Ropy

Ropy
Ropy Pingsan



Senin ceria semua di sibukan dengan urusan masing- masing.


Hartawan pagi - pagi sekali sudah berangkat ke kota Bandung, karena menghadiri rapat penting.


"mah papa sudah sampai di Bandung"


"Iya pah jadinya berangkat sama siapa?"


"Sama supir kantor aja berdua mah, biar papa tenang dengan kerjaan kalau ada yang nyetir mah"


"Iya pah semangat kerjanya sayang"


"Ok sayang papa masuk dulu ya muach"


Hartawan masuk ruangan yang telah di sediakan, karena rapat akan segera di mulai.


.


.


.


Hari ini Ropy mengantarkan ketring pesanan salah satu kantor yang akan mengadakan ulang tahun kantor, bukan hanya sekali tapi hari ini sudah dua kali mengantar ketring.


Selama tiga hari dia sibuk terus karena banyak pesanan ketring dia juga kurang tidur sudah tiga hari tiga malam, dari sabtu ada pesanan ketring banyak dan dia mengantarkan ketring sendiri karena karyawannya juga sibuk mengerjakan pekerjaannya dan belum ada mobil lain.


Biasanya sama mang Agus yang nganterin cuma di rumah makan juga sibuk sekali.


Ropy sampai di loby kantor itu, lalu dia mengeluarkan makanan itu di bantu satpam dan OB kantor itu.


Setelah menyusun makanan dengan rapi Ropy ke toilet dulu mau cuci tangan, sampai di toilet tiba tiba dia mual dan muntah. Ropy berpegangan ke wastafel setelah reda mualnya dia cuci tangan dan kumur-kumur.


"Hahh kenapa tiba-tiba mual ya, duh pusing lagi" Ropy bergumam dia memegang kepalanya berjalan ke luar dari toilet wanita.


"Ibu kenapa?" tanya OB kantor itu.


"Gak tau tiba-tiba mual dan pusing mas"


"Mungkin ibu masuk angin Istirahat aja dulu bu di sini, sebentar saya ambilkan minyak angin dulu"


OB menunjuk tempat duduk di ruang tunggu, dia tidak berani memapahnya karena dia laki-laki bukan muhrim. Lagian kelihatannya bu Ropy bisa berjalan dengan tegak walau sambil memegang kepala pikirnya.


"Ini bu minyak anginnya"


OB menyerahkan minyak angin kepada Ropy, lalu dia beranjak untuk mengambil minum buat Ropy. Tidak lama dia kembali lagi sambil membawa teh manis hangat, lalu meletakannya di bangku kosong di samping Ropy.


"Silahkan di minum tehnya bu, mungpung lagi hangat"


"Terima kasih mas, saya jadi merepotkan ini"


"sama-sama bu gak apa-apa ko, ayo diminum teh hangatnya bu"


"Iya mas terima kasih"


Selesai mengoleskan minyak angin di pelipus dan di leher samping, Ropy minum teh manis hangat yang di berikan OB itu. Lumayan bisa mengurangi pusing dan mualnya.


"Bagai mana bu sekarang"


OB itu baik sekali dia belum beranjak dari situ, dia menghawatirkan Ropy. Walaupun Ropy bukan bosnya dia, tapi dia mengenalnya karena Ropy selalu memasok makanan kalau ada rapat atau acara kantor lainnya, dia senang membantu Ropy membawakan ketring-ketringnya untuk meletakan di ruang rapat. Dan dia juga selalu mendapatkan tip dari Ropy karena telah membantunya.


"alhamdulillah lebih baik mas, sekali lagi terima kasih banyak ya selalu membantu saya"


"Sama-sama bu"


Setelah habis tehnya, Ropy berdiri dia berniat pulang karena sudah sore.


"Saya pulang dulu ya mas, permisi"


Ropy berjalan perlahan keluar menuju parkiran, di ikuti OB itu karena merasa khawatir.


"Ibu yakin mau pulang sekarang?"


"Yakin mas saya sudah baikan ko, pelan-pelan aja di jalannya"


"Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalannya bu"


"Iya mas, sekali lagi terima kasih ya"


Ropy membuka tas untuk ngambil kunci mobil dan mengambil uang tiga lembar seratus ribuan, yang dua lembar di kasih OB yang satu lembar di kasih ke satpam.


"aduh ibu jadi gak enak saya, padahal saya membatu ibu dengan senang hati" OB menolak uang pemberian Ropy.


"Gak apa-apa mas ini rejeki mas, terima aja buat jajan anak mas"


"Terima kasih bu, smoga usahaya tambah lancar dan ibu juga smoga slalu sehat"


"aamiin terima kasih ya"


Ropy masuk ke mobilnya, OB mundur sambil memperhatikan Ropy dia masih khawatir. Pak Satpam membuka gerbang kantor karena mobil Ropy mau keluar.


"Pak Satpam sebentar ya saya mau nelpon dulu"


"Oh iya bu silahkan"


Ropy meraih ponselnya untuk menelpon karyawannya.


"Hallo bi sekarang saya tidak balik lagi ke rumah makan, mau langsung pulang aja ke rumah sepertinya saya masuk angin"


"Iya silahkan ibu istirahat aja di rumah, di sini bisa kami tangani ko bu"


"Siap bu laksanakan hehehe..."


