Ropy

Ropy
Menjual Rumah



Wendy selesai di makamkan jam sepuluh siang setelah semua rangkaian do'a selesai di pimpin pak kiyai, perlahan orang-orang meninggalkan kuburan.


Hartanto memeluk Hartono mereka berdua saling menguatkan, Ropy juga ikut memeluk kedua anaknya di susul dengan Sinta yang memeluk Hartanto dari belakang. Mereka semua saling mendukung dan menguatkan.


Jam sebelas siang mereka sudah ngumpul di rumah bu Nenih, karena belum makan dari kemarin sore Ropy membujuk Hartono untuk makan dia menyuapinya perlahan sambil ngobrol tak terasa sudah habis sepiring walaupun lama.


Ponsel Ropy berdering ada panggilan masuk dari suaminya, dia menggeser tombol hijau untuk menerima panggilan itu.


"hallo pah bagaimana rapatnya?"


"alhamdulillah lancar mah setelah makan siang nanti di lanjut lagi sebentar karena masih ada yang harus di bahas, setelah rapatnya selesai nanti papah jemput ke sana"


"iya pah, sekarang papa udah makan belum?"


"ini mau makan lagi break sambil makan siang, kamu sudah makan belum sayang?"


"belum pah ini baru selesai nyuapin si adik, karena dari sore kemarin belum makan"


"papa juga mau di suapin mama, kasian si adik pasti kepikiran ayahnya terus kasih dukungan terus ya mah sedih boleh tapi jangan menyiksa diri sampai lupa makan"


"iya pah nanti mama suapin ayo lanjutkan makannya entar keburu mulai lagi rapatnya, terima kasih papa sudah peduli sama anak-anak"


"iya sayang, anak-anakmu itu anak-anakku juga. Sampai ketemu nanti sayang muachh"


Telpon dari suaminya sudah terputus, Ropy menyimpan ponselnya di tas.


Keesokan harinya mereka semua kembali ke Jakarta untuk melanjutkan tugasnya masing-masing, karena berangkat subuh dari Bandung jam tujuh tiga puluh Ropy sekeluarga tiba di rumah dan mereka semua siap-siap untuk berangkat ke tempat kerja walaupun agak telat beberapa menit.


-


-


-


Tidak terasa Wendy sudah empat puluh hari meninggalkan dunia ini, hari ini Hartanto, Sinta dan Hartono sedang ada di Bandung sedang takziah empat puluh hari ayahnya, kemarin mereka bertiga berangkat bersama-sama.


"dik kita ke rumah lama dulu yuk kemarin pak RT telpon kakak, katanya yang ngontrak di rumah kita sudah pindah tiga hari lalu"


"iya kak, sama aku juga telpon pak RTnya kemarin"


"ya udah yuk kita lihat ke sana"


Mereka bertiga pamit sama keluarga untuk pergi melihat rumah lamanya, dua puluh menit berlalu mereka tiba di rumah pak RT untuk mengambil kunci. Setelah ngambil kunci mereka menuju rumah yang jaraknya sangat dekat, Hartanto memarkirkan mobilnya di halaman rumah lalu mereka bertiga turun dari mobil.


"dalam rumahnya masih terlihat bersih karena baru tiga hari kosong"


"iya kak tapi itu lihat dekat kusennya banyak tai tokonya kak mungkin sudah harus di ganti ya"


"iya dek rumah ini belum renovasi semenjak beli, paling ganti warna cat doang"


Mereka menyusuri rumahnya dari bawah sampai atas, tampak kecoklatan bentuk seperti pulau di langit-langit atas karena bekas air yang bocor. Setelah selesai berkeliling meriksa rumahnya Hartono meraih ponsel untuk menelpon mamanya.


"hallo kak bagaimana kondisi rumahnya?"


"baik mah, tapi sepertinya harus renovasi kusen, kitchen setnya harus di ganti juga engselnya sudah banyak yang copot dan ganti plapon langit-langit lantai dua.tapi hanya sedikit yang perlu di ganti paling dua lembar ujungnya saja, dan megganti genting yang bocor kalau tidak bisa di tambal"


"ooh ya udah gimana kakak dan adik aja itu kan rumah kalian berdua"


"ini kan rumah mama atas nama mama, ko rumah kami sih mah"


"mama sudah memberikannya sama kalian waktu itu walaupun kalian menolaknya, jadi urusan rumah itu sekarang mama serahkan sama kalian mau di apakan itu hak kalian berdua. Mama sudah tua makanya mama pasrahkan semuanya sama kalian, ini aja ada dua rumah di Jakarta agak keteteran ngurusnya"


"iya kak, saran mama lebih baik di jual aja terus bagi dua kakak dan adik, uangnya belikan tempat usaha di sini di Jakarta kan bisa kepantau kalau di sini dan dekat dari rumah kalian. Daripada harus sering renovasi di pake yang ngontrak uangnya kadang tidak seimbang dengan biyaya renovasi mending kalau ngontraknya untuk lima tahun sekaligus nah itu rata-rata paling setahun ganti lagi minta di cat lagi sebelum di tempati terus aja gitu biasanya"


"iya mah kakak mau berunding dulu ya"


"iya kak, apapun keputusan kalian mama dukung yang terbaik buat kalian"


"iya mah terima kasih. Assalammualaikum"


"waalaikum salam"


Panggilan selesai Hartono ngobrol lagi dengan adiknya langkah apa yang harus di ambil, dia tidak menjelaskan lagi obrolan dengan mamanya barusan karena suaranya di loadspeker jadi Hartono dan Sinta mendengarnya.


