
Setelah dia berpikir jernih menangispun tidak ada gunanya, dia harus kuat, harus bisa menghadapi apapun keputusannya nanti.... Sambil menarik napas panjang diapun berlalu ke kamar mandi...
Selesai mandi Ropy berdiri di depan cermin "yaa badanku sudah tidak langsing lagi dan usiaku sudah tidak muda lagi, mungkin mas Wendy ingin mencari yang lebih muda. Sarah kan tubuhnya tinggi dan langsing... Kalau aku pendek dan gemuk" batinnya...
Habis menjalankan kewajibannya menjalankan solat magrib, diapun berdo"a dan menyerahkan segalanya sama allah.
"mah.... Mah...buka pintunya!" wendy memanggil Ropy dari luar kamar , karena sejak pulang dari rumah makan dia langsung masuk kamar dan menguncinya.
Setelah pintu di buka Wendy langsung memeluk Ropi dia meminta maaf atas kekhilapannya, Ropy diam tak bergeming dia tidak bicara sepatah katapun dan tidak membalas pelukan suaminya.
"mah bicaralah, aku sudah menjelaskannya dan meminta maaf, ayo bicara jangan diam terus... Mau tidak mau mas harus bertanggung jawab sama Sarah..."
Ropy tidak menjawab apapun dia malah berjalan keluar kamar dan menuju dapur, dia merasa lapar karena pagi hanya sarapa bubur ayam dan belum makan apa - apa lagi.
"ayo kita makan di luar" ajak Wendy karena melihat Ropy hanya makan apel dan buah anggur... Ropy tidak menjawab hanya menggelengkan kepala sambil makan buah.
Karena Ropy belum mau bicara pada dirinya, akhirnya Wendy masuk lagi ke kamar.
Jam tiga dini hari Wendy terbangun dan melihat disampingnya tidak ada sosok istri yang sudah dua puluh lima tahun menemaninya, diapun bergegas ke kamar mandi tapi tidak menemukanya lalu dia keluar dari kamar.
Setelah mencarinya di ruang keluarga, dapur dan kamar tamu tidak menemukannya, diapun naik ke lantai dua dan masuk ke kamar si sulung tapi tidak ada juga. Lalu dia hendak masuk ke kamar si bungsu tapi pintunya di kunci dari dalam.
Tok... tok "mah buka pintunya..." karena sudah beberapa kali pintu di ketuk sambil memanggil istrinya tapi tidak ada jawaban dari dalam kamar, akhirnya dia menuju sofa dan duduk termenung.
Ceklek pintu kamar sibungsu di buka... Wendy berdiri dan menghampiri istrinya, dia memandang wajah istrinya sambil memegang tangannya.
"ayo mah bicara kalau kamu diam terus, masalnya gak kelar - kelar" kata Wendy sambil menuntun tangan Ropy untuk duduk di sofa.
"ooh mas sudah tidak sabar yaa untuk menikah dengan Sarah? Wajar sih dia kan masih muda dan bodynya aduhai pasti mas gak tahan kan?... Ya sudah sana nikahin Sarah, tapi aku tidak mau di madu..."
"bukan gitu mah, aku gak sengaja melakuksn itu" jawab Wendy.
"gak sengaja? Lalu kemana - mana pergi berdua? Makan juga slalu bersama? Aku rasa itu sengaja mas... Kalian suka sama suka kan?... Ya udah sana nikahin dia, tapi aku jelas tidak mau dimadu titik..." Ropy keukeuh dengan pendiriannya tidak mau di dua, tapi dia juga tidak mau lagi tidur bersama suaminya karena dia merasa jijik setelah mendengar suaminya pernah tidur bersama Sarah.
"kalau kamu tidak mau di madu terus kita harus bercerai?... Terus bagaimana anak - anak?" Wendy bicara dengan menatap istrinya.
"jangan khawatir, anak - anak sudah besar, kalau mas mau menikahi Sarah nikahin aja aku gak apa - apa.... Sampai nanti kita bertemu di pengadilan" jawab Ropy sambil beranjak dari tempat duduknya menuju kamar anak bungsunya. Ceklek pintu di kunci dari dalam.
Wendy menyugar rambutnya sambil menghela napas panjang, dia tidak mau menceraikan istrinya karena takut sama anak - anaknya. Tapi dia juga tidak mau melepaskan Sarah, dia terlanjur nencintainya dan ibunyapun mendukung untuk menikahinya...
Setelah selesai memasak dan memasukannya ke wadah untuk anak - anaknya dan sebagian untuk sarapan dia dan suaminya, lalu dia berniat mau mandi untuk siap - siap.
Tapi pas hendak membuka pintu kamar... terdengar bunyi bel... Ropypun berniat mumbuka pintu rumah, tapi sebelumnya dia mengintip dari kaca... di depan pintu pagar terlihat mobil sedan mewah yang sama dengan waktu itu pas berkunjung ke rumah mertuanya dan mobil yang sama terparkir di halaman rumah ibu mertuanya kini berada di luar pagar rumahnya... klakson mobil berbunyi ber ulang - ulang.
Wendy berlari menghampiri pintu dan membukanya, terus berlari lagi menuju pagar, rupanya dia tau bahwa yang datang itu Sarah. Ropypun tak perduli dia meneruskan niatnya untuk mandi.
Ropy masuk kamarnya dan mengunci pintunya, takut suaminya tiba - tiba masuk.
Setelah mandi dan berpakaian rapi, Ropy mengambil tas slempangnya dan koper kecil yang yang sudah disiapkannya kemarin. Baru aja membuka pintu kamar tiba - tiba Wendy masuk menatap Ropy heran.
"mau kemana kamu bawa koper segala?" tanyanya.
"aku mau bertemu anak - anak, sudah hampir tiga bulan mereka belum pulang" jawabnya sambil berlalu ke dapur.
Setelah mengemas ayam goreng dan rendang untuk anak - anaknya, Ropypun sarapan tanpa mempedulikan suaminya yang ngoceh ngalor ngidul.
"Sarah positif hamil mah aku harus menikahinya lusa, papanya Sarah sudah menyiapkan segalanya aku harus bertanggung jawab dengan menikahinya" kata Wendy.
"ya udah nikah aja sana, sampai bertemu di pengadilan" jawab Ropy.
"tapi gak usah ke pengadilan mah, kalau kepengadilan urusannya jadi panjang aku gak mau orang - orang tau dan aku malu sama teman - teman kantor"...
"terus kalian jalan bersama dan tidur bersama tidak malu di lihat orang?...makanya sebelum melakukan hal - hal yang memalukan harus berpikir dulu akibatnya seperti apa, sekarang semuanya sudah terjadi. Mau tidak mau kita harus menghadapinya dan kamu harus bertanggung jawab sama Sarah, aku ikhlasin kamu buat dia... Smoga kalian bahagia" kata Ropy sambil meneteskan air mata, walaupun dia bersedia melepaskan suaminya untuk wanita lain. Tapi hatinya terasa sakit...
"kalau kamu kekeh tidak mau di madu, sekarang aku talak kamu... Dengan begitu aku sudah tidak terikat lagi denganmu, dan bisa bebas menikahi Sarah... Rumah dan isinya buat kamu semua dan si adik juga aku biyayain sampai selesai kuliah, nanti siang aku pindah ke rumah ibu dulu debelum lusa ke rumah Sarah"
Tes tes gak terasa air mata mengalir deras, sesakit ini mendengar talak setelah dua puluh lima tahun berumah tangga. Ropy terduduk lemas di kursi sambil memegang kotak makanan.
"terima kasih sudah menjadi istri yang baik dan melahirkan anak - anak yag baik dan cerdas, maaf kalau aku melukai hatimu dan anak - anak" Wendy menghampiri Ropy dan memeluknya erat.
"mas titip salam buat anak - anak, mas belum berani menemui mereka... Ingat jangan mendaftar krpengadilan, aku akan urus semuanya... Kita berpisah secara agama dulu ya" ucap Wendy sambil menatap Ropy.
Ropy berjalan ke wastafel untuk mencuci mukanya lalu dia merapikan dandannya yang berantakan karena menangis tadi.
Setelah pamitan sama Wendy lalu dia menarik koper dan keluar dari rumah karena taxi pesanannya sudah menunggu di luar, dia tidak bawa mobil sendiri karena takut tidak konsentrasi mengemudi dalam kondisi hatinya yang tidak menentu.