Ropy

Ropy
Pulang Dari Rumah Sakit



Ropy membuka matanya perlahan setelah di bangunkan perawat untuk menuju ruang tindakan, Hartawan menggenggam tangan istrinya lalu mengecupnya.


"Bagaimana sekarang sayang sakitnya dimana?"


"alhamdulillah sudah tidak sakit lagi sekarang mah pah, mual dan pusingnya juga sudah hilang"


"Syukur alhamdulillah papa senang mendengarnya"


"Mari buk kita siap-siap, sebentar lagi ibu akan di kuret" perawat memberi tahu Ropy.


"Iya sus tapi sekarang saya sudah tidak sakit lagi, seperti lagi haid aja rasanya"


"Iya bu syukurlah, tapi ibu harus di periksa dulu dokter kandungan nanti dan tindakan selanjutnya nanti beliau yang memutuskan lanjut atau tidaknya"


"Iya sus saya mengerti"


Setelah itu Hartawan menggendong istrinya dan di pindahkan ke berangkar dorong untuk di bawa ke ruang periksa.


"Semangat sayang kamu kuat dan hebat"


"Iya pah"


Brangkar di dorong menuju ruang periksa dokter kandungan juga sudah ada, lalu Hartawan memindahkan istrinya ke ranjang tindakan.


"Permisi bu kami cek dulu"


Dokter mengoleskan jeli di perut Ropy setelah itu menempelkan alat yang terhubung ke monitor, dokter itu menatap layar monitor secara seksama sambil terus menggerakan alat yang di tempelkan di perut Ropy.


"Syukurlah ibu tidak harus di kuret karena rahim ibu sudah bersih tidak ada sisa-sisa janin di rahim ibu"


"Alhamdulillah sayang istriku ini memang luar biasa"


Saking senangnya Hartawan mencium bibir istrinya dan sedikit me•umatnya, padaahal di situ ada dokter dan perawat.


Dokter tersenyum melihat suami istri yang romantis itu, perawat membersihkan jely di perut Ropy lalu merapikan bajunya.


"Ini resepnya di tebus di apotek ya pak, vitamin dan pil penambah darahnya harus rutin di minum ya bu"


"Iya dok terima kasih"


"Tapi sekarang harus istirahat dulu di sini karena masih di infus, besok pagi bisa pulang ke rumah"


"Iya dok, makanan apa yang harus di pantang? Oh ya kapan istri saya bisa makan?"


"Tidak ada pantangan ko pak, tapi mungkin jangan makan pedes-pedes dulu dan yang asam-asam dulu. Sekarang juga ibu boleh makan"


"Baik dok terima kasih"


"Sama - sama pak, sekarang di pindahkan lagi aja ke kamar perawatan pake kursi roda aja tidak usah pake brankar karena ibu sudah baik-baik aja"


Hartawan mendudukan istrinya di kursi roda lalu dia mendorongnya menuju kamar ruang rawat tadi, setelah istrinya di atas ranjang lalu dia menyelimutinya.


"Halo mang Agus, kirim makan kesini nasi dua porsi, sop sapi dua porsi, capcay dua porsi dan ayam goreng dua porsi"


"Baik tuan, terus minumnya sama yang lainnya bawa lagi enggak?"


"Minumnya beli empat buat persiapan malam yang tadi juga masih ada tiga, botol kecil seperti tadi ya mang dan buahnya apel aja"


"Siap tuan saya segera ke sana"


"Baik saya tunggu"


Hartawan mematikan telponnya lalu dia mencium bibir istrinya yang dari tadi memperhatikannya sedang menelpon.


Ciuman semakin dalam l•dah mereka saling berbelit saling menyesap, setelah hampir kehabisan napas mereka menyudahinya.


"Papah sini, peluk lagi"


Ropy berbicara manja menyuruh suaminya memeluknya.


"Siap laksanakan cinta"


Hartawan naik ke ranjang pasien dia merebahkan tubuhnya di samping istrinya dan dia memeluknya erat.


"Sayang, anak-anak belum di kasih kamu di rawat di sini"


"Biarkan aja jangan di kasih tau pah toh mama baik-baik aja, nanti aja kalau ngumpul baru cerita"


"Iya sayang"


Lima belas menit kemudian mang agus datang membawa makanan untuk mereka.


Hartawan menyuapi Ropy sesekali mencium pipi dan membelai rambut istrinya dengan penuh kasih, tidak terasa nasi di campur capcay, sop sapi dan satu potong ayam goreng habis di lahap Ropy. Setelah menyuapi istrinya baru Hartawan makan jatahnya.


"Sayang mau lagi nggak?"


"Enggak pah ini aja sudah kekenyangan"


Ropy menatap suaminya penuh cinta, dia bahagia di perhatikan, di urus, dilindungi dan di cintai suaminya. Setelah menikah dengan Hartawan tiga tahun lalu sekarang dia tidak merasa kesepian dan tidak kekurangan kasih sayang lagi dari suaminya.


Hartawan menyadari tatapan istrinya, dia tersenyum kepada istrinya dan mengecupnya lembut.


"Ada apa sayang? Papa tambah ganteng ya?"


Hartawan menaik turunkan alisnya menggoda istrinya.