Setelah menimbang-nimbang semuanya akhirnya memutuskan untuk di jual dan hasilnya di bagi dua setelah di potong infak 5% untuk mesjid atas nama ayahnya, mereka membuat tulisan di jual dan menyertakan no ponsel.


Selesai berunding mereka menuju rumah pak RT untuk menitipkan kunci rumah dan memberitahu bahwa rumah itu akan di jual, setelah dari pak RT mereka pulang dulu ke rumah bu Nenih sebelum balik lagi ke Jakarta.


Ropy hari ini lagi di klinik untuk melakukan pemeriksaan sebelum melakukan KB lagi, dia di sana dengan menantunya untuk periksa kandungan karena sudah terlambat seminggu tapi tidak ada tanda-tanda apapun dia ingin memastikannya sebelum memberitahu suaminya. Jadi dia hanya bicara dengan mertuanya sama-sama perempuan, dan Ropy mengajaknya ke dr kandungan.


Ropy selesai konsultasi KB dan melanjutkan dengan KB pil sesuai anjuran dokter, sekarang giliran Sinta yang lagi di periksa dan hasilnya ternyata positif hamil empat minggu dan perkembangan janinnya sehat.


Baru berjalan tiga bulan pernikahannya dengan Hartanto tapi dia sudah mendapatkan hadiah perkawinan dengan di hadirkan seorang anak dalam kandungannya Sinta sangat terharu sampai menitikan air mata.


Sinta memeluk mertuanya dia senang sekali akan di karuniai anak dia menitikan air mata bahagia, Ropy membalas pelukan menantunya dia juga merasa senang karena akan mempunyai cucu pertamanya.


...****************...


Jam tujuh malam Hartanto sedang duduk di meja makan sambil membuka ponselnya menunggu istrinya menyajikan makan malamnya, setelah semuanya tersaji dia menaruh ponselnya dan meraih sendok. Tapi pandangannya tertuju kepada benda yang di pegang istrinya.


"benda apa itu sayang?"


Hartono berdiri dan menghampiri istrinya, dia mengambil alat itu yang di sodorkan istrinya lalu dia memperhatikannya dan seketika dia memeluk istrinya dan menciumi seluruh wajah dan rambutnya.


"alhamdulillah ya allah kita akan jadi orang tua sayang, kapan kamu memeriksakannya ke dokter?"


"tadi siang mas awalnya aku mengunjungi mama dan cerita karena udah terlambat haid seminggu tapi tidak ada tanda-tanda orang ngidam, jadi mama ngajak aku ke dr kandungan"


"kok gak cerita sama mas sih"


"ya kan tadi belum tau aku mengandung sayang, makanya bertanya ke mama sama-sama perempuan dan ternya hasilnya positif"


Hartanto sangat bahagia istrinya mengandung setelah puas menciumi wajahnya dan perut istrinya, dia berdiri dan mendudukan istrinya di pangkuannya lalu menyuapinya.


"makan yang banysk sayang supaya kamu dan bayi kita sehat dan kuat"


Mereka makan sepiring dan sesendok berdua sampai habis setelah nambah dua kali.


Telpon Hartanto berdering dan ia mengangkat telpon sambil masih memangku istrinya, Sinta memeluk leher suaminya supaya tidak bergeser lantaran suaminya sedang menerima telpon.


Sepuluh menit berbicara di telpon akhirnya Hartanto menaruh ponselnya di meja, dia tersenyum dan mengecup istrinya.


"ada apa mas senyum-senyum terus?"


"rumah di Bandung telah terjual dengan harga tinggi dan sebentar lagi pembelinya akan mentransfer uangnya. Aku senang hari ini mendapat dua kejutan sayang"


"syukur alhamdulillah ya mas"


Setelah mengirim no rekeningnya tidak lama kemudian ada notifikasi masuk ke hpnya ternyata uang penjualan rumahnya sudah masuk ke rekening Hartanto.


Hartanto menelpon mamanya dan adiknya bahwa rumahnya sudah terjual, setelah itu dia mentransfer sebagian uangnya ke no rekening adiknya. Dan 6% di transfer ke pak RT, yang 5% menitipkan untuk mesjid dekat rumahnya dan 1% buat pak RT yang sudah memfasilitasinya.