Ropy memutus panggilannya lalu dia memasukan ponselnya ke dalam tas, setelah itu dia menyalakan mobilnya.


Ropy keluar dari kantor itu menuju jalan raya, dia mengemudi dengan kecepatan rendah.


Perlahan mobil maju menyusuri jalanan yang padat kendaraan, biasa di Jakarta kalau tidak macet seperti ada yang kurang. Ropy berhenti saat lampu merah, lama sekali karena kendaraan sangat padat.


Lampu hijau menyala Ropy melajukan mobilnya lagi secara perlahan, kendaraan padat merayap di tambah dengan udara yang panas dan lembab. Ropy menambah suhu AC nya supaya lebih dingin.


"Huh pusing sekali" Ropy bergumam sendiri sambil terus menyetir.


"Alhamdulillah akhirnya sampai juga di rumah dengan selamat" dia memasukan mobilnya ke garasi, setelah itu dia masuk rumah.


"Bi bikinin air jahe hangat ya, pake gula merah sedikit. Nanti di bawa ke kamar saya aja ya dan taroh di meja, saya mau langsung ke kamar mandi"


"Baik bu"


Setelah berbicara dengan artnya Ropy masuk kamar, dia menaruh tasnya di lemari. Setelah mengunci lemari dia menuju kamar mandi karena tidak tahan mau muntah.


wueeek... Wueeek... Ropy muntah-muntah di kamar mandi.


"Ibu kenapa?"


Art membuka pintu kamar mandi setelah meletakan air jahe di meja, lalu dia menghampiri majikannya dan memijit tengkuknya.


"Mual banget bi duh"


Art memapah Ropy menuju sofa di kamar itu lalu dia mendudukannya di sofa, dia meraih cangkir air jahe dan meminumkannya kepada majikannya.


"Hmmmm segarr terima kasih bi"


"Sama-sama bu, ibu mau langsung rebahan di kasur?"


"Nanti aja bi saya belum ganti baju, bersandar di sofa ini aja dulu"


"Baiklah bu"


Art terus memijat Ropy sambil membalur minyak angin di tengkuk dan perut majikannya. Setengah jam lamanya memijat pelan seluruh badan majikannya, art di suruh berhenti memijat oleh Ropy.


"Udah baikan bi, bibi istirahat aja ini udah jam lima sore saya mau ganti baju dulu. Terima kasih ya bi"


"Sama-sama bu, kalau begitu saya keluar dulu ya. Kalau ada apa-apa panggil saya ya bu"


"Iya bi terima kasih"


Art keluar dari kamar majikannya dan menutup pintu kamarnya.


Ropy sudah merasa baikan dia berdiri menuju kamar mandi, tadinya mau ganti baju aja tapi badannya gak enak seharian dari luar jadi dia berniat mandi aja pake air hangat.


Selesai mandi dia meraih handuk dan menggulung rambutnya lalu melilitkannya di atas kepala, dia juga memakai bathrob yang tadi sudah di siapkannya. Lalu dia keluar kamar mandi dengan sempoyongan sambil memegang kepala. Dia sampai di samping tempat tidur dan memanggil artnya


"biii bibiiii..."


Bruk... Dia tidak ingat apa-apa lagi


"Iya buu" art tergopoh masuk kamar majikannya di lihat majikannya menelungkup di samping tempat tidur dengan kaki terjuntai ke lantai.


"Bu, ibuuu kenapa?" karena Ropy tidak menyahut lalu bi Sari menggoyangkan badan majikannya.


"Astagfirullah ibu rupanya pingsan, bagaimana ini tuan juga belum pulang dari Bandung"


Bi Sari membalikan posisi tubuh Ropy, dan dia mengangkat kaki majikannya untuk di luruskan di tempat tidur, setelah posisinya tepat lalu dia menyelimuti tubuh Ropy.


"Hallo bi ada apa?"


"Ini tuan ibu pingsan di kanar"


"astagfirullah lalu bagaimana istri saya sekarang?"


"belum siuman tuan"


"ya allah... sepuluh menit lagi saya sampai di rumah, jangan di biarkan istri saya sendirian ya bi terus balur minyak angin dan tempelkan di depan lubang hidungnya. Saya mau telpon dokter sekarang"


Telpon terputus, bi Sari meraih minyak angin lalu mengoleskannya ke tubuh Ropy lalu dia menempelkan minyak angin di depan hidung majikannya.


Lima menit kemudian Ropy membuka matanya perlahan, dia mengedarkan pandangannya.


"Alhamdulillah ibu sudah sadar, bagaimana rasanya sekarang bu?"


"Masih pusing bi"


Bi Sari bernapas lega karena majikannya sudah siuman, lalu dia memijit pelan kaki Ropy.


Suara mesin mobil terdengar masuk garasi rumah Ropy, Hartawan keluar dari mobil dan langsung masuk rumah sambil manggil-manggil istrinya. Lalu dia membuka pintu kamarnya dan berlari menuju tempat tidur.


"Sayang kamu kenapa?"


Hartawan mendekap istrinya sambil menciumi seluruh wajah Ropy.


"Pusing dan mual pah"


Ropy menjawab lemah dan manja sambil membalas pelukan suaminya.


Karena sudah ada tuannya, bi Sari keluar kamar dan menutup pintu kamar majikannya.