Ropy

Ropy
Melayat



Hartawan sibuk hari ini walaupun sudah jam makan siang dia belum sempat makan apapun, dia terus bekerja dan bekerja karena besok mau ada rapat di Bandung.


Ropy juga sibuk di rumah makan, walaupun dia hanya duduk di meja kasir tapi pengunjung rumah makannya terus berdatangan tidak ada jeda sama sekali. Jam tiga sore Ropy baru bisa sedikit santai, dia membuka hpnya memeriksa pesan yang dikirim ke suaminya tapi masih belum fi baca padahal sudah dua jam yang lalu.


Ponsel Hartawan berdering berulang kali akhirnya dia melihat siapa yang telpon, ternya nama istrinya yang tercinta MY LOVE sedang memanggil. Dia tersenyum sambil mengusap tombol hijau.


"hallo papa kemana aja?"


"sibuk sekali sayang kalau bukan dari kamu tidak akan di angkat"


"sudah makan belum?"


"belum sayang lupa saking sibuknya"


"ih papah ko gitu jangan telat makan harusnya, aku juga sibuk kerja sambil makan aja asal isi"


"iya sayang saking sibuknya hari ini, sekarang baru terasa lapar setelah diingatkan"


"aku anterin ya ke sana"


"kamu juga kan sibuk sayang nanti kamu cape"


"enggak apa-apa buat suamiku tercinta apa aja aku siap"


"terima kasih sayang, jadi makin cinta deh"


Ropy siap-siap mau mengantar makanan untuk suaminya, karena tadi sibuk jadi bajunya lembab oleh keringat jadi dia mandi dulu dan ganti baju yang bersih dan wangi.


Jam empat sore Ropy sampai di kantor suaminya dan langsung menyuapi suaminya yang masih sibuk, sesekali makan itu masuk ke mulutnya dia suka selali kalau makan sepiring berdua dengan suaminya.


Setelah menyuapi suaminya Ropy mengecup bibir suaminya karena gemas, Hartawanpun menghentikan pekerjaannya dan membalas ciuman istrinya.


Ponsel Ropy berdering Hartawanpun menyudahi lu•••annya membiarkan istrinya menerima telpon dan dia melanjutkan pekerjaannya.


Terlihat nama Hartono di ponselnya, Ropy mengusap tombol hijaunya.


"hallo dek"


"hallo dek ada apa?"


Karena tidak ada jawaban dari anaknya Ropy mengulang lagi pertanyaannya.


"Mah a ayah kecela kaan, a ayah me meninggal di te teumpat de ngan tan teu Sa rah"


"innalillahi wainna illaihi rajiun... Terus adek kapan kesana?"


"jangan berangkat dulu ya, mama mau bicara sama papa"


"iya mah"


Hartono berbicara terbata-bata karena dia syok baru aja tadi pagi dari rumahnya, sekarang ayahnya sudah meninggal.


"ada apa sayang, siapa yang meninggal?"


"Mas Wendy pah dia mengalami kecelakaan bersama Sarah dan mereka meninggal di tempat katanya"


"innalillahi wainna illaihi rajiun"


"sekarang Hartono mau berangkat ke Bandung tapi mamah cemas pah, dia sepertinya syok bicaranya aja terbata-bata"


"gini aja mah besok kan papa rapat di Bandung, sekalian aja kita berangkat sama-sama sekarang biar sopir perusahaan aja yang bawa mobilnya nanti kita nginep di hotel. Sekarang mama telpon si adik untuk siap-siap bawa pakaian dua atau tiga stel dan juga telpon bi Sari untuk mengemas pakaian kita ke koper. Ini papa selesaikan dulu tanda tangan paling sepuluh menit lagi"


"iya pah"


Ropy menelpon anaknya memberitahu untuk siap-siap, detelah itu dia juga menelpon bi Sari untuk mengemas bajunya dan suami ke koper masing-masing tiga stel. Baju tidur, baju kerja suaminya dan baju santai, tidak lupa dalaman untuk dua hari"


Jam lima lebih mereka berangkat menuju Bandung, jam delapan kurang sepuluh menit mereka tiba di kediaman ibu Nenih.


Mereka semua berkumpul untuk mendo'akan jenajah Wendy, hanya Hartanto yang belum sampai karena dia masih dalam pesawat karena baru satu jam yang lalu lepas landas dari Bali.


Semua tidak menyangka Wendy meninggal dengan cara seperti itu, terlebih lagi satu mobil bersama Sarah dan kecelakaannya hanya dua kilometer jaraknya dari rumah Sarah membuat orang bertanya -tanya.


Jam sembilan lebih tiga puluh menit Ropy pamit kepada keluarga Wendy, dia dan suami mau istirahat di hotel. Ropy menghampiri anaknya dan memeluk pundak anaknya.


"dek istirahat yu sekarang kita ke hotel dulu ya, besok pagi ke sini lagi sebelum ayahmu di makamkan"


Ropy mencengkam erat pundak anaknya, dia memberi kekuatan kepada Hartono.


"adik di sini aja mah sambil nunggu kakak, mama dan papa aja yang ke hotel sekarang"


"yakin adik mau di sini?"


"yakin mah, lagian kamar ayah kosong jadi bisa istirahat di sini"


"ya udah mama dan papa istirahat di hotel dulu ya besok mama kesini lagi, adik yang sabar ya karena sudah takdir ayahmu seperti ini"


"iya mah terima kasih,


Hartawan menggenggam tangan istrinya berjalan keluar dari rumahnya bu Nenih, lalu mereka naik mobil menuju hotel.