
Pagi -pagi sekali Ropy sudah berkutat di depan cermin, dia sengaja menyewa MUA untuk hari spesial anaknya.
"Wah mamah benar - benar cantik hari ini" saat keluar kamar Ropy sudah mendapat pujian dari anak bungsunya.
"Memangnya kemarin - kemari mama tidak cantik?" ujar Ropy sambil memakai sepatunya.
"cantik sih tapi hari ini benar - benar beda, badan mamah bagus, bajunya bagus, dan makeupnya pas... Adik suka melihat mmah lebih ceria dan cantik" tambah si bungsu memuji.
"terimakasih pujiannya, nih receh buat jajan adik" canda Ropy sambil mengulurkan uang receh.
"ih mamah... Adik serius ko malah dibecandain" Hartono pura - pura ngambek...
Tin... Tin... Suara klakson mobil di luar...
"tuh kakak sudah datang menjemput, ayo mah kita berangkat" ajak Hartono sambil menggandeng tangan ibunya.
"Ayo dek"
"Bibi Ijah, bi Marni, ceu Entin, mang Agus hati - hati ya melayani pelanggan kita, saya berangkat dulu... Assalammualaikum"
Pamit Ropy kepada karyawannya
"Iya bu, waalaikum salam... Hati - hati di jalan" ujar mereka serempak.
"mama duduk di belakang sama ayah, aku di depan sama kakak sambil belajar nyetir... adik kan belum lancar banget nyetirnya" kata Hartono sambil membuka pintu mobil belakang.
"eh engga dik, mending ayah di depan sama kakak. Mama di belakang sama adik" kata Ropy malas duduk berdua dengan mantan suaminya, dia takut ada fitnah.
"enggak bakalan di apa - apain sama ayah ko mah kan ada kita, iya kan yah? Kata Hartono
Daripada mengulur waktu akhirnya Ropy mengalah, dia masuk dan duduk di belakang bersama mantan suaminya. Walaupun enggan dia terpaksa melakukannya, demi untuk hari istimewa anaknya.
Mobilpun berjalan dengan kecepatan sedang menuju universitas tempat anaknya menimba ilmu.
Wendy menatap Ropy inten dia mengagumi kecantikan Ropy, dia ingin memeluk dan mencium mantan istrinya. Tapi dia tidak melakukanya, karena Ropy pasti menolaknya... Boro - boro mau di peluk, salaman aja hanya merapatkan jari tangan di depan dada. Ropy selalu menjaga jarak.
"maaf" kata Wendy sambil menatap Ropy
"untuk semuanya yang telah terjadi... andai saja aku bisa menahan diri mungkin kita hidup bahagia dan hidup bersama anak - anak... Setiap kali mengingat kalian hatiku sakit, kamu adalah istri dan ibu yang sempurna... Aku menyesal telah menghianatimu" kata Wendy lirih suaranya yang bergetar tapi jelas terdengar oleh Ropy karena jaraknya dekat.
Ropy menoleh ke arah Wendy dan terlihat Wendy sedang menyeka air matanya sambil menunduk.
"Tidak usah di sesali apa yang telah terjadi, sudah jalan hidup kita seperti ini ambil hikmahnya aja... Eh apa kabar Sarah dan anakmu itu, laki - laki atau perempuan usianya dua tahun lebih yah?" Ropy mengalihkan pembicaraan yang menurutnya percuma membicarakan masa lalu.
"Sarah sehat...tentang anak yang di kandung Sarah sebetulnya tidak ada anak, Sarah menipuku dia mengaku hamil padahal enggak. Setelah lima bulan pernikahan, baru aku tau bahwa Sarah tidak hamil. Dia membohongiku hanya karena ingin menikah denganku" jawab Wendy pelan.
"tapii kalian bahagiakan? Menikah dengan wanita muda dan kaya juga saling mencintai pula, pasti ibu bangga punya menantu idaman" kata Ropy tersenyum tulus.
"boro - boro bahagia, yang ada bikin pusing setiap hari. Uang, uang dan uang yang ada di otaknya... Aku sudah lelah dan pernah bebicara tentang penceraian. Tapi dia tidak mau di ceraikan malah mengancam yang tidak - tidak sama ibu, akhirnya ibu sering drop dan sakit - sakitan"
Terdengar helaan napas berat Wendy menjawab sambil sedikit curhat, Ropy jadi gak enak bertanya tentang Sarah dan anaknya yang di kandung yang ternyata hanya mengaku mengandung untuk menjerat Wendy.
"maaf aku sudah lancang bertanya seperti itu" kata Ropy gak enak.
"tidak apa - apa Rop, mungkin ini karma buatku karena telah menyakitimu dan anak - anak" ujar Wendy sambil mengusap mukanya sendiri.
"ayo mah kita turun" kata Hartanto sambil membuka pintu mobil. Lalu mereka berkumpul di depan aula dan poto - poto untuk kenang - kenangan di studio dadakan yang berjejer dengan berbagai walfafer tema.
Setelah beberapa saat Ropy dan Wendy masuk ke dalam aula dan duduk di tempat duduk yang telah di sediakan.
Acarapun di mulai dengan do'a bersama, dilanjutkan dengan acara - acara berikutnya.
Sambil menyimak acara di depan Ropy membuka ponsel untuk mengabadikan momen anaknya wisuda.
"mari kita menikah lagi mah, ayah mohon terima ayah lagi... ayah ingin menghabiskan sisa umurku bersama mama dan anak - anak. Ayah sudah bulat akan menceraikan Sarah apapun resikonya" kata Wendy parau.
"Maaf mas tidak bisa, aku sudah menerima lamaran pria lain dan insyaallah dua minggu lagi kami akan menikah" kata Ropy pelan, dia melirik kanan kiri gak enak sama orang tua lainnya yang menghadiri wisuda, untung mereka fokus dengan acara dan ada juga yang asik main ponsel.
"menikah dengan siapa? Ko tiba - tiba menikah sih Rop? Kalian tidak pernah cerita sama ayah" tanya Wendy kaget, dia berniat kembali sama mantan istri eeh sudah ada yang mendahului.
"nggak tiba - tiba ko mas, kami sepakat untuk langsung menikah mengingat usia juga gak baik dekat dekat dengan lawan jenis kalau belum muhrim" kata Ropy sangat pelan
"fokus ke si adik aja mas, tuh sudah gilirannya mau kedepan...ngobrolnya lain kali aja" kata Ropy sambil berdiri ingin mengabadikan momen istimewa anaknya dengan kameranya.