"Ih papa narsis"


"Biarin narsis sama istri sendiri muach"


"Iih papah mamah jadi pingin"


"Is nakal ya kamu, tunggu aja sampai bulannya ngumpet kita naik ke nirwana bersama-sama"


Mereka berciuman lagi padahal Hartawan belum selesai makannya, dasar pada bucin hehehe...


Malam tiba Hartawan mendudukan istrinya untuk minum obat dan vitamin sesuai anjuran dokter tadi.


"Baru jam tujuh ya pah"


"enggak ada, cuma pengen dipeluk terus"


Hartawan naik ke ranjang dan memeluk istrinya erat.


Tok....tok... Pintu ruang perawatan ada yang mengetuk, Hartawan melepas pelukannya dan turun dari ranjang.


"Silahkan masuk"


Ternyata dokter dan perawat yang datang, setelah itu perawat memeriksa darah Ropy.


"100/70 dok"


"Tensi darahnya sudah normal buk hanya kurang sepuluh lagi, dengan istirahat cukup dan makan teratur juga ibu pasti cepat sembuh dan darahnya normal lagi"


"Ini makannya belum di makan buk? Jangan lupa setelah makan di minum obat dan vitaminnya bu"


"Sudah makan dok tadi jam lima sore di kirim bekal dari rumah, makanya makanan yang dari rumah sakit enggak di makan karena masih kenyang. Dan barusan sepuluh menit yang lalu saya sudah minum obat dok"


"Baiklah sekarang ibu istirahat ya"


"Iya dok terima kasih"


"Sama-sama buk, pak. Permisi"


"Silahkan"


Setelah dokter dan perawat keluar, Hartawan naik lagi ke atas ranjang dan langsung mencium istrinys dan memeluknya erat, Ropy tidak membalas pelukan suaminya karena masih ada infusan menancap di tangannya.


"Sayang, setelah sembuh nanti kamu mau jalan-jalan kemana?"


"Mama mau ke Lembang aja pah di sana ada tempat yang indah dan sejuk tempatnya masih hijau dan pemandangannya bagus katanya"


"Iya nanti kita ke sana"


"Setelah pernikahan si kakak aja pah ke sananya, biar tenang"


"Baiklah ratuku, ayo sekarang kita tidur sudah jam sembilan nih supaya besok pagi segar cuup"


Hartawan mengecup dahi istinya dan membelai rambutnya, setelah itu mereka terlelap ke alam mimpi.


Jam empat pagi Hartawan bangun gak tahan untuk ke toilet, setelah dari toilet dia menghampiri istrinya lagi yang masih terlelap.


"Nyenyak banget tidurnya seperti bayi menggemaskan"


Hartawan mengelus pipi istrinya hidupnya bahagia sekarang setelah menikahi Ropy tiga tahun lalu.


Dia benar benar mensyukuri hidupnya sekarang, dulu dia begitu tertekan dan serba salah selama puluhan tahun menikahi Ida, tidak pernah tidur bersama lagi setelah Ida mempunyai selingkuhan dan Ida tidak pernah mengurus Doni anaknya sampai pada akhirnya dia memutuskan bercerai tujuh tahun lalu.


Ropy mengerjapkan matanya dan terlihat suaminya yang sedang menatapnya sambil tersenyum.


"Jam berapa ini pah?"


"Setengah lima sayang"


"Antar ke toilet pah"


"Ayo"


Setelah dari toilet Ropy duduk sambil selonjoran kaki di atas ranjang.


"Jam berapa kita pulang ke rumah pah?"


"Nanti setelah di periksa lagi dokter, paling sekitar jam sembilan"


"Papa jadi libur lagi ya, maaf mama merepotkan papa"


"Tidak ada yang di repotkan sayang ini adalah tanggung jawab papa, jangan berpikir yang tidak-tidak ya biar mama cepat sehat biar cepat buka puasa" Hartawan malah menggoda istrinya.


"Ih papa dasar mesum"


"Biarin mesum sama istri sendiri ini"


'


-


-


-


Jam sepuluh siang Ropy dan Hartawan sampai di rumah, setelah di periksa dokter tadi dan di nyatakan sehat dan darahnya sudah 110/80 dia di perbolehkan pulang hanya menyarankan untuk istirahat total di rumah.


Setelah melap badan istrinya dan mengganti pakaian istrinya Hartawan masuk kamar mandi untuk mandi karena dari kemarin dia tidak mandi.


Hartawan keluar kamar mandi dengan memakai barhrob rambutnya basah terlihat segar, Ropy menatap suaminya dan memujanya.


"Sayang mau istirahat di kamar atau di rumah?"


"Di rumah aja pah di ruang keluarga sambil nonton berita"


"Baiklah sayang, sebentar papa pake baju dulu"


Setelah berpakaian bersih dia menggendong istrinya ke luar dan mendudukannya di sofa ruang keluarga, lalu menyalakan tv.


Bi Sari membuat puding buah untuk majikannya dan memberikannya setelah dingin.


"Wah segar sekali bi, terima kasih ya"


"Sama-sama bu, sekarang ibu mau di masakin apa?"


"Apa aja yang ada di kulkas bi?"


"Sayuran masih komplit, daging masih ada, ayam juga masih ada bu"


"Ya udah masak seperti biasa aja kesukaan kita"


"Baik bu"