjanya, masa langsung salah paham... Atau kamu ada sesuatu dengan Sarah?" Tanya Juna menatap Wendy tajam.... Wendy menghela napas panjang lalu menceritakan kekhilapannya dengan Sarah, dan Sarah mendesak minta dinikahinya. Tidak ketinggalan cerita apa yang mereka obrolkan di rumah makan itu, sehingga besar kemungkinan Ropy mendengarnya.


"terus apa rencanamu sekarang? dan coba bicara dengan istrimu jelaskan semuanya, pasti dia butuh penjelasan dari kamu" kata Juna sambil menepuk pundak Wendy.


"Tapi aku gak berani menjelaskannya, Ropy pasti marah... Selama ini dia tak pernah marah dan slalu menurut saya Wendy mas... Aku bingung... Bagaimana kalau anak - anak tau tentang kelakuanku dengan Sarah, aku takut mereka membenciku mas" kata Wendy cemas.


"itu resiko kamu, seharusnya sebelum melakukan hal bodoh dengan wanita lain pikirkan dulu akibatnya... Menyesalpun tidak ada gunanya, sekarang kamu harus bertanggung jawab dengan apa yang kamu perbuat" kata Juna "dan aku menyesal mendukung ayah dulu untuk menjodohkan kamu dengan Ropy, kasian Ropy kalau kamu hianati... Dan mbakmu sering mendengar Ropy dihina ibu dan teh Nina katanya... Padahal Ropy cantik, baik dan penurut... Diapun sayang keluarga dan mau mengurus ibu" sambung Juna panjang lebar.