Ropy

Ropy
Ropy Pendarahan



Bel di rumah Ropy berbunyi, art membukakan pintu rumah karena ternyata yang datang adalah dokter.


"Mari pak dokter langsung aja masuk"


Bi Sari mempersilagkan dokter masuk rumah dan berjalan menuju kamar majikannya, lalu dia mengetuk pintu kamar majikannya.


"Tuan dokternya sudah datang"


"Langsung masuk ke kamar aja dok"


Bi sari membuka pintu kamar majikannya dan mempersilahkan dokter itu masuk, setelah itu dia pamit mau melanjutkan pekerjaannya memasak untuk makan malam.


"Bagaimana istri saya, dia sakit apa dok?"


"Darahnya rendah hanya 80/70 dan sepertinya istri anda sedang mengandung"


Dokter berbicara sambil terus memeriksa secara intensif.


"Hamil dok? Alhamdulillah kita akan punya anak lagi sayang" Hartawan memeluk istrinya, padahal dokter masih belum selesai meriksa istrinya.


"tapi dok usia saya hampir 50 tahun, dan biasanya saya telat dua bulan atau tiga bulan baru haid. Kata dokter kandungan itu hal biasa menjelang menepause. Apa tidak masalah dok?"


"walaupun sudah menepause tapi kemungkinan hamil masih bisa apalagi kalau rahim ibu subur dan tidak menggunakan kontrasefsi, di usia segitu kehamilan ibu bisa sangat beresiko tinggi dan darah ibu juga sangat rendah"


"Terus sekarang bagaimana dok?" Hartawan semakin menghawatirkan istrinya.


"Sebaiknya ibu di rawat, tapi sekarang minum aja dulu vitamin dan penambah darah ini tapi harus makan dulu sepertinya ibu juga telat makan ya? Dan besok jangan lupa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih jauh. Mudah-mudahan cepat membaik ya bu, saya permisi dulu"


Setelah selesai meriksa dan menjelaskan langkah selanjutnya dokter memberi vitamin dan pil tambah darah untuk di minum setelah makan malam, lalu dokter pamitan untuk pulang.


Hartawan mengantarkan dokter sampai depan pintu rumah, dan dia mengucapkan terima kasih.


"Sebaiknya bapak puasa dulu beberapa hari kedepan, karena selain masuk angin dan kurang tidur. ibu juga terlalu capek kerja siang malam dan penyebabnya sepertinya karena digempur terus oleh bapak"


Dokter menerima jabat tangan dari pak Hartawan sambil tersenyum dia menepuk pundak pak Hartawan.


"Habisnya istri saya bikin candu dok, jadi pengen terus menggempurnya" Hartawan berbicara bangga.


"Berapa kali sehari pak, dan berapa lama?" dokter menggoda sambil tersenyum.


"Kadang tiga kali, kadang lima kali malah kalau libur bisa tujuh kali sehari dengan rata-rata satu jam lebih kadang-kadang sampai dua jam hahaha..." Hartawan menjawab bangga.


"Wowww hebat sekali kalian di usia hampir setengah abad masih kuat tiap hari dengan durasi yang lama benar-benar luar biasa, pantesan si ibu K.O hahaha"


"Ya begitulah kami, tiada hari tanpa mencapai surga dunia"


"Ya,ya,ya hebat, hebat, tapi sekarang tahan dulu bapak harus puasa kalau bisa sebulan hahaha..."


Dokter naik mobil setelah menggoda pak Hartawan, lalu dia pergi meninggalkan rumah Ropy.


Hartawan menuju meja makan, terlihat makanan sudah di hidangkan oleh bi Sari untuk majikannya makan malam. Dia mengambil makanan buat istrinya dan membawanya ke kamar.


"Sayang ayo makan dulu"


Setelah meletakan makanan di atas meja lalu Hartawan mendudukan istrinya dan di sandarkan di tempat tidur dengan menyusun bantal-bantal supaya istrinya nyaman.


"Aaa, buka mulutnya sayang" Hartawan menyuapi istrinya.


Walaupun makannya pelan-pelan tapi Ropy makannya cukup banyak, setelah makan lalu minum vitamin dan pil penambah darah.


"Bagaimana sekarang sayang? Apa yang di rasakan?" Hartawan mencium kening istrinya dan mengelus rambutnya.


"Mendingan pah, cuma masih agak mual dan perut bawah mamah pegal banget dan rasanya tidak nyaman disini"


Ropy meraih tangan suaminya dan meletakan di bawah perutnya.


"Ini di sini pah" lanjutnya.


Hartawan mengelus-elus perut istrinya dengan lembut, diapun mencium perut istrinya. Dia senang istrinya hamil sekaligus khawatir mengingat usia resiko tinggi/resti.


Tiba-tiba ada yang berdiri di bawah, Hartawan me●umat bibir istrinya dengan rakus setelah napasnya hampir habis dia menyudahinya dan mengganti dengan ciuman lembut.


"Sayang pegang ininya gak kuat"


Hartawan merintih barangnya berdiri tegak sedang di elus-elus oleh istrinya, kalau saja dokter tidak menyuruh puasa pasti kunci itu sudah masuk ke liangnya.


Ropy tidak tega melihat suaminya tersiksa, diapun tidak tahan untuk melakukan itu, dengan inisiatif sendiri akhirnya dia mengarahkan kunci itu ke liangnya dan jleb....


