
Hari berganti hari tidak terasa sudah akhir pekan mereka berkumpul di rumah makan milik Ropy sambil ngemil rengginang oleh - oleh dari kampung, karena kemarin kang Taryat datang mengantarkan anaknya yang mau kuliah di Jakarta dan tinggal di rumah Ropy yang bersatu dengan rumah makan.
"Nyai, emak pesan gepuk dan buah - buahan, katanya gepuk di sini enak" kang Taryat menyampaikan pesan emak.
"Iya kang besok di bahanin, terus abah pesan apa?"
"Abah mh mau sop daging sapi buatan nyai katanya, dagingnya aja gak pake sayurnya nanti aja sayurnya di tambahin di sana katanya?"
"iya kang nanti Ropy bikinin gepuk sama sop, terus pesan apa lagi ya kang?"
"Itu si emak teh mau gamis yang satu set dengan kerudungnya yang warna hitam katanya, bahannya yang adem dan tebal"
"iya nanti di beliin di mall, terus pesan apa lagi katanya?"
"Sudah itu aja.... eeh itu, kalau anak - anak libur di suruh liburan kesana mumpung banyak ayam dan bebek muda, mereka kan suka sate bebek dan goreng ayam kampung katanya lagian emak dan abah sudah kangen katanya"
"Insyaallah wak, minggu depan kami ke sana" anak - anak serempak menjawab uaknya.
Mereka ngobrol ngalor ngidul , bercerita bercanda gak henti - henti.
Sore hari Ropy pamit mau ke mall dulu dengan suaminya, mau membeli gamis hitam pesanan emak.
Hartawan menjalankan mobilnya pelan sambil menikmati kota Jakarta yang padat merayap sambil mengobrol dengan istrinya.
"Pah, mama sudah dua bulan tidak haid, mama takut kalau hamil usia mama sudah setengah abad"
"Sebelum ke mall kita ke dr kandungan dulu aja mah"
"Iya pah hayu"
Ropy larak lirik kanan kiri, mencari klinik kandungan yang buka, setelah berkeliling di mobil akhirnya menemukannya.
Setelah daftar dan menunggu di ruang tunggu akhirnya Ropy di panggil, dan meteka berdua masuk ke ruangan dokter itu.
"Sore bu mari silahkan rebahan di sini"
"Maaf ya bu" lanjutnya
Perawat membimbing Ropy naik ke bed untuk di periksa dan membuka kancing kemeja Ropy yang paling bawah dan membuka sletinnya celana panjang yang Ropy pakai.
Dokter mengoleskan jeli di perut Ropy lalau memeriksanya dengan cara USG, dokter menatap layar monitor dan menggerak - geraka alatnya.
Hartawan juga menatap layar monitor karena penasaran.
"Ibu tidak hamil, tapi memang di usia segini kalau menjelang manapouse kadang - kadang haidnya tidak teratur, di jaga aja ya bu pola makanannya di sesuaikan dengan usia dan hindari stres ya"
"Tapi tidak apa - apa kan dok?" Hartawan khawatir ada sesuatu.
"tidak apa-apa pak ini alamiah, hampir semua wanita seusia ibu keluhannya seperti ini. Jangan cemas ya tidah ada yang harus di cemaskan..."
"Syukurlah kalau begitu" Hartawan bernapas lega sambil mendudukan istrinya karena sudah selesai di periksa.
Setelah berkonsultasi ke dokter mereka keluar dari klinik itu menuju parkiran, setelah masuk mobil Hartawan melajukannya menuju mall.
"Papa mau beli apa?, mamah udah selesai membeli gamis emaknya nih"
"Cuma buat emak aja, mamah gak belanja?"
"Nggak ah pah baju mama masih banyak di lemari, paling beli baju koko buat abah"
"Ya udah yuk ke tempat koko, sekalian buat papa satu"
Mereka memasuki tempat baju muslim pria dewasa, Hartawan memborong baju koko tidak hanya untuk dirinya dan abah tapi dia juga membeli untuk anak-anaknya, buat kang Taryat dan anak kang Taryat juga.
Setelah membayar pakaian di kasir mereka berjalan ke tempat buah dan makanan, tapi baru beberapa langkah berjalan Hartawan mengajak istrinya mampir ke toko perhiasan.
"Permisi pak, bu ada yang bisa saya bantu?" pelayan menghampiri mereka yang berdiri di depan toko.
"Boleh lihat duli perhiasan yang satu set?" tanya Hartawan.
"Oh iya pak sebentar"
"Buat apa papa beli perhiasan, yang ada di rumah juga jarang di pake" Ropy berbisik kepada suaminya.
"memangnya tidak boleh suami membelikan perhiasan emas untuk istrinya?" Hartawan mencium pipi istrinya lembut sambil merangkul pinggangnya.
"Bukan gitu ih papa"
"Ini pak buk perhiasannya banyak modelnya, silahkan di pilih" pelayan toko membuka kotak perhiasan set satu persatu.
"Mama suka yang mana?"
