
Setelah berhasil membujuk anak - anaknya, Wendy dan Ropy ngunci semua pintu - pintu rumah barunya. Lalu mereka mampir dulu ke rumah makan sunda, untuk makan malam.
30 menit kemudian mereka sampau di rumah bu Nenih ibunya Wendy. "assalammualaikum... ibuuu" kata Wendy
"waalaikum salam... Dari mana aja kalian jam segini baru pulang" sahut Nenih ketus.
"kita dari rumah baru nek, aku sekarang punya kamar tidur sendiri dan tempat tidurnya gambar doraemon karrun paforit aku nek" jawab Hartanto... " adik juga kamalnya balu, tempat tidul balunya walna melah gambal mobil nek" timpal Hartono mereka cerita dengan mata yang berbinar, tidak peduli dengan reaksi neneknya yang wajahnya merah seperti kepiting rebus menahan amarah...
"kakak, adik ayo gosok gigi dulu dan ganti baju sebelum bobo" kata Ropy sambil menuntun jari tangan anak - anaknya untuk di bawa ke kamar, dia mengalihkan pembicaraan supaya ibu mertuanya tidah marah di depan anak - anaknya.
Setelah selesai mengganti pakaiannya, lalu Ropy menina bobokan anak - anaknya karena sudah jam delapan malam. Dan diapun akan menghadap ibu mertuanya...
"bu sebelumnya kami minta maaf kalau menyinggung harga diri ibu, sebetulnya tadi kami habis beli rumah tapi kredit bu. Maaf ya sebelumnya engga bilang dulu sama ibu, soalnya tadi belum pasti. Setelah kami lihat rumahnya ternyata cocok, dan anak - anak juga menyukainya" cerita Wendy kepada ibunya sambil menggenggam jari tangan istrinya, soalnya sudah melihat gelagat kurang enak tatapan tajam ibunya mengarah ke Ropy.
"ibu gak ngerti ya sama kamu Wen, kamu termakan hasutan istrimu. Ibu kan sudah bilang sama kalian, mau di taroh di mana muka ibu kalau tau anaknya pindah rumah ke rumah kreditan. Padahal rumah ini besar dan luas, apa kalian sudah bosan tinggal disini? Pasti gara - gara kamu menghasut Wendy supaya pindah dari rumah ini kan Rop" kata Nenih berapi - api.
"Ropy gak pernah hasut aku bu, justru ini inisiatif aku sendiri. Masa sama ibu terus, padahal kami udah sembilan tahun menikah. Dan kami sudah mampu beli rumah walaupun nyicil" jawab Wendy sambil mengelus punggung istrinya... "alah alasan aja kamu Wen, pasti ulah si Ropy ngehasut kamu gara - gara habis pulang kampung langsung mau pindah rumah. Kalian keterlaluan mau ninggalin ibu sendirian di rumah ini. Padahal Wendy dari kecil menurut sama ibu, gara - gara nikah sama kamu jadi pembangkang" omel Nenih sambil nunjuk - nunjuk muka Ropy dan menatapnya dengan tajam.
"kenapa hanya aku yang tidak boleh pindah dari rumah ini? kakak - kakakku dan adik perempuanku boleh tinggal di rumahnya sendiri. Aku malu sama sodara dan teman - temanku buu, mereka sesusiaku sudah lama tinggal di rumah sendiri dengan keluarga kecil mereka. Masa aku gak boleh, padahal dekat hanya setengah jam dari sini dan ibu bisa kapan saja berkunjung atau nginep di rumah kami, begitupun sebaliknya" jelas Wendy panjang lebar.
"sekali lagi kami mohon maaf buu, ijinkan kami hidup mandiri di rumah kami sendiri buu... Sekarang bukan ngontrak di kontrakan kecil bu Elis yang ibu larang, kita kredit rumah bu rumah kami walaupun nyicil" Ropy memohon kepada ibu mertuanya... " iya bu ijinkan dan restui kami bu untuk pindah ke rumah baru, supaya hidup kami berkah dan tenang, kami minta do'anya dari ibu" ujar wendi sambil menggenggam kedua jari tangan ibunya.