
Jam sebelas siang Ropy sekeluarga tiba di rumah anak uanya yang melangsungkan pernikahan anaknya, mereka berkumpul bersama keluarga besarnya.
Ropy terlihat yang paling menonnjol di antara keluarga besarnya, mungkin karena selalu perawatan wajah dan bodynya. Jadi beda sekali dengan saudaranya yang lain, meski berbeda dan menonjol tapi Ropy tidak somnong dia sangat pandai menempatkan diri.
Acara sudah hampir selesai, tiba tiba ada yang memanggil Hartanto dan gadis yang baru keluar dari mobil itu menghampiri anak sulung Ropy.
"kak Hartanto kan?" tanya sang gadis
"eh Sinta ya, ko ada disini?" Hartanto balik bertanya.
"iya kak aku kesini menghadiri pernikahan kakak sepupuku, dia berjodoh dengan orang sini. Kakak sendiri lagi apa di sini?" jawab Sinta sambil menunjuk kakak sepupunya yang ada di pelaminan.
"aku juga menghadiri pernikahan saudara dari mamah, itu mempelai perempuannya cucunya uaknya mamah" jelas Hartanto sambil menatap Sinta dari atas hingga bawah.
Dia mengingat - ingat Sinta itu adik kelasnya beda dua tahun, cuma sering bertemu dan sering ngumpul karena Hartanto ketua BEM dan Sinta itu salah satu anggotanya.
"kak saya tinggal dulu ya belum memberikan ucapan selamat" pamit Sinta.
"iya lanjutkan aja nanti kita ngobrol di sana ya" Hartanto menunjuk bangku - bangku di bawah pohon rindang, karena hajatannya di laksakan di halaman rumah yang luas (outdor).
"iya kak" Sinta berjalan menuju pelaminan
Selesai mengucapkan selamat, Sinta menghampiri orangtuanya yang sudah lebih dulu hadir di situ.
"ko baru datang sayang" tanya mamanya Sinta
"Tadi macet mah jadi agak terlambat" jawab Sinta
"ayo ambil makan dulu sana" kata ayah Sinta
"iya ayah, nanti aku makannya di bawah pohon itu yah. Ada teman sedang menunggu" kata Sinta sambil berjalan mengambil makanan setelah itu dia berjalan menuju bangku bawah pohon fan duduk di dekat Hartanto.
"makan kak" kata Sinta.
"Sudah tadi, lanjut aja Sin" jawab Hartanto
Mereka ngobrol ngalor ngidul membahas tentang pekerjaan, keluarga dan lainnya.
"kamu sendirian ke sini?" tanya Hartawan
"iya kak aku tadi berangkat sendiri dari Jakarta, karena orang tuaku sudah dari kemarin bersama rombongan pengantin pria dan menginap dulu di hotel" jawab Sinta dan menunjuk ke arah orang tuanya.
"kalau tau gitu kita bareng aja tadi, aku juga dan keluarga tadi pagi jam empat berangkat dari rumah jam sembilan sampai disini" jelas Hartanto.
"Ya kan kita enggak tau, lagian semenjak kakak selesai kuliah gak pernah bertemu lagi. Kita baru sekarang ketemu lagi" jawab Sinta.
"iya ya, mana no ponselnya biar mudah menghubungi?" Hartanto meminta no ponsel.
Mereka bertukar no ponsel sambil ngobrol.
"kalau aku telpon nanti ada yang marah tidak?" tanya Hartanto sambil menatap Sinta yang lebih cantik fan mempesona.
Sebenarnya Hartanto dari pertama bertemu Sinta dulu waktu kuliah dia sudah menyukainya, tapi belum ada kesempatan untuk mengutarakan karena selalu di recokin teman - temannya. Baru sekarang bisa ngobrol berdua seperti ini.
"Minggu depan boleh gak aku datang ke rumahmu?" Hartanto
"Boleh kak kakak gak ada yang marah main ke rumahku" Sinta
"Tidak adalah"
Hartanto menggenggam tangan Sinta dia menatap matanya dengat lekat, dia gak sabar ingin mengutarakan isi hatinya.
"Sin kamu sudah mempunyai pasangan belum?" tanya Hartanto was-was tskut di tolak sebelum mulai.
"Belum kak, aku tidak boleh pacaran sama mamah. Sudah beberapa kali ada yang datang ke rumah tapi, mamah tidak ijinkan kalau tidak serius ke arah sana" jelas Sinta.
Hati Hartanto lega karena dia punya kesempatan.
"Sin sebenarnya kakak sudah lama menyukaimu tapi baru sekaranh tersampaikan, karena kakak tidak tau alamatmu dan tidak punya no penselmu. Niat kakak serius sama kamu, boleh kan? Hartanto penuh harap pada Sinta.
Sinta berdehem karena gugup, jantungnya berdebar cepat di tatap dan di genggam oleh lelaki impiannya. Dia menunduk sambil membalas genggaman tangan Hartanto "hmmmm... Se..sebenarnya aku juga suka kakak dari dulu, tapi dulu aku malu kalau di dekatin kakak"
Hartanto bersorak dalam hatinya ternyata dia tidak bertepuk sebelah tangan.
"kalau gitu ayo kita mulai dari sekarang, saling mengenal lebih dalam lagi" Hartanto
"iya kak" Sinta
"Terima kasih sayang, sudah menerima aku" Hartanto senang
Deg...deg... Jantung Sinta berdetak semakin krncang dan mukanya memerah, rasanya campur aduk di panggil sayang oleh lelaki idamannya.
"Ehmmmm kak... dari tadi di sini asik berdua, kenalin dong sama mamah" Ropy menghsmpiri anak sulungnya
"mamah ngagetin aja, iya mah ini Sinta adik kelas waktu kuliah dan sekarang sudah jadi pacar kakak" jawab Hartanto.
"waw kakak hebat gerak cepat yaaa" Ropy menggoda anaknya.
"Kalau tidak cepat - cepat nanti keduluan orang mah" kata Hartanto sambil menyatukan tangan mamahnya dengan Sinta untuk di kenalkan.
"Sinta tanteu" kata Sinta sambil mencium tangan mama pacarnya.
"mama Ropy nak, kalian bisa bareng di sini sudah janjian ya?" kata Ropy penasaran.
"itu mah, pengantin prianya ternyata sepupunya Sinta, jadi Sinta datang kedini dan orang tusnya juga ada di sini" jelas Hartanto.
"alhamdulillah sekarang sudah ada signal menantu" kata Ropy
"ko signal sih mah?" Hartanto heran
"ya signallah kak kan untuk menghubungkan perangkat harus ada signal, ayo kita kenalan dengan orang tuamu nak mumpung masih ngumpul di sini" ajak Ropy sambil menggandeng Sinta.
Kedua keluarga mereka berkenalan satu sama lain, dan orang tuanya sinta responnya sangat baik. Mereka langsung akrab ngobrol ngalor ngidul, sampai acara selesai.