:Ini aja pah simpel dan manis"
"ini aja sayang ngga pilih yang lainlagi?"
Ropy menggeleng
"Ya udah ini satu set aja"
Setelah membayar mereka berjalan mau beli buah dan daging.
"Sama sama sayang, tapi tidak gratis ya bayarannya harus dobel malam dan subuh ok"
"siapa takut gaskeun hehe " mereka tertawa berdua.
Setelah selesai belanja mereka pulang ke rumahnya.
Sampai di rumah mereka berdua mandi dan setelah itu makan malam.
Alarm berbunyi jam dua dini hari alrm masak sop dan gepuk pesanan abah dan emak, karena kang Taryat mau pulang pagi- pagi jadi Ropy memasak dari jam dua dini hari.
Tepat jam lima pagi masakan sudah selesai semua lalu Ropy dan Hartawan mengantarkan ke rumah makan, karena kang Taryat nginapnya di sana bersama anaknya.
Sampai di sana ternyata kang Taryat sudah siap - siap, lagi memanaskan mesin mobilnya lalu Ropy memindahkan pesansn abah dan emak ke bagasi mobil.
"Ini untuk ema dan abah, dan yang ini untuk kang Taryat dan teteh"
Kang Taryat pamitan dan memeluk adiknya dan anaknya bergantian.
"Akang pulang dulu ya, titip Budi ya"
"Iya kang tenang aja, salam buat emak dan abah juga teteh. Pokonya salam buat semua"
Setelah kang Taryat pulang, Ropy dan Hartawan juga pulang lagi ke rumahnya karena masih pagi.
Sampai di rumah mereka masuk kamar untuk mandi bersama dan menunaikan janjinya yang tertunda tadi.
Jam delapan pagi mereka keluar kamar dengan pakaian bersih dan rapi rencananya Hartawan mau ikut istrinya ke rumah makan karena hari minggu hari libur , mereka menuju meja makan untuk sarapan.
Ting nong... Ting nong bel rumah berbunyi. Art kedepan menuju ruang tamu dan membuka pintu rumah.
"siapa bi pagi - pagi sudah bertamu?"
"Tidak tau pak itu ada ibu - ibu di depan gerbang, saya tidak kenal"
"Jangan di buka dulu kunci gerbsngnya takut orang jahat"
"Iya pak"
Art menutup lagi pintu rumah
"Siapa ya pah ibu - ibu datang kesini"
"Gak tau mah biarin aja dulu kita selesaikan makan dulu" Hartawan mengambil ikan dan menaruhnya di piring Ropy.
"Makan yang banyak sayang supaya agak gemuk"
"Ini juga udah naik dua kilogram papah, nggak mau ah gemuk mh berat"
"tambah dua kilo lagi sayang supaya tambah pulan dan nikmat"
Hartawan mengedipkan matanya genit.
"Apaan sih papa"
Ting nong... Ting nong bel terus terusan ada yang mencet
"Siapa sih bi brisik banget pagi- pagi"
"Tidak tau buk, pokonya ibu- ibu dandanannya menor bibirnya merah pake kaca mata besar anting panjang seperti tante girang dan bajunya aduuuh belahan dadanya rendah banget mending kalau dadanya bagus hihihii" art itu tersenyum geli.
"Pah jangan- jangan itu ibunya Doni?"
"Mau apa dia kesini"
"Ya gak tau pah, coba kita lihat"
Bel terus berbunyi gsk henti-henti, akhirnya Hartawan menggandeng tangan istrinya keluar rumah. Dan ternyata benar ibunya Doni berdiri di depan gerbang tangannya masuk sedikit dsn telunjuknya menekan bel.
"Kang buka pintunya aku mau bicara"
"Ada perlu apa pagi-pagi kamu kesini dan bikin gaduh rumah orang?" Hartawan berkacak pinggang.
"Buka pintu gerbangnya dulu kang sku di lihatin orang"
"Tidak aksn ya sebelum jelas tujusnmu ke sini mau apa"
"Aku ingin bersamamu lagi kang, tidak apa-apa jadi isri muda juga kita nikah sirih aja ya"
"jangan mimpi kamu ya ida, pulanglah jangan mengganggu rumah tangga kami lagi. Aku tidak akan menikahi kamu lagi sampai matipun camkan itu Ida"
Hartawan merangkul istrinya dan masuk lagi ke dalam tanpa membuka pintu gerbang, dia membiarkan mantan istrinya berdiri di luar pagar rumahnya.
"Sayang jangan jadi pikiran ya, papa tidak akan tergoda sama dia sampai matipun"
Hartawan menciumi istrinya dan menggendongnya ke kamar, lalu merebahkannya di tempat tidur dia terus mencumbunya sampai berkeringat dan lanjut itu lagi... Padaha baru aja selesai sebelum sarapan.
Mereka menunda niatnya berangkat ke rumah makan karena malas bertemu dengan Ida di luar. Lebih baik olah raga lagi sampai lelah pikirnya.