Hartawan mengerang nikmat, dia lupa anjuran dokter tadi karena tertutup kabut ga●rah.


"Paster sayang"


Satu jam berlalu akhirnya mereka tumbang juga dengan di banjiri peluh, mereka langsung tertidur lelap saling berpelukan tanpa membersihkan diri terlebih dahulu.


Jam tiga dini hari Ropy terbangun karena perutnya mules, dia perlahan duduk di tepi ranjang sambil cengir menahan sakit.


"Astagfirullah sakit banget, papah, papah aduh papah sakittt"


Ropy memanggil-manggil suaminya yang masih tidur, perlahan Hartawan membuka matanya melihat istrinya memegangi perut sambil merintih diapun bangun dan langsung memeluk istrinya.


"Sakitnya di mana sayang"


"Ini pah sa-sa-kit awwww"


Ropy mengarahkan tangan suaminya ke inti sakitnya, Hartawan mengelus-ngelus perut bawah istrinya tangan satunya meraih ponsel untuk menelpon dokter yang semalam memeriksa istrinya.


"Halo pak bagaimana istri bapak?"


"Perut istri saya sakit dia merintih kesakitan, tolong dokter sekarang kesini periksa istri saya lagi"


"Baik pak saya siap-siap ke sana sekarang"


Hartawan menutup telponnya dia turun dari tempat tidur, dia menggendong istrinya ke kamar mandi karena dia belum bersih-bersih dari habis bertempur semalam, dia malu sama dokter kalau ketauan dia dan istrinya belum di bersihkannya.


Lalu dia mendudukan istrinya di kloset, dia menyalakan shower air panas untuk membersihkan dirinya dan istrinya. Sesekali Ropy merintih dan memegang perutnya yang sakit, Hartawan mengelus-elusnya dengan menambahkan sabun mandi cair, lalu membilasnya dengan air hangat sampai bersih.


Setelah mereka bersih dan melapnya dengan handuk sampai kering, Hartawan memakai bathrob dan menggendong istrinya keluar dari kamar mandi.


Hartawan membalurkan minyak kayu putih ke perut istrinya lalu mengambil blus berkancing depan dari lemari lalu memakaikan ke tubuh istrinya.


"sabar sayang sebentar lagi dokter datang ke sini"


Hartawan mencium istrinya dan membaringkan istrinya di tempat tidur lalu dia menyelimutinya.


"Sebentar ya papa ngambil minum air hangat dulu"


Dia beranjak dari kamar mau mengambil air hangat, setelah itu meminumkannya ke istrinya dan dia juga minum air hangat sisa istrinya.


"Aduh pah sakit sekali"


Ropy merintih lagi sambil memegang kuat perut dan tangan suaminya, dia meneteskan air mata menahan sakit.


"Sabar sayang sebentar lagi dokter datang"


Baru aja Hartawan selesai bicara, terdengar diluar rumah bel berbunyi.


"Itu pasti dokter sayang, sebentar ya papa bukain pintunya"


Ropi mengangguk dan melepaskan pegangan tangan suaminya, Hartawan berdiri dan berjalan keluar kamar.


Dokter masuk dan langsung menghampiri tempat tidur Ropy.


"Maaf ya bu saya periksa dulu"


"Sebaiknya sekarang ibu harus di bawa ke rumah sakit, bapak tidak menghiraukan anjuran saya untuk puasa dulu sepertinya" dokter menatap Hartawan penuh tanya.


"kelupaan dok tidak sengaja habisnya tubuh istri saya mengandung magnet hehe....baik dok, ayo ke rumah sakit sekarang sebentar saya ganti pakaian dulu"


Hartawan mukanya memerah malu buru-buru dia menuju ruang ganti karena di tatap dokter, lalu membuka lemari untuk mengambil pakaiannya, setelah memakai pakaiannya dia membuka lemari istrinya untuk mengambil baju hangat istrinya. Lalu keluar dari ruang ganti dan menghampiri istrinya, dan dia memakaikan baju hangat kepada istrinya.


Hartawan meraih kunci mobil dari laci nakas dan mengambil tas pinggang dan dompetnya, setelah itu dia menggendong istrinya.


"Dokter istri saya berdarah"


Hartawan panik melihat darah di seprei dan tangannya terkena darah ketika mengangkat istrinya. Darah menetes dari bawah istrinya ke lantai, menambah kepanikan Hartawan.


"Tenang pa kemungkinan ibu pendarahan, ayo secepatnya kita ke rumah sakit" dokter meraih selimut dan melipatnya, dia berjalan keluar dan membuka pintu rumah Ropy.


"maaf dok tolong kunciin pintunya dan taroh di tas pinggang saya" karena masih jam empat pagi bi Sari belum keluar dari kamar, jadi pintu di kunci dari luar.


Dokter mengunci pintu dan memasukan ke tas pinggang Hartawan.


Dokter membuka pintu mobil belakangnya lalu meletakan selimut di joknya


"ayo pak dudukan ibu Ropy di sini, biar saya yang antar ke rumah sakit"


Hartawan mendudukan istrinya di jok belakang yang sudah di tilami selimut, lalu dia memasangkan sabuk pengaman. Setelah menutup pintu mobil, dia memutar dan berlari ke pintu mobil sebelahnya lalu membuka pintu mobil dan duduk di samping istrinya.


Setelah Hartawan duduk dan memasang sabuk pengaman, dokterpun menjalankan mobilnya menuju rumah